Minicamp Kemerdekaan!

Awalnya saya tidak teralu tertarik dengan sebuah organisasi atau komunitas, karena saya pikir itu ribet dan saya termasuk  yang cukup sulit berbaur dengan banyak orang. Itu berlangsung cukup lama, selama disekolah saya tidak pernah bergabung dengan satu organisasi atau komunitas apapun. Beberapa bulan setelah lulus smk, sekitar bulan September 2015 saya diajak bergabung dengan Relawan4Life dan itu merupakan pengalaman pertama menjadi anggota sebuah komunitas.

Kegiatan pertama saya di R4L adalah menjadi salah satu tutor BBC, kelompok belajar Bahasa Inggris di Kp. Lengkong. Kalau ditempat les milik paman saya, saya hanya perlu menyampaikan materi yang sudah ada kepada anak-anak dan tidak perlu melakukan banyak pendekatan. Benar-benar berbeda dengan ini, lingkungan baru, orang-orang baru, dan harus menyampaikan materi sendiri yang disesuaikan dengan anak-anak disini. Tapi mereka sangat antusias, ramah, dan menerima baik kedatangan saya. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari jarak, waktu, dan komunikasi saya kepada anak-anak disana. Ternyata mengajar tidak segampang kelihatannya. Masih banyak sekali yang harus saya pelajari selain materi pembelajaran, belajar membagi waktu, bagaimana menarik minat anak-anak untuk belajar, membangun kepercayaan mereka, dan belajar berkomitmen. Terimakasih untuk semua yang terlibat diBBC, anak-anak yang lucu, Teh Inay, Ningsih, dan lainnya yang sudah membantu kami para tutor agar BBC terus berjalan.

Banyak kegiatan yang saya lakukan bersama R4L sejauh ini selain BBC, seperti greencamp 2015, berbagi buku, Amazing Race, dan masih banyak lagi, yang membuat saya belajar agar mulai berani keluar dari si “zona nyaman”. Dan pengalaman kemarin merupakan salah satu yang cukup berkesan, pertama kalinya mengatur sebuah acara dan langsung menjadi ketua.

Persiapan acara Minicamp Kemerdekaan ini hanya sekitar 2 minggu, sangat singkat menurut saya. Tapi bagaimana pun harus tetap berjalan. Minicamp Kemerdekaan merupakan tindak lanjut dari acara Amazing Race untuk penanaman bibit pohon dihulu sungai Cisadane yang digabungkan dengan perayaan HUT RI ke 71 tahun. Diawali dengan rapat pertama dikantor RMI, kita para panitia membuat susunan acaranya. Mulai dari survey tempat, pembuatan flyer untuk publikasi, bagaimana memperoleh dana, mempersiapkan logistik, dan mencari bibit untuk penanaman. Yang paling menguras tenaga dan pikiran adalah H-1 acara, saat pengambilan bibit pohon. Dikarenakan banyak miss communication, kita harus bulak-balik kampus IPB Dramaga. Mulai dari panasnya matahari sampai derasnya hujan kita lalui demi si bibit. Hahahaha. Kesel, capek, dan merasa diphp-in akhirnya pun berbuah manis, menjelang sore akhirnya kita bisa mengambil bibit pohonnya. Terimakasih Bu Into, Pak Heru, dan Pak Udin. J

Sabtu, 20 Agustus 2016.

Beberapa jam menjelang acara dimulai, panitia dan peserta berkumpul dikantor RMI untuk berangkat bersama, ada yang naik motor dan angkot untuk bawa barang-barang. Oh iya, awalnya respon orang-orang saat flyer disebar sangat banyak tapi menjelang hari H hanya ada 4 orang peserta, Alia dan Tubagus anggota R4L, Ginanjar dan Ninto peserta dari umum. Mulai hopeless lah saya, bakal jadi apa ini acara… Dikarenakan Alia ada urusan pekerjaan ia juga tidak bisa mengikuti acara minicamp ini tapi Alia tetap hadir ke kantor dan membawa kenang-kenangan untuk anak-anak Ciwaluh, terimakasih Alia J

“ Wah 3 orang doang… Yaudahlah namanya juga minicamp, jadi mini aja campingnya gausah rame-rame. Hahahaha”

Beruntungnya acara ini diikuti juga beberapa teman-teman dari Sahabat Lindangan dan dari Kp. Ciwaluh sendiri, jadi lumayan ramai. Hihi Alhamdulillah…

Kegiatan dibumi perkemahan Ciawi Tali hari pertama tidak teralu banyak. Kita mulai memasang tenda, perkenalan dan bagi kelompok camp untuk memasak yang diawali dengan berbagai game. Nah uniknya sebelum memasak masing-masing  diberi koin 300R4L perkelompok, koin tersebut harus bisa kita gunakan untuk membeli bahan makanan untuk makan malam. Saat itu benar-benar riweuh seperti keadaan belanja dipasar tradisioanal sesungguhnya. Selanjutnya para peserta mulai menyiapkan masakan mereka dan kita makan bersama-sama. Pada malam harinya, kita membuat api unggun dan memulai diskusi bersama Kak Fahmi mengenai Road to Green Camp 2016, banyak hal yang kita diskusikan hingga larut malam. Sampai jam menunjukan pukul 23.00 semua peserta kembali beristirahat ditenda masing-masing.

Minggu, 21 Agustus 2016

Acara inti dimulai hari ini, penanaman pohon dan perlombaan kemerdekaan. Saya tidak menyangka pagi itu banyak sekali anak-anak kecil dari Kp. Ciwaluh yang hadir, banyak yang malu-malu tapi akhirnya mereka ikut bergabung dengan yang lain. Sambil menunggu semua peserta camp selesai sarapan, anak-anak diajak senam pagi bersama Kak Lulu dan Kak Mojang. Pukul 08.00 semua peserta camp dan anak-anak berkumpul ditengah buper. Saya, Kang Doyok dan Kang Hamid menjelaskan tentang acara penanaman pohonnya, apa saja, dimana dan bagaimana prosedurnya. Semua peserta dan anak-anak diberi masing-masing satu bibit pohon untuk ditanam, kita membagi 3 tempat penanaman, ada yang disekitar buper, dipinggir sungai, dan disekitar curug Ciawi Tali.

Setelah itu acara selanjutnya adalah perlombaan. Kita mebagi peserta menjadi 8 kelompok dengan masing-masing 5 anggota, tiap kelompok harus punya nama dan yel-yelnya sendiri. Lomba pertama makan pisang dan ubi awalnya adalah lomba kerupuk tapi kerupuknya habis, mendadak jadi lomba makan pisang dan ubi. Hehehe

Lomba selanjutnya estafet kelereng, seru dan ngeselin. Dilanjut dengan lomba estafet karung, ada yang jago ada juga yang sampai harus jatuh ketanah. Lebih ngeselin lagi lomba estafet karet, bikin geregetan. Tidak sampai disitu, lomba memasukan paku juga menyebalkan. Selanjutnya saatnya main air, lomba pipa bocor dan cerdas cermat balon berhasil membuat semua peserta basah-basahan.

Setelah perlombaan pasti capek dan lapar, setelah istirahat, mandi dan beres-beres, semua yang hadir saat itu makan bersama diatas daun pisang. Setelah kenyang tibalah pengumuman pemenang sekaligus penutupan acara Minicamp Kemerdekaan. Yeayyyy!!!

Alhamdulillah acara bisa berjalan dengan cukup baik walau masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Dibantu dengan teman-teman yang kece dari Relawan4Life dan RMI, Ka Rahma, Manda, 3 princess bigos Ka Lulu, Ka Hani, Ka Mojang, si grabexpress Shidiq, si ojen Dian Nurjanah, Kang Asep, Ka Fahmi, para pemuda Tali Bambu nu karasep, para peserta dari Bogor, Sahabat Lindangan, remaja dan anak-anak Kp. Ciwaluh, semuanya yang belum disebutkan juga terimakasih banyak yaaaa! Saranghaeyo…

29

 

Teks: Meilinda Amin

Foto: Fahmi Rahman

Iklan

#ShortCourse: Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial

Tahukah kamu kalau kebakaran hutan yang terjadi selama tahun 2015 kemarin mengakibatkan kerugian 221T yang setara dengan pembangunan 170,000 gedung sekolah berbiaya 1,3M?

Seberapa sadarkah kita bahwa pembangunan di kawasan wisata Puncak yang sering kita nikmati saat akhir pekan itu berhubungan dengan banjir di daerah Manggarai, Jakarta?

Dan tahukah kamu apa hubungan antara madu yang diambil oleh Orang Rimba dengan memanjat pohon setinggi 30 meter di hutan-hutan di Jambi, dengan kisah kertas putih A4 yang kita pakai untuk menulis saat ini?

RMI didukung oleh Terre des Hommes Germany mengadakan Short Course “Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial”
Bogor, 18-20 Maret 2016

Selama 3 hari ini, kamu yang tertarik untuk melakukan perubahan sosial ditantang untuk belajar dan berbagi pengetahuan dan antusiasme bersama 19 orang lainnya agar lebih memahami fenomena lingkungan yang terjadi, yang juga mempengaruhi hidup kamu dan orang-orang terdekatmu.

shortcourse

Info lebih lanjut, cek disini

#BerbagiIlmu; Belajar Bahasa Inggris di Kebun Raya Bogor

Untuk menutup kegiatan BBC di periode pertamanya, Relawan4Life dan leader dari BBC mengajak anggotanya datang ke Kebun Raya Bogor (KRB) untuk melakukan tantangan yang di berikan yaitu mampu berkomunikasi dengan orang asing, sebagaimana mengasah keberanian dan kemampuan dalam berbahasa inggris, yang dilaksanakan pada hari minggu, 03 januari 2016.

BBC adalah klub bahasa Inggris di Kp. Lengkong, Bogor, yang diasuh Relawan4Life.

Para tutor dari Relawan4Life, Rahma, Diah dan Sifu, sayangnya Mei (salah satu tutor) tidak bisa hadir karena sedang bekerja, serta di bantu oleh relawan yang lain, Rudi, Lulu, Hani dan Wulan,mendampingi 17 member BBC bermain dan belajar di Kebun Raya Bogor. Para tutor menjadikan momentum ini sebagai kegiatan penutup untuk periode pertama, dan mengajak adik-adik ini untuk ber-rekreasi di ikon kota Bogor.

Di awal periode pengajaran, 02 Agustus 2015, anggota BBC menuliskan apa harapan mereka mengikuti kegiatan les ini. Mayoritas dari mereka menyebutkan ingin bisa berbicara dalam bahasa inggris di depan umum, dan bisa berbicara dengan orang asing.

Pukul 09, semua tutor dan peserta berkumpul di dekat tugu Raffles, yang tak jauh dari pintu gerabang utama Kebun Raya Bogor (KRB). Rahma membuka acara dengan menanyakan bagaimana perjalanan mereka dari Lengkong ke kebun Raya? Ini kunjungan pertama kali ke KRB bagi sebagian orang. Untuk check semangat mereka Diah mencoba berteriak “BBC..!”, serempak mereka menjawab “Just For Fun!!” serta di lanjut dengan lagu BBC yang mereka ciptakan sendiri.

Kegiatan diawali dengan ice breaking. Ningsih, salah satu member BBC menjadi fasilitatornya. Ningsih mengajak semua memainkan tepuk energi. Rahma melanjutkan dengan mengajak semua peserta untuk bernyanyi “Banana” dengan gerakan ala banana. Dalam sekali contoh, peserta sudah bisa menghafal lirik dan gerakan banana ini. Kemudian peserta di bagi menjadi 2 kelompok. Peserta diajak bermain tebak kata, dengan empat kategori; activity, fruit, animal dan thing. Pemilihan kategori tersebut disadarkan pada hal-hal yang berkaitan dengan KRB, tempat kegatan dilaksanakan.

Dalam waktu 5 menit setiap kelompok berlomba untuk menjawab sebanyak-banyaknya kata. Peserta bergantian menebak kata dengan 4 kategori tersebut, sedangkan teman satu tim hanya boleh memberikan jawaban yes atau no dari pernyataan yang di sampaikan penjawab.

Permaianan pertama berjalan dengan seru, terutama saat kelompok 2 yang di pimpin oleh Inay bermain. Relawan pun ikut antusias dan gemes untuk ikut-ikutan menjawab. Di detik terakhir, Dewi, anggota kelompok 2 berhasil menjawab kata terakhir. Sontak semua orang bersorak, tak terkecuali kelompok lawan, yang sudah jelas kalah pada sesi games kali ini. 4-6 skor akhirnya. Rahma kembali membahas setiap kata yang disajikan dan meminta peserta untuk menjawab secara bersama-sama pengertian setiap kata, dan termasuk kategori apa kata tersebut

Komposisi kelompok diubah, meski tetap ada 2 kelompok. Kelompok 1 merupakan kelompok peserta usia sekolah dasar yang di dampingi oleh Sifu, Wulan dan Hani. Sedangkan untuk kelompok SMP dan SMA di dampingi oleh Diah, Lulu dan Rahma.

Kelompok usia SMP dan SMA, dibagi lagi menjadi dua. Setiap kelompok diberi tugas mencari narasumber orang asing dan menanyakan 10 pertanyaan yang telah disiapkan. Sebagi bukti, mereka harus berfoto dengan narasumber tersebut. Setiap kelompok anak mendapat nilai 20 poin apabila berhasil mendapatkan narasumber orang asing, dan 10 poin apabila narasumbernya orang lokal yang berbahasa inggris.

Disaat kedua kelompok sedang mencari narasumber, kelompok tingkat SD bermain komunikata. Sifu agak kesulitan karena beberapa anggota masih belum faham maksudnya dan kesulitan untuk menyebutkan ciri-ciri kata tersebut. Sehingga Sifu menggantinya dengan permaianan pesan berantai.

Yupp berhasil! permaianan berjalan seru, sampai-sampai pengunjung yang lain menonton kegitan permaianan ini, hingga akhirnya Audry, salah satu yang menonton ikut terlibat dalam permainan ini. Sifu dan Wulan menyampaikan satu kalimat kepada orang yang paling belakang dan setiap orang harus menyampaikan pesan tersebut, hingga ke orang paling depan, orang paling depan harus bisa menyebutkan kalimat tersebut dengan jelas, serta mengetahui apa arti kalimat tersebut. Menariknya permainan ini menguji listening, pronounce dan mengasah vocabulary yang mereka miliki.

Dalam waktu 40 menit, kelompok usia SMP dan SMA yang pertama, berhasil melakukan tugas dengan 2 narasumber asing dan 1 narasumber lokal.  sedangkan kelompok lainnya datang terlambat, dan hanya berhasil wawancara dengan 1 orang asing.

Sesi ini diakhiri dengan istirahat makan siang dan shalat.

Usai istirahat, peserta tingkat SD bermain di sekitar air mancur. Sedangkan kelompok SMP dan SMA, berkumpul untuk saling bercerita pengalaman selama menjalankan misi.

Kelompok petama berhasil mendapatkan narasumber asing dari Malaysia dan Filipina, serta orang lokal yang berbahasa inggris dari Depok. Mereka pernah mendapatkan penolakan dari beberapa orang, namun keramahan narasumber yang mereka dapatkan menghilangkan rasa kecewa yang mereka dapatkan, kesulitanya adalah ketika mencoba memahami jawaban yang di lontarkan karena setiap negara punya dialek yang berbeda, tidak hanya mereka yang bertanya tapi mereka juga mendapatkan beberapa pertanyaan dari narasumber. Sedangkan untuk kelompok yang kedua, mereka kesulitan untuk mendapatkan orang asing, beberapa kali mereka salah mengira, ternyata yang mereka incar adalah orang Indonesia. Namun mereka terus mencari sampai akhirnya di menit terakhir mereka berhasil menemukan pasangan orang asing, dengan senang hati mereka mau menyediakan waktu untuk ngobrol, laki-laki nya berasal dari Inggris dan perempuannya dari Indonesia. Sedikit banyak perempuan Indonesia yang bersama laki-laki dari Inggris ini membantu untuk menyampaikan maksud dari kedatangan mereka. Namun semuanya berjalan dengan lancar walaupun Kelompok yang kedua ini merasa kecewa, karena tidak menemukan banyak orang asing berlalu lalang.

Suatu kebanggan bagi mereka bisa berbicara bahasa inggris dengan orang luar negeri, dan mereka juga mengaku bahwa ini memacu mereka untuk belajar lebih giat lagi. Kegiatan ini bisa menjadi penilaian seberapa jauh kemampuan ber-bahasa Inggris mereka. Dan mereka menjadi lebih berani untuk berbicara bahasa Inggris.

Kegiatan terakhir adalah melakukan refleksi dari kegiatan seharian ini. Diah memimpin sesi di kelompok besar, dan terakhir mereka menuliskan apa yang menjadi kesan serta pembelaajaran apa yang didapatkan. Sebelum menutup acara Rahma menyampaikan informasi bahwa Kelas BBC akan di liburkan selama bulan Januari dan kembali aktif pada bulan Februari. Diah memberikan bingkisan kepada setiap tim yang memenangkan berbagai permainan yang di lakukakan hari ini.

Kegiatan di tutup dengan membaca doa dan menyanyikan lagu BBC, selebihnya waktu untuk jalan-jalan sekitar Kebun Raya Bogor.

e

Teks; Rahma Novianti

Foto; Dokumentasi R4L

 

 

GreenCamp2015; Cerita Dian

Senin, 13 oktober 2015, bersama ka Rahma dan Rohmah, saya menuju ke kantor Yayasan RMI, lebih tepatnya di daerah Bogor baru, disana kita melakukan pertemuan pesiapan green camp 2015. Awalnya tidak percaya , tapi inilah yang terjadi. Saya menjadi PJ Konsumsi, ternyata beneran. Hari mulai berganti menjadi gelap, pukul 8 malam lebih kami baru pulang.

Di tengah perjalanan pulang, saya mersa menjadi ratu yang diiringi petasan, marawis, shalawatan. Karena waktu itu tepat 1 muharam 1437 H. Tahun baru islam. Pukul 10 barulah sampai rumah.

Dag dig dug berdebar kencang jantung ini, kerena acara green camp 2015 akan segera di mulai. Hari mulai berganti, dengan mengandalkan hp dan internet kami mulai berkoordinasi, ada kesulitan dalam berkoordinasi, yaitu sinyal atau jaringan, karena rekan saya di seksi konsumsi, kang Doyok tinggal di kaki gunung, sehingga agak kesulitan mengakses internet. Yasudahlah, untung ada ka Oge yang membantu.

Tibalah hari acara green camp 2015 di mulai. Jumat, 16 oktober 2015, saya sangat semangat. Karena saya PJ konsumsi, saya mendadak mendapat kabar untuk berangkat lebih pagi di bandingkan teman-teman yang lain. pagi itu saya sebal sebal skali, udah bawa barang berat dan tukang ojegnya ngegodain terus, istighfar deh sampai Ciwaluh.

Selagi teman-teman belum datang, saya menyiapkan bahan makanan selama 3 hari untuk semua peserta green camp 2015 di tambah berbagi cerita dengan teh Irma dan ibunya, pagi itu menjadi semakin seru.

Saat teman-teman sudah berkumpul di saung, kami bermain dan dibagi kelompok, tepat pada pukul 13.30 kami berangkat ke lokasi green camp. Mata pun langsung bersinar dengan melihat pemandangan alam yang begitu indah di sepanjang perjalanan, hebat. Setelah capek berjalan sambil bernyanyi samapilah di tempat tujuan.

Tidak lama beristirahat kami langsung mendirikan tenda, walau baru kenal sebentar rasanya sudah seperti keluarga, apalagi momen masak, ditambah sering diejek terus sama kak Barkati. Tapi seru sih jadi gak bete juga sih hehe.

j l n o t w

3 hari kami berada di ciwaluh, banyak ilmu saya dapatkan, salah satunya tentang kehati atau kenaekaragaman hayati. Betapa WOW nya saat di perkenalkan satu persatu kehati yang ada di Ciwaluh dan beberapa tidak ada di kampung saya. Seperti sungai yang begitu jernih, pemandangan yang luar biasa, petani yang aktif, kumis kucing yang berjejer dibudidayakan, tanaman kapolaga yang memilki banyak manfaat dan pohon kopi yang menghiasi bumi perkemahan Ciawi Tali.

Ada kesedihan yang mendalam dibalik senyuman anak-anak Ciwaluh, satu rahasia yang mungkin hanya kami saja yang tahu, dalam hati kami berkata “ ini tidak boleh terjadi! bagaimana nasib orang-orang Ciwaluh?” walaupun saya adalah orang luar, tapi saya peduli dan ikut merasakan kesedihan yang  di rasakan oleh anak-anak ciwaluh. Senyum merekapun harus berbarengan dengan air mata, air mata kecintaan dan ke khawatiran mereka dengan apa yang akan terjadi ciwaluh. Walaupun itu baru sampai tahap rencana, tapi rencana itu sangat melukai anak-anak ciwaluh, tak mudah bagi mereka membayangkan kampung mereka tiba-tiba menjadi tempat rekreasi wisata kelas internasional.

Perlu perjuangan yang luar biasa yang harus dilakukan, terutama semangat dari anak-anak muda, ini Penting!.

Tapi dari situ saya bisa belajar  dan mengerti membedakan mana pecinta dan penikmat alam. Mereka bisa mengatakan diri mereka sebagai seorang pecinta alam, karena mereka berani berusaha dan berjuang berasama untuk mempertahankan alam mereka, kebanyakan orang  mengatakan diri mereka sebagai seorang pecinta alam, tapi tidak pernah memperhatikan alamnya, apakah mereka bisa disebut pecinta alam? Saya rasa tidak, mereka hanya penikmat.

3 hari sudah saya lalui dalam kegiatan green camp, satu kata dari saya untuk kegiatan green camp 2015 yaitu “ILMU”. Banyak sekali ilmu yang didapat, setelah selesai semua kegiatan, saya dan teman-teman merapihkan tenda dan membersihkan sampah yang ada di sekitar bumi perkemahan. Dan akhirnya foto-foto di curug (air terjun) Ciwai Tali,karena waktu sudah siang, tak lama kami disana, segera kami kembali ke buper dan memulai perjalanan pulang menuju saung di kampung Ciwaluh. Perjalanan itu belum cukup sampai disitu, usai makan siang di kampung ciwaluh kami melanjutkan perjalanan menuju kampung Lengkong.

Angkot sudah menunggu kami di sana, dengan singkat kami langsung naik angkot bersama dengan teman-teman Lindalang, meluncur, dan turunlah di gang Mangga, tapi perjalanannya masih belum usai, “kapan sampainya ya?”. Yaa jalan lagi dari gang mangga sampai ke rumah, akhirnya rindu selama 3 hari kepada rumah dan nenek tercinta bisa langsung terobati.

_MG_4632

GreenCamp2015, Ini kontribusi Kami!

Teks; Dian Nurjannah

Foto; Dokumentasi Relawan4Life

#GreenCamp2015; Cerita Lulu

Jumat, 16 Oktober 2015, hari pertama acara Green Camp 2015 yang di adakan di Bumi Perkemahan Ciawi Tali, Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Sekitar pukul 07.00 WIB para peserta dari Relawan4life berkumpul di markas besar tercinta R4l. setelah bersiap – siap, memeriksa dan memasukan barang bawaan ke dalam mobil serta memastikan kalau tidak ada yang tertinggal, kami pun berangkat menuju Kampung Lengkong. Setelah menempuh perjalanan ramai lancar selama satu jam, kami menjemput para peserta dari Lindalang terlebih dahulu di Muara. Sesampainya di Kampung Lengkong dan barang bawaan sudah diturunkan, dengan di koordinir oleh Rahma, kami berangkat menuju saung atau tempat peristirahatan di Kampung Ciwaluh, yaitu kampung terakhir yang ada rumah warga sebelum menuju lokasi perkemahan. Perjalanan sekitar 30 menit ke saung tempat singgah ini, sesampainya disana kami bertemu dengan peserta dari Kampung Lengkong dan anak–anak muda Ciwaluh. Setelah beristirahat sebentar, kami bermain beberapa permainan yang membangkitkan energi dengan dipandu oleh Kak Indra, Kak Rahma, dan Kak Nunu.

Kami juga memainkan  animal insting, yaitu permainan yang mengharuskan para peserta menutup mata dengan kain, lalu dibisikan satu nama hewan secara acak dan berbeda – beda, setelah itu menirukan suara hewan yang telah dibisikan untuk mencari teman – temannya. Ternyata, permainan ini digunakan untuk membentuk kelompok tiga hari kedepan selama Green Camp dilaksanakan.

l1

Bermain animal instict untuk pembagian kelompok

Setelah dipastikan semua mendapatkan teman – teman atau keluarganya, barulah dibolehkan untuk membuka ikatan kainnya dan melihat siapa saja yang menjadi kelompoknya. Setelah itu kami bebas menentukan nama apa yang akan digunakan untuk masing – masing kelompok. Ada yang memberi nama kelompok Cemara, Cau, Samawa, Ceria, dan lain–lain.

Setelah dikira cukup istirahat solat dan makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Buper Ciawi Tali. Perjalanan sekitar 30 menit dengan melewati jalan setapak dikelilingi persawahan, hutan, dan perbukitan.

Sesampainya di Buper, semua peserta dipersilahkan untuk membuat tenda terlebih dahulu sebelum mulai membuat tungku untuk masak yang akan digunakan selama Green Camp.

Memasang tenda dan membuat tungku masak selesai, tiba saatnya pembagian kelompok tidur. Setelah pembagian kelompok tidur, kami diajak memainkan permainan yang menarik sampai melupakan lelah hari ini.

Sore harinya para peserta memasak untuk makan malam. Makan pertama disini dengan menu yang sederhana tapi terasa sangat istimewa karena prosesnya.

l3

Memasak dan makan bersama membuat satu sama lain menjadi lebih dekat

Tidak terasa malam pun tiba, dengan lampu sederhana kami berkumpul di lapangan utama untuk bercerita dengan warga asal Ciwaluh. Semua mendengarkan dengan antusias dan ada rasa haru serta bangga terselip dari semua cerita para warga ciwaluh.

Malam panjang hari pertama dihabiskan dengan berbincang bersama warga cilawuh.

Hari kedua 17 Oktober 2015, semua bangun pagi–pagi untuk memasak sarapan. Tidak ada yang diam pagi ini, semua sibuk dengan tungku kelompoknya masing–masing. Selesai sarapan, dilanjut games dengan sedikit olah raga. Setelah itu berkumpul dengan kelompoknya masing–masing untuk berdiskusi seputar komunitas dan hal–hal yang telah hilang serta yang baru muncul di dalam sebuah komunitas. Semua kelompok mempresentasikan dengan antusias.

Setelah semua selesai mempresentasikan, kita tiba di acara REPLING yaitu Rute Pendidikan Lingkungan. Ada 4 jalur disini, ada jalur herbal, jalur kopi, jalur kehati dan jalur sawah. Semua rute yang dilewati banyak memberikan pelajaran baru, disepanjang rute dapat ditemukan hal-hal hebat diluar dugaan kita. Salah satunya adalah kisah seorang bapak, warga Kampung Lengkong Tengah yang kisahnya sangat menginspiratif. Bapak ini bernama Pak Usup, beliau adalah petani padi di jalur persawahan yang kami lewati. Dengan usia yang tidak muda lagi, semangat beliau sangat luar biasa. Selain kisah Pak Usup, selama repling juga para peserta dipersilahkan untuk mengambil gambar hal apapun yang kita anggap Wow Banget, setelah mengambil gambar kita dianjurkan untuk mencari fakta dari gambar yng kita ambil yang besok adakan dijadikan pameran. Metode ini bernama arumono sagashi.

l2

Berdiskusi saat melakukan Rute Pendidikan Lingkungan

IMG_9843

Saat malam, peserta dan warga berbagi cerita tentang Kampung Ciwaluh

Selesai repling kami kembali ke perkemahan. Malamnya, yaitu di malan kedua kami berkumpul di lapanga utama untuk acara dua jam bersama mardha, disini kami berdiskusi tentang konsep ekowisata yang diinisiasi oleh anak-anak Muda Ciwaluh, juga hambatan dan tantangan yang akan dihadapi. Salah satu permasalahan yang muncul yaitu proyek Disneyland yang akan dibangun diwilayah ini.

y

Presentasi hasil diskusi kelompok

Hari ketiga 18 oktober 2015, setelah sarapan pagi, semua senam dengan semangat dan tawa terlukis dari semua peserta. Setelah senam dan melihat–lihat pameran foto hasil arumono sagashi kemarin, semuanya berkumpul kembali untuk diskusi apa yang harus dilakukan kedepannya untuk perbaikan ekowisata ini. Sebelum pulang, kami berfoto di curug Ciawi Tali yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perkemahan. Tidak terlukis oleh kata – kata, semuanya terlalu hebat untuk diungkapkan.

Suara air yang tidak pernah berhenti, lahan hijau yang tidak pernah mati,  angin yang selalu berhembus menyejukan hati, serangga dan burung kecil bernyanyi, serta elang yang sesekali berteriak seolah memanggil untuk ditemani. Mari bersyukur dan rasakan semuanya dengan hati.

IMG_0157

Green Camp 2015: Pengelolaan Sumber Daya Lokal, ini kontribusi kami!

Teks; Lulu Luthfia

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

#GreenCamp2015; Cerita Sifu

Aku Sifu, aku dari Teen’s Go Green Jakarta. Aku sebelumnya juga ikut Green Camp 2014 di Gunung Pancar. Sifu kira tahun ini Green Camp gak diadain, tapi ternyata salah besar. Yup, tahun ini Greencamp diadain lagt dengan konsep yang menurut Sifu beda banget dari tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya,semuanya serba disediain dan kita hanya sebagai peserta yang kemudian dapet tugas buat observasi warga yang tinggal di sekitar Jungle Land, tetapi tahun ini kita ikut berkontribusi, ikut bantu, ikut ngerasain jadi pemuda Ciwaluh itu kaya apa, banyak deh pokoknya.

Awalnya Sifu tau Greencamp tahun ini akan diadain itu dari senior di TGG, tapi daftar sendiri. Yaudah Sifu hubungin CP yang dikasih sama senior, Sifu daftar, katanya tunggu kabar selanjutnya. Tanggal 14 Oktober Sifu masuk grup whatsapp, dalam grup itu tau-tau udah bahas perlengkapan yang mesti dibawa sama meeting pointnya. Paniklah Sifu, Sifu kira berangkatnya itu tgl 24, Sifu make sure ternyata tgl 16. Karena pengen banget ikut ya Sifu bolos ngantor + bolos kuliah.

Jum’at 16 Oktober 2015 Sifu berangkat menuju RMI dari RMI baru menuju Desa Ciwaluh. Sifu fikir kita bakal naik angkot sampe lokasinya, ternyata harus jalan lagi. Ya gak apa-apalah itung-itung latian fisik. Awal turun dari angkot sedikit kaget, desanya itu ternyata bener-bener desa yang jalannya masih kecil kaya gang rumahSifu . Lanjut jalan kaki, lewatin rumah warga, sawah-sawah dan anjing liar yang berkeliaran. 30 menit kemudian sampe di pendopo. Di pendopo itu, baru acara dibuka terus pembagian kelompok, setiap kelompok dapet bahan-bahan buat masak selama tiga hari. Sifu kira kita bakal ngecamp di pendopo ternyata masih jalan lagi. Setelah Solat Jum’at, kita lanjutkan perjalanan. Lumayan capek, tapi terbayarkan dengan pemandangan yang WOW. Sungai, sawah, perbukitan, terus gunung kita bisa liat.

Setelah sampai di tempat campnya, kita diriin tenda, abis itu bikin tungku buat masak, apinya jadi, kita masak air buat minum. Tungku itu buat masak makanan selama tiga hari juga. Tungku itu juga yang buat Sifu merasa bener-bener hidup di desa tempo dulu. Setelah itu games-games yang buat satu sama lain makin deket tanpa malu-malu lagi. Malamnya kita sharing tentang organisasi dari masalah sampai solusinya juga. Dan gara-gara sharing itu juga Sifu jadi tahu kegiatan mereka, pengalaman mereka, dan jadi lebih deket juga.

s1

Sebelum berangkat ke lokasi kemping, beresin logistik yang dibagi panitia

s2

Belajar mandiri, bikin tenda sendiri

s3

Masak dengan tungku dan kayu bakar

Sabtunya, 17 Oktober, setelah kita selesai masak+makan dll, kita kumpul lagi di lapangan utama. Kali ini bahas komunitas dan hal-hal yang hilang dan hal-hal baru di lingkungan kita. Setelah berdiskusi kita REPLING (Rute Pendidikan Lingkungan). Ada 4 Jalur Repling, yaitu Kehati, Kopi, Herbal, dan Sawah. Sifu kedapatan di jalur Sawah. Selama perjalanan kita berhenti di tempat istirahat petani, disana bahas padi dan sawah, gak lama kemudian ada seorang bapak yang nyamperin kita, ternyata gubuk itu tempat istirahat beliau saat garap sawah, kebetulan banget kita sekalian wawancarain beliau. Beliau cerita bahwa sawah yang beliau garap bukan milik sendiri tapi punya orang lain. Panennya setiap 3 bulan sekali, sekali panen itu bisa 20-30 kwintal. Tapi walaupun panennya sebanyak itu, dia cuma dapetin 20-40 kg doang, HEBAT !. Beliau juga cerita soal surat dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang melarang warga buat ngegarap sawah. Sedikit nyess denger cerita beliau, tapi bikin Sifu semangat juga, beliau itu sedikit mengajarkan kalau hidup itu susah, hidup sama dengan ujian. Semoga orang-orang seperti Pak Yusuf ini gak banyak di Indonesia. Sifu masih bertanya-tanya sebenarnya, katanya negara kita negara agraris, tapi nyatanya, apa ini yang namanya negara agraris?

Udah selesai sharing dengan Pak Yusuf kita lanjutin perjalanan lagi. Selama perjalanan, Sifu ngeliat tumbuhan kaya enceng gondok, tapi bukan, Sifu tanya sama fasilitator, itu namanya geboy, katanya itu sejenis hama yang dapat bikin sawah gagal panen. Tapi geboy itu bagus, warnanya itu kecil-kecil gitu, bagus deh pokonya menurut Sifu.

s4

Berjalan menyebrang sungai saat REPLING [Rute Pendidikan Lingkungan]

s5

Senam. Selain olahraga, juga sebagai hiburan di pagi hari

Setelah repling kita masak+makan, terus games lagi. Ada satu games yang bikin deg-degan. kita dibagi dua kelompok terus disuruh duduk hadap-hadapan. Nanti yang nomornya kesebut ,suruh lari lewatin kaki-kaki yang selonjoran, tapi ini games paling seru menurut Sifu, walaupun karna nomor Sifu cuma kesebut sekali haha. Sesudah games kita main air di Sungai Cisadane yang jernih. tapi kalo di bawah, Sungai Cisadane nya udah kotor, berminyak pula. Dan akhirnya kita mandi juga.

Sabtu malam, kita sharing lagi, tapi kali ini sama warga Ciwaluh. Sifu kaget, Sifu miris, ketika salah satu warga bilang kalau tanah yang selama tiga hari ini kita gunain itu bakal dibuat Disneyland. WOW, gak habis fikir sama pengembang-pengembang yang serakah, kenapa gak dibuat di daerah yang memang sudah maju? seperti Jakarta gitu, kenapa harus dialam yang masih asri ? kenapa harus buat Disneyland? Kenapa gak buat suatu yang lebih bermanfaat bagi orang banyak gitu? kan kalau Disneyland, hanya untuk orang-orang yang punya uang, yang gak punya uang gimana? kenapa uangnya gak buat bikin yayasan sosial gitu?

Tapi Sifu bangga bisa kenal pemuda Ciwaluh khususnya.

Mereka keren, mereka bangun ekowisata ditengah-tengah masalah yang bakal dihadapin sama desa nya.

Mereka gotong royong, mereka solid satu sama lain, kerenlah mereka pokonya.

mereka juga jadi barometer Sifu sendiri untuk berkawan dan berorganisasi. Sifu cuma bisa berdoa yang terbaik buat semuanya.

Minggu 18 Oktober, pameran hasil REPLING digelar dan kita bisa lihat hasil jalur lain. Setelah itu, kita diskusi beberapa hal yang diperluin di Bumi Perkemahan Ciawi Tali, tempat yang kita gunain selama tiga hari Greencamp. Pertama yaitu tentang sampah, kedua layout Buper, ketiga fasilitas, dan keempat lain-lain. Setelah selesai kita persentasi deh. Setelah itu beberes, bongkar tenda, terakhir kita ke Curug Cawi Tali terus pulang deh.

s6

Diskusi dan memberi masukan untuk perbaikan ekowisata yang dikelola anak muda Ciwaluh

Pokoknya banyak banget yang Sifu dapet dari Green Camp 2015 ini. Sedikit menyesal, kenapa giliran udah deket satu sama lain, udah mulai akrab, malah pisah.

Makasih Relawan 4 life dan RMI atas kegiatan Greencampnnya, Makasih juga warga Ciwaluh, senang bisa kenal kalian semua.

Teks; Siti Marfu’ah [Sifu]

Foto; Dokumentasi Relawan4Life

Road to #GreenCamp2015; GreenCamp 2014

Pada Oktober 2014, GreenCamp dilaksanakan selama tiga hari. kata lainnya, Perjusami, perkemahan jumat-sabtu-minggu.

Lokasi diselenggarakannya, di Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Bogor.

Tema yang diangkat pada #GreenCamp2014 ini, “Tak Rela Bila Negeriku Berantakan”. Tema ini dipilih sebagai upaya “melihat” pembangunan-pembangunan skala besar, dan dampak yang ditimbulkan dari proses pembangunan tersebut.

Lokasi tempat diselenggarakannya #Greencamp2014, memang merupakan kawasan yang banyak kegiatan pembangunan skala besar. Selain perumahan elit, di daerah ini juga terdapat tempat rekreasi yang cukup besar, Jungle Land. Peserta diajak untuk berdialog dengan warga yang berbatasan dengan proyek pembangunan tersebut.

Peserta #GreenCamp2014 juga diajak mengunjungi rumah hunian sementara, yang merupakan tempat tinggal warga yang terkena dampak longsor.

1 2 6 11 14 15 16 18 19 20 21 22 23 28 32 33

30 29