Workshop Media Belajar dalam Rangka Peringati Hari Anak Nasional

Relawan4Life, menyelenggarakan “Workshop Media Belajar” pada Minggu, 24 Juli 2016. Workshop ini merupakan upaya dari Relawan4Life dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Peserta yang mengikuti workshop ini, adalah guru-guru PAUD dan SD di Desa Wates Jaya dan Desa Pasir Buncir, Kabupaten Bogor.

Lulu Luthfia, koordinator kegiatan ini, menjelaskan “Anak-anak yang belajar di PAUD di daerah ini tuh kasian, mereka cuma diajarin baca sama nulis aja. Malah ada yang ngomong, gak mau sekolah lagi karena pegel tangannya, nulis mulu”.

Lulu dan tiga orang relawan lainnya, sebelumnya pernah terlibat dalam gerakan #BerbagiIlmu yang digagas Relawan4Life. Dalam program tersebut, selama satu bulan, relawan ikut mengajar di PAUD yang ada di dua desa tersebut.

#BerbagiIlmu yang tadinya mengirim relawan untuk mangajar, diubah strateginya dengan mengadakan pelatihan dan workshop bagi guru-guru. Pelatihan pertama dilaksanakan pada Oktober 2015.

Sebagai pembuka workshop, Mardha Tillah-Manajer Advokasi dan Kebijakan Sumberdaya RMI, memberikan materi tentang hak anak.

Sesi I. Hak Anak

Mengutip Johanna Eriksson, Tilla menjelaskan bahwa anak-anak memiliki status yang setara dengan orang dewasa sebagai anggota ras manusia, mereka bukan milik orang tua. “Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting dalam fase kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus untuk menjamin bahwa hak anak-anak dan kepentingan anak-anak seharusnya diwakili secara tepat dalam semua pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka”.

Indonesia, ikut meratifikasi Konvensi Hak Anak yang disahkan pada 20 November 1989. Secara umum, Primsip-prinsip umum KHA diantaranya:

  • Non diskriminasi
  • Kepentingan terbaik bagi anak)
  • Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan tumbuh kembang
  • Penghormatan terhadap pendapat anak (Partisipasi)

Sesi II. Workshop Media

Sebelum  penjelasan media-media pembelajaran yang telah disiapkan relawan, guru-guru dibagi ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi satu barang yang harus mereka jadikan media pembelajaran. Dalam waktu sepuluh menit, para guru mampu menjadikan satu alat tersebut menjadi dua sampai tiga media pembelajaran. Sesuatu yang mampu mereka lakukan, namun belum pernah dilakukan.

Para relawan, secara bergantian, kemudian menjelaskan fungsi dan cara penggunaan media-media pembelajaran yang telah disiapkan. Saat diminta untuk mencoba mempraktekkan, para guru terlihat sangat antusias.

Sesi ini difasilitasi oleh Rahma Novianti, Koordinator Relawan4Life.

“Capek, tapi seneng pas liat guru-gurunya pada semangat. Semoga anak-anak juga bisa lebih semangat nanti belajarnya” ucap Lulu mengakhiri evaluasi panitia, sebelum persiapan UAS esok hari di kampusnya.

 

Teks: Fahmi Rahman

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

 

Iklan

Paket Wisata Akhir Tahun

Mau menghabiskan akhir tahun dengan sesuatu yang beda? Yuk ikutan kemping akhir tahun di hulu Sungai Cisadane.

kemping akhir tahun.

 

Program ini digagas oleh Relawan4Life dengan dukungan Yayasan RMI. Selain kamu berwisata, saat mengikuti program ini, kamu juga turut berpartisipasi dalam upaya inisiasi kampung wisata yang dikelola anak muda di Kampung Ciwaluh.

Mengapa partisipasi kamu penting?

Saat ini, pengelolaan sumberdaya alam masih didominasi oleh generasi tua, baik dalam perencanaan, pengelolaan maupun pemanfaatannya. Generasi muda, jarang dilibatkan. Kalaupun dilibatkan, mereka tidak memiliki peran strategis yang bisa mengambil keputusan tentang lingkungan mereka sendiri. Hal ini terjadi, mungkin karena pandangan bahwa generasi muda belum memiliki kemampuan.

Generasi muda tidak memiliki pengalaman sebanyak generasi tua, ya benar. Makanya itu, mereka tidak beromantisme dengan masa lalu, namun menawarkan masa depan. Kamu ikut program ini, itu mendukung posisi generasi muda, khususnya yang ada di Kampung Ciwaluh, untuk menjadi “pengelola” yang menawarkan nilai lebih wilayahnya, tanpa mendegradasi lingkungan. Generasi muda ingin pengelolaan sumberdaya alam yang lestari dan berkelanjutan, serta mampu memberi nilai lebih.

Dampak lanjutan tiadanya keterlibatan generasi muda dalam mengelola lingkungannya saat ini adalah hilangnya penerus untuk mengelola sumberdaya alam dari kalangan masyarakat di masa yang akan datang.

Itu saja?

Tidak. Saat ini, mereka juga tengah berjuang mempertahankan wilayahnya dari kepungan korporasi besar, yang berhasrat tinggi untuk menjadikan wilayah ini sebagai tambang uangnya, dengan merubah struktur ekosistem, membangun kawasan rekreasi kelas atas, yang warga di sekitar sana, tidak mungkin bisa menikmati apa yang akan dibangun di wilayah mereka tersebut. Kabarnya, kawasan rekreasi tersebut akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, semacam Disneyland, milik bos salah satu grup media, yang investornya, salah satu kandidat calon presiden Amerika. Semacam David versus Goliath! Memang akan berhasil? Setidaknya, kita pernah melakukan sesuatu untuk melawan!

Ah paling kalau ikutan, gak menyenangkan, gak seperti ikutan paket tur yang ditawarkan EO profesional..

Bisa saja. Tapi teman-teman, mereka sedang menuju kesana. Segala sesuatu yang kamu nikmati nanti, menyenangkan atau tidak, baik atau tidak, tolong disampaikan. Itu sesuatu yang sangat berharga buat mereka, buat kami. Perspektif dari pelanggan, yang mengharapkan layanan yang baik dan menyenangkan, akan menjadi salah satu bagian penting bagi anak-anak muda ini membangun konsep wisata kampungnya, memberi nilai lebih bagi lingkungan. Kami akan sangat terbuka dengan segala masukan dan kritik positif dari teman-teman.

Yuk siap-siap berwisata dengan nilai yang berbeda.

Kami tunggu kabar baiknya..

*Sekilas lokasi kemping

Kemping ini akan dilaksanakan di Kampung Ciwaluh. Kampung ini merupakan pemukiman penduduk paling ujung di aliran hulu Sungai Cisadane, Kabupaten Bogor. Berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, juga berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Ketinggiannya sekitar 600 mdpl. Tidak ada jalan mobil, jadi harus menggunakan roda dua untuk menuju kampung ini. Masyarakatnya mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani, dengan komoditi padi, kopi, dan tanaman palawija sepeti kumis kucing, kapolaga, dll.

_MG_4766

Bumi Perkamahan Ciawi Tali yang sedang dikembangkan anak muda

_MG_7029

Kumis kucing, salah satu komoditas yang terdapat di Kampung Ciwaluh

DSC_3767

Persawahan dengan diapit bukit berhutan dan aliran Sungai Cisadane yang masih jernih, membuat suasana di daerah ini menjadi menyenangkan

DSC_3894

Curug Ciawi Tali, salah satu air terjun yang ada di wilayah ini

IMG_0097

Suasana di Bumi Perkemahan Ciawi Tali. Tenda didirikan dibawah tegakan pohon kopi

kapolaga

Kapolaga. Masyarakat di kampung memiliki “Godogan”, ramuan herbal dari berbagai macam tanaman, termasuk kapolaga.

GreenCamp2015; Cerita Dian

Senin, 13 oktober 2015, bersama ka Rahma dan Rohmah, saya menuju ke kantor Yayasan RMI, lebih tepatnya di daerah Bogor baru, disana kita melakukan pertemuan pesiapan green camp 2015. Awalnya tidak percaya , tapi inilah yang terjadi. Saya menjadi PJ Konsumsi, ternyata beneran. Hari mulai berganti menjadi gelap, pukul 8 malam lebih kami baru pulang.

Di tengah perjalanan pulang, saya mersa menjadi ratu yang diiringi petasan, marawis, shalawatan. Karena waktu itu tepat 1 muharam 1437 H. Tahun baru islam. Pukul 10 barulah sampai rumah.

Dag dig dug berdebar kencang jantung ini, kerena acara green camp 2015 akan segera di mulai. Hari mulai berganti, dengan mengandalkan hp dan internet kami mulai berkoordinasi, ada kesulitan dalam berkoordinasi, yaitu sinyal atau jaringan, karena rekan saya di seksi konsumsi, kang Doyok tinggal di kaki gunung, sehingga agak kesulitan mengakses internet. Yasudahlah, untung ada ka Oge yang membantu.

Tibalah hari acara green camp 2015 di mulai. Jumat, 16 oktober 2015, saya sangat semangat. Karena saya PJ konsumsi, saya mendadak mendapat kabar untuk berangkat lebih pagi di bandingkan teman-teman yang lain. pagi itu saya sebal sebal skali, udah bawa barang berat dan tukang ojegnya ngegodain terus, istighfar deh sampai Ciwaluh.

Selagi teman-teman belum datang, saya menyiapkan bahan makanan selama 3 hari untuk semua peserta green camp 2015 di tambah berbagi cerita dengan teh Irma dan ibunya, pagi itu menjadi semakin seru.

Saat teman-teman sudah berkumpul di saung, kami bermain dan dibagi kelompok, tepat pada pukul 13.30 kami berangkat ke lokasi green camp. Mata pun langsung bersinar dengan melihat pemandangan alam yang begitu indah di sepanjang perjalanan, hebat. Setelah capek berjalan sambil bernyanyi samapilah di tempat tujuan.

Tidak lama beristirahat kami langsung mendirikan tenda, walau baru kenal sebentar rasanya sudah seperti keluarga, apalagi momen masak, ditambah sering diejek terus sama kak Barkati. Tapi seru sih jadi gak bete juga sih hehe.

j l n o t w

3 hari kami berada di ciwaluh, banyak ilmu saya dapatkan, salah satunya tentang kehati atau kenaekaragaman hayati. Betapa WOW nya saat di perkenalkan satu persatu kehati yang ada di Ciwaluh dan beberapa tidak ada di kampung saya. Seperti sungai yang begitu jernih, pemandangan yang luar biasa, petani yang aktif, kumis kucing yang berjejer dibudidayakan, tanaman kapolaga yang memilki banyak manfaat dan pohon kopi yang menghiasi bumi perkemahan Ciawi Tali.

Ada kesedihan yang mendalam dibalik senyuman anak-anak Ciwaluh, satu rahasia yang mungkin hanya kami saja yang tahu, dalam hati kami berkata “ ini tidak boleh terjadi! bagaimana nasib orang-orang Ciwaluh?” walaupun saya adalah orang luar, tapi saya peduli dan ikut merasakan kesedihan yang  di rasakan oleh anak-anak ciwaluh. Senyum merekapun harus berbarengan dengan air mata, air mata kecintaan dan ke khawatiran mereka dengan apa yang akan terjadi ciwaluh. Walaupun itu baru sampai tahap rencana, tapi rencana itu sangat melukai anak-anak ciwaluh, tak mudah bagi mereka membayangkan kampung mereka tiba-tiba menjadi tempat rekreasi wisata kelas internasional.

Perlu perjuangan yang luar biasa yang harus dilakukan, terutama semangat dari anak-anak muda, ini Penting!.

Tapi dari situ saya bisa belajar  dan mengerti membedakan mana pecinta dan penikmat alam. Mereka bisa mengatakan diri mereka sebagai seorang pecinta alam, karena mereka berani berusaha dan berjuang berasama untuk mempertahankan alam mereka, kebanyakan orang  mengatakan diri mereka sebagai seorang pecinta alam, tapi tidak pernah memperhatikan alamnya, apakah mereka bisa disebut pecinta alam? Saya rasa tidak, mereka hanya penikmat.

3 hari sudah saya lalui dalam kegiatan green camp, satu kata dari saya untuk kegiatan green camp 2015 yaitu “ILMU”. Banyak sekali ilmu yang didapat, setelah selesai semua kegiatan, saya dan teman-teman merapihkan tenda dan membersihkan sampah yang ada di sekitar bumi perkemahan. Dan akhirnya foto-foto di curug (air terjun) Ciwai Tali,karena waktu sudah siang, tak lama kami disana, segera kami kembali ke buper dan memulai perjalanan pulang menuju saung di kampung Ciwaluh. Perjalanan itu belum cukup sampai disitu, usai makan siang di kampung ciwaluh kami melanjutkan perjalanan menuju kampung Lengkong.

Angkot sudah menunggu kami di sana, dengan singkat kami langsung naik angkot bersama dengan teman-teman Lindalang, meluncur, dan turunlah di gang Mangga, tapi perjalanannya masih belum usai, “kapan sampainya ya?”. Yaa jalan lagi dari gang mangga sampai ke rumah, akhirnya rindu selama 3 hari kepada rumah dan nenek tercinta bisa langsung terobati.

_MG_4632

GreenCamp2015, Ini kontribusi Kami!

Teks; Dian Nurjannah

Foto; Dokumentasi Relawan4Life

#GreenCamp2015; Cerita Lulu

Jumat, 16 Oktober 2015, hari pertama acara Green Camp 2015 yang di adakan di Bumi Perkemahan Ciawi Tali, Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Sekitar pukul 07.00 WIB para peserta dari Relawan4life berkumpul di markas besar tercinta R4l. setelah bersiap – siap, memeriksa dan memasukan barang bawaan ke dalam mobil serta memastikan kalau tidak ada yang tertinggal, kami pun berangkat menuju Kampung Lengkong. Setelah menempuh perjalanan ramai lancar selama satu jam, kami menjemput para peserta dari Lindalang terlebih dahulu di Muara. Sesampainya di Kampung Lengkong dan barang bawaan sudah diturunkan, dengan di koordinir oleh Rahma, kami berangkat menuju saung atau tempat peristirahatan di Kampung Ciwaluh, yaitu kampung terakhir yang ada rumah warga sebelum menuju lokasi perkemahan. Perjalanan sekitar 30 menit ke saung tempat singgah ini, sesampainya disana kami bertemu dengan peserta dari Kampung Lengkong dan anak–anak muda Ciwaluh. Setelah beristirahat sebentar, kami bermain beberapa permainan yang membangkitkan energi dengan dipandu oleh Kak Indra, Kak Rahma, dan Kak Nunu.

Kami juga memainkan  animal insting, yaitu permainan yang mengharuskan para peserta menutup mata dengan kain, lalu dibisikan satu nama hewan secara acak dan berbeda – beda, setelah itu menirukan suara hewan yang telah dibisikan untuk mencari teman – temannya. Ternyata, permainan ini digunakan untuk membentuk kelompok tiga hari kedepan selama Green Camp dilaksanakan.

l1

Bermain animal instict untuk pembagian kelompok

Setelah dipastikan semua mendapatkan teman – teman atau keluarganya, barulah dibolehkan untuk membuka ikatan kainnya dan melihat siapa saja yang menjadi kelompoknya. Setelah itu kami bebas menentukan nama apa yang akan digunakan untuk masing – masing kelompok. Ada yang memberi nama kelompok Cemara, Cau, Samawa, Ceria, dan lain–lain.

Setelah dikira cukup istirahat solat dan makan siang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Buper Ciawi Tali. Perjalanan sekitar 30 menit dengan melewati jalan setapak dikelilingi persawahan, hutan, dan perbukitan.

Sesampainya di Buper, semua peserta dipersilahkan untuk membuat tenda terlebih dahulu sebelum mulai membuat tungku untuk masak yang akan digunakan selama Green Camp.

Memasang tenda dan membuat tungku masak selesai, tiba saatnya pembagian kelompok tidur. Setelah pembagian kelompok tidur, kami diajak memainkan permainan yang menarik sampai melupakan lelah hari ini.

Sore harinya para peserta memasak untuk makan malam. Makan pertama disini dengan menu yang sederhana tapi terasa sangat istimewa karena prosesnya.

l3

Memasak dan makan bersama membuat satu sama lain menjadi lebih dekat

Tidak terasa malam pun tiba, dengan lampu sederhana kami berkumpul di lapangan utama untuk bercerita dengan warga asal Ciwaluh. Semua mendengarkan dengan antusias dan ada rasa haru serta bangga terselip dari semua cerita para warga ciwaluh.

Malam panjang hari pertama dihabiskan dengan berbincang bersama warga cilawuh.

Hari kedua 17 Oktober 2015, semua bangun pagi–pagi untuk memasak sarapan. Tidak ada yang diam pagi ini, semua sibuk dengan tungku kelompoknya masing–masing. Selesai sarapan, dilanjut games dengan sedikit olah raga. Setelah itu berkumpul dengan kelompoknya masing–masing untuk berdiskusi seputar komunitas dan hal–hal yang telah hilang serta yang baru muncul di dalam sebuah komunitas. Semua kelompok mempresentasikan dengan antusias.

Setelah semua selesai mempresentasikan, kita tiba di acara REPLING yaitu Rute Pendidikan Lingkungan. Ada 4 jalur disini, ada jalur herbal, jalur kopi, jalur kehati dan jalur sawah. Semua rute yang dilewati banyak memberikan pelajaran baru, disepanjang rute dapat ditemukan hal-hal hebat diluar dugaan kita. Salah satunya adalah kisah seorang bapak, warga Kampung Lengkong Tengah yang kisahnya sangat menginspiratif. Bapak ini bernama Pak Usup, beliau adalah petani padi di jalur persawahan yang kami lewati. Dengan usia yang tidak muda lagi, semangat beliau sangat luar biasa. Selain kisah Pak Usup, selama repling juga para peserta dipersilahkan untuk mengambil gambar hal apapun yang kita anggap Wow Banget, setelah mengambil gambar kita dianjurkan untuk mencari fakta dari gambar yng kita ambil yang besok adakan dijadikan pameran. Metode ini bernama arumono sagashi.

l2

Berdiskusi saat melakukan Rute Pendidikan Lingkungan

IMG_9843

Saat malam, peserta dan warga berbagi cerita tentang Kampung Ciwaluh

Selesai repling kami kembali ke perkemahan. Malamnya, yaitu di malan kedua kami berkumpul di lapanga utama untuk acara dua jam bersama mardha, disini kami berdiskusi tentang konsep ekowisata yang diinisiasi oleh anak-anak Muda Ciwaluh, juga hambatan dan tantangan yang akan dihadapi. Salah satu permasalahan yang muncul yaitu proyek Disneyland yang akan dibangun diwilayah ini.

y

Presentasi hasil diskusi kelompok

Hari ketiga 18 oktober 2015, setelah sarapan pagi, semua senam dengan semangat dan tawa terlukis dari semua peserta. Setelah senam dan melihat–lihat pameran foto hasil arumono sagashi kemarin, semuanya berkumpul kembali untuk diskusi apa yang harus dilakukan kedepannya untuk perbaikan ekowisata ini. Sebelum pulang, kami berfoto di curug Ciawi Tali yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perkemahan. Tidak terlukis oleh kata – kata, semuanya terlalu hebat untuk diungkapkan.

Suara air yang tidak pernah berhenti, lahan hijau yang tidak pernah mati,  angin yang selalu berhembus menyejukan hati, serangga dan burung kecil bernyanyi, serta elang yang sesekali berteriak seolah memanggil untuk ditemani. Mari bersyukur dan rasakan semuanya dengan hati.

IMG_0157

Green Camp 2015: Pengelolaan Sumber Daya Lokal, ini kontribusi kami!

Teks; Lulu Luthfia

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

#GreenCamp2015; Cerita Sifu

Aku Sifu, aku dari Teen’s Go Green Jakarta. Aku sebelumnya juga ikut Green Camp 2014 di Gunung Pancar. Sifu kira tahun ini Green Camp gak diadain, tapi ternyata salah besar. Yup, tahun ini Greencamp diadain lagt dengan konsep yang menurut Sifu beda banget dari tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya,semuanya serba disediain dan kita hanya sebagai peserta yang kemudian dapet tugas buat observasi warga yang tinggal di sekitar Jungle Land, tetapi tahun ini kita ikut berkontribusi, ikut bantu, ikut ngerasain jadi pemuda Ciwaluh itu kaya apa, banyak deh pokoknya.

Awalnya Sifu tau Greencamp tahun ini akan diadain itu dari senior di TGG, tapi daftar sendiri. Yaudah Sifu hubungin CP yang dikasih sama senior, Sifu daftar, katanya tunggu kabar selanjutnya. Tanggal 14 Oktober Sifu masuk grup whatsapp, dalam grup itu tau-tau udah bahas perlengkapan yang mesti dibawa sama meeting pointnya. Paniklah Sifu, Sifu kira berangkatnya itu tgl 24, Sifu make sure ternyata tgl 16. Karena pengen banget ikut ya Sifu bolos ngantor + bolos kuliah.

Jum’at 16 Oktober 2015 Sifu berangkat menuju RMI dari RMI baru menuju Desa Ciwaluh. Sifu fikir kita bakal naik angkot sampe lokasinya, ternyata harus jalan lagi. Ya gak apa-apalah itung-itung latian fisik. Awal turun dari angkot sedikit kaget, desanya itu ternyata bener-bener desa yang jalannya masih kecil kaya gang rumahSifu . Lanjut jalan kaki, lewatin rumah warga, sawah-sawah dan anjing liar yang berkeliaran. 30 menit kemudian sampe di pendopo. Di pendopo itu, baru acara dibuka terus pembagian kelompok, setiap kelompok dapet bahan-bahan buat masak selama tiga hari. Sifu kira kita bakal ngecamp di pendopo ternyata masih jalan lagi. Setelah Solat Jum’at, kita lanjutkan perjalanan. Lumayan capek, tapi terbayarkan dengan pemandangan yang WOW. Sungai, sawah, perbukitan, terus gunung kita bisa liat.

Setelah sampai di tempat campnya, kita diriin tenda, abis itu bikin tungku buat masak, apinya jadi, kita masak air buat minum. Tungku itu buat masak makanan selama tiga hari juga. Tungku itu juga yang buat Sifu merasa bener-bener hidup di desa tempo dulu. Setelah itu games-games yang buat satu sama lain makin deket tanpa malu-malu lagi. Malamnya kita sharing tentang organisasi dari masalah sampai solusinya juga. Dan gara-gara sharing itu juga Sifu jadi tahu kegiatan mereka, pengalaman mereka, dan jadi lebih deket juga.

s1

Sebelum berangkat ke lokasi kemping, beresin logistik yang dibagi panitia

s2

Belajar mandiri, bikin tenda sendiri

s3

Masak dengan tungku dan kayu bakar

Sabtunya, 17 Oktober, setelah kita selesai masak+makan dll, kita kumpul lagi di lapangan utama. Kali ini bahas komunitas dan hal-hal yang hilang dan hal-hal baru di lingkungan kita. Setelah berdiskusi kita REPLING (Rute Pendidikan Lingkungan). Ada 4 Jalur Repling, yaitu Kehati, Kopi, Herbal, dan Sawah. Sifu kedapatan di jalur Sawah. Selama perjalanan kita berhenti di tempat istirahat petani, disana bahas padi dan sawah, gak lama kemudian ada seorang bapak yang nyamperin kita, ternyata gubuk itu tempat istirahat beliau saat garap sawah, kebetulan banget kita sekalian wawancarain beliau. Beliau cerita bahwa sawah yang beliau garap bukan milik sendiri tapi punya orang lain. Panennya setiap 3 bulan sekali, sekali panen itu bisa 20-30 kwintal. Tapi walaupun panennya sebanyak itu, dia cuma dapetin 20-40 kg doang, HEBAT !. Beliau juga cerita soal surat dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang melarang warga buat ngegarap sawah. Sedikit nyess denger cerita beliau, tapi bikin Sifu semangat juga, beliau itu sedikit mengajarkan kalau hidup itu susah, hidup sama dengan ujian. Semoga orang-orang seperti Pak Yusuf ini gak banyak di Indonesia. Sifu masih bertanya-tanya sebenarnya, katanya negara kita negara agraris, tapi nyatanya, apa ini yang namanya negara agraris?

Udah selesai sharing dengan Pak Yusuf kita lanjutin perjalanan lagi. Selama perjalanan, Sifu ngeliat tumbuhan kaya enceng gondok, tapi bukan, Sifu tanya sama fasilitator, itu namanya geboy, katanya itu sejenis hama yang dapat bikin sawah gagal panen. Tapi geboy itu bagus, warnanya itu kecil-kecil gitu, bagus deh pokonya menurut Sifu.

s4

Berjalan menyebrang sungai saat REPLING [Rute Pendidikan Lingkungan]

s5

Senam. Selain olahraga, juga sebagai hiburan di pagi hari

Setelah repling kita masak+makan, terus games lagi. Ada satu games yang bikin deg-degan. kita dibagi dua kelompok terus disuruh duduk hadap-hadapan. Nanti yang nomornya kesebut ,suruh lari lewatin kaki-kaki yang selonjoran, tapi ini games paling seru menurut Sifu, walaupun karna nomor Sifu cuma kesebut sekali haha. Sesudah games kita main air di Sungai Cisadane yang jernih. tapi kalo di bawah, Sungai Cisadane nya udah kotor, berminyak pula. Dan akhirnya kita mandi juga.

Sabtu malam, kita sharing lagi, tapi kali ini sama warga Ciwaluh. Sifu kaget, Sifu miris, ketika salah satu warga bilang kalau tanah yang selama tiga hari ini kita gunain itu bakal dibuat Disneyland. WOW, gak habis fikir sama pengembang-pengembang yang serakah, kenapa gak dibuat di daerah yang memang sudah maju? seperti Jakarta gitu, kenapa harus dialam yang masih asri ? kenapa harus buat Disneyland? Kenapa gak buat suatu yang lebih bermanfaat bagi orang banyak gitu? kan kalau Disneyland, hanya untuk orang-orang yang punya uang, yang gak punya uang gimana? kenapa uangnya gak buat bikin yayasan sosial gitu?

Tapi Sifu bangga bisa kenal pemuda Ciwaluh khususnya.

Mereka keren, mereka bangun ekowisata ditengah-tengah masalah yang bakal dihadapin sama desa nya.

Mereka gotong royong, mereka solid satu sama lain, kerenlah mereka pokonya.

mereka juga jadi barometer Sifu sendiri untuk berkawan dan berorganisasi. Sifu cuma bisa berdoa yang terbaik buat semuanya.

Minggu 18 Oktober, pameran hasil REPLING digelar dan kita bisa lihat hasil jalur lain. Setelah itu, kita diskusi beberapa hal yang diperluin di Bumi Perkemahan Ciawi Tali, tempat yang kita gunain selama tiga hari Greencamp. Pertama yaitu tentang sampah, kedua layout Buper, ketiga fasilitas, dan keempat lain-lain. Setelah selesai kita persentasi deh. Setelah itu beberes, bongkar tenda, terakhir kita ke Curug Cawi Tali terus pulang deh.

s6

Diskusi dan memberi masukan untuk perbaikan ekowisata yang dikelola anak muda Ciwaluh

Pokoknya banyak banget yang Sifu dapet dari Green Camp 2015 ini. Sedikit menyesal, kenapa giliran udah deket satu sama lain, udah mulai akrab, malah pisah.

Makasih Relawan 4 life dan RMI atas kegiatan Greencampnnya, Makasih juga warga Ciwaluh, senang bisa kenal kalian semua.

Teks; Siti Marfu’ah [Sifu]

Foto; Dokumentasi Relawan4Life

Road to #Greencamp2015; Greencamp2011

Pada 2011, RMI kembali menyelenggarakan kegiatan “camp” untuk anak-anak muda, dan mulai memakai nama “Green Camp”.

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari, melibatkan sekitar 70 orang anak muda, yang terdiri dari berbagai komunitas, dari berbagai daerah, mulai dari komunitas di hulu Cisadane, sampai ke Bogor, Depok dan Jakarta.

Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, merupakan lokasi diadakannya kegiatan Green Camp ini.

DSC_3035 DSC_3144 DSC_3470

DSC_4029 DSC_4296 DSC_4388 DSC_4433 DSC_4501 DSC_4599 DSC_4614 DSC_4655

Road to #Greencamp2015; Educamp 2011

Saat itu, namanya educamp. Tahun 2011.

Merupakan ajang berbagi pengalaman, saling belajar, antara anak muda urban dan anak muda lokal. Diikuti sekitar 30 orang. Educamp diselenggarakan di Kampung Ciwaluh, selama dua hari. Kegiatannya beragam, mulai dari pengamatan burung, biomonitoring, memahami potensi dan masalah uang terjadi dengan diskusi dan presentasi, sampai dengan aksi bersih-bersih kampung dan penanaman pohon.

Educamp mempertemukan dua komunitas anak muda. Shapta Panca Buana, mewakili anak muda lokal, merupakan kumpulan anak-anak muda dari lima kampung+sekolah di hulu DAS Cisadane, dan Teens Go Green, mewakili anak urban, adalah komunitas anak muda yang berbasis di Jakarta.

a

Pengamatan burung

b

Biomonitoring, untuk melihat kualitas air sungai

e

“Melihat” potensi dan masalah yang terjadi di Kampung Ciwaluh

c

Presentasi hasil diskusi kelompok

d

Landscape Kampung Ciwaluh, yang merupakan kampung paling ujung di hulu Cisadane