Workshop Media Belajar dalam Rangka Peringati Hari Anak Nasional

Relawan4Life, menyelenggarakan “Workshop Media Belajar” pada Minggu, 24 Juli 2016. Workshop ini merupakan upaya dari Relawan4Life dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Peserta yang mengikuti workshop ini, adalah guru-guru PAUD dan SD di Desa Wates Jaya dan Desa Pasir Buncir, Kabupaten Bogor.

Lulu Luthfia, koordinator kegiatan ini, menjelaskan “Anak-anak yang belajar di PAUD di daerah ini tuh kasian, mereka cuma diajarin baca sama nulis aja. Malah ada yang ngomong, gak mau sekolah lagi karena pegel tangannya, nulis mulu”.

Lulu dan tiga orang relawan lainnya, sebelumnya pernah terlibat dalam gerakan #BerbagiIlmu yang digagas Relawan4Life. Dalam program tersebut, selama satu bulan, relawan ikut mengajar di PAUD yang ada di dua desa tersebut.

#BerbagiIlmu yang tadinya mengirim relawan untuk mangajar, diubah strateginya dengan mengadakan pelatihan dan workshop bagi guru-guru. Pelatihan pertama dilaksanakan pada Oktober 2015.

Sebagai pembuka workshop, Mardha Tillah-Manajer Advokasi dan Kebijakan Sumberdaya RMI, memberikan materi tentang hak anak.

Sesi I. Hak Anak

Mengutip Johanna Eriksson, Tilla menjelaskan bahwa anak-anak memiliki status yang setara dengan orang dewasa sebagai anggota ras manusia, mereka bukan milik orang tua. “Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting dalam fase kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus untuk menjamin bahwa hak anak-anak dan kepentingan anak-anak seharusnya diwakili secara tepat dalam semua pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka”.

Indonesia, ikut meratifikasi Konvensi Hak Anak yang disahkan pada 20 November 1989. Secara umum, Primsip-prinsip umum KHA diantaranya:

  • Non diskriminasi
  • Kepentingan terbaik bagi anak)
  • Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan tumbuh kembang
  • Penghormatan terhadap pendapat anak (Partisipasi)

Sesi II. Workshop Media

Sebelum  penjelasan media-media pembelajaran yang telah disiapkan relawan, guru-guru dibagi ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi satu barang yang harus mereka jadikan media pembelajaran. Dalam waktu sepuluh menit, para guru mampu menjadikan satu alat tersebut menjadi dua sampai tiga media pembelajaran. Sesuatu yang mampu mereka lakukan, namun belum pernah dilakukan.

Para relawan, secara bergantian, kemudian menjelaskan fungsi dan cara penggunaan media-media pembelajaran yang telah disiapkan. Saat diminta untuk mencoba mempraktekkan, para guru terlihat sangat antusias.

Sesi ini difasilitasi oleh Rahma Novianti, Koordinator Relawan4Life.

“Capek, tapi seneng pas liat guru-gurunya pada semangat. Semoga anak-anak juga bisa lebih semangat nanti belajarnya” ucap Lulu mengakhiri evaluasi panitia, sebelum persiapan UAS esok hari di kampusnya.

 

Teks: Fahmi Rahman

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

 

Iklan

#ShortCourse: Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial

Tahukah kamu kalau kebakaran hutan yang terjadi selama tahun 2015 kemarin mengakibatkan kerugian 221T yang setara dengan pembangunan 170,000 gedung sekolah berbiaya 1,3M?

Seberapa sadarkah kita bahwa pembangunan di kawasan wisata Puncak yang sering kita nikmati saat akhir pekan itu berhubungan dengan banjir di daerah Manggarai, Jakarta?

Dan tahukah kamu apa hubungan antara madu yang diambil oleh Orang Rimba dengan memanjat pohon setinggi 30 meter di hutan-hutan di Jambi, dengan kisah kertas putih A4 yang kita pakai untuk menulis saat ini?

RMI didukung oleh Terre des Hommes Germany mengadakan Short Course “Relawan Lingkungan untuk Perubahan Sosial”
Bogor, 18-20 Maret 2016

Selama 3 hari ini, kamu yang tertarik untuk melakukan perubahan sosial ditantang untuk belajar dan berbagi pengetahuan dan antusiasme bersama 19 orang lainnya agar lebih memahami fenomena lingkungan yang terjadi, yang juga mempengaruhi hidup kamu dan orang-orang terdekatmu.

shortcourse

Info lebih lanjut, cek disini

#BerbagiIlmu; Belajar Bahasa Inggris di Kebun Raya Bogor

Untuk menutup kegiatan BBC di periode pertamanya, Relawan4Life dan leader dari BBC mengajak anggotanya datang ke Kebun Raya Bogor (KRB) untuk melakukan tantangan yang di berikan yaitu mampu berkomunikasi dengan orang asing, sebagaimana mengasah keberanian dan kemampuan dalam berbahasa inggris, yang dilaksanakan pada hari minggu, 03 januari 2016.

BBC adalah klub bahasa Inggris di Kp. Lengkong, Bogor, yang diasuh Relawan4Life.

Para tutor dari Relawan4Life, Rahma, Diah dan Sifu, sayangnya Mei (salah satu tutor) tidak bisa hadir karena sedang bekerja, serta di bantu oleh relawan yang lain, Rudi, Lulu, Hani dan Wulan,mendampingi 17 member BBC bermain dan belajar di Kebun Raya Bogor. Para tutor menjadikan momentum ini sebagai kegiatan penutup untuk periode pertama, dan mengajak adik-adik ini untuk ber-rekreasi di ikon kota Bogor.

Di awal periode pengajaran, 02 Agustus 2015, anggota BBC menuliskan apa harapan mereka mengikuti kegiatan les ini. Mayoritas dari mereka menyebutkan ingin bisa berbicara dalam bahasa inggris di depan umum, dan bisa berbicara dengan orang asing.

Pukul 09, semua tutor dan peserta berkumpul di dekat tugu Raffles, yang tak jauh dari pintu gerabang utama Kebun Raya Bogor (KRB). Rahma membuka acara dengan menanyakan bagaimana perjalanan mereka dari Lengkong ke kebun Raya? Ini kunjungan pertama kali ke KRB bagi sebagian orang. Untuk check semangat mereka Diah mencoba berteriak “BBC..!”, serempak mereka menjawab “Just For Fun!!” serta di lanjut dengan lagu BBC yang mereka ciptakan sendiri.

Kegiatan diawali dengan ice breaking. Ningsih, salah satu member BBC menjadi fasilitatornya. Ningsih mengajak semua memainkan tepuk energi. Rahma melanjutkan dengan mengajak semua peserta untuk bernyanyi “Banana” dengan gerakan ala banana. Dalam sekali contoh, peserta sudah bisa menghafal lirik dan gerakan banana ini. Kemudian peserta di bagi menjadi 2 kelompok. Peserta diajak bermain tebak kata, dengan empat kategori; activity, fruit, animal dan thing. Pemilihan kategori tersebut disadarkan pada hal-hal yang berkaitan dengan KRB, tempat kegatan dilaksanakan.

Dalam waktu 5 menit setiap kelompok berlomba untuk menjawab sebanyak-banyaknya kata. Peserta bergantian menebak kata dengan 4 kategori tersebut, sedangkan teman satu tim hanya boleh memberikan jawaban yes atau no dari pernyataan yang di sampaikan penjawab.

Permaianan pertama berjalan dengan seru, terutama saat kelompok 2 yang di pimpin oleh Inay bermain. Relawan pun ikut antusias dan gemes untuk ikut-ikutan menjawab. Di detik terakhir, Dewi, anggota kelompok 2 berhasil menjawab kata terakhir. Sontak semua orang bersorak, tak terkecuali kelompok lawan, yang sudah jelas kalah pada sesi games kali ini. 4-6 skor akhirnya. Rahma kembali membahas setiap kata yang disajikan dan meminta peserta untuk menjawab secara bersama-sama pengertian setiap kata, dan termasuk kategori apa kata tersebut

Komposisi kelompok diubah, meski tetap ada 2 kelompok. Kelompok 1 merupakan kelompok peserta usia sekolah dasar yang di dampingi oleh Sifu, Wulan dan Hani. Sedangkan untuk kelompok SMP dan SMA di dampingi oleh Diah, Lulu dan Rahma.

Kelompok usia SMP dan SMA, dibagi lagi menjadi dua. Setiap kelompok diberi tugas mencari narasumber orang asing dan menanyakan 10 pertanyaan yang telah disiapkan. Sebagi bukti, mereka harus berfoto dengan narasumber tersebut. Setiap kelompok anak mendapat nilai 20 poin apabila berhasil mendapatkan narasumber orang asing, dan 10 poin apabila narasumbernya orang lokal yang berbahasa inggris.

Disaat kedua kelompok sedang mencari narasumber, kelompok tingkat SD bermain komunikata. Sifu agak kesulitan karena beberapa anggota masih belum faham maksudnya dan kesulitan untuk menyebutkan ciri-ciri kata tersebut. Sehingga Sifu menggantinya dengan permaianan pesan berantai.

Yupp berhasil! permaianan berjalan seru, sampai-sampai pengunjung yang lain menonton kegitan permaianan ini, hingga akhirnya Audry, salah satu yang menonton ikut terlibat dalam permainan ini. Sifu dan Wulan menyampaikan satu kalimat kepada orang yang paling belakang dan setiap orang harus menyampaikan pesan tersebut, hingga ke orang paling depan, orang paling depan harus bisa menyebutkan kalimat tersebut dengan jelas, serta mengetahui apa arti kalimat tersebut. Menariknya permainan ini menguji listening, pronounce dan mengasah vocabulary yang mereka miliki.

Dalam waktu 40 menit, kelompok usia SMP dan SMA yang pertama, berhasil melakukan tugas dengan 2 narasumber asing dan 1 narasumber lokal.  sedangkan kelompok lainnya datang terlambat, dan hanya berhasil wawancara dengan 1 orang asing.

Sesi ini diakhiri dengan istirahat makan siang dan shalat.

Usai istirahat, peserta tingkat SD bermain di sekitar air mancur. Sedangkan kelompok SMP dan SMA, berkumpul untuk saling bercerita pengalaman selama menjalankan misi.

Kelompok petama berhasil mendapatkan narasumber asing dari Malaysia dan Filipina, serta orang lokal yang berbahasa inggris dari Depok. Mereka pernah mendapatkan penolakan dari beberapa orang, namun keramahan narasumber yang mereka dapatkan menghilangkan rasa kecewa yang mereka dapatkan, kesulitanya adalah ketika mencoba memahami jawaban yang di lontarkan karena setiap negara punya dialek yang berbeda, tidak hanya mereka yang bertanya tapi mereka juga mendapatkan beberapa pertanyaan dari narasumber. Sedangkan untuk kelompok yang kedua, mereka kesulitan untuk mendapatkan orang asing, beberapa kali mereka salah mengira, ternyata yang mereka incar adalah orang Indonesia. Namun mereka terus mencari sampai akhirnya di menit terakhir mereka berhasil menemukan pasangan orang asing, dengan senang hati mereka mau menyediakan waktu untuk ngobrol, laki-laki nya berasal dari Inggris dan perempuannya dari Indonesia. Sedikit banyak perempuan Indonesia yang bersama laki-laki dari Inggris ini membantu untuk menyampaikan maksud dari kedatangan mereka. Namun semuanya berjalan dengan lancar walaupun Kelompok yang kedua ini merasa kecewa, karena tidak menemukan banyak orang asing berlalu lalang.

Suatu kebanggan bagi mereka bisa berbicara bahasa inggris dengan orang luar negeri, dan mereka juga mengaku bahwa ini memacu mereka untuk belajar lebih giat lagi. Kegiatan ini bisa menjadi penilaian seberapa jauh kemampuan ber-bahasa Inggris mereka. Dan mereka menjadi lebih berani untuk berbicara bahasa Inggris.

Kegiatan terakhir adalah melakukan refleksi dari kegiatan seharian ini. Diah memimpin sesi di kelompok besar, dan terakhir mereka menuliskan apa yang menjadi kesan serta pembelaajaran apa yang didapatkan. Sebelum menutup acara Rahma menyampaikan informasi bahwa Kelas BBC akan di liburkan selama bulan Januari dan kembali aktif pada bulan Februari. Diah memberikan bingkisan kepada setiap tim yang memenangkan berbagai permainan yang di lakukakan hari ini.

Kegiatan di tutup dengan membaca doa dan menyanyikan lagu BBC, selebihnya waktu untuk jalan-jalan sekitar Kebun Raya Bogor.

e

Teks; Rahma Novianti

Foto; Dokumentasi R4L

 

 

#BerbagiIlmu; Kelas Bahasa Inggris

Diah, pagi sekali sudah berangkat dari rumahnya. Butuh waktu sekitar tiga jam dari rumahnya di Jakarta menuju Kp. Lengkong, sebuah kampung di ujung selatan Kabupaten Bogor, yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi. Disana dia bertemu dengan Rahma, Koordinator Relawan4Life.

Minggu pagi ini, mereka berdua mulai mengajar kelas bahasa Inggris di Kampung Lengkong. Kelas perdana.

Ada sekitar dua puluhan anak yang mengikuti kelas bahasa Inggris ini. Yang terdiri dari anak usia SD sampai dengan SMA.

Kelas dimulai pukul sembilan lewat, dan rencananya akan diselenggarakan sekitar satu setengah jam saja. Namun karena antusiasme anak-anak yang sangat tinggi, kelas akhirnya berjalan dua kali lipat dari rencana awal, sekitar tiga jam.

Kelas bahasa Inggris ini diselenggarakan seminggu sekali, setiap hari minggu. Bagi yang tertarik untuk #BerbagiIlmu di kelas bahasa Inggris ini, yuk gabung!

a b c d e f g

#BerbagiIlmu; Mengajar di Bulan Agustus

Mojang dan Afi selama bulan Agustus ini menjadi relawan pengajar di PAUD Bersaudara, di Kp. Lengkong Ds. Pasir Buncir, Bogor. Mereka berdua mengajar setiap hari selasa dan kamis, mulai pukul 07.30-11.00

Sedangkan di PAUD Amanah yang berada di Kp. Lengkong Girang Ds. Wates Jaya, ada Hani dan Lulu yang menjadi relawan pengajar. Mereka mengajar setiap hari kamis dan jumat, mulai pukul 15.30-17.30

Butuh sekitar 1,5-2 jam perjalanan dari tempat tinggal mereka menuju ke lokasi belajar. Itu pun menggunakan kendaraan roda dua, dan mengambil jalur alternatif. Mereka tinggal di Kota Bogor, sedangkan lokasi belajar, berada di Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi.

Semoga apa yang dilakukan, memberi manfaat

Mari #Berbagi

a

Sebelum mengajar, bermain dulu dengan anak-anak ayam

c

Para orang tua yang setia menunggui anaknya belajar

d

Berbaris yang rapi sebelum masuk kelas

e

Generasi penerus bangsa

f

Menjadi pengajar yang baik, agar anak nyaman belajar

b

Menyampaikan materi dengan permainan, selain menyenangkan, membuat anak menjadi bersemangat untuk belajar

20150806_082920

Bermain “lempar bola sebut nama”, selain untuk berkenalan, juga supaya anak berani berbicara

20150806_083910

Menemani anak bermain di sela-sela waktu istirahat

20150806_093912-1

Suasana belajar di dalam kelas di PAUD Bersaudara

#BerbagiIlmu: Kelas Pembekalan Pengajar Muda

Lima orang calon pengajar muda, berkumpul di sekretariat Relawan4Life.

Hari ini, senin, 03 Agustus, mereka mendapatkan materi pembekalan sebelum mengajar dalam program #BerbagiIlmu.

#BerbagiIlmu adalah program mengajar yang dikelola Relawan4Life. Program ini dilaksanakan di tingkat pendidikan pra sekolah, PAUD dan TK. Selain karena memang ada kebutuhan tenaga pengajar di beberapa PAUD, juga karena Relawan4Life ingin berkontribusi pada pendidikan di negeri ini. Relawan4Life ingin memberikan pemahaman kepada anak, bahwa belajar itu menyenangkan. Bahwa sekolah itu seru dan tidak menyeramkan.

Sebelum materi pembekalan dimulai, para calon pengajar membahas dan menandatangani kode etik perlindungan anak.

c

Calon pengajar, Lulu, Hani dan Mojang (kiri-kanan) menandatangani kode etik perlindungan anak

Relawan4Life menerapkan kebijakan perlindungan anak dalam setiap kegiatannya. Hal ini dilakukan untuk mencegah kejadian-kejadian yang bisa berakibat buruk pada anak-anak yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan Relawan4Life. Lembar komitmen ini menjadi salah satu instrumen wajib yang harus dipahami dan ditandatangani oleh relawan, terutama untuk kegiatan yang melibatkan anak-anak.

Relawan yang mengikuti prgram #BerbagiIlmu harus berkomitmen mengajar, minimal satu bulan penuh. Periode waktu ini bisa diperpanjang pada bulan berikutnya

Hal-hal teknis lainnya pun dibahas, termasuk pembagian jadwal dan lokasi kegiatan. Setiap bulan, Relawan4Life hanya mengirimkan empat pengajar yang akan mengajar di dua PAUD. Saat ini, yang menjadi lokasi program #BerbagiIlmu yaitu PAUD Bersaudara di Kp. Lengkong Desa Pasir Buncir, dan PAUD Amanah di Kp. Lengkong Girang Desa Wates Jaya

b

Materi pembekalan dilakukan di sekretariat Relawan4Life

a

Rahma, koordinator Relawan4Life sedang menjelaskan hal-hal teknis seputar #BerbagiIlmu, termasuk pembagaian jadwal dan lokasi mengajar

Yang menjadi narasumber dalam kelas pembekalan ini ada Indra, Fasilitator dari RMI The Indonesian Institute for Forest and Environment dan Lizbeth, Guru di pre-school Sekolah Bogor Raya. Indra lebih banyak menjelaskan mengenai teknik-teknik fasilitasi. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat sedang menjadi fasilitator. Pengalaman mengajar disampaikan oleh Lizbeth. Etika sebagai seorang pengajar, mengendalikan emosi, juga peka terhadap psikologis anak didik yang disampaikan Lizbeth merupakan hal-hal yang harus dimiliki seorang pengajar. “Menginspirasi sekali ceritanya mbak Lizbeth, dan materinya nendang abis. Luar biasa”, kata salah satu peserta kelas pembekalan.

d

Indra (kiri) dan Lizbeth (kedua dari kiri) memberikan materi dan berbagi pengalaman mengajar kepada calon pengajar Relawan4Life

e

Lulu, Hani, Mojang dan Afi (kiri ke kanan) merupakan empat calon pengajar muda Relawan4Life yang akan mengajar di bulan Agustus ini

Program #BerbagiIlmu akan dimulai hari kamis, 06 Agustus 2015.

Teks & Photo: Fahmi Rahman