Workshop Media Belajar dalam Rangka Peringati Hari Anak Nasional

Relawan4Life, menyelenggarakan “Workshop Media Belajar” pada Minggu, 24 Juli 2016. Workshop ini merupakan upaya dari Relawan4Life dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Peserta yang mengikuti workshop ini, adalah guru-guru PAUD dan SD di Desa Wates Jaya dan Desa Pasir Buncir, Kabupaten Bogor.

Lulu Luthfia, koordinator kegiatan ini, menjelaskan “Anak-anak yang belajar di PAUD di daerah ini tuh kasian, mereka cuma diajarin baca sama nulis aja. Malah ada yang ngomong, gak mau sekolah lagi karena pegel tangannya, nulis mulu”.

Lulu dan tiga orang relawan lainnya, sebelumnya pernah terlibat dalam gerakan #BerbagiIlmu yang digagas Relawan4Life. Dalam program tersebut, selama satu bulan, relawan ikut mengajar di PAUD yang ada di dua desa tersebut.

#BerbagiIlmu yang tadinya mengirim relawan untuk mangajar, diubah strateginya dengan mengadakan pelatihan dan workshop bagi guru-guru. Pelatihan pertama dilaksanakan pada Oktober 2015.

Sebagai pembuka workshop, Mardha Tillah-Manajer Advokasi dan Kebijakan Sumberdaya RMI, memberikan materi tentang hak anak.

Sesi I. Hak Anak

Mengutip Johanna Eriksson, Tilla menjelaskan bahwa anak-anak memiliki status yang setara dengan orang dewasa sebagai anggota ras manusia, mereka bukan milik orang tua. “Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting dalam fase kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus untuk menjamin bahwa hak anak-anak dan kepentingan anak-anak seharusnya diwakili secara tepat dalam semua pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka”.

Indonesia, ikut meratifikasi Konvensi Hak Anak yang disahkan pada 20 November 1989. Secara umum, Primsip-prinsip umum KHA diantaranya:

  • Non diskriminasi
  • Kepentingan terbaik bagi anak)
  • Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan tumbuh kembang
  • Penghormatan terhadap pendapat anak (Partisipasi)

Sesi II. Workshop Media

Sebelum  penjelasan media-media pembelajaran yang telah disiapkan relawan, guru-guru dibagi ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi satu barang yang harus mereka jadikan media pembelajaran. Dalam waktu sepuluh menit, para guru mampu menjadikan satu alat tersebut menjadi dua sampai tiga media pembelajaran. Sesuatu yang mampu mereka lakukan, namun belum pernah dilakukan.

Para relawan, secara bergantian, kemudian menjelaskan fungsi dan cara penggunaan media-media pembelajaran yang telah disiapkan. Saat diminta untuk mencoba mempraktekkan, para guru terlihat sangat antusias.

Sesi ini difasilitasi oleh Rahma Novianti, Koordinator Relawan4Life.

“Capek, tapi seneng pas liat guru-gurunya pada semangat. Semoga anak-anak juga bisa lebih semangat nanti belajarnya” ucap Lulu mengakhiri evaluasi panitia, sebelum persiapan UAS esok hari di kampusnya.

 

Teks: Fahmi Rahman

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

 

#AmazingRace2016; Dibalik Layar

Waktu yang sangat terbatas menjadi salah satu tantangan panita dalam melakukan kegiatan perayaan hari bumi 2016 dengan konsep #AmazingRace. Setelah konsep selesai di kerjakan, hanya melalui media seperti e-mail dan group WhatsApp kita berdiskusi dan mempersiapkan berbagai hal. Hal yang sangat sulit untuk kami bisa duduk bersama dan membahas pesiapan ini-itu, terlebih tidak banyak dari kami yang pernah menjadi panitia atau peserta #AmazingRace. Bermodalkan saling percaya dan tidak saling mengandalkan saya mencoba membagi berbagai tugas kepada panitia.

Bisa di hitung berapa kali kami bertemu. Intensifnya hanya 1 hari sebelum hari H. Tepatnya tanggal 23 april 2016. Beruntungnya teman-teman dari RMI yang notabenenya sudah sering melakukan kegiatan ini, membantu dengan sangat maksimal. Terimakasih banyak!

Konsep “taman” ini sebenarnya berawal dari celetukan perencanaan #AmazingRace di bulan Desember 2015 lalu, sehingga taman-taman yang ada di Kota Bogor menjadi lokasi setiap misi dari permaianan ini. Referensi dari setiap misi ini adalah, #AmazingRace sebelumnya, dan Runing Man. Awalnya misi yang saya sampaikan pada panitia sudah terdengar jahat, sehingga saya rasa cukup misi di setiap pos seperti ini.

Tapi jangan salah, master games RMI, kita sebut saja inisalnya, Indra N Hatasura, merubah sedikit konsep yang sudah disampaikan pada panitia, tepat 2 hari sebelum acara dimulai. Argumennya justru berbeda 180◦ dengan panitia yang sudah mendengarkan konsepku sebelumnya.

Dua minggu sebelum acara, kami melakukan survey tempat.  Saat itu ada saya dan Lulu dari Relawan4life, Mahmud dan Erik dari RMI. kami mengunjungi taman yang jarang orang datangi, dan akhirnya kami menemukan satu taman bermain, ada ayunan, dan segala macem maenan anak-anak. Tidak ada plang nama sama sekali. Akhirnya kami tanyakan pada anak-anak yang sedang bermainan disana, mereka tak tahu apa nama taman ini, bahkan tukang warung samping taman pun tak mengetahuinya. Akhirnya kami membuat nama untuk taman ini, karena ada di jalan Ciremai Ujung, akhirnya kami beri nama Taman Ciremai Ujung. Tak ambil pusing. Setelah kami bermain ayunan, kami melanjutkan perjalanan.

Tapi sebelumnya saya ingin bercerita mengenai misi apa yang akan dilakukan setiap tim.

Pos 1; Taman Ciremai Ujung

Di pos ini, setiap tim harus menyebutkan semua nama tim sebagai kata kunci memasuki pos ini. Setiap tim akan memilih bola waktu, dimana itu merupakan waktu mereka untuk menjual stiker Trees4Life semampu yang bisa mereka jual. 1 stiker seharga Rp.5000,-. Satu stiker yang terjual sama dengan 1 pohon yang akan ditanam di area hulu DAS Cisadane. Semakin banyak stiker yang dijual semakin banyak pohon yang akan kami tanam disana, dan itupun akan menguntungkan setiap tim, kenapa ? lihat saja apa yang akan terjadi di pos 3.  Walau indonesia sangat tekenal dengan jam karetnya, kita akan lihat apakah hal itu terjadi di misi ini? apakakah peserta akan menyelesaikan misi mereka tepat waktu, atau ngaret?.Jika peserta terlambat satu menit, maka satu poin kelompok mereka akan hilang. Dan jika mereka bisa kembali ketika mereka masih memiliki waktu, maka tambahan satu poin untuk setiap menitnya.

Disini kita bisa belajar apa yang kita tanam akan kita tuai, semakin besar usaha kita menawarkan, semaikn besar peluang terjualnya, dan bahkan the power of networking  akan sangat berguna disini, dan itu terbukti pada tim Rasamla, sang Runner Up.

Misi ini merugikan tim yang datang terakhir. Karena sudah banyak yang menjual dan menawarkan hal serupa, sedangkan ruang lingkupnya disitu-situ saja, sehingga tim terakhir menjadi lebih sulit menjual stiker.

Pos 2; Taman Heulang

Hutan Kota Ahmad Yani, dan Taman Heulang adalah dua tempat yang kami kunjungi saat survey. Hanya sekedar melihat dan membandingkan 2 lokasi ini, mana yang lebih memungkinkan. Setelah sekedar berjalan berkeliling Taman Heulang dan Hutan Kota Ahmad Yani, kami memutuskan untuk menggunakan Taman Heulang. Taman ini akan jadi pos utama dalam petualangan #AmazingRace. Setelah berjalan jauh dari pos sebelumnya, disini peserta akan mendapat banyak waktu untuk beristirahat menjalankan misi.

Misi yang akan dilakukan disini adalah, memasukan koin kedalam gelas yang berada di dalam ember yang penuh dengan air. Setiap tim akan mengambil 10 koin. Jumlah koin yang tidak berhasil masuk dalam gelas, merupakan jumlah orang yang harus dicari untuk berfoto dengan papan earthday, dan wajib di posting di Instagram, Twitter, ataupun Fan page Relawan4Life dengan tagar #TreesForLife #AmazingRace2016 #Earthday #Relawan4Life. Setelah misi selesai,  mereka akan mengambil kartu baik dan jahat. Faktor keberntungan menjadi hal yang sangat menentukan. Dan disini, penjaga pos akan memberitahukan, uang hasil penjualan stiker di pos sebelumnya adalah uang yang akan digunakan tim untuk makan siang.

Membuka sepatu, menggunakan topeng kresek, tangan diikat, mendapatkan makanan, ongkos ke pos berikutnya, memberikan 20 menit pinalti pada lawan. Itu adalah isi dari kartu baik dan jahat, dimana jika tim mendapatkan kartu jahat, maka hal itu harus dilsakukan sampai di pos selanjutnya.

Pos 3; Taman Peranginan

Kami tak melakukan survey ke lokasi berikutnya, Taman Peranginan. Kami justru survey ke Taman Corat-coret yang sangat penuh dengan gambar. tak ada pohon atau apapun itu, hanya dinding dan berbagai gambar yang melekat. Tak ada yang bermain atau berfoto. Kami bergegas pergi, berharap awan masih kuat menampung titik-titik air di langit. Sore itu sangat mendung. Dan kami langsung meluncur ke kantor RMI. Dan benar saja, kami berpacu dengan hujan yang tiba-tiba besar. Saya menunduk untuk melindungi kamera, dan lucunya adalah berbeda blok hujan tak lagi turun. Saya hanya tertawa, ini layaknya melewati air terjun. Dan tak lama hujan benar-benar turun merata. Beruntung menggunakan kerudung, karena dengan kerudung ini kami berhasil menjauhkan kamera dari air hujan, walau punggung kami basah kuyup.

Tak perlu survey, akhirnya kami memutuskan untuk meletakan pos berikutnya di Taman Peranginan, tidak di Taman Corat-coret. Pos ini merupaka pos sesat, karena disini peserta harus menjawab pertanyaan, dan memastikan jawaban tersebut benar atau salah dengan cara mengunjungi suatu tempat. Dan disinilah penukaran poin terjadi.

Setiap kali menyelesaikan misi di setiap pos, tim akan mendapatkan amazing card yang berisi poin dan  petunjuk lokasi berikutnya. Poin setiap timnya dalam setiap misi akan berbeda, tim yang berhasil menyelesaikan misinya pertama kali akan mendapatkan poin terbesar yaitu 10, dan kelompok dibelakannya akan mendapatkan 2 point lebih kecil, dan begitupun seterusnya.

Di pos inilah saatnya menggabungkan semua point dari semua misi. Dan saatnya belanja, ada banyak produk yang ditawarkan, mulai dari makanan, minuman, ongkos untuk sampai ke lokasi berikutnya, memberikan pinalti kepada lawan, dan pohon. Ini sangat menguntungkan tim dengan perolehan poin terbanyak. Dia bisa membeli banyak produk, dan bisa sampai ke pos berikutnya dengan cepat.

Pos 4; Taman Malabar

Lokasi berikutnya adalah Taman Malabar. Disini peserta hanya perlu menemukan kunci rahasia dengan 3 kesempatan. Kami membuat kode pada setiap kotak harta karun. Dan jika tim membawa pohon ke pos ini , maka dia bisa mendapatkan clue bagiamana menemukan kunci yang tepat dengan gembok harta karun mereka. Awalnya kami berencana untuk membuat permaian blind lead dengan secret area. Dimana setiap box berada di lokasi yang berbeda. Namun karena waktu kedatangan tim ke pos 5 ini sudah lumayan sore, akhirnya kita bersepakat untuk membuat pos ini menjadi lebih singkat dan mudah.

Pos 6; Finish!

Inilah pos yang menentukan, pos terakhir. Kelompok yang pertama kali sampai di pos 6 ini adalah kelompok yang menjadi pemenang, hanya ada 2 tim yang akan dinobatkan sebagai juara #AmazingRace kali ini.

 

Di Balik Layar

H-1 kami bekerja keras menyiapkan banyak hal. Rasanya semua pekerjaan berpuncak di hari ini. Mulai dari mematangkan konsep, berbagi tugas dan menyiapkan alat. Saya percayakan pada semua. Tapi sayang, masih banyak hal yang belum selesai sampai beberapa orang panitia sudah pulang. Saya harus cek lokasi untuk bahan soal sebelum langit gelap. Dengan motor, kami berkeliling sekitar Bogor Baru, kita-kira apa yang akan dijadikan sebagai misi jawaban di pos satu. Kami memelankan motor, berharap sesuatu yang mencolok dan spesifik. Akhirnya kami menemukan nomor rumah dengan nama  pemiliknya, dan no telfon badut yang berada dekat dengan papan Kantor Pos.

Saatnya ke arah Tegal Lega. Sayang motor kami mogok, dan akhirnya kami hanya nongkrong menunggu tukang las menyelesaikan tugasnya, dan menunggu bala bantuan dari relawan yang ada di kantor. Datanglah Aep, kami pergi ke daerah Tegal Lega. Sebenarnya asal saja saya memutuskan dokter Syafiq saja, saya mencatat segala macam tulisan yang ada di plang Dokter Gigi ini.

Lanjut ke Daerah Taman Bogor Baru. Disini saya bingung karena tak ada hal yang spesifik, dan tak ada yang mencolok, akhirnya saya menemukan hal menarik di salah satu rumah yang sedang ramai, saya menemukan relief 2 orang yang sedang sila di tembok depan rumah mereka. Kami memberhentikan motor, untuk sekedar berdiskusi dan menuliskan nomor rumah tersebut, tapi sepertinya sang pemilik rumah curiga, dia terus melihat ke arah kami. Tak ambil pusing kami langsung pergi ke arah yang berlawaan, mesjid ini bisa jadi misi, kami memutuskan untuk menjadikan jumlah belah ketupat di pintu mesjid sebagai jawaban misi kali ini.

Survey selesai, saatnya menentukan pertanyaan, dan luas wilayah TNGHS menjadi pertanyaan di pos ini, saya tak memikirkan apapun. Karena TNGHS adalah wilayah belajar RMI, maka itulah hal yang tiba-tiba muncul malam itu. Kami para panitia yang menginap benar-benar malam mingguan di kantor, berusaha agar tak satupun kami lupakan, karena besok pagi kegiatan sudah dimulai. Tidak hanya panitia kali itu yang di sibukan, tapi peserta dari Ciwaluh, Dewi dan Neng juga kami repotkan untuk membantu menyiapkan beberapa alat. Tulis, print, gambar, gunting, lem, buat dan segala macam kami lakukan malam itu. Syukurlah kami para perempuan hanya bisa bertahan sampai jam 01.00 entah panitia laki-laki sampai jam berapa mereka meyelesaikan segala persiapan.

Saya salut dengan semua panitia. Mereka benar-benar bekerja keras. Dan pagi hari kami siap melakukan berbagai aktivtias di setiap posnya. Pada hari H, sudah ku percayakan pada semua orang.

Walau ada kesal, capek tapi jadi panita #AmazingRace kali ini sangat menyenangkan. Karena bisa lebih mengenal teman-teman relawan lebih dekat lagi. Saya pribadi mendapakan banyak pembelajaran terutama masalah manajemen. Ini dia kekuatan dari pengalaman. Selalu ada pembelajaran yang bermanfaat.

aabbddee

 

Teks: Rahma Novianti

Foto: Amanda So & Fahmi Rahman

#AmazingRace2016; Cerita Cemara

Saat mendengar Relawan4Life akan mengadakan Amazing Race, saya langsung tertarik dan ingin ikut serta. Karena sebelumnya saya pernah mengikuti acara serupa tiga tahun lalu. Meskipun harus berjalan jauh tapi terasa seru, itulah sebabnya saya ingin merasakannya lagi.

Tapi ternyata Amazing Race kali ini cukup berbeda, karena pembagian kelompok dibuat secara acak. Ada beberapa kelompok yang belum kenal dan bahkan baru pertama kali bertemu pada saat itu, seperti kelompok saya, kelompok cemara. Kebetulan anggota kelompok cemara berjumlah tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan yaitu saya. Saya pikir akan jadi sulit saat kita satu kelompok dan tidak saling kenal, terlebih lagi saya perempuan satu-satunya.

Tapi ternyata itu tidak terjadi, karena sebelum keberangkatan ada ice breaking terlebih dahulu, jadi sedikit banyak bisa kenal dengan anggota lain.

Saatya berangkat…!!

Pos pertama kita melakukan tiga misi, karena kita memilih jawaban yang salah dua kali berturut-turut. Itu sebabnya kita jadi yang terakhir menyelesaikan misi di pos 1, tapi bukan masalah karena segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Saat di pos kedua kita kesulitan menemukan posnya. Kita berpikir ada disekitar Taman Kencana, jadilah kita muter-muter disekitaran Taman Kencana. Setelah lama mencari dan gak ketemu akhirnya kita berkumpul dengan tiga kelompok lain yang juga mencari pos 2 yang tak kunjung ditemukan. Sampai akhirnya ada satu kelompok yang menemukan pos tersebut dan kitapun mengikutinya. Misi di pos ini yaitu menjual stiker yang hasil penjualannya akan dibelikan bibit pohon untuk ditanam di hulu Cisadane, tepatnya di Kampung Ciwaluh. Karena lagi dan lagi kita merupakan kelompok terakhir, jadi saat menjual stiker pun agak kesulitan karena rata-rata yang kita tawari stiker bilang “Dari TreesForlife ya..? udah beli tadi” alhasil kita hanya bisa menjual tiga stiker ( Rp. 15.000 ) plus -7 poin, karena melewati batas waktu. Lengkap sudah.

Berlanjut ke pos tiga yang berada di Taman Heulang. Petunjuk jalan kelompok kami yaitu Iqbal, berinisiatif untuk mencari jalan pintas, cukup jauh jalan yang ditempuh dan sepanjang perjalanan kelompok cemara tidak banyak bicara, hanya kaki saja yang lebih banyak melangkah, sampai saya berpikir kelompok ini unik, kelompok pendiam tapi saling melengkapi, hehe.

Akhirnya kita sampai juga di pos 3, saat itu saya melihat ember berisi air yang di dalamnya ada gelas dan kita diberikan koin. Saat itu saya langsung mengingat Running Man ( salah satu variety show di Korea ). Dan ternyata benar, kita harus memasukkan koin ke dalam gelas tersebut. Kelompok cemara berhasil memasukkan 7 dari 10 koin, dan yang paling banyak memasukkan adalah Wawan yaitu 6 koin. Sebagai hukuman untuk koin yang tidak masuk adalah mencari korban untuk berfoto bersama dan menguploadnya langsung di akun sosmednya masing-masing dengan #Relawan4Life #AmazingRace2016 #HariBumi2016 #TreesForLife. Setelah misi selesai, kita menjadi kelompok ketiga yang berhasil ke pos selanjutnya, tapi ternyata belum selesai sampai disitu, sebelum berangkat kita harus memilih kartu baik dan kartu jahat dan kita mendapatkan kartu jahat yang mengharuskan kita membuka sepatu dan berjalan beralaskan aspal yang amat sangat panas, menuju ke pos empat yang berada di Taman Peranginan.

Saat perjalanan ke pos empat kita beberapa kali menyebrangi jalan demi mencari sisi yang lebih teduh. Sesampainya di Taman Peranginan kita mendapat misi untuk mencari tahu harga nasi pepes hitam yang berada di Food Court Jogja Junction, masih dengan kaki yang tanpa sepatu, yeay.

Setelah mission complette kita lanjut ke pos lima yang berada di Taman Malabar. Lagi-lagi kita mencari jalan pintas, sepanjang perjalanan kita berpikir akan dibelikan apa uang 15 ribu yang merupakan reward dari penjualan stiker sebagai uang makan kelompok, sampai tiba di pos lima kita masih bingung dan alhasil kita tidak sempat makan siang.

Di pos 5 kita diberikan kotak yang di gembok dan harus memecahkan kodenya pada keyboard yang sudah disediakan, karena kita mencari tanda %  pada keyboard dan tidak ada, itu cukup menghambat. Akhirnya kita disusul oleh kelompok Kaliandra, karena kita agak lama memecahkan kode tersebut.

Akhirnya semua misi terselesaikan, saat perjalanan menuju pos akhir tenaga saya serasa terkuras, langkah kakipun melemah dan saya selalu berada di belakang. Sampai-sampai kedua laki-laki anggota kelompok saya sering menengok ke belakang, entah memastikan saya masih ada atau sebenarnya ingin berseru ‘ayo buruan!’ hee. Terima kasih teman-teman sudah mau menyempatkan menengok ke belakang dan sesekali menunggu saya. Dan maaf kalau saya meghambat perjalanan.

Alhasil kelompok cemara menjadi kelompok ke empat yang sampai di pos terakhir yang berada di basecamp RelawanForLife.

 

Teks: Dewi Agustini

Foto: Erik Suhana & Manda

#AmazingRace with Amazing Team

Halo, aku Lulu dari Relawan4life. Hari minggu kemarin, tanggal 24 April 2016 Relawan4Life ngadain acara amazing race yang bertema Trees4Life. Secara pribadi aku baru pertama kali ikut amazing race, yang katanya bikin capek tapi seru. Semua peserta kumpul di sekretariat R4L, peserta dibagi jadi beberapa tim, nah aku masuk di tim Cendana namanya. Di tim ini ada 4 orang anggota, ada Aku, Teh Patimah, Ismat, dan Shidiq. Ini adalah kali pertama aku ketemu sama Teh Patimah dan Ismat, tak disangka mereka itu orang-orang hebat. Dan Amazing Race dimulai dari sini…

Setelah disuguhkan beberapa permainan dan perkenalan semua peserta, mulailah misi di pos 1. Kita disuruh jawab pertanyaan, tapi sebelum jawab dikasih misi dulu. Misinya itu aneh-aneh deh, nyari nomer telfon badut sulap yang ditempel di tiang listrik, nah lari-lari deh tuh mulai nyari nomer badut sulap disekitar komplek. Setelah ketemu, dan HHC (re; harap-harap cemas) sama jawabannya antara benar dan salah. Setelah dicek nomernya itu betul, tapiiiiiiii jawaban pertanyaannya yang salah, dikasih deh misi selanjutnya buat nyari jawaban yang benar, misi kedua adalah berapa SIP dokter gigi Syafiq Al-Habsyi, nah lho! Nyari dimana tuh?! Akhirnya kita sekelompok nyari-nyari lagi, keliling komplek buat nyari praktek dokter gigi Syafiq, muter-muter nyari, dari blok ini ke blok selanjutnya tapi hasilnya nihil. Setelah kurang lebih satu jam nyari-nyari, nanya-nanya, barulah ketemu praktek dokter gigi Syafiq, lokasinya beda komplek dan lumayan jauh dari pos 1. Hmmm… capek duluan deh.

Jawabannya betul! selanjutnya kita dikasih peta dan clue buat sampai di pos 2 sambil milih 1 pohon buat dibawa selama perjalanan. Beruntungnya itu adalah, kita tim yang pertama kali keluar dari pos 1, jadi kita pilih pohon yang ukurannya paling kecil. Liat-liat peta deh cari pos 2, “Ah, ini sih pasti Taman Malabar deh” dengan PDnya bilang gitu setelah liat peta, eh tapi pas liat clue di kertas kecil itu urutan hurufnya “Taman Di Jalan Ceret” akhirnya kita nyari deh tuh jl. Ceret dimana, tapi kita jalan kearah Taman Malabar sesuai peta. Lagi nyari-nyari eh ketemu sama tim lain, mereka bilang di Taman Malabar itu sepi, ga ada orang. Otomatis kita langsung nyari lagi. Tetep nyarinya jl. Ceret, walaupun agak aneh juga sama nama jalannya tapi kita tetep mencari sambil nanya-nanya. Orang di pinggir jalan yang ditanya lokasi taman ceret itu pada bingung, semuanya seragam bilang ga ada jalan yang namanya Ceret. Ah tapi di kertas kecilnya kok jl. Ceret? Jl. Rumah Sakit I dan II udah kita lewatin, pas udah sampai deket kampus IPB Diploma, Shidiq baru nyadarin kalo itu bukan jl. Ceret, tapi jl. Ceremai Ujung! Ampun ampun deh ga bakal ketemu kalo kita tetep nyari jl. Ceret itu. Seneng deh tuh kita karena udah nemuin lokasinya, ditengah perjalanan ketemu tim lain, yang lagi nyari-nyari juga. Mereka jalan berlawanan arah sama jalan kita. Tapi kita pura-pura santai aja jalannya biar ga keduluan sampai di pos 2 hehe

Jalan terus deh sampai nemu pos 2, dan ternyata di pos 2 pun tim kita yang pertama kali sampai, di pos 2 itu kita disuruh jualan stiker, pergilah tim kita buat jual stiker, Aku dan Teh Patimah promosi stiker dengan ala-ala mbak-mbak SPG yang banyak ngomong sementara Ismat dan Shidiq lebih banyak diam tapi tetep ikut kita jualan, dengan waktu 17 menit kita bisa jual 14 stiker dengan harga satuannya Rp. 5000,-. Lumayan kan dapet banyak juga uangnya di pos 2. Selesai itu kita dikasih clue buat sampai di pos 3. Cluenya itu 20-1-13-1-14 8-5-21-12-1-14-7 pas lagi bingung-bingungnya itu angka-angka dibacanya gimana, eh Teh Patimah akhirnya menemukan jawabannya. Itu adalah angka-angkat dari urutan huruf dalam alphabet. Cepet-cepet deh tuh kita susun hurufnya. Ketemulah jawabannya “Taman Heulang” lokasi taman itu cukup jauh, akhirnya kita nanya sama bapak-bapak yang lagi duduk di depan rumahnya, kita nanya jalan tikus tercepat dan terdekat buat sampe ke Taman Heulang, dikasih tau deh sama beliau dan bonusnya itu kita sampai dibuatin peta sama bapak-bapak disana. Jalanannya lewat jalan pemukiman warga, gabisa masuk mobil, dan banyak tangga. Ada jembatan juga, namanya jembatan Lebak Pilar. Lebar jembatannya kira-kira cuma cukup 2 orang. Teh Patimah ngajak foto dulu nih disini, eh pas kita mau foto tiba-tiba ada motor dibelakang dan ngerasa diburu-buru, terjadilah kerempongan disana. Aku dan Teh Patimah ketawa-ketawa sambil mepet pinggiran jembatan buat ngasih motor itu lewat duluan. Asik!

Setelah lewat jembatan, kita disuguhkan anak tangga yang lumayan panjang. Ismat dan Sidiq mimpin didepan. Mereka masih maju terus pantang mundur, terutama Ismat yang kuatnya kebangetan. Aku dan Teh Patimah udah ngos-ngosan deh dibelakang sambil megangin kaki yang kayak mau putus, pegangan tangan erat banget saling ngasih kekuatan. Ah, keren deh pokoknya. Oh ya, Teh Patimah ini udah punya 4 orang anak lho. Awalnya kaget Teh Patimah udah bukan seumuran kita lagi. Tapi semangatnya beuhhhh jangan ditanya! Setelah tangga terakhir, kita lewatin gang sempit yang ternyata bawa kita muncul di Air Mancur. Wah lumayan juga ya, nerusin jalan deh kita sampe Taman Heulang.

Sampai di Taman Heulang. Hah capek! Panitia yang jaga pos 3 lagi makan soto yang keliatannya nikmat banget. Kita ganggu aja dengan minta cepet-cepet dikasih misi. Misinya disini itu masukin uang logam ke dalam gelas yang ditaruh didalam ember dengan air setengah ember itu. Masukin uang logamnya harus sejajar dengan dada. Logam yang ga masuk gelas itu dihitung sebagai hukuman. Hukumannya itu harus cari orang sebanyak logam yang gagal masuk untuk foto sama tim kita dan mereka harus upload fotonya di akun medsos mereka sendiri. Dan tim kita cuma masukin 3 dari 10 logam yang disediakan. Kebayang dong nyari berapa orang yang mau upload foto sama kita. Selesai misinya, kita disuruh ambil yang namanya kartu “Baik-Buruk”, Teh Patimah yang kita pilih buat ambil kartunya, dan ternyata dengan beruntungnya kita dapetin makanan. Asik banget Teh Patimah gak salah pilih. Dari pos 3 ke pos 4 ga ada clue yang berat. Perjalanan kita lewatin dengan santai, kita solat sambil makan dulu, baru deh lanjutin jalan ke pos 4.  Di pos 4 pun kita jadi yang pertama, misinya adalah menjawab 2 pertanyaan, pertanyaan pertama dijawab dengan mudah, pertanyaan kedua mesti pergi dulu ke Bogor Permai, masuk dan langsung ambil foto pegawai disana, beruntungnya gak di panggil dan dicurigain satpam. Kenapa kita ambil foto pegawainya, karena pertanyaannya adalah “Apa warna seragam pegawai Bogor Permai?”. Selesai di pos 4 itu langsung aja kita ke pos 5, dan lokasinya itu di Taman Malabar! Balik lagi ke lokasi pertama yang kita datengin.

bacd

Ditengah perjalanan udah hampir mau nyerah aja rasanya, kaki kayak dipaksa buat jalan terus ketempat yang dituju, padahal sehari-hari itu males banget jalan jauh, tapi hari itu entah kenapa kayak ada dorongan buat jalan, sempet berkali-kali istirahat, Aku yang paling banyak ngeluh, sampe dipegangin terus sama Teh Patimah biar tetep jalan, yang ga pernah ngeluh adalah Ismat, kuat banget dia, dia juga yang bawain tas yang isinya persediaan minum kita, pas aku tanya kenapa dia kuatnya sampai kebangetan, dengan bangganya Ismat jawab “Orang Ciwaluh!”. Keren!

Sampai di pos 5 kita disambut Kak Rahma, dan kita tim yang pertama sampai juga. Istirahat sebentar, setelah itu langsung aja kita minta apa misinya. Ternyata di pos terakhir ini mencari kunci yang cocok dengan kotak harta karun yang isinya adalah barang-barang berharga kita. Ada kata kuncinya, kata kunci yang aneh, ribet, dan udah males banget mikir. Kita dikasih kesempatan 3 kali buat nyobain kunci, mikir lama tuh buat pecahin kata kuncinya, kita cocokin kode-kode yang dikertas dan di keyboard yang disediain, kesempatan pertama kita pakai dengan milih kunci cuma pake feeling aja deh karena udah gabisa mikir lagi. Dan ternyata….. the power of feeling! Gembok terbuka cuma dengan satu kali mencoba. Langsung lah kegirangan tiada tara, liat kertas kecil yang perintahin kita buat menuju RMI, tanpa pikir panjang dan karena udah pengan cepet-cepet sampai tujuan, langsung aja kita pamit dari pos 5 menuju RMI.

Amazing race with amazing team, sekitar 15km jalan kaki, selesain misi, emosi, nyasar-nyasar, panas-panasan, cape-capean. Pertama kali ketemu Teh Patimah dan Ismat, satu tim sama yang hebat-hebat. Teh Patimah yang gercep (re; gerak cepat) banget, semangat banget, dengan tangan emasnya yang bawa keberuntungan, Ismat yang kuatnya kebangetan, ga ada capeknya, dan Shidiq yang selalu mimpin, jalannya berasa enteng banget karena dia kurus, satu tim lagi setelah di Cemara Green Camp 2015. Finally, we are the champion!

Salam, Tim Cendana.

 

Teks; Lulu Luthfia

Foto; Erik Suhana & Manda

Keseruan #AmazingRace2016

Ini pertama kalinya saya bisa join di acaranya Relawan4Life,  #Amazing Race 2016. Sebelumnya nggak tau konsep dari acaranya gimana, cara mainnya gimana, terus peraturannya apa aja, pokoknya mah have fun aja deh mikirnya. Kebetulan juga yang saranin ikut acara ini kan orang kesayangan, ada dia, jadi gapapa lah itung-itung bisa ketemuan hohoho. Pas hari-H masih ragu apa bakalan bisa ikut acara ini soalnya belum paham betul soal permainan, karena gak ikut technical meeting. Terbesit dipikiran kalo acaranya itu hampir sama kayak acara “Mission X” yang ada di sebuah tv swasta.

Saat sampai di sekretariat Relawan4Life, kakak-kakak dari “R4L”, sebutan pendek Relawan4Life, menyambut baik kedatangan saya.  Sebagian ada yang sudah kenal, sebagian baru kenal saat itu. Karena sambutannya hangat,  saya merasa seperti bagian dari mereka yang sibuk nyusun dan mempersiapkan acara, akhirnya saya pun ikut bantu-bantu sedikit hehehe.

Waktu pembagian tim, saya kebagian tim Kaliandra.  Saya satu tim dengan Kak Hani, Kak Mony dan Ajat. Saya berharap tim saya bisa jadi pemenang di permainan ini, dan semoga saya tidak menjadi beban bagi tim ini. Sebelum memulai permainan, kita melakukan perkenalan dan pemanasan supaya kita juga makin akrab satu sama lain. Nama permainannya lempar bola sebut nama.  Cara mainnya, bola dilemparkan kepada siapapun dan orang yang mendapatkan bola tersebut harus memperkenalkan diri, makanan kesukaan, dan idola yang dia kagumi.  Saat memainkan permainan ini, saya kembali merasa seperti bagian dari mereka, pokoknya mah seru pisan.

Di pos 1 rada sulit karena kita harus menebak/memilih luas Taman Nasional Gunung Halimun Salak.  Ada empat pilihan jawaban, dan setiap pilihan jawaban tersebut, ada kata sandi yang harus dipecahkan. Kami memilih jawaban A, lalu  dikasih clue untuk mencari SIP dokter gigi Syafik Al-Habsy. Karena kita juga kurang tau lokasi komplek sekitar situ, jadi kita rada kesusahan juga saat mencari tempat praktek dokter gigi tersebut. Tapi alhamdulillah, setelah sekian lama nyari ketemu juga akhirnya langsung deh kita kembali ke pos 1.

Setelah dari pos 1 kita dapet clue lagi untuk ke lokasi yang nantinya lokasi tersebut adalah letak dari pos 2. Dengan berbekal selembar peta sama clue yang kita punya, kita nekat nyari lokasinya. Saat itu tujuan kita ke Taman Malabar, muter2 Taman Malabar kok nggak ada bendera pos 2 kita juga udah muter-muter ke Taman Perlintasan juga nggak ada tanda-tanda dari panitia pos 2 kayaknya mah kita dijebak atau kita sendiri yang merasa menjebakkan diri.

Setelah berjam-jam muter-muter Taman Malabar dan Taman Perlintasan kita ketemu tim lain dan akhirnya terpecahkan juga clue menuju pos 2. Clue tersebut menunjukan kalo kita harus menuju Taman yang ada di Jalan Ciremai Ujung. Saat menuju pos 2, di Taman Kencana juga ada dua tim yang sedang kebingungan mencari pos 2. Disini dibutuhkan teamwork untuk bisa menemukan letak pos 2. Berhubung dari tiap tim perempuannya pada lelah akhirnya laki-lakinya saja yang kompak nyari letak pos 2.  Alhamdulillah akhirnya pos 2 berhasil ditemukan. Dari jauh saya langsung teriak untuk manggil  tim saya. Tapi cerobohnya, ternyata tim lain pun langsung ngikutin. Di pos tersebut kita dikasih tantangan untuk menjual stiker bertuliskan “Trees For Life” dengan harga Rp.5.000. Setiap stiker yang terjual, itu akan diganti dengan bibit tanaman yang nanti akan ditanam relawan di daerah hulu Sungai Cisadane.

Pos per pos telah  kita lewatin. Cerobohnya, waktu kita selesai dari pos 2, kita nggak cek kalo lembar pos card kita belum ditanda tangan oleh panitia yang ada di pos 2, dan saat itu kita udah jauh dari pos 2.  saat itu kita udah sampai di Taman Peranginan. Alhasil saya dan Ajat lari sekencang-kencangnya. Kita lari balik lagi ke pos 2 untuk minta tanda tangan panitia dan kita berdua ninggalin Kak Hani dan Kak Mony untuk stay disitu sembari melihat tim mana aja yang udah ninggalin tim kami. Sambil lari saya udah mulai ngerasain yang nggak enak sama kaki saya, tapi karena nggak mau merepotkan dan buang-buang waktu, jadinya saya terus lanjut lari.

Beres dari pos 2 dan pos card sudah ditanda tangani kita lanjut ke pos 3. Disitu saya menyemangati tim saya, khususnya kak Mony yang sudah mulai lelah untuk bisa lanjut terus jalan menuju Taman Heulang yang lokasinya lumayan jauh. Sesampainya disana kita dikasih games untuk bisa memasukan koin kedalam sebuah gelas yang gelas tersebut ada didalam ember berisi air.  Saya mampu memasukkan 3 dari 10 koin yang diberikan. Karena ada 7 koin yang gagal masuk gelas, artinya kita harus mencari 7 orang yang mau diajak foto yang nantinya orang tersebut harus memasukkan fotonya ke akun instagram miliknya dengan hastag #AmazingRaze2016, #TreesForLife, #Relawan4Life, dan #HariBumi2016. Alhamdulillah banyak yang mau walaupun ada juga yang nggak mau karena takut cuma nge-bala di akun socmednya. Tapi banyak yang peduli kok karena tim kita sekalian memperkenalkan Hari Bumi dan acara yang sedang kami lakukan. Semua senang semua antusias.

_MG_5651_MG_5704_MG_5708_MG_5745_MG_5751

Beres pos 3 kita lanjut ke pos 4 yang lokasinya da di Taman Peranginan. Di pos 3 dikasih reward kalo kita boleh memakai uang hasil penjualan stiker di pos 2 untuk dipakai makan siang. Karena lokasinya lumayan jauh jadinya kita cari warung nasi sembari kita istirahat juga. Beres makan kita lanjut ke pos 4 dengan tangan terikat. kita jadi pusat perhatian di jalan. Kembali disini saya merasa tim saya adalah tim yang terbaik walaupun kecil harapan untuk bisa menang. Sampai di pos 4 saya udah mulai ngerasa drop dan tim kita pun dikasih tantangan untuk menuliskan kode “melon golden”. Karena satu-satunya swalayan yang deket adalah Yogya Junction, yaudah kita langsung kesana dengan cepat.

Beres menulis kode melon tersebut kita kembali ke pos 4 dengan berlari kencang akhirnya saya pun jatuh karena kram yang saya alami. Ini cukup menyakitkan lebih dari sakit gigi, sakit perut, sakit hati. Pokoknya sakit-sakit apapun deh sakitnya gak ketulungan. Alhamdulillahnya panitianya pada care sama peserta sampai saya dapet pijet alternatif sementara dari kakak-kakaknya walaupun cuma bisa ngeredain sedikit sakitnya tapi alhamdulillah saya masih bisa lanjut, padahal saya juga disarankan untuk nggak usah lanjut ikut lomba tapi intinya mah kita berangkat berempat selesai lomba pun kita harus tetep berempat jadi saya mau terus lanjut walaupun jalannya terpincang-pincang.

Beres pos 4 kita ke pos terakhir yaitu pos 5 yang terletak di Taman Malabar. Berhubung kita juga udah tau lokasinya, jadinya kita langsung kesana dan disana kita sudah ditunggu oleh kakak-kakak panita. Kita dikasih tantangan untuk memilih minimal 3 kunci untuk membuka kotak yang berisi peralatan/perlengkapan yg kita punya, tapi sebelum membuka kotak tersebut dikotak itu ada kode-kode yang harus diterjemahkan yang nantinya hasil terjemahan tersebut berupa angka yang harus dijumlahkan dan hasil dari penjumlahan yang kita jumlahkan yaitu 71 tanpa basa-basi kita langsung ambil kunci nomer 71 dan Yess!! Alhamdulillah gemboknya terbuka.

Selesai dari pos 5 kita menuju skeretarian Relawan4Life. Walaupun tim kita nggak menjadi pemenang, minimal saya dan tim saya sudah memberikan kontribusi di permainan ini dengan baik. Tim kita masuk di posisi 3 besar itu aja udah alhamdulillah banget. Sampai di sekretariat, kita kembali kumpul dan melakukan evaluasi dari permainan yang seharian kita mainkan. Saya senang bisa ikut bermain di acara ini banyak pelajaran yang saya di dapet dari permainan ini. Mudah-mudahan di tahun yang akan datang acara yang keren ini bisa diadakan kembali tentunya dengan clue dan pos-pos yang lebih menantang dan harapan peserta banyak terwujud. Aamiin

 

Teks; Muhammad Ninto Nugroho

Foto; Erik Suhana