Konsep Gender Dan Model Pergaulan Dalam Islam

Sejak pandemik Covid-19, Relawan4Life tetap berkontribusi dalam menciptakan kegiatan positif dan inspiratif , seperti melakukan diskusi secara daring, dengan nama kegiatan Disaring (Diskusi daring). Kegiatan ini dilakukan untuk saling bertukar pikiran terkait isu-isu yangterjadi di lingkungan sosial. Disaring ini sudah dimulai sejak awal April hingga saat ini. Mulai dari topik tentang penyakit manusia dan hewan liar, menjaga kesehatan diri dengan herbal, pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai pangan liar, ada apa dengan Mei 1998?, dan yang masih hangat diperbincangkan baru-baru ini adalah tentang gender dalam prinsip agama Islam.

Pada 21 dan 28 Juni 2020 diadakan Disaring 5. Disaring 5 ini dilakukan dua sesi, sesi pertama dengan topik “Konsep Gender Dalam Agama Islam”, dan sesi kedua dengan topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”.

Saat berbicara tentang konsep kesetaraan gender dalam agama Islam, seringkali pemikiran yang muncul dibenturkan dengan tafsir agama yang sifatnya dianggap patriarkis oleh sebagian orang. Ada anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki (ter-subordinasi), dan hal tersebut diamini oleh sebagian masyarakat (juga oleh perempuan sendiri). Contoh yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, misalnya adalah ada anggapan bahwa laki-laki lebih mampu memimpin dibanding perempuan. Seorang perempuan yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik seringkali dihambat oleh rekan-rekannya sendiri karena anggapan tersebut, disertai dengan dalil-dalil agama yang mendukungnya. Oleh karena itu, Disaring 5 sesi satu diadakan, dengan narasumber yang merupakan Dosen Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia dan Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriah, serta dimoderatori oleh Nadira Siti Nurfajrina, alumni Short Course Batch 4.

Sejatinya, Islam menentang adanya diskriminasi gender. Dipaparkan secara jelas oleh narasumber, Iklilah,  bahwa laki-laki dan perempuan secara kedudukan atau posisinya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Narasumber-pun mendasari pernyataannya terkait kesetaraan gender dengan sejumlah ayat Al-Quran yang diyakini sebagai pewahyuan dari Allah kepada umatNya.

Narasumber juga menjelaskan bahwa islam menentang kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Karena islam mengajarkan bahwa tidak boleh melakukan kekerasan terhadap kaum yang lemah, khususnya perempuan. Seperti dalam rumah tangga, kekerasan dilakukan dengan cara bertahap,  yakni dengan memberi nasihat yang tegas ketika perempuan membangkang atau melakukan kesalahan, kemudian jika perempuan tidak mengindahkan nasihat dari laki-laki maka akan berlanjut ketahap berikut yakni tidak se-ranjang­. Jika hingga ketahap ini si-perempuan masih saja melakukan kesalahan maka akan ditegur dengan cara dipukul. Menurutnya, memukul pada zaman itu adalah hal yang paling terakhir dilakukan. Pemahaman ini tertuang disalah satu ayat yang dipaparkan, sehingga dia menegaskan bahwa bagaimanapun Islam tidak layak untuk menjadi alat legalitas adanya diskriminasi gender.

Hal yang menarik lainnya yang dibahas oleh narasumber adalah poligami. Menurutnya poligami sebenarnya lahir sebagai bentuk perlindungan bagi anak-anak dan Ibu mereka yang ditinggal pergi oleh ayah dan suaminya dimasa perang.  Walau dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi kaum yang lemah tersebut, namun praktek poligami tidaklah dibenarkan dari sudut pandangan manapun. Karena pasti seorang laki-laki tidak mampu untuk berbuat adil kepada kedua perempuannya.

Diskusi dilanjutkan di minggu berikutnya, dengan mengangkat topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”. Dipandu oleh Mufti Labib, alumni Short Course Batch 4, dan narasumber Yulianti Muthmainnah, Ketua Pusat Studi Islam Perempuan dan Pembangunan dan Anggota Majelis Hukum dan HAM PP Aisyiyah. Topik ini berbicara mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, benarkah pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sudah final sebagaimana yang  ditampilkan oleh gerakan Nikah Muda atau Pelatihan Poligami? Atau benarkah tudingan sebagian kalangan umat Islam lainnya bahwa gerakan-gerakan tersebut, yang merujuk pada tafsir abad pertengahan, sarat dengan nuansa patriarkis sehingga bias gender?

Sesi ini lebih ringan pembahasannya dibanding dengan sebelumnya. Karena sudah membahas isu-isu gender yang santer terjadi dikalangan anak muda, khususnya perempuan. Dikatakan oleh narasumber, kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan adalah karena sering terjadi sentuhan. Di mana menurutnya Lebih baik jangan pegang-pegangan ketika belum halal. Kekerasan juga kerap terjadi ketika perempuan Islam yang tidak berjilbab dianggap sebagai sasaran empuk untuk menjadi korbannya. Adapula isu yang membahas tentang cara berpakaian juga menjadi sasaran untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal cara berpakaian seseorang adalah hak-nya.

Hal menarik yang dibahas dalam Disaring 5 sesi kedua ini adalah tentang Indonesia Tanpa Pacaran. Menurut narasumber gerakan tersebut lahir akibat banyaknya terjadi kasus kekerasan pada perempuan, dan menolak adanya pacaran mendukung untuk langsung ketahap pernikahan. Penjelasan narasumber menanggapi gerakan tersebut adalah ketika seseorang menikah dengan niat yang jelas maka bisa dikatakan bahwa nikah itu kewajiban. Tetapi jika hanya ingin menghalalkan agar tidak zinah, maka gerakan ini dinilai tidak sesuai. Karena menikah bukan hanya untuk melakukan hubungan intim, tetapi lebih dari itu.

Diakhir masing-masing diskusi, kedua narasumber memberi pesan untuk tetap menjaga relasi antar perempuan dan laki-laki dengan saling menghargai, menghormati, mendukung dan bukan saling mendominasi.

Kegiatan Disaring 5.1 dan 5.2 ini dipelopori oleh alumni Short Course Batch IV. Walaupun koordinasi dilakukan hanya melalui online, namun para alumni mampu menentukan topik yang menarik untuk didiskusikan, ditambah lagi narasumber yang mumpuni sesuai bidangnya.

Disaring 5 sesi satu bisa dilihat di

Disaring 5 sesi dua bisa dilihat di

Atau baca notulensinya di https://bit.ly/31VNid6

Penulis: Marissa Matulessy

Editor: Siti Marfu’ah

Satu respons untuk “Konsep Gender Dan Model Pergaulan Dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s