Disaring 4.0 – Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei 98?

WhatsApp Image 2020-06-24 at 10.04.54

Setiap bulan Mei kita selalu diingatkan dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Kini pada tahun 2020, sudah 22 tahun silam tragedi tersebut masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Sekitar 1190 orang meninggal dunia karena dibakar atau terbakar, 27 orang meninggal dunia akibat senjata atau lainnya, dan 168 orang menjadi korban perkosaan dan pelecehan seksual.

Tidak banyak dari generasi muda saat ini yang mengetahui secara persis bagaimana kejadian tersebut terjadi, apa penyebabnya, juga apa dampaknya bagi para korban. Oleh karena itu, relawan 4 life sebagai gerakan anak muda yang fokus di isu sosial dan lingkungan mengadakan diskusi online yang bertajuk disaring yang sudah memasuki rangkaian ke 4. Harapannya bahwa generasi muda dapat tercerahkan mengenai tragedi ini dan juga dapat mengambil pelajaran agar tragedi ini tidak terulang lagi kedepannya.

Diskusi ini diselenggarakan pada tanggal 7 Juni 2020 menggunakan media zoom meeting, menghadirkan Andy Yetriyani sebagai pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan, dimoderatori oleh Alfina Khairunnisa yang merupakan mahasiswi universitas Trisakti dan bagian dari lawan for life. Dihadiri oleh kurang lebih 49 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, juga mengundang Yakini sebagai media literasi online anak muda.

Andy memulai diskusi dengan menceritakan latar belakang terjadinya kerusuhan Mei 1998. Saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi Asia yang menyebabkan berbagai negara mengalami kebangkrutan. Krisis tersebut diperparah dengan berbagai persoalan sosial politik yang memperkeruh suasana sehingga menyebabkan kerusuhan. Diantaranya yaitu penurunan Soeharto yang sudah 32 tahun menjabat sebagai presiden, kejadian penembakan mahasiswa Trisakti, juga isu rasial yang sudah lama ada.

Untuk menggambarkan bagaimana kerusuhan Mei 1998 terjadi, pembicara memutarkan video dokumenter berupa wawancara terhadap para korban juga cuplikan-cuplikan kerusuhan yang terjadi pada saat itu.

Perlu dipahami bahwa tragedi kerusuhan Mei 1998 bukan merupakan kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari berbagai masalah yang menimpa negara ini, dimulai dari adanya krisis ekonomi yang sudah terjadi sejak tahun 1997. Indonesia yang saat itu menerapkan prinsip ekonomi developmentalis yang mengeruk sumber daya alam sebagai sumber utama pendapatan negara tidak menciptakan landasan perekonomian yang kokoh sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dimana harga barang tambang dan bahan mentah turun, perekonomian ambruk secara total. Seketika itu juga inflasi meningkat, pengangguran meningkat, dan angka kemiskinan meningkat, menciptakan penderitaan bagi masyarakat.

Masalah yang kedua yaitu ada pada bidang politik. Pada saat itu Indonesia dipimpin oleh pemerintahan yang otoriter dengan presiden yang sudah berkuasa lebih dari 32 tahun. Mahasiswa menuntut penurunan presiden Soeharto, kemudian terjadi kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Hal tersebut mengakibatkan kerusuhan di mana-mana.

Masalah yang ketiga yaitu adanya sentimen terhadap etnis Tionghoa yang dalam sejarahnya merupakan warga kelas dua di Indonesia. Perlu diketahui bahwa pada masa kolonial penduduk Indonesia dibagi menjadi 3 kategori yaitu penduduk pribumi yang berada di lapisan paling bawah, selanjutnya penduduk timur asing yang kebanyakan merupakan orang Tionghoa dan Arab merupakan kelas kedua, dan penduduk Eropa yang merupakan kelas atas.

Penduduk timur asing pada masa kolonial kebanyakan merupakan pengusaha yang kehidupannya lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk pribumi yang miskin. Anggapan bahwa warga Tionghoa memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik mengakibatkan kecemburuan sosial yang turun temurun. Dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada saat Mei 1998 dijadikan kesempatan bagi para provokator untuk melakukan penjarahan pada etnis Tionghoa. Banyak toko-toko serta rumah yang dibakar dan dirusak oleh para perusuh, pembantaian secara keji, dan perkosaan membuat trauma psikologis yang mendalam.

Pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan menyoroti kekerasan seksual yang terjadi. Hingga saat ini korban kekerasan seksual masih mengalami trauma, mereka enggan untuk diwawancarai karena banyak stigma yang menyertainya sehingga mereka lebih memilih diam walaupun ada pendampingan dari pihak Komnas perempuan. Jika melihat dalam konteks sejarah, aksi pemerkosaan dalam suatu kerusuhan bukanlah hal yang baru di dunia, misalnya saja dalam setiap peperangan dan penjajahan yang terjadi di dunia selalu terjadi yang namanya perkosaan massal, perlakuan keji ini dilakukan sebagai tanda superioritas bagi penjajah.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian, trauma, dan kesedihan mendalam bagi para korban namun kasus kerusuhan Mei 1998 sampai saat ini belum juga diselesaikan oleh pemerintah.

Negara masih mengabaikan hak-hak korban atas kebenaran dan keadilan karena ketidakjelasan proses hukum seusai penyelidikan Komnas HAM. Proses hukum atas Tragedi Trisakti dan  Tragedi Mei, yang mengambang dan berlarut-larut telah merugikan banyak pihak, terutama hak para korban atas keadilan dan asas persamaan di depan hukum yang menjadi inti negara hukum.

Hak korban atas keadilan dan kepastian hukum telah diabaikan oleh negara selama bertahun-tahun. Mereka tidak pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei yang telah merampas hak-hak asasinya, termasuk yang paling mendasar, yaitu hak untuk hidup.

Di akhir diskusi Andy Yetriyani berpesan kepada anak muda agar selalu kritis dan bersama menegakkan keadilan. Hanya sedikit anak muda yang yang mempunyai pemahaman dan juga kepedulian atas kasus ini, mungkin hanya dari kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik. Dengan adanya diskusi diskusi seperti ini akan sangat baik untuk memperkaya pemahaman kita agar kejadian seperti tragedi kerusuhan Mei 1998 ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Disaring “Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei ’98?”, bisa baca notulensi dan lihat video diskusi di google drive Disaring 4.0.

Penulis: Ali Aljihad

Satu respons untuk “Disaring 4.0 – Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei 98?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s