Nama saya Nadira Siti Nurfajrina, saya merupakan seorang mahasiswi Arsitektur Semester 6 di Universitas Pembangunan Jaya, tepatnya di Bintaro, Tangerang Selatan. Sejak saya kecil orang tua saya suka sekali membawa saya berpetualang ke tempat wisata alam, seperti ke hutan, pantai, ataupun pegunungan. Hal ini memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan saya, yaitu saya jadi memiliki kecintaan tersendiri akan alam dan selalu berusaha untuk memasukkan nilai-nilai yang saya temukan di alam dalam kehidupan, atau bahkan pada konsep rancangan arsitektural saya.

Menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Unversitas Pembangunan Jaya, mendorong saya untuk lebih memperdalam kembali akan isu-isu yang terjadi di Indonesia, dengan harapan saya dapat membagikannya kepada teman-teman mahasiswa ataupun mahasiswi UPJ yang lain agar mereka juga dapat lebih terbuka dan terdorong untuk melakukan sesuatu guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai akademisi, saya juga ingin mempelajari lebih lanjut kembali mengenai paham-paham apa saja yang nantinya dapat berguna bagi saya untuk menentukan sikap dikemudian hari.

Melalui Short Course Batch IV ini, saya banyak sekali belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui, terutama mengenai permasalahan yang terjadi di Indonesia secara lebih mendalam. Mulai dari Isu pengelolaan sumber daya alam, ketidaksetaraan gender, ekonomi, dan juga mulai hilangnya kearifan lokal di masing-masing daerah. Kegiatan ini sangat menyenangkan, sejumlah materi pun dikemas dengan cara yang sangat unik sehinggga dapat sangat mudah diterima oleh para peserta Short Course.

(kanan-kiri) Labib, Nadira, dan Febri, sedang memainkan peran menjadi perangkat desa yang sedang melakukan musyawarah ke masyarakat

Saya merasa sangat bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu peserta di  Short Course IV yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI). Acara yang mengangkat tema ‘Relawan Lingkungan Untuk Perubahan Sosial’ ini telah mengajari saya berbagai hal yang sangat berharga dan bermanfaat. Short Course (SC) Batch IV ini dilaksanakan dalam waktu lima hari di GG House Gadog Happy Valley, Bogor. Rangkaian acaranya pun beragam dan dikemas dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Dalam kurun waktu lima hari ini, saya dapat bertemu sebanyak kurang lebih sebanyak 18 – 20 orang baru dengan keahlian dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Peserta Short Couse IV ini tidak hanya berasal dari mahasiswa, melainkan ada juga yang berasal dari komunitas di desa yang menjadi korban dari tindakan para perusahaan-perusahaan yang melukai alam.

Seiring berjalannya kegiatan, seluruh peserta lama kelamaan menjadi akrab dan dekat satu sama lainnya. Di kegiatan ini saya merasa sangat dekat dengan teman-teman yang lain karena sesi ice breaking yang menyenangkan dan juga sesi materi dan diskusi yang sangat intim.

Nadira sedang mempresentasikan kotak hasil kreasinya

Hari Pertama

Saat hari pertama, kegiatan yang kami lakukan antara lain adalah saling mengenal satu sama lain dengan games dan menerima materi-materi pengantar mengenai isu-isu yang akan dibicarakan selama Short Couse ini. Salah satu kegiatan yang paling berkesan menurut saya adalah saat kami diminta untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan kotak makan kertas yang kemudian dapat diisi, dihias, dan digambar sesuai kepribadian kita. Melalui ‘kotak gue banget’ ini, kami, antar sesama peserta jadi melihat dan belajar untuk mengapresiasi sesama dan belajar dari kisah kehidupan orang lain. Selain itu, kami juga diajarkan suatu metode untuk kembali memfokuskan pikiran kami yang bernama mindfulness. Melalui metode ini, kami diajarkan bagaimana caranya memusatkan pikiran untuk berada pada suatu momen, tanpa memikirkan mengenai masa lalu ataupun masa depan, dengan begini kami bisa lebih fokus mengikuti materi-materi yang diberikan.

 

Hari Ke- Dua

Pada hari ke-2 ini, kami mulai membahas lebih dalam lagi mengenai isu-isu dari topik yang akan dibahas pada Short Course ini. Mulai dari pemahaman apa itu bias, stereotyping dan interseksionalistas. Ternyata pada kegiatan sehari-hari tanpa disadari kita kerap melakukan stereotyping. Hal ini terkadang diperparah pula dengan bias yang selalu kita bawa. Materi kemudian dilanjutkan dengan materi dari Kak Tilla mengenai Etika Lingkungan, dan bagaimana dalam lingkungan sehari-hari manusia kerap berperilaku buruk kepada lingkungan, serta mahluk hidup lainnya kecuali hal tersebut memiliki nilai ekonomi ataupun keuntungan tersendiri. Pemaparan dari Kak Tilla ini menjadi eyeopener tersendiri bagi saya karena materi darinya seakan-akan mengingatkan pada kami that humans should never take nature for granted.

 

Hari Ke- Tiga

Pada hari ke-3, kami diberikan pemahaman mengenai kebijakan-kebijakan yang membahas mengenai pengelolaan sumber daya alam. Hal ini kemudian disusul dengan sebuah kegiatan yang membuat suasana pagi menjadi panas. Kami diminta untuk berdiskusi sekaligus melakukan lomba debat dengan sejumlah peran yang telah ditentukan yaitu, kepala desa, pengusaha pabrik air, warga biasa dan juga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Melalui games ini, kami sudah diberikan sejumlah skenario sebagai landasan awal. Kemudian, seiring berjalannya waktu melalui perdebatan diskusi ini kami sangat melihat bahwa kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia sangatlah kurang dan cenderung memberatkan MBR dan memberikan seluruh kebebasan kepada orang-orang kaum elit.

 

Hari ke – Empat

Petualangan pada hari ke-4 dimulai, pagi hari yang sejuk di bogor dimulai dengan kegiatan yatra atau walking with silence, setelah melakukan kegiatan ini saya merasa seperti diingatkan bahwa manusia tidak boleh melihat segala sesuatu secara global saja. Ada pula saatnya manusia mulai melihat sesatu secara lebih seksama dan lebih bijaksana. Kami jadi lebih aware akan keberadaannya mahluk hidup lain seperti hewan, dan juga tumbuhan. Setelah terinspirasi oleh indahnya alam sekitar, kami kembali terinspirasi dengan materi yang dibawakan oleh Mbak Kiki yang merupakan founder dari Sekar Kawung. Melalui ceritanya, saya jadi lebih terdorong untuk menggerakkan masyarakat, agar mereka dapat lebih bangga dan memanfaatkan kembali kearifan lokal yang mereka miliki.

Kelompok Nadira mempresentasikan hasil observasi sosial yang sudah dilakukan

 

Hari Ke – Lima

Hari terakhir telah tiba, sebelum kegiatan hari itu diakhiri kami masih mendapatkan materi mengenai pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan lagi-lagi materi dikemas dengan permainan. Setelah permainan berakhir, kami jadi paham bahwa permasalahan sumber daya alam yang selama ini terjadi adalah dikarenakan jumlah sumber daya alam yang tidak ditangkap atau diambil pasti lebih sedikit jika dibandingkan dengan sumber daya alam yang diambil. Jadi, apabila pengambilan SDA tidak diberikan batasan maka lama-kelamaan SDA tersebut akan habis.

 

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan kesaksian dari masing-masing orang untuk berkomitmen dan berkontribusi untuk lingkungan. Berat rasanya harus berpisah dengan teman-teman yang sudah menemani proses pembelajaran mengenai isu-isu di Indonesia ini. Terlebih karena saya tahu bahwa kami memiliki tujuan yang sama bagi kehidupan sosial di lingkungan sekitar dan juga alamnya. Tidak banyak orang yang memiliki kekuatan hati dan semangat yang tulus seperti mereka, semoga kami dapat bertemu lagi di rangkaian acara yang lain.

This event really do opens up my eyes towards the problems that are occurring in Indonesia. Hopefully there will be more youths that can fight for what’s right not for what makes profits high.

 

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s