Short Course Batch III : Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Dunia Profesional

DSCF9562Beberapa minggu lalu, aku berkesempatan mengikuti short course dari RMI tentang kerelawanan, gender, dan lingkungan. Salah satu materi yang menurut aku baru banget namun sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari — hari adalah pengetahuan mengenai gender.

Apasih “Gender” itu?

Banyak orang menyamakan gender dengan penyebutan “laki — laki” dan “perempuan”. Apakah sama? Jika iya, apa bedanya dengan “jenis kelamin”?

Well, gender dan jenis kelamin ternyata cukup berbeda, guys. Penyebutan jenis kelamin laki — laki dan perempuan merupakan penyebutan terhadap manusia berdasarkan apa yang Tuhan berikan kepada kita secara biologis. Misalkan, laki — laki dapat membuahi, perempuan dapat menstruasi, hamil, dll.

Sedangkan penyebutan gender laki — laki atau perempuan adalah berdasarkan konstruksi sosial masyarat mengenai nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh laki-laki atau perempuan tersebut. Misal, perempuan itu lembut, cerewet, penyayang. Sedangkan laki — laki itu tegas, pemimpin, dll.

Makanya kalau lagi ngisi form online dan pas ada pilihan gender, biasanya adala pilihan male, female, dan others, kan? Karena pilihan “others” itu berarti setiap orang bebas menentukan gender dia berdasarkan konstruksi sosial yang dia pahami, ceunah.

Intinya, jenis kelamin ini merupakan kodrat yang diberikan Tuhan, dan perannya tidak dapat ditukar antara laki-laki dan perempuan. Ga mungkin, kan, cowok hamil? Wkwk. Sedangkan gender bisa bermacam-macam karena ini merupakan konstruksi sosial aja. Peran yang identik dengan laki-laki bisa saja dimiliki perempuan, begitu juga sebaliknya. Emang laki-laki nggak boleh cerewet? Emang wanita nggak boleh jadi pemimpin? Wkwk.

Oiya, lupa banget jelasin kalo pematerinya adalah Direktur RMI, Kak Tilla namanya. Beliau kemudian menjelaskan tentang stereotype gender. Wah, makin menarik, nih.

Diawali dengan partisipasi peserta short course buat menuliskan persepsi mereka terhadap beberapa kelompok gender (ex: Laki-laki, perempuan, gay, lesbian, orang papua, orang cina, pemerintah, LSM, dan anak) dengan satu kata, secara nggak langsung kita udah belajar apasih stereotype gender itu. Yup, persepsi yang kita tulis tentang orang cina: let say pelit, cuan, uang, dsb, ya itulah yang namanya stereotype gender.

Kemudian, para peserta short course disuruh nulis lagi dari mana persepsi itu berasal atau apa yang mendasari stereotype tersebut. Aku pribadi jadi agak kesulitan buat tracking asalnya presepsi itu, karena semuanya ya langsung aja dibawah alam sadar.

Ternyata, itulah yang namanya bias implisit. Kadang kita suka judgemental ke orang sebelum kenal. Misal, ketemu orang batak pasti keras suka marah-marah, padahal kita belum kenal lebih jauh. Kadang bias implisit itu muncul tanpa kita sadari. Makanya cukup sulit buat tracking lagi dimana semua presepsi itu.

Aku, personally sangat terbantu dengan materi tentang gender ini. Karena semua orang ternyata bisa sejudgemental itu tanpa disadari, padahal dia pasti juga sedang dijudge sama orang disekitarnya. Sebagai first jobber yang baru dalam dunia kerja, pemahaman tentang gender ini mengubah perspektif aku ketika menghadapi rekan-rekan kerja. Pengetahuan baru banget buat aku tentang stereotype gender ini supaya ngga judgemental di awal, dan berusaha mengurangi bias implisit yang sering muncul ketika ketemu orang baru, apalagi di dunia kerja.

Dalam dunia kerja, nggak munafik aku sering menjumpai stereotype gender dan bias implisit ini. Misal, tentang seorang perempuan yang karirnya bagus sampai go international tetapi belum menikah hingga hampir umur kepala 4. Orang-orang tidak membicarakan tentang prestasi perempuan tersebut, justru malah bergunjing kenapa dia ngga nikah-nikah. Ironi, ya?

DSCF9723default

Memang, sih, kalau dalam dunia kerja, sering kali peran wanita lebih banyak dituntut untuk memenuhi “persepsi konstruksi sosial” masyarakat terlebih dahulu. Sehingga jika dia meraih achievement yang sama atau bahkan lebih dari laki-laki ketika bekerja, maka yang terjadi adalah kurangnya apresiasi, karena masyarakat terkotakkan dengan persepsi bekerja adalah untuk laki — laki, dan mengurus anak adalah untuk perempuan.

Kalau boleh beropini, sebenarnya di dalam dunia profesional, baik laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama untuk berprestasi. Pun jika di dunia rumah tangga, apakah laki-laki tidak boleh mengurus anak?

Kalau kita terus terkungkung dalam konstruksi sosial yang kita punya, mau sampai ladang gandum berubah jadi coco crunch, kesetaraan gender laki — laki dan perempuan juga tidak akan tercapai. So, be open minded, please? Yuk?

Sesederhana ketika kita mau julidin temen kita yang terpaksa menitipkan anaknya karena harus bekerja karir, kita langsung ingat kalau itu bias implisit dalam diri kita. Dengan ingat kalau kita punya bias tersebut, berarti kita sadar kalau itu hanyalah pemahaman kita karena konstruksi sosial tentang perempuan yang sebenarnya bisa juga dialami oleh laki-laki, begitu pula sebaliknya.

Di tahun 40 an, warna pink kemerah-merahan identik dengan laki-laki. Karena ketika dulu perang, pakaian perang dengan warna yang cenderung kemerahan biasanya yang bakal menang. Kemudian, karena masuknya industri yang mengkotakkan bahwa warna biru untuk laki-laki dan pink untuk perempuan, maka konstruksi sosial terhadap warna pun bergeser. Intinya, isu gender ini nggak bisa dilihat secara black and white aja. Ada banyak spektrumnya tergantung konstruksi sosial di masyarakat dan cuma pada masa tertentu aja.

Jadi, masih mau jadi terjebak dalam ketidakabadian persepsi konstruksi sosial?

DSCF9235

Penulis: Emmerald Falah Brayoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s