FORMULIR GREENCAMP 2K16

https://docs.google.com/spreadsheets/d/1pcfmPnCIHpzO25PXLD4rWpPb4gjVbSHcuwG6Fmp30fg/edit#gid=1542758788

Iklan

Minicamp Kemerdekaan!

Awalnya saya tidak teralu tertarik dengan sebuah organisasi atau komunitas, karena saya pikir itu ribet dan saya termasuk  yang cukup sulit berbaur dengan banyak orang. Itu berlangsung cukup lama, selama disekolah saya tidak pernah bergabung dengan satu organisasi atau komunitas apapun. Beberapa bulan setelah lulus smk, sekitar bulan September 2015 saya diajak bergabung dengan Relawan4Life dan itu merupakan pengalaman pertama menjadi anggota sebuah komunitas.

Kegiatan pertama saya di R4L adalah menjadi salah satu tutor BBC, kelompok belajar Bahasa Inggris di Kp. Lengkong. Kalau ditempat les milik paman saya, saya hanya perlu menyampaikan materi yang sudah ada kepada anak-anak dan tidak perlu melakukan banyak pendekatan. Benar-benar berbeda dengan ini, lingkungan baru, orang-orang baru, dan harus menyampaikan materi sendiri yang disesuaikan dengan anak-anak disini. Tapi mereka sangat antusias, ramah, dan menerima baik kedatangan saya. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari jarak, waktu, dan komunikasi saya kepada anak-anak disana. Ternyata mengajar tidak segampang kelihatannya. Masih banyak sekali yang harus saya pelajari selain materi pembelajaran, belajar membagi waktu, bagaimana menarik minat anak-anak untuk belajar, membangun kepercayaan mereka, dan belajar berkomitmen. Terimakasih untuk semua yang terlibat diBBC, anak-anak yang lucu, Teh Inay, Ningsih, dan lainnya yang sudah membantu kami para tutor agar BBC terus berjalan.

Banyak kegiatan yang saya lakukan bersama R4L sejauh ini selain BBC, seperti greencamp 2015, berbagi buku, Amazing Race, dan masih banyak lagi, yang membuat saya belajar agar mulai berani keluar dari si “zona nyaman”. Dan pengalaman kemarin merupakan salah satu yang cukup berkesan, pertama kalinya mengatur sebuah acara dan langsung menjadi ketua.

Persiapan acara Minicamp Kemerdekaan ini hanya sekitar 2 minggu, sangat singkat menurut saya. Tapi bagaimana pun harus tetap berjalan. Minicamp Kemerdekaan merupakan tindak lanjut dari acara Amazing Race untuk penanaman bibit pohon dihulu sungai Cisadane yang digabungkan dengan perayaan HUT RI ke 71 tahun. Diawali dengan rapat pertama dikantor RMI, kita para panitia membuat susunan acaranya. Mulai dari survey tempat, pembuatan flyer untuk publikasi, bagaimana memperoleh dana, mempersiapkan logistik, dan mencari bibit untuk penanaman. Yang paling menguras tenaga dan pikiran adalah H-1 acara, saat pengambilan bibit pohon. Dikarenakan banyak miss communication, kita harus bulak-balik kampus IPB Dramaga. Mulai dari panasnya matahari sampai derasnya hujan kita lalui demi si bibit. Hahahaha. Kesel, capek, dan merasa diphp-in akhirnya pun berbuah manis, menjelang sore akhirnya kita bisa mengambil bibit pohonnya. Terimakasih Bu Into, Pak Heru, dan Pak Udin. J

Sabtu, 20 Agustus 2016.

Beberapa jam menjelang acara dimulai, panitia dan peserta berkumpul dikantor RMI untuk berangkat bersama, ada yang naik motor dan angkot untuk bawa barang-barang. Oh iya, awalnya respon orang-orang saat flyer disebar sangat banyak tapi menjelang hari H hanya ada 4 orang peserta, Alia dan Tubagus anggota R4L, Ginanjar dan Ninto peserta dari umum. Mulai hopeless lah saya, bakal jadi apa ini acara… Dikarenakan Alia ada urusan pekerjaan ia juga tidak bisa mengikuti acara minicamp ini tapi Alia tetap hadir ke kantor dan membawa kenang-kenangan untuk anak-anak Ciwaluh, terimakasih Alia J

“ Wah 3 orang doang… Yaudahlah namanya juga minicamp, jadi mini aja campingnya gausah rame-rame. Hahahaha”

Beruntungnya acara ini diikuti juga beberapa teman-teman dari Sahabat Lindangan dan dari Kp. Ciwaluh sendiri, jadi lumayan ramai. Hihi Alhamdulillah…

Kegiatan dibumi perkemahan Ciawi Tali hari pertama tidak teralu banyak. Kita mulai memasang tenda, perkenalan dan bagi kelompok camp untuk memasak yang diawali dengan berbagai game. Nah uniknya sebelum memasak masing-masing  diberi koin 300R4L perkelompok, koin tersebut harus bisa kita gunakan untuk membeli bahan makanan untuk makan malam. Saat itu benar-benar riweuh seperti keadaan belanja dipasar tradisioanal sesungguhnya. Selanjutnya para peserta mulai menyiapkan masakan mereka dan kita makan bersama-sama. Pada malam harinya, kita membuat api unggun dan memulai diskusi bersama Kak Fahmi mengenai Road to Green Camp 2016, banyak hal yang kita diskusikan hingga larut malam. Sampai jam menunjukan pukul 23.00 semua peserta kembali beristirahat ditenda masing-masing.

Minggu, 21 Agustus 2016

Acara inti dimulai hari ini, penanaman pohon dan perlombaan kemerdekaan. Saya tidak menyangka pagi itu banyak sekali anak-anak kecil dari Kp. Ciwaluh yang hadir, banyak yang malu-malu tapi akhirnya mereka ikut bergabung dengan yang lain. Sambil menunggu semua peserta camp selesai sarapan, anak-anak diajak senam pagi bersama Kak Lulu dan Kak Mojang. Pukul 08.00 semua peserta camp dan anak-anak berkumpul ditengah buper. Saya, Kang Doyok dan Kang Hamid menjelaskan tentang acara penanaman pohonnya, apa saja, dimana dan bagaimana prosedurnya. Semua peserta dan anak-anak diberi masing-masing satu bibit pohon untuk ditanam, kita membagi 3 tempat penanaman, ada yang disekitar buper, dipinggir sungai, dan disekitar curug Ciawi Tali.

Setelah itu acara selanjutnya adalah perlombaan. Kita mebagi peserta menjadi 8 kelompok dengan masing-masing 5 anggota, tiap kelompok harus punya nama dan yel-yelnya sendiri. Lomba pertama makan pisang dan ubi awalnya adalah lomba kerupuk tapi kerupuknya habis, mendadak jadi lomba makan pisang dan ubi. Hehehe

Lomba selanjutnya estafet kelereng, seru dan ngeselin. Dilanjut dengan lomba estafet karung, ada yang jago ada juga yang sampai harus jatuh ketanah. Lebih ngeselin lagi lomba estafet karet, bikin geregetan. Tidak sampai disitu, lomba memasukan paku juga menyebalkan. Selanjutnya saatnya main air, lomba pipa bocor dan cerdas cermat balon berhasil membuat semua peserta basah-basahan.

Setelah perlombaan pasti capek dan lapar, setelah istirahat, mandi dan beres-beres, semua yang hadir saat itu makan bersama diatas daun pisang. Setelah kenyang tibalah pengumuman pemenang sekaligus penutupan acara Minicamp Kemerdekaan. Yeayyyy!!!

Alhamdulillah acara bisa berjalan dengan cukup baik walau masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Dibantu dengan teman-teman yang kece dari Relawan4Life dan RMI, Ka Rahma, Manda, 3 princess bigos Ka Lulu, Ka Hani, Ka Mojang, si grabexpress Shidiq, si ojen Dian Nurjanah, Kang Asep, Ka Fahmi, para pemuda Tali Bambu nu karasep, para peserta dari Bogor, Sahabat Lindangan, remaja dan anak-anak Kp. Ciwaluh, semuanya yang belum disebutkan juga terimakasih banyak yaaaa! Saranghaeyo…

29

 

Teks: Meilinda Amin

Foto: Fahmi Rahman

Workshop Media Belajar dalam Rangka Peringati Hari Anak Nasional

Relawan4Life, menyelenggarakan “Workshop Media Belajar” pada Minggu, 24 Juli 2016. Workshop ini merupakan upaya dari Relawan4Life dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Peserta yang mengikuti workshop ini, adalah guru-guru PAUD dan SD di Desa Wates Jaya dan Desa Pasir Buncir, Kabupaten Bogor.

Lulu Luthfia, koordinator kegiatan ini, menjelaskan “Anak-anak yang belajar di PAUD di daerah ini tuh kasian, mereka cuma diajarin baca sama nulis aja. Malah ada yang ngomong, gak mau sekolah lagi karena pegel tangannya, nulis mulu”.

Lulu dan tiga orang relawan lainnya, sebelumnya pernah terlibat dalam gerakan #BerbagiIlmu yang digagas Relawan4Life. Dalam program tersebut, selama satu bulan, relawan ikut mengajar di PAUD yang ada di dua desa tersebut.

#BerbagiIlmu yang tadinya mengirim relawan untuk mangajar, diubah strateginya dengan mengadakan pelatihan dan workshop bagi guru-guru. Pelatihan pertama dilaksanakan pada Oktober 2015.

Sebagai pembuka workshop, Mardha Tillah-Manajer Advokasi dan Kebijakan Sumberdaya RMI, memberikan materi tentang hak anak.

Sesi I. Hak Anak

Mengutip Johanna Eriksson, Tilla menjelaskan bahwa anak-anak memiliki status yang setara dengan orang dewasa sebagai anggota ras manusia, mereka bukan milik orang tua. “Masa kanak-kanak merupakan masa paling penting dalam fase kehidupan. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan khusus untuk menjamin bahwa hak anak-anak dan kepentingan anak-anak seharusnya diwakili secara tepat dalam semua pengambilan keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka”.

Indonesia, ikut meratifikasi Konvensi Hak Anak yang disahkan pada 20 November 1989. Secara umum, Primsip-prinsip umum KHA diantaranya:

  • Non diskriminasi
  • Kepentingan terbaik bagi anak)
  • Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan tumbuh kembang
  • Penghormatan terhadap pendapat anak (Partisipasi)

Sesi II. Workshop Media

Sebelum  penjelasan media-media pembelajaran yang telah disiapkan relawan, guru-guru dibagi ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok diberi satu barang yang harus mereka jadikan media pembelajaran. Dalam waktu sepuluh menit, para guru mampu menjadikan satu alat tersebut menjadi dua sampai tiga media pembelajaran. Sesuatu yang mampu mereka lakukan, namun belum pernah dilakukan.

Para relawan, secara bergantian, kemudian menjelaskan fungsi dan cara penggunaan media-media pembelajaran yang telah disiapkan. Saat diminta untuk mencoba mempraktekkan, para guru terlihat sangat antusias.

Sesi ini difasilitasi oleh Rahma Novianti, Koordinator Relawan4Life.

“Capek, tapi seneng pas liat guru-gurunya pada semangat. Semoga anak-anak juga bisa lebih semangat nanti belajarnya” ucap Lulu mengakhiri evaluasi panitia, sebelum persiapan UAS esok hari di kampusnya.

 

Teks: Fahmi Rahman

Foto: Dokumentasi Relawan4Life

 

#AmazingRace2016; Dibalik Layar

Waktu yang sangat terbatas menjadi salah satu tantangan panita dalam melakukan kegiatan perayaan hari bumi 2016 dengan konsep #AmazingRace. Setelah konsep selesai di kerjakan, hanya melalui media seperti e-mail dan group WhatsApp kita berdiskusi dan mempersiapkan berbagai hal. Hal yang sangat sulit untuk kami bisa duduk bersama dan membahas pesiapan ini-itu, terlebih tidak banyak dari kami yang pernah menjadi panitia atau peserta #AmazingRace. Bermodalkan saling percaya dan tidak saling mengandalkan saya mencoba membagi berbagai tugas kepada panitia.

Bisa di hitung berapa kali kami bertemu. Intensifnya hanya 1 hari sebelum hari H. Tepatnya tanggal 23 april 2016. Beruntungnya teman-teman dari RMI yang notabenenya sudah sering melakukan kegiatan ini, membantu dengan sangat maksimal. Terimakasih banyak!

Konsep “taman” ini sebenarnya berawal dari celetukan perencanaan #AmazingRace di bulan Desember 2015 lalu, sehingga taman-taman yang ada di Kota Bogor menjadi lokasi setiap misi dari permaianan ini. Referensi dari setiap misi ini adalah, #AmazingRace sebelumnya, dan Runing Man. Awalnya misi yang saya sampaikan pada panitia sudah terdengar jahat, sehingga saya rasa cukup misi di setiap pos seperti ini.

Tapi jangan salah, master games RMI, kita sebut saja inisalnya, Indra N Hatasura, merubah sedikit konsep yang sudah disampaikan pada panitia, tepat 2 hari sebelum acara dimulai. Argumennya justru berbeda 180◦ dengan panitia yang sudah mendengarkan konsepku sebelumnya.

Dua minggu sebelum acara, kami melakukan survey tempat.  Saat itu ada saya dan Lulu dari Relawan4life, Mahmud dan Erik dari RMI. kami mengunjungi taman yang jarang orang datangi, dan akhirnya kami menemukan satu taman bermain, ada ayunan, dan segala macem maenan anak-anak. Tidak ada plang nama sama sekali. Akhirnya kami tanyakan pada anak-anak yang sedang bermainan disana, mereka tak tahu apa nama taman ini, bahkan tukang warung samping taman pun tak mengetahuinya. Akhirnya kami membuat nama untuk taman ini, karena ada di jalan Ciremai Ujung, akhirnya kami beri nama Taman Ciremai Ujung. Tak ambil pusing. Setelah kami bermain ayunan, kami melanjutkan perjalanan.

Tapi sebelumnya saya ingin bercerita mengenai misi apa yang akan dilakukan setiap tim.

Pos 1; Taman Ciremai Ujung

Di pos ini, setiap tim harus menyebutkan semua nama tim sebagai kata kunci memasuki pos ini. Setiap tim akan memilih bola waktu, dimana itu merupakan waktu mereka untuk menjual stiker Trees4Life semampu yang bisa mereka jual. 1 stiker seharga Rp.5000,-. Satu stiker yang terjual sama dengan 1 pohon yang akan ditanam di area hulu DAS Cisadane. Semakin banyak stiker yang dijual semakin banyak pohon yang akan kami tanam disana, dan itupun akan menguntungkan setiap tim, kenapa ? lihat saja apa yang akan terjadi di pos 3.  Walau indonesia sangat tekenal dengan jam karetnya, kita akan lihat apakah hal itu terjadi di misi ini? apakakah peserta akan menyelesaikan misi mereka tepat waktu, atau ngaret?.Jika peserta terlambat satu menit, maka satu poin kelompok mereka akan hilang. Dan jika mereka bisa kembali ketika mereka masih memiliki waktu, maka tambahan satu poin untuk setiap menitnya.

Disini kita bisa belajar apa yang kita tanam akan kita tuai, semakin besar usaha kita menawarkan, semaikn besar peluang terjualnya, dan bahkan the power of networking  akan sangat berguna disini, dan itu terbukti pada tim Rasamla, sang Runner Up.

Misi ini merugikan tim yang datang terakhir. Karena sudah banyak yang menjual dan menawarkan hal serupa, sedangkan ruang lingkupnya disitu-situ saja, sehingga tim terakhir menjadi lebih sulit menjual stiker.

Pos 2; Taman Heulang

Hutan Kota Ahmad Yani, dan Taman Heulang adalah dua tempat yang kami kunjungi saat survey. Hanya sekedar melihat dan membandingkan 2 lokasi ini, mana yang lebih memungkinkan. Setelah sekedar berjalan berkeliling Taman Heulang dan Hutan Kota Ahmad Yani, kami memutuskan untuk menggunakan Taman Heulang. Taman ini akan jadi pos utama dalam petualangan #AmazingRace. Setelah berjalan jauh dari pos sebelumnya, disini peserta akan mendapat banyak waktu untuk beristirahat menjalankan misi.

Misi yang akan dilakukan disini adalah, memasukan koin kedalam gelas yang berada di dalam ember yang penuh dengan air. Setiap tim akan mengambil 10 koin. Jumlah koin yang tidak berhasil masuk dalam gelas, merupakan jumlah orang yang harus dicari untuk berfoto dengan papan earthday, dan wajib di posting di Instagram, Twitter, ataupun Fan page Relawan4Life dengan tagar #TreesForLife #AmazingRace2016 #Earthday #Relawan4Life. Setelah misi selesai,  mereka akan mengambil kartu baik dan jahat. Faktor keberntungan menjadi hal yang sangat menentukan. Dan disini, penjaga pos akan memberitahukan, uang hasil penjualan stiker di pos sebelumnya adalah uang yang akan digunakan tim untuk makan siang.

Membuka sepatu, menggunakan topeng kresek, tangan diikat, mendapatkan makanan, ongkos ke pos berikutnya, memberikan 20 menit pinalti pada lawan. Itu adalah isi dari kartu baik dan jahat, dimana jika tim mendapatkan kartu jahat, maka hal itu harus dilsakukan sampai di pos selanjutnya.

Pos 3; Taman Peranginan

Kami tak melakukan survey ke lokasi berikutnya, Taman Peranginan. Kami justru survey ke Taman Corat-coret yang sangat penuh dengan gambar. tak ada pohon atau apapun itu, hanya dinding dan berbagai gambar yang melekat. Tak ada yang bermain atau berfoto. Kami bergegas pergi, berharap awan masih kuat menampung titik-titik air di langit. Sore itu sangat mendung. Dan kami langsung meluncur ke kantor RMI. Dan benar saja, kami berpacu dengan hujan yang tiba-tiba besar. Saya menunduk untuk melindungi kamera, dan lucunya adalah berbeda blok hujan tak lagi turun. Saya hanya tertawa, ini layaknya melewati air terjun. Dan tak lama hujan benar-benar turun merata. Beruntung menggunakan kerudung, karena dengan kerudung ini kami berhasil menjauhkan kamera dari air hujan, walau punggung kami basah kuyup.

Tak perlu survey, akhirnya kami memutuskan untuk meletakan pos berikutnya di Taman Peranginan, tidak di Taman Corat-coret. Pos ini merupaka pos sesat, karena disini peserta harus menjawab pertanyaan, dan memastikan jawaban tersebut benar atau salah dengan cara mengunjungi suatu tempat. Dan disinilah penukaran poin terjadi.

Setiap kali menyelesaikan misi di setiap pos, tim akan mendapatkan amazing card yang berisi poin dan  petunjuk lokasi berikutnya. Poin setiap timnya dalam setiap misi akan berbeda, tim yang berhasil menyelesaikan misinya pertama kali akan mendapatkan poin terbesar yaitu 10, dan kelompok dibelakannya akan mendapatkan 2 point lebih kecil, dan begitupun seterusnya.

Di pos inilah saatnya menggabungkan semua point dari semua misi. Dan saatnya belanja, ada banyak produk yang ditawarkan, mulai dari makanan, minuman, ongkos untuk sampai ke lokasi berikutnya, memberikan pinalti kepada lawan, dan pohon. Ini sangat menguntungkan tim dengan perolehan poin terbanyak. Dia bisa membeli banyak produk, dan bisa sampai ke pos berikutnya dengan cepat.

Pos 4; Taman Malabar

Lokasi berikutnya adalah Taman Malabar. Disini peserta hanya perlu menemukan kunci rahasia dengan 3 kesempatan. Kami membuat kode pada setiap kotak harta karun. Dan jika tim membawa pohon ke pos ini , maka dia bisa mendapatkan clue bagiamana menemukan kunci yang tepat dengan gembok harta karun mereka. Awalnya kami berencana untuk membuat permaian blind lead dengan secret area. Dimana setiap box berada di lokasi yang berbeda. Namun karena waktu kedatangan tim ke pos 5 ini sudah lumayan sore, akhirnya kita bersepakat untuk membuat pos ini menjadi lebih singkat dan mudah.

Pos 6; Finish!

Inilah pos yang menentukan, pos terakhir. Kelompok yang pertama kali sampai di pos 6 ini adalah kelompok yang menjadi pemenang, hanya ada 2 tim yang akan dinobatkan sebagai juara #AmazingRace kali ini.

 

Di Balik Layar

H-1 kami bekerja keras menyiapkan banyak hal. Rasanya semua pekerjaan berpuncak di hari ini. Mulai dari mematangkan konsep, berbagi tugas dan menyiapkan alat. Saya percayakan pada semua. Tapi sayang, masih banyak hal yang belum selesai sampai beberapa orang panitia sudah pulang. Saya harus cek lokasi untuk bahan soal sebelum langit gelap. Dengan motor, kami berkeliling sekitar Bogor Baru, kita-kira apa yang akan dijadikan sebagai misi jawaban di pos satu. Kami memelankan motor, berharap sesuatu yang mencolok dan spesifik. Akhirnya kami menemukan nomor rumah dengan nama  pemiliknya, dan no telfon badut yang berada dekat dengan papan Kantor Pos.

Saatnya ke arah Tegal Lega. Sayang motor kami mogok, dan akhirnya kami hanya nongkrong menunggu tukang las menyelesaikan tugasnya, dan menunggu bala bantuan dari relawan yang ada di kantor. Datanglah Aep, kami pergi ke daerah Tegal Lega. Sebenarnya asal saja saya memutuskan dokter Syafiq saja, saya mencatat segala macam tulisan yang ada di plang Dokter Gigi ini.

Lanjut ke Daerah Taman Bogor Baru. Disini saya bingung karena tak ada hal yang spesifik, dan tak ada yang mencolok, akhirnya saya menemukan hal menarik di salah satu rumah yang sedang ramai, saya menemukan relief 2 orang yang sedang sila di tembok depan rumah mereka. Kami memberhentikan motor, untuk sekedar berdiskusi dan menuliskan nomor rumah tersebut, tapi sepertinya sang pemilik rumah curiga, dia terus melihat ke arah kami. Tak ambil pusing kami langsung pergi ke arah yang berlawaan, mesjid ini bisa jadi misi, kami memutuskan untuk menjadikan jumlah belah ketupat di pintu mesjid sebagai jawaban misi kali ini.

Survey selesai, saatnya menentukan pertanyaan, dan luas wilayah TNGHS menjadi pertanyaan di pos ini, saya tak memikirkan apapun. Karena TNGHS adalah wilayah belajar RMI, maka itulah hal yang tiba-tiba muncul malam itu. Kami para panitia yang menginap benar-benar malam mingguan di kantor, berusaha agar tak satupun kami lupakan, karena besok pagi kegiatan sudah dimulai. Tidak hanya panitia kali itu yang di sibukan, tapi peserta dari Ciwaluh, Dewi dan Neng juga kami repotkan untuk membantu menyiapkan beberapa alat. Tulis, print, gambar, gunting, lem, buat dan segala macam kami lakukan malam itu. Syukurlah kami para perempuan hanya bisa bertahan sampai jam 01.00 entah panitia laki-laki sampai jam berapa mereka meyelesaikan segala persiapan.

Saya salut dengan semua panitia. Mereka benar-benar bekerja keras. Dan pagi hari kami siap melakukan berbagai aktivtias di setiap posnya. Pada hari H, sudah ku percayakan pada semua orang.

Walau ada kesal, capek tapi jadi panita #AmazingRace kali ini sangat menyenangkan. Karena bisa lebih mengenal teman-teman relawan lebih dekat lagi. Saya pribadi mendapakan banyak pembelajaran terutama masalah manajemen. Ini dia kekuatan dari pengalaman. Selalu ada pembelajaran yang bermanfaat.

aabbddee

 

Teks: Rahma Novianti

Foto: Amanda So & Fahmi Rahman