Kompetisi Desain Dalam Memperingati Hari Anak Internasional

Persyaratan

Ketentuan

  • Peserta membuat karya yang bertema “Lingkungan Sehat untuk Anak”
  • Karya bukan merupakan karya orang lain dan belum pernah dilombakan sebelumnya
  • Karya tidak mengandung unsur SARA
  • Karya berkaitan dengan pentingnya hak-hak anak atas lingkungan yang sehat
  • Membuat satu folder Google Drive yang berisi Surat Persetujuan, Karya (dalam bentuk soft file/master design dan mock-up design pada benda yang dipilih), Filosofi Karya, Judul
Contoh Mock-Up desain

Contact Person (Dua orang)

  • Ajeng : 0896 7139 3467
  • Dinah : 081111 66507

Periode Pengumpulan

  • Pengumpulan karya dibuka dari tanggal 8-20 November 2021. Diundur sampai tanggal 30 November 2021.

Pengumuman

  • Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 5 Desember 2021, bertepatan dengan Webinar dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional. 

Hadiah

  • SMA
    • Juara 1: Uang tunai Rp 500.00 + merchandise
    • Juara 2: Uang tunai Rp 350.00 + merchandise
    • Juara 3: Uang tunai Rp 250.000 + merchandise
    • Juara 4-10: Merchandise
  • Umum
    • Juara 1: Uang tunai Rp 500.00 + merchandise
    • Juara 2: Uang tunai Rp 350.00 + merchandise
    • Juara 3: Uang tunai Rp 250.000 + merchandise
    • Juara 4-10: Merchandise
  • Seluruh partisipan kompetisi akan mendapatkan e-sertifikat
  • Semua pemenang akan mendapatkan merchandise dengan hasil desain pemenang pada souvenir. 

Alfina’s Story – Transect in Bongkok Mountain, Lebak

Transect walk/Ngalasan/Meramban is an activity where a person or several people enter the forest to take natural resources needed in daily life, both for daily food or for medicine or other needs.

Ngalasan in this local food training was guided by Abah Uding. Along the way he showed some plants that grow around the trail and told the benefits of these plants and ancient stories about the use of these plants.

Abah Uding himself is a native of Pasir Eurih who has a very important role in maintaining the existence of the Mount Bongkok Indigenous Forest. He acts as the Guardian of Mount Bongkok. This is very important because it has been found that several individuals have taken large amounts of wood from areas that they should not have. Because these events often occur, the initiative emerged to monitor the presence of trees on Mount Bongkok. One of them by conducting patrols. Abah Uding himself is a person who is trusted to be able to guard the mountain.

The decision was then discussed with other parties such as Baris Kolot as well as village officials and the local police until finally a decree was issued which formalized Abang Uding’s status in maintaining the sustainability and sustainability of Mount Bongkok. At first, there was a conflict because the residents thought that he wanted to control the natural resources available on Mount Bongkok, but after seeing that in the future this would be beneficial for future generations, finally Abah Uding was trusted to guard Mount Hunchback.

One of the ways he does this is by conducting patrols in the forest around the mountain which is done once a week. Mountain patrol itself is a term used to monitor natural conditions on the mountain, such as whether there are trees or other suspicious things, which can indicate a massive resource extraction for personal gain. In conducting patrols, Abah Uding took different routes, for example towards Cilebang, Cidikit, Sindang Agung, Cibeas, and Pasir Eurih.

Abah Uding’s duty as a guard for Mount Bongkok was apparently not passed down to his descendants just like that. This is because guarding Mount Bongkok is not an easy task, but rather is considered heavy and difficult. However, if there is someone who is considered capable, then Abah Uding can entrust his trust to that person. For now, Abah Uding and the traditional elders hope that the KOMPAK Young Generation (Kasepuhan Indigenous Youth Community) can preserve the existence of Mount Bongkok by learning more about the environment and things related to Mount Bongkok.

Author: Alfina Khairunnisa

Cerita Alfina – Ngalasan di Gunung Bongkok, Lebak

Ngalasan/Transect walk/Meramban adalah kegiatan dimana seseorang atau beberapa orang masuk ke dalam hutan untuk mengambil sumber daya alam yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk makan sehari-hari maupun untuk obat-obatan atau kebutuhan lainnya. 

Ngalasan dalam pelatihan pangan kali ini dipandu oleh Abah Uding. Sepanjang perjalanan Beliau menunjukkan beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar serta menceritakan manfaat dari tanaman-tanaman tersebut serta cerita-cerita zaman dahulu tentang pemanfaatan tanaman tersebut. 

Abah Uding sendiri adalah warga asli Pasir Eurih yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keberadaan Hutan Adat Gunung Bongkok. Beliau berperan sebagai Penjaga Gunung Bongkok. Hal ini sangat penting karena pernah ditemukan beberapa oknum yang melakukan pengambilan kayu dengan jumlah yang besar dari wilayah yang tidak seharusnya. Karena peristiwa tersebut kerap kali terjadi, maka muncul inisiatif untuk memantau keberadaan pohon-pohon di Gunung Bongkok. Salah satunya dengan melakukan patroli. Abah Uding sendiri merupakan orang yang dipercayai untuk bisa menjaga gunung. 

Keputusan tersebut kemudian didiskusikan bersama dengan pihak-pihak lain seperti Baris Kolot serta perangkat desa dan kepolisian setempat hingga akhirnya terbit sebuah SK yang meresmikan status Abang Uding dalam menjaga keberlangsungan dan kelestarian Gunung Bongkok. Pada awalnya, sempat ada konflik dikarenakan warga mengira bahwa Beliau ingin menguasai sumber daya alam yang tersedia di Gunung Bongkok, namun setelah melihat bahwa kedepannya hal ini akan bermanfaat untuk generasi penerus akhirnya Abah Uding pun dipercaya untuk menjaga Gunung Bongkok.

Salah satu cara yang dilakukan Beliau adalah dengan melakukan patroli gunung yang diadakan satu kali dalam satu minggu. Patroli gunung sendiri adalah istilah yang digunakan untuk memantau kondisi alam di gunung tersebut, seperti apakah ada pohon atau hal lainnya yang mencurigakan, yang bisa mengindikasikan adanya pengambilan sumber daya secara besar-besaran untuk kepentingan pribadi. Dalam melakukan patroli, Abah Uding mengambil rute yang berbeda-beda, misalnya ke arah Cilebang, Cidikit, Sindang Agung, Cibeas, dan Pasir Eurih.

Tugas Abah Uding sebagai penjaga Gunung Bongkok ternyata tidak bisa diturunkan kepada keturunannya secara begitu saja. Hal ini karena penjaga Gunung Bongkok bukanlah tugas yang mudah, melainkan dianggap berat dan sulit. Namun apabila ada seseorang yang dianggap mampu, maka Abah Uding bisa menitipkan amanahnya kepada orang tersebut. Untuk saat ini, Abah Uding dan para Tetua Adat berharap kepada Generasi Muda KOMPAK (Komunitas Pemuda Adat Kasepuhan bisa melestarikan keberadaan Gunung Bongkok dengan belajar lebih banyak tentang lingkungan serta hal-hal yang berkaitan dengan Gunung Bongkok.

Penulis: Alfina Khairunnisa

Cerita Dinah – Pergeseran Budaya dan Respon Modernisasi Pemuda Adat Kasepuhan

Dinah (perempuan yang jongkok) bersama generasi muda adat Kasepuhan.

Kehidupan merupakan satu siklus dinamis yang akan terus berubah dan berkembang beriringan dengan respon manusia terhadap fenomena yang terjadi. Begitu pula dengan kehidupan Masyarakat Adat, sekalipun Masyarakat Adat merupakan masyarakat tradisional, pergeseran budaya akan tetap terjadi dengan adanya beberapa faktor yang pada akhirnya mempengaruhi pilihan dalam menjalani hidup. Hal itu pula yang dirasakan oleh Masyarakat Adat Kasepuhan.

Saat berbicara tentang kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan, gambaran mengenai hal-hal sakral terasa sangat kental melekat dalam diri setiap individunya. Pergeseran budaya yang terjadi di wilayah Kasepuhan, tidak serta merta terlepas dari adanya perubahan-perubahan sosial yang terjadi jauh sebelum tahun 2021. Mulai dari perbaikan jalan untuk kepentingan infrastruktur, masuknya listrik untuk pertama kali, hingga perkembangan teknologi menjadi beberapa hal yang berdampak pada perubahan yang terjadi.  Pergeseran budaya pertama yang terlihat di Kasepuhan adalah arsitektur bangunan Imah Gede beserta rumah-rumah incu putu yang sudah mengalami perubahan. Yakni penggunaan material-material “modern” yang sudah marak digunakan, seperti genting yang terbuat dari tanah liat yang digunakan sebagai atap, hingga penggunaan keramik di sebagian lantai rumah. Namun penggunaan atap ijuk dan lantai kayu masih digunakan di beberapa rumah incu putu lainnya.

Perubahan-perubahan yang dialami oleh Masyarakat Adat Kasepuhan tidak hanya terasa pada segi arsitektur saja, adapun perubahan yang terasa pada diri Masyarakat Adat Kasepuhan khususnya para pemuda. Perubahan yang terjadi dapat berasal dari beberapa faktor, seperti pengaruh-pengaruh masyarakat dari luar Kasepuhan maupun dari dalam diri mereka sendiri, terkhusus bagi mereka yang mendapatkan akses pendidikan dan pada akhirnya mempengaruhi cara berpikir hingga bagaimana mereka merespon kemajuan dunia luar. Menjadi satu hal yang menarik tatkala saya berinteraksi secara langsung dengan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul, terutama dengan para pemuda yang berasal dari Kasepuhan Cibarani, Cirompang, Pasir Eurih dan Cibeas. Di mana pergeseran budaya sangat jelas terlihat pada diri pemuda Kasepuhan, mulai dari cara berkomunikasi, cara berpikir, gaya hidup, penggunaan sosial media yang ternyata sudah sangat wajar (mulai dari Facebook, Instagram dan TikTok), hingga jual-beli online menggunakan kurir. 

Dinah sedang diskusi dengan generasi muda adat Kasepuhan

Adapun permasalahan yang dialami (beberapa) pemuda Kasepuhan sebagai penerus tongkat estafet adat, yang tidak jarang pada akhirnya kurang memiliki keinginan untuk meneruskan pengetahuan-pengetahuan lokal yang telah dimiliki dari generasi sebelumnya. Hal itu pula merupakan dampak dari pendidikan yang diterima oleh para pemuda Kasepuhan yang lebih berorientasi pada pemenuhan tenaga-tenaga industri di perkotaan, hingga akhirnya membentuk pola pikir keluar dari kampung untuk mencari uang. Dari salah satu permasalahan tersebut pada akhirnya berdampak pula pada “jarak” yang terbentuk antara kokolot dengan pemuda Kasepuhan yang beranggapan bahwa pemuda Kasepuhan kurang memiliki keinginan dalam meneruskan pengetahuan lokal yang ada, sehingga mengancam keberlanjutan pengetahuan-pengetahuan lokal Adat Kasepuhan.

Dari beberapa permasalahan itu pula, pemahaman atas respon modernisasi muncul di sebagian pemuda Kasepuhan. Pemikiran untuk meneruskan pengetahuan lokal yang sebelumnya masih menjadi hal yang dirasa cukup membingungkan, pada akhirnya muncul menjadi upaya yang dilakukan guna meningkatkan rasa bangga atas identitas adat yang dimiliki pemuda Kasepuhan itu sendiri. Hal ini dapat dilihat melalui kegiatan-kegiatan yang pada akhirnya dilakukan oleh beberapa pemuda Kasepuhan melalui komunitas yang dibuat dan diinisiasi oleh pemuda Kasepuhan di wilayah hidup mereka masing-masing. Kegiatan yang dilakukan pun cukup beragam dengan menggunakan media sosial sebagai platform untuk menyebarkan kegiatan apa saja yang tengah dilakukan.

Keinginan kuat terlihat dari pemuda Kasepuhan dalam mendalami ilmu pengetahuan lokal mereka, tatkala empat Kasepuhan yakni Cibeas, Pasir Eurih, Cibarani dan Cirompang menerima undangan pelatihan generasi muda adat  yang diinisiasi oleh RMI. Sudah sangat terlihat pada diri sebagian besar pemuda peserta pelatihan, atas penyadaran mengenai permasalahan adat yang dialami di Kasepuhan mereka masing-masing, baik yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan sekitar tempat mereka tinggal, adat ataupun permasalahan yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah yang harus dikawal dalam implementasinya. Bagaimana setiap peserta mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan selama pelatihan dan keinginan yang besar untuk belajar amat terasa selama pelatihan itu berlangsung. Hal itu pula yang pada akhirnya membuat saya sangat terkagum dengan bagaimana mereka merespon modernisasi menggunakan cara mereka masing-masing serta kesadaran atas identitas diri sebagai generasi muda adat yang sudah dimiliki oleh sebagian pemuda sebelum pelaksanaan pelatihan ini dimulai.

Penulis: Dinah

Workshop Regional WAVES RECOFTC, Cerita Nadira

Bulan lalu, tiga orang perwakilan relawan4life telah mengikuti sebuah program lokakarya yang bertajuk WAVES. Adapun perwakilan yang terlibat pada kegiatan tersebut adalah Alfina Khairunnisa, Siti Marfu’ah, Nadira Siti Nurfajrina. WAVES (Weaving Leadership for Gender Equality) ini merupakan program yang dilaksanaan oleh RECOFTC yang berguna untuk membangun dan memperkuat kepemimpinan kepada lebih dari 35 pemimpin gender yang berasal dari tujuh negara di Asia. Program WAVES ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif untuk mengizinkan banyaknya pemimpin gender untuk bergabung dalam kegiatan ini.

        Lokakarya atau workshop di tingkat regional yang dilaksanakan pada tanggal     29 – 31 Maret 2021 ini biasanya dilakukan secara luring dengan mempertemukan pada pemimpin gender agar para pemimpin gender dapat saling bertemu dan berinteraksi secara langsung. Namun, Pandemi COVID-19 kali ini membuat kegiatan harus dilakukan secara online. Meskipun demikian, saya sendiri juga merasa takjub dengan antusiasme dari para pemimpin gender dan juga pembicara karena tetap dapat menyampaikan pemaparan dengan semangat sehingga para peserta dapat merasakan gairah dan juga passion dari masing-masing pemimpin gender di berbagai negara. Sejumlah agenda yang dilakukan dalam program ini antara lain adalah berbagi cerita mengenai progress dan juga hasil yang dicapai melalui gerakan kesetaraan gender yang mereka inisiasikan, pembahasan mengenai cara kepemimpinan dan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan untuk membantu proses terwujudnya kesetaraan gender.

          Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya dalma kegiatan ini antara lain adalah pada saat sesi berbagi pengalaman dan juga diskusi yang dilakukan dengan cara dibagi perkelompok. Sehingga hal ini mengizinkan saya untuk dapat berkomunikasi secara langsung dengan inisiator gerakan kesetaraan gender dari negara lain. Melalui sesi ini pula, saya jadi memahami bahwa terdapat sejumlah negara di Asia yang memilki permasalahan ataupun rintangan yang serupa. Diskusi yang membahas mengenai solusi juga dilakukan dengan tema yang sangat beragam dan masing-masing kelompok membahas mengenai tema yang berbeda dan kemudian dibagikan kembali bersama kelompok tema yang lain. Sejumlah tema yang dibahas dalam kegitan ini antara lain adalah : 1) Jaringan Wanita (Women’s Networks), 2) Kebijakan (Policy Mandates), 3) Pelatihan dan Penyuluhan (Training and extension), 4) Manfaat yang adil (Equitable Benefits), 5) Lingkaran kepemimpinan Pemuda (Youth Leadership Circles), 6) Membingkai Ulang Edukasi (Reframing Education), 7. Pergeseran Kekuasaan Kelembagaan (Intitutional Power Shift).

            Dengan mendengarkan bagaimana para pemimpin gender yang berasal dari negara lain memulai gerakannya dan juga cerita latar belakang dari Gerakan mereka. Hal ini sangat menginspirasi dan juga mendorong saya untuk dapat berperan dan segera memulai gerakan saya untuk dapat menciptakan dan mengkampanyekan kesetaraan gender di lingkungan sekitar. Selain itu, pembelajaran berharga lainnya yang saya dapatkan adalah mempelajari mengenai tingkatan kemampuan kememimpinan yaitu mulai pada level personal, interpersonal dan di tingkat institusional.

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Personal-Refleksi Alfina

Pada 17-18 Februari 2021, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan II di Kasepuhan Pasir Eurih, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Bersama enam anak muda perempuan dan lima anak muda laki-laki yang merupakan anggota dalam Kelompok Pemuda Adat Kasepuhan (Kompak) Pasir Eurih, serta satu orang teman saya dari Relawan 4 Life.

Di tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengikuti kegiatan tersebut.

Mengisi MBTI

Selepas Isya’, kami berkumpul di saung sebagai agenda hari pertama. Kami duduk melingkar dan saling berkenalan satu sama lain. Sesi ini adalah sesi ringan yang diisi dengan sambutan, pembukaan dan perkenalan singkat. Setelah selesai, kami diberikan sedikit penjelasan mengenai sebuah tes kepribadian yang bernama MBTI. MBTI sendiri adalah tes kepribadian yang sudah cukup populer. Hasil dari tes ini merupakan kombinasi antara beberapa kepribadian yang berjumlah 16 tipe. Tidak ada tipe yang lebih unggul dari yang lain karena setiap tipe memiliki keunikan masing-masing. Setelah penjelasan selesai, masing-masing dari kami diberikan dokumen yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab yang bertujuan untuk mengetahui tipe MBTI masing-masing peserta. Setelah selesai mengisi dokumen tersebut, kami diberikan booklet yang berisi penjelasan dari masing-masing tipe MBTI. Setelah selesai pembahasan ringan kami pun dipersilahkan untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat.

Ice Breaking Estafet Kacang Hijau

Pada sesi ini kami semua dibagi ke dalam dua kelompok dengan masing-masing berjumlah tujuh orang. Masing-masing kelompok kemudian berbaris memanjang ke belakang, tiga orang berada di dalam pendopo, satu orang di tangga, dan tiga orang lainnya berada di luar pendopo. Di sisi depan pendopo sudah disediakan sebuah gelas yang terbuat dari kaca dan di dalamnya berisi kacang hijau setinggi kurang lebih satu cm. Peserta paling depan diharuskan mengambil satu butir kacang hijau menggunakan ujung kuku dan dioper ke peserta kedua menggunakan ujung kuku. Hal ini dilakukan sampai peserta paling akhir yang kemudian akan meletakkan kacang hijau tersebut ke dalam gelas kaca yang masih kosong dan menginformasikan peserta lainnya jika sudah berhasil memasukkan kacang hijau ke dalam gelas kaca. Setelah itu, peserta paling depan mengulangi hal yang sama dan setiap kelompok berlomba untuk memasukkan kacang hijau paling banyak. Untuk babak pertama, kedua kelompok diberikan waktu selama tiga menit. Pada babak kedua, waktu yang diberikan tetap tiga menit tetapi dengan sedikit perubahan aturan main.

Di babak kedua, peserta paling depan boleh mengambil kacang hijau secepat mungkin tanpa menunggu aba-aba dari peserta paling belakang. Permainan di babak ini semakin seru karena setiap kelompok diperbolehkan untuk mengganggu kelompok lain. Saya pribadi mengalami kesulitan untuk meraih kacang hijau yang berada di dalam gelas kaca karena jumlah kacang hijau yang terlalu sedikit dan sulit untuk memasukkan jari-jari ke dalam gelas. Tetapi itu menjadi sebuah tantangan yang membuat permainan ini semakin seru. Di akhir permainan, selisih jumlah kacang hijau antara kelompok satu dan kelompok dua hanya dua butir yang diungguli oleh kelompok dua dengan jumlah 26 butir. Permainan ini mengajarkan pentingnya bekerja sama dalam satu tim dan mempertahankan konsentrasi walaupun situasi membuat sulit berkonsentrasi.

Alfina sedang mendiskusikan pemimpin ideal.

Kepribadian menurut Johari Window

Setelah selesai ice breaking, sesi dilanjut dengan membahas mengenai kepribadian berdasarkan Johari Window. Seluruh peserta diajak untuk membuat kelompok yang berisi dua orang dengan orang yang menurut peserta kenal dekat satu sama lain. Setelah itu, kami dibagikan selembar kertas panjang yang berisi daftar kata-kata sifat yang menggambarkan sifat-sifat seseorang. Kami pun diinstruksikan untuk memberikan tanda silang kecil di samping kata sifat yang menggambarkan sifat dari teman satu kelompok kami dan memberikan tanda “P” di samping kata sifat yang menggambarkan sifat dari diri sendiri. Masing-masing berjumlah enam. Kemudian, ketika semua telah selesai, kami diberikan sebuah kertas lagi yang telah dibagi ke dalam empat bagian. Di sebelah kiri atas bertuliskan sifat yang diketahui diri sendiri dan diketahui oleh orang lain, di sisi kiri bawah bertuliskan sifat yang diketahui diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain, di sisi kanan atas bertuliskan sifat yang tidak diketahui diri sendiri tetapi diketahui oleh orang lain dan di sisi kanan bawah bertuliskan sifat yang tidak diketahui diri sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain. Cara mengisi kolom-kolom ini adalah berdasarkan kertas panjang yang telah diberikan di awal tadi, dengan cara memasukkan kata-kata sifat bertanda P dan X ke dalam kolom kiri atas, kata-kata sifat bertanda P ke dalam kolom kiri bawah, dan kata-kata sifat bertanda X ke dalam kolom kanan atas.

Tujuan dari Johari Window ini adalah mengetahui lebih jauh kolom kiri bawah dan kanan atas untuk lebih memahami diri sendiri. Menurut saya pribadi, permainan ini sangat menarik dan baru, dan sangat bisa digunakan ketika ingin mengeksplor diri lebih dalam. Hal ini dibantu dengan adanya kolom-kolom yang telah dibagi menjadi beberapa tempat dan adanya daftar-daftar kata sifat yang sangat membantu dalam mengidentifikasi sifat-sifat mana yang paling menggambarkan diri sendiri untuk kemudian ditempatkan pada kolom-kolom yang telah disediakan.

Pembahasan MBTI

Pembahasan MBTI kali ini merupakan penjelasan yang lebih lengkap dibandingkan dengan sesi MBTI di hari sebelumnya. Kalau hari sebelumnya kami hanya membaca booklet mengenai MBTI, kali ini fasilitator menjelaskan makna dari setiap kepribadian yang merupakan kombinasi tipe-tipe MBTI. Ada beberapa peserta yang belum sempat mengisi dokumen MBTI dan dipersilahkan untuk mengisi terlebih dahulu. Setelah selesai, fasilitator kemudian menjelaskan secara detail dan ringan. Dari setiap kepribadian yang ada, terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan hal tersebut saling melengkapi dengan tipe kepribadian yang lain. Fasilitator juga menjelaskan mengenai pekerjaan yang cocok untuk setiap tipe MBTI serta sifat-sifat yang mungkin pernah dialami oleh peserta lain.

Ice Breaking Mancing Lauk dina Balong Batur

Sesi ini merupakan sesi ice breaking yang bernama “Mancing Lauk dina Balong Batur” yang berarti Memancing di Kolam Orang Lain. Saya belum pernah mendengar permainan ini sebelumnya.

Seluruh peserta dibuat menjadi tiga kelompok yang masing-masing berjumlah lima peserta. Masing-masing kelompok diberikan beberapa waktu untuk mendiskusikan nama kelompoknya. Kemudian setiap kelompok berbaris memanjang ke belakang dan saling berhadapan antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Setiap peserta sesuai nomor urutannya diberikan kata kunci yang harus disebutkan ketika nama kelompoknya disebut. Ketika fasilitator menyebutkan nama kelompok, peserta paling belakang menjadi yang pertama menyebutkan kata kuncinya dan dilanjutkan hingga peserta urutan kedua. Ketika sampai di peserta urutan pertama, maka peserta tersebut bebas memilih untuk menyebutkan kelompok manapun. Hal tersebut kemudian diulangi hingga waktu habis. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan maksimal tiga kali kesalahan, dimana kesalahan pertama, seluruh anggota kelompok diharuskan memainkan permainan dengan posisi setengah berdiri, pada kesalahan kedua, anggota kelompok diharuskan bermain dengan posisi jongkok dan apabila salah satu peserta membuat kesalahan terakhir maka kelompok tersebut akan kalah.

Permainan ini dipenuhi dengan rasa tegang dan was-was karena permainan ini memerlukan konsentrasi tinggi. Namun, ketika ada kelompok yang salah menyebut kata kunci maka pendopo akan dipenuhi dengan riuh tawa dari seluruh peserta. Permainan ini mengajarkan pentingnya kerjasama dan konsentrasi serta fokus yang cukup tinggi.

Vision Board

Vision Board atau papan visi adalah sebuah materi mengenai pencapaian diri sendiri selama lima tahun ke belakang dan harapan dalam lima tahun yang akan datang. Panitia menyediakan seluruh bahan-bahan yang diperlukan seperti papan infra board, koran, krayon, gunting, lem, sticky notes dan spidol.

Seluruh peserta kemudian dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok satu diarahkan menuju saung dan kelompok dua mengerjakan vision board di pendopo. Setiap peserta diberikan waktu selama 30 menit untuk menyelesaikan papan visi tersebut sekreatif mungkin dengan bahan-bahan yang ada. Setelah selesai, setiap peserta harus mempresentasikan vision board tersebut kepada peserta lainnya dan di pojok kiri dari papan diberikan sebuah kertas kosong yang nantinya akan dituliskan ucapan atau doa oleh peserta lainnya.

Berpikir Positif

Sesi kali ini merupakan sesi berpikir positif. Maksudnya adalah bahwa kami diharuskan mengingat hal-hal positif yang telah dilakukan.

Setiap peserta diberikan sebuah kertas metaplan dan spidol. Fasilitator kemudian menjelaskan bahwa setiap peserta harus menulis hal-hal positif yang pernah dilakukan ke dalam kertas metaplan yang sudah diberikan sebanyak 20 poin. Seluruh peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Setiap peserta diberikan waktu beberapa menit untuk mengingat hal-hal positif tersebut. Setelah selesai maka peserta harus mendiskusikan hal-hal positif tersebut di dalam kelompok masing-masing.

Saya memperhatikan bahwa tidak sedikit peserta mengalami kesulitan dalam menyebutkan hal-hal positif yang pernah dilakukan. Beberapa beranggapan bahwa menuliskan hal-hal baik merupakan perilaku sombong. Ini juga yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika saya diharuskan bercerita di hadapan teman-teman mengenai hal-hal yang pernah dicapai, menurut saya waktu itu, hal tersebut merupakan hal yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang lain. Namun, seiring waktu saya belajar dan paham bahwa menceritakan hal-hal positif bukanlah hal buruk atau menyombongkan diri, melainkan ini bertujuan untuk lebih menghargai diri sendiri. Saya merasakan apa yang dirasakan teman-teman ketika mengalami kesulitan. Tetapi kemudian fasilitator membantu peserta yang mengalami kesulitan untuk terus mencoba mengingat hal-hal positif, sesimpel apapun itu. Sesi ini merupakan salah satu sesi yang cukup berkesan bagi diri saya pribadi.

Alfina bersama anak muda Kasepuhan Pasir Eurih, Endin, sedang memoderatori talkshow.

Talkshow Membangun Ekowisata dengan Pak Agus Wiyono

Talkshow ini membahas mengenai ekowisata. Pak Agus sendiri sudah memiliki pengalaman yang sangat mumpuni dalam bidang ekowisata. Selama talkshow berlangsung, Pak Agus bercerita tentang pengalamannya yang awalnya menjadi pemandu wisata hingga saat ini menjadi interpreter. Banyak hal yang dipelajari dari talkshow ini seperti diantaranya harus memperhatikan apa yang diinginkan oleh wisatawan dan juga memberi batas kepada wisatawan apa yang boleh dilakukan apa yang tidak.

Pak Agus juga berpesan bahwa dengan adanya ekowisata, budaya setempat tidak boleh sampai tergerus dengan datangnya wisatawan. Cerita yang paling saya ingat adalah ketika Beliau berbagi cerita mengenai pengalaman ekowisatanya di NTT, saat itu ketika wisatawan datang pertama kalinya, wisatawan tersebut memberikan permen kepada anak-anak yang tinggal di sekitar tempat wisata. Setelah itu, ketika wisatawan lain datang beberapa waktu setelahnya, anak-anak lain langsung menghampiri wisatawan dan meminta permen. Selain itu, Pak Agus juga menyinggung mengenai pembagian-pembagian kerja warga, misalnya warga ini akan mengurus makanan, warga lain ada yang mengurus transportasi lokal, warga lain ada yang menyewakan barang-barang. Hal-hal seperti itu yang nantinya perlu diperhatikan lagi ketika akan mengembangkan ekowisata.

Robek Kertas

Robek kertas merupakan salah satu materi yang menjelaskan tentang komunikasi dan komando dalam suatu kelompok. Materi ini disajikan dengan aktivitas yang menarik namun memiliki makna yang sangat dalam. Ini kali pertama saya mengetahui dan melakukan kegiatan ini. Jadi, ini merupakan hal baru.

Seluruh peserta duduk melingkar di dalam pendopo menghadap depan. Setiap peserta dibagikan satu lembar kertas hvs. Setelah semuanya dapat, peserta diharuskan untuk menutup mata. Fasilitator kemudian memberikan beberapa perintah untuk melipat kertas hvs tersebut secara general. Seluruh peserta kemudian harus mengikuti komando tersebut tanpa memperoleh informasi lebih lanjut. Pada perintah pertama, seluruh peserta kebingungan mengenai sisi mana yang harus dilipat. Beberapa peserta bertanya kepada fasilitator namun hanya dijawab terserah. Perintah kedua, hanya beberapa peserta yang mengalami kebingungan. Lambat laun, peserta paham bagaimana cara kerja dari aktivitas ini. Hingga perintah akhir pun peserta kemudian mengikuti arahan dari fasilitator tanpa bertanya lebih lanjut. Ketika selesai, fasilitator memperbolehkan seluruh peserta untuk membuka mata. Setiap orang kemudian melihat kertas peserta lain, dan hasilnya semua berbeda! Sungguh menarik. Saya pun cukup kaget ketika melihat seluruh kertas terlihat berbeda, tidak ada yang sama persis. Fasilitator kemudian memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menjelaskan makna dari kegiatan robek kertas ini. Beberapa peserta mencoba untuk menjelaskan melalui perspektif mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya seluruh pendapat peserta disimpulkan menjadi satu, yaitu tanpa sebuah komando yang jelas, suatu organisasi akan sulit dalam menjalankan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuannya.

Stereotip, Bias Implisit, Interseksionalitas

Sesi ini juga salah satu sesi yang paling menarik. Setiap peserta mengambil satu kartu yang telah berisi tulisan. Beberapa diantaranya seperti orang papua, orang cina, gay, kristen, orang desa, orang kota, PSK, anak-anak, janda, dll. Peserta lain kemudian menuliskan hal yang pertama kali muncul dalam benak mereka ketika mendengar kata tersebut. Setiap peserta boleh menuliskan banyak hal dalam sticky notes yang berbeda. Nantinya setiap kertas tersebut ditempel pada peserta sesuai dengan tulisan yang terdapat di kartu. Setelah selesai, peserta harus membacakan kesan apa yang mereka dapakan yang tertera pada kertas-kertas tersebut.

Alfina pada sesi Stereotip.

Jelajah Kasepuhan

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. Saat itu sedang hujan, tetapi mendekati waktu acara, hujan mereda. Kami semua mempersiapkan baju yang akan digunakan, payung, jas hujan, caping, sendal, dan lain-lain. Sebelum menjelajah, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan semua diberi pertanyaan yang sama sejumlah 10 yang harus dijawab di selembar kertas. Pertanyaan yang diberikan adalah seputar Kasepuhan, baik itu sejarah, budaya, makanan lokal, tanaman-tanaman obat, dsb. Kelompok dengan jawaban benar terbanyak akan mendapat kesempatan untuk menjelajah terlebih dahulu. Satu per satu kelompok pun mulai berangkat. Kelompok saya mendapat giliran terakhir. Setelah mendapat giliran, kami diberikan sebuah pertanyaan dan memberikan jawaban. Untuk mengetahui apakah jawaban tersebut salah atau benar, kami harus mencari kata kunci yang digunakan untuk mengetahui jawaban tersebut. Selanjutnya, fasilitator memberikan petunjuk untuk menemukan kata kunci tersebut. Setelah menerima petunjuk pun kami berangkat.

Petunjuk pertama untuk kelompok kami adalah “Cari dua belas huruf pertama di sebuah tiang di Pertigaan Sigoyot.”. Kami semua berjalan menuju pertigaan tersebut dibawah rintik hujan. Dengan jalan yang dipenuhi genangan dan lumpur di beberapa tempat cukup menghambat untuk sampai ke lokasi. Pertigaan Sigoyot letaknya cukup jauh dari tempat kami memulai penjelajahan tadi. Setelah beberapa waktu, kami pun mendekati lokasi yang menjadi petunjuk. Untuk yakin bahwa kode yang kami temukan adalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan memakan waktu cukup lama karena beberapa pertimbangan.

Setelah yakin kami pun kembali untuk memberikan petunjuk yang telah ditemukan, dan ternyata jawaban yang kami berikan di awal adalah salah. Kami pun diberikan petunjuk baru, yaitu, “Pergi ke Tanjakan Purut, temukan tulisan putih yang berada di bagian bawah baliho.”. Kami pun berangkat ke lokasi tersebut dan lagi-lagi, lokasinya cukup jauh. Tetapi pemandangan kali ini dipenuhi oleh hutan di sisi kiri dan lembah yang terhalang pohon-pohon di sisi kanan. Setelah sampai, kami pun berusaha mencari tulisan berwarna putih. Awalnya kami cukup ragu dengan tulisan putih yang telah kami temukan, tetapi kami tidak melihat tulisan putih berwarna lain yang ada di baliho sehingga kami memutuskan untuk kembali ke pos awal. Setelah membawa kata kunci kedua, jawaban kami kali ini adalah benar. Kami pun diberikan pertanyaan kedua.

Untuk mengetahui apakah jawaban kami benar atau salah kami harus pergi menuju saung pembuatan gula aren. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan licin karena trek yang ditempuh adalah tanah dan rumput. Melewati hutan di kiri kanan, akhirnya kami pun sampai di saung pembuatan gula aren. Kami diinstruksikan untuk bertanya mengenai proses pembuatan gula aren dari awal hingga sampai ke tangan konsumen. Saya sempat memvideokan kegiatan selama di saung pembuatan gula aren. Sesampainya di dalam, dijelaskan oleh ibu-ibu yang menjaga saung tersebut proses pengolahan dari penyadapan di pohon aren, kemudian diletakkan di sebuah wadah yang cukup besar, kemudian dipanaskan dan dicetak. Saya sempat mencicipi air rebusan gula aren yang masih bening, orang-orang disana menyebutnya lahang jika airnya sudah dingin, dan wedang jika air niranya masih hangat. Tak hanya itu, pohon aren juga ternyata memiliki banyak manfaat. Buahnya bisa diolah menjadi manisan kolang-kaling atau menjadi kolak. Daunnya bisa digunakan menjadi sapu lidi. Ijuknya bisa dibuat menjadi atap rumah dan sapu ijuk.

 

 

Sharing Pengalaman Relawan4Life di Kasepuhan Pasir Eurih : Seberapa Penting Mengenal Masyarakat

Meilinda, Indah, dan Nuri sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan di Kasepuhan Pasir Eurih

Tanggal 27-29 November 2020 lalu, kami dari Relawan4Life berkesempatan belajar di Kasepuhan Pasir Eurih, Lebak, Banten melalui kegiatan Pelatihan Kepemimpinan, yang diselenggarakan oleh RMI. Bersama Indah, Meilinda, dan tim RMI kami menempuh sekitar 5 jam perjalanan dari Bogor melewati Leuwiliang, Muncang sampai akhirnya tiba di Desa Sindanglaya – Sobang di Kabupaten Lebak. Rasa lelah di perjalanan tergantikan dengan pemandangan pegunungan serta sambutan ramah dari warga saat kami sampai di sana. Untuk ukuran anak-anak muda jaman sekarang, yang hobi rebahan sekaligus di dukung tagline #dirumahaja, pemandangan dan udara disini cocok untuk mengurangi stres. Malam tersebut kami melakukan diskusi di Saung Seni yang terbuat dari kayu dan bambu, dan kemudian menginap di rumah warga.

Di Kasepuhan Pasir Eurih kami menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kami ketahui, lewat mendengar cerita serta melalui pengamatan saat berjalan-jalan di sekitar lokasi. Melalui cerita warga, kami jadi tahu tentang leuit, lumbung masyarakat yang digunakan untuk penyimpanan padi. Beberapa leuit di Kasepuhan ini ada yang sudah menyimpan padi lebih dari 20 tahun. Leuit ini berbentuk seperti rumah panggung kecil dengan 4 penyangga. Cara menata padinya pun khas yaitu dengan melingkar ke atas, hal ini ditujukan agar mudah diambil.

Dalam setahun, Kasepuhan ini biasanya hanya menanam padi lokal sekali dimulai dengan mengadakan tandur secara serentak. Ternyata di balik adat ini terdapat manfaat memutus rantai hama loh, sehingga hasil yang didapatkan pun maksimal. Dengan menanam dan panen serentak maka siklus hama akan terputus. Kebetulan kami berkunjung saat warga melakukan tandur (tanam mundur). Sebagian besar yang menanam adalah perempuan. Hal ini sering dikaitkan dengan kepercayaan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan agar hasil panen melimpah.

Selain itu, Kasepuhan ini masih memiliki banyak cerita menarik. Dari budidaya  kopi  sebagai produk lokal, pembuatan gula aren, hutan adat Gunung Bongkok, dan lain sebagainya. Selain itu pemuda adat yang tergabung pada KOMPAK (Komunitas Pemuda Adat Kasepuhan) Pasir. Eurih juga berencana membuka program edu-wisata agar khalayak luas dapat belajar serta berwisata di kasepuhan ini.

Tujuan dari pelatihan kepemimpinan yang kami ikuti ini pun juga untuk menguatkan kembali tujuan pemuda adat dalam proses mengembangkan Kasepuhannya sesuai dengan potensi yang ada. Dari langkah-langkah kecil inilah, ada masa depan untuk Indonesia. Tentunya peran pemuda di sini sangat dibutuhkan untuk tetap bergerak. KOMPAK telah memilih untuk berkontribusi di Kasepuhannya, sekarang giliran kita yang harus memutuskan di mana kita akan berkontribusi untuk Indonesia. Belajar langsung bersama pemuda di Kasepuhan, berbincang dengan warga, merasakan semangatnya, tentu penting. Mempelajari budaya tidak dapat hanya dengan membaca dan mengikuti alur video vlogger.

Kita harus turun langsung merasakan ketidaktahuan, mengosongkan persepsi, dan mencoba lebih banyak mendengarkan. Dengan begitu, perspektif kita akan terbentuk melalui pengalaman kita berkomunikasi, melihat, dan mendengar, merespon dari masyarakat langsung bukan dari perspektif orang lain. Kita hanya perlu memulai dari lingkungan sekitar, jangan-jangan sampai saat ini kita belum benar-benar mengenal lingkungan kita sendiri.

Penulis: Nuri Ikhwana

Cerita Relawan Sepulang Dari Ciwaluh

Ciwaluh merupakan sebuah kampung yang terletak di Desa Watesjaya, Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Kampung Ciwaluh berada di wilayah lembah di kaki Gunung Gede Pangrango. Di sebelah selatan dan utara Kampung Ciwaluh adalah punggungan bukit yang menghampar dari timur ke barat. Di sebelah timur adalah pemandangan barisan bukit-bukit yang berujung di Gunung Gede Pangrango. Di sebelah barat berdiri Gunung Halimun Salak yang gagah. Di kaki bukit sebelah utara terdapat aliran sungai yang cukup lebar dan deras serta terdapat batu-batu sungai yang cukup besar.

Sejarah nama Ciwaluh sendiri adalah, konon katanya dulu terdapat labu atau waluh yang ketika dibuka airnya mengalir sangat deras hingga membentuk aliran sungai yang saat ini merupakan hulu dari Sungai Cisadane.

Lembah di Kampung Ciwaluh mayoritas ditanami padi dan sebagian kecil ditanami tanaman lain seperti buncis, kumis kucing, kapulaga dan lain-lain. Di puncak bukit terdapat barisan pepohonan pinus yang berjajar mengikuti kontur punggung bukit. Di beberapa tempat juga terdapat pohon-pohon kopi yang tingginya bisa mencapai sekitar 15 meter. Karena wilayahnya berada di pegunungan yang cocok untuk bertanam, kebanyakan masyarakat Kampung Ciwaluh memiliki pekerjaan sebagai petani. Masyarakat lain ada yang berprofesi sebagai buruh swasta, dan ada yang bekerja sebagai guru. 

Selain vegetasi, di wilayah Kampung Ciwaluh sendiri bisa ditemukan beberapa hewan-hewan seperti anjing, yang berlalu-lalang di jalan-jalan dan sering dibawa ketika ke hutan, kambing yang sesekali terdengar embikannya, ayam dengan kokokannya yang mengiringi matahari terbit, dan juga bebek-bebek yang berjalan berkelompok untuk mencari makanan.

Kampung Ciwaluh saat ini terkenal dengan potensi wisata alamnya. Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana. Mulai dari air terjun, hutan pinus, sungai, hingga pemandangan terasering sawah yang apik. Potensi wisata alam ini dikelola secara bersama oleh sekelompok pemuda yang bermukim di Kampung Ciwaluh. Kelompok ini bernama POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata).

Dibalik indahnya pemandangan dan potensi alamnya, Kampung Ciwaluh memiliki banyak permasalahan yang dihadapi. Seperti adanya perbedaan kepentingan antara petani-petani di wilayah Kampung Ciwaluh dengan polisi hutan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menurut petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, semua wilayah yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tidak boleh digarap dengan tujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun, di sisi lain, masyarakat Kampung Ciwaluh yang telah lama menetap jauh sebelum dibentuknya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sudah menggarap dan menggantungkan hidupnya pada kekayaan alam yang terdapat di wilayah Kampung Ciwaluh. Tetapi, saat ini permasalahan tersebut sudah dimusyawarahkan bersama dan dengan keputusan bahwa wilayah Kampung Ciwaluh akan mengalami perubahan zonasi menjadi zona tradisional yang berarti masyarakat di sana bisa tetap memanfaatkan lahannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Selain masalah dengan Taman Nasional, masyarakat Kampung Ciwaluh, terutama pengurus ekowisata memiliki masalah lain. Melihat kemajuan yang sangat pesat dan perubahan yang cukup signifikan yang dirasakan oleh Kampung Ciwaluh, banyak kampung sekitar yang kemudian mencoba untuk mengembangkan potensi wisatanya sendiri, tak terkecuali desa tempat Ciwaluh berada. Permasalahannya adalah, kampung wisata Ciwaluh sendiri terletak di ujung jalan sehingga apabila desa-desa lain mulai mengembangkan potensi wisatanya, maka jumlah wisatawan yang akan berkunjung akan beralih ke wisata yang lebih dekat. Dengan adanya hal ini, maka pengurus ekowisata Kampung Ciwaluh memiliki tantangan untuk mencari hal yang bisa membedakan supaya mampu bersaing dengan desa-desa di sekitarnya. 

Permasalahan lain yang timbul dari adanya tantangan ini adalah terbatasnya modal. Dalam pengembangan Ekowisata Ciwaluh, dana yang dikumpulkan merupakan dana kolektif dari warga Kampung Ciwaluh sehingga dalam mengumpulkan modal yang besar membutuhkan waktu yang cukup lama. Mencari investor juga bukan merupakan hal yang mudah. 

Satu masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat di Kampung Ciwaluh adalah masalah lahan. Beberapa waktu lalu, sempat beredar isu bahwa akan dibangun tempat wisata Disneyland terbesar se-Asia Tenggara di wilayah Cigombong yang akan berdampak juga pada Kampung Ciwaluh. 

Dalam diskusi yang diadakan Relawan 4 Life bersama POKDARWIS, ada beberapa kesamaan yang dimiliki dua kelompok pemuda ini, diantaranya yaitu keterlibatan pemuda dan adanya keinginan untuk berkolaborasi. Selain mendiskusikan kesamaan, permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dua kelompok ini juga dibicarakan dan pemecahan masalah menggunakan pandangan masing-masing. Diskusi kemudian ditutup dengan liwetan dan diskusi santai. 

Penulis: Alfina Khairunnisa

Perjalananku di Tanah Kasepuhan

Ketika mendengar istilah Masyarakat Adat, saya, sebagai orang kota, langsung terbayang jauh dan kurang familiar. Ya, Saya lahir dan tumbuh di perkotaan. Saat ini, saya adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Indonesia dan tergabung di dalam sebuah gerakan pemuda bernama Relawan 4 Life. Relawan 4 Life sendiri adalah organisasi pemuda yang berada di bawah naungan dari sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada isu-isu masyarakat adat yaitu RMI. Salah satu kegemaran saya adalah mengunjungi tempat baru.

Ingatan terawal saya mengenai masyarakat adat adalah ketika di bangku SMA pada saat pelajaran geografi. Saat itu saya membaca suatu kotak ‘Did you know’ di buku teks geografi yang menampilkan foto Suku Anak Dalam di Jambi. Cukup mengejutkan bagi Saya pada saat itu karena saya berpikir bahwa di zaman ini sudah hampir tidak mungkin menemukan komunitas adat yang masih ada dan menjunjung nilai-nilai adatnya secara penuh. Pandangan saya mengenai keberadaan masyarakat adat pun kemudian berubah drastis setelah mengetahui bahwa ternyata masih banyak masyarakat adat yang masih bertahan dan eksis hingga saat ini dan keberadaan mereka pun letaknya tidak se-pelosok yang saya bayangkan. Dengan lokasi yang masih bisa dijangkau dengan kendaraan membuat saya berkeinginan untuk mengunjungi salah satunya jika diberikan kesempatan. Setelah mempelajari beberapa budaya salah satu masyarakat adat tersebut, baik dari buku, cerita lisan, maupun webinar, dan setelah menunggu waktu yang tak kunjung datang, akhirnya saya pun berkesempatan untuk mengunjungi salah satu Masyarakat Adat yang terletak di Lebak, Banten bersama dengan RMI. Masyarakat Adat tersebut dikenal dengan nama Kasepuhan Pasir Eurih.

Leuit adalah lumbung padi yang biasa digunakan oleh Masyarakat Adat Kasepuhan.

Perjalanan dari Kota Bogor memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam dan rute perjalanan yang menurut saya menyenangkan dan indah. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang disuguhkan sangat menyegarkan mata, seperti deretan pohon-pohon tinggi yang rimbun, hamparan sawah yang berundak-undak, jalan yang berliku-liku, deretan pegunungan yang terlihat berlapis-lapis, daun-daun paku yang menjuntai hingga ke sisi jalan. Ketika mendekati tujuan, saya merasakan suasana hutan tropis yang sangat kentara, daun-daun dan pohon paku yang mulai lebih lebat, pohon-pohon hijau yang sangat rapat, batu-batuan besar yang ditumbuhi lumut, yang menurut saya merupakan sisa-sisa dari letusan gunung api di masa lampau. Jalan yang berbatu juga menambah sensasi dari wilayah hutan tropis. Selama perjalanan, saya memperhatikan bahwa di beberapa tempat terdapat daun kering yang mirip dengan untaian daun kelapa yang dikaitkan dengan tiang, ada yang memiliki baling-baling kayu, ada yang tidak. Saya mendapat informasi bahwa itu merupakan Kolecer, sebuah hiasan baling-baling kayu yang menjadi kepuasan sendiri bagi orang yang membuatnya, dan harganya juga mahal. Selain itu kami juga melihat dua ekor kera di sisi jalan. Sambil bernostalgia, saya pun diceritakan bahwa dahulu, ketika menuju ke sekolah, harus melalui jalan ini dan selalu membawa ranting supaya tidak dikejar kera. Kami pun sempat berhenti di sebuah tempat dimana adanya pohon-pohon berbatang ramping dan terlihat tersusun rapi serta tinggi dan tidak memiliki daun yang lebat. Saya pun diberitahu bahwa area tersebut merupakan hutan adat. Hal tersebut kemudian terkonfirmasi ketika saya membaca papan kayu bertuliskan “Pesona Maranti, Cepak Situ, Hutan adat kasepuhan karang Desa Jagaraksa Kec. Muncang Kab. Lebak BANTEN” dan “Leuweung Adat!”. Tempat tersebut sangat indah karena pohon-pohonnya terlihat sangat rapi dan sejajar, di sisi kirinya juga terdapat hamparan sawah berundak.

Cepak Situ Kasepuhan Karang, Lebak, Banten.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami sampai pada sebuah gapura yang bertuliskan “Kasepuhan Pasir Eurih, Abah Aden S”. Kami pun masuk ke sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang terletak persis di depan kediaman Kasepuhan. Seperti masyarakat pada umumnya, ketika bertamu biasanya disuguhkan makanan ringan dan minuman kopi, kali ini ada beberapa gelas kaca bening yang diletakkan di terbalik di atas sebuah nampan plastik, dua piring yang berisi donat dan satu makanan lagi yang tidak saya ketahui namanya, teko yang berisi air, gula pasir, dan sebuah toples yang berisi bungkusan persegi kecil yang saya kira adalah snack. Satu hal yang kurang, kopinya belum disajikan. Ternyata bungkusan kecil itu adalah kopi! Sangat unik! Ini pertama kalinya saya menemukan kopi yang dibungkus dengan kemasan berbeda dari biasanya. Bungkus kopi tersebut bertuliskan Kupu-Kupu, berwarna kuning pucat, dan kira-kira sebesar kotak korek api kayu.

Setelah duduk sebentar dan istirahat, saya melihat keluar dan di sebuah saung besar di sebelah kiri Imah Gede, yaitu kediaman dari Kasepuhan itu sendiri, sedang ada kegiatan yang diikuti orang-orang yang cukup banyak. Kemudian saya mendekati saung tersebut dan duduk di sebuah saung baca yang ada di sebelahnya untuk menonton kegiatan tersebut. Saat itu, sedang diputar video beberapa orang yang sedang bermain musik, seperti kolintang, dan ada beberapa orang yang sedang menari mengikuti alunan musik. Setiap bergantinya adegan, riuh penonton di dalam saung terdengar hingga ke luar. Saya menonton hingga acara selesai. Ketika selesai, salah satu dari fasilitator tiba-tiba memperkenalkan saya kepada orang-orang yang berkumpul di dalam saung. Kaget dan gugup karena saya tidak menduga hal tersebut. Tetapi kemudian saya tersenyum, berdiri, kemudian berjalan ke arah saung. Setelah beberapa saat, Saya duduk kembali di saung baca dan dihampiri oleh salah satu fasilitator dari RMI, yaitu Koh Indra, yang kemudian mengajak untuk berkeliling untuk mengenal lebih lanjut mengenai Kasepuhan Pasir Eurih.

Kegiatan di Kasepuhan Pasir Eurih

Tempat pertama yang kami datangi adalah Imah Gede. Beruntung, saat itu Kami melihat Abah Aden, yaitu ketua adat dari Kasepuhan Pasir Eurih, sedang memegang segelas kopi dan berjalan ke arah salah satu saung besar yang terdapat di dalam wilayah Imah Gede. Kami pun menghampiri Abah Aden dan mengobrol dengan Bahasa Sunda. Saya yang saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Sunda dan hanya memperhatikan ekspresi wajah serta gestur tubuh akhirnya memahami bahwa kami dipersilahkan untuk mengikuti Beliau ke dalam Saung. Di dalam kami mengobrol beberapa hal menggunakan Bahasa Sunda. Sesekali Abah Aden bercerita menggunakan Bahasa Indonesia sehingga saya bisa memahami apa yang sedang dibicarakan. Beberapa hal yang saya tangkap adalah bahwa terdapat beberapa Kasepuhan yang terdapat di sekitar wilayah Pasir Eurih seperti Kasepuhan Karang dan Kasepuhan Cirompang. Beliau juga bercerita mengenai hukum adat. Hukum adat yang ada di Kasepuhan Pasir Eurih sendiri telah lama ada jauh sebelum pemerintah membuat peraturan-peraturan yang kemudian ditetapkan sebagai hukum, seperti tidak boleh mabuk-mabukan dan tidak bermain perempuan. Abah Aden juga bercerita tentang adanya sanksi bagi yang melanggar hukum adat tersebut. Kemudian obrolan sampai ke topik masak-memasak. Di pertengah pembicaraan, Kami diajak untuk masuk ke dalam dapur yang ada di Imah Gede.

Ketika masuk, saya melihat ada Emak, panggilan untuk perempuan tua di Kasepuhan Pasir Eurih, dengan satu tangan mengipas dengan kipas bambu dan satu tangan lagi mengaduk isi dari sebuah wadah kayu yang cukup besar. Saya penasaran dan menghampiri Emak. Saya mencoba untuk menyusun pertanyaan terlebih dahulu dalam Bahasa Indonesia supaya pertanyaan yang saya tanyakan terdengar mudah dan tidak terlalu banyak suku katanya. Pertanyaan saya pun akhirnya terjawab. Emak sedang menyangu atau ngakeul, mendinginkan nasi di dalam wadah kayu tersebut. Nasi yang disangu juga memiliki istilah tersendiri yaitu beras huma, padi ladang milik Kasepuhan. Hal tersebut unik dan saya memperhatikan cukup lama hingga akhirnya Abah Aden memanggil Emak, saya tidak paham apa yang dibicarakan tetapi tak lama kemudian Emak mengambil piring dan menyendokkan sesendok nasi dan menaburkan sejumput garam di atasnya. Kemudian piring tersebut diberikan kepada saya untuk dicicip. Saya menunggu untuk diberi sendok tetapi setelah beberapa saat sendok pun tak kunjung datang dan akhirnya saya menggunakan tangan. Suapan pertama, Nasi terasa beda dari sisi tekstur. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, nasi dari pare gede memiliki tekstur yang cukup lengket dan padat. Ukurannya juga terbilang sedikit lebih besar dari beras putih biasanya. Warnanya dominan putih dan terdapat garis-garis merah di beberapa sisi. Dari rasa, menurut saya sedikit lebih manis dibandingkan dengan beras putih yang biasa saya makan. Sambil menyantap nasi tersebut, Abah Aden bercerita mengenai pare gede. Beliau mengatakan bahwa hingga saat ini, terdapat lima Leuit, yaitu lumbung tempat menyimpan padi, yang masing-masing terdapat sekitar 2.000 ikat pare gede, di mana satu ikatnya memiliki berat sekitar 7,5 kg. Pare gede sendiri bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Menurut informasi dari Abah Aden, pare gede tertua yang terdapat di dalam Leuit yaitu berusia 20 tahun. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, dalam waktu 20 tahun, beras tersebut bisa rusak dan menjadi bubuk, namun tidak dengan pare gede. Setelah mengetahui bahwa usia tertua dari pare gede yang terdapat di Leuit adalah 20 tahun, maka kemudian kami bertanya mengenai usia pare gede yang sedang saya cicipi. Ternyata, berusia delapan tahun! Saya cukup kaget dengan informasi tersebut, karena awalnya saya berpikir bahwa beras memiliki expired date seperti makanan pada umumnya, tetapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada pare gede. Setelah selesai, kami melanjutkan pembicaraan sebentar kemudian berpamitan.

Pare gede yang sudah dimasak.

Kami pun kembali ke rumah yang saya datangi ketika sampai. Tak lama setelah duduk, saya menuangkan segelas air ke dalam gelas yang telah disuguhkan di awal dan diajak untuk berkeliling kembali menggunakan motor. Dengan jalan yang tidak rata, saya takut tergelincir tapi syukurnya tidak. Kami melewati beberapa tempat dengan bangunan yang cukup banyak di sisi jalan, seperti warung, puskesmas, kantor desa, dan pasar malam. Kami pun berjalan terus hingga akhirnya sampai di sebuah hamparan sawah berundak yang sangat luas dengan latar pegunungan. Motor kemudian diparkirkan di depan sebuah bangunan yang merupakan tempat penyimpanan kayu. saya, yang sangat tidak sabar untuk turun, kemudian turun dan mencoba mencari tempat yang tepat untuk mengabadikan momen tersebut. Awalnya saya kecewa karena cukup sulit untuk berjalan ke pematang sawah. Tetapi, saya melihat jalan kecil yang tertutup rumput liar, dan langsung berjalan melalui rute tersebut. Akhirnya, saya sampai di tengah-tengah hamparan sawah tersebut. Beberapa padi terlihat keemasan karena terkena pantulan cahaya matahari sore dari arah barat. Setelah beberapa saat, kami pun melanjutkan perjalanan melewati pasar malam yang kami lewati ketika berangkat. Turunan dan tanjakan yang curam serta berbatu membuat saya merasakan sensasi seperti sedang melakukan offroad motor trail.

Saya pun heran ketika rute yang berbeda berakhir di tempat awal kami berangkat. Kami pun turun dan kemudian berjalan ke saung besar. Disana, terdapat beberapa orang lainnya dan semua mengobrol serta melakukan evaluasi kegiatan. Di tengah perbincangan, datang seseorang, yang tidak saya kenal, ke dalam saung dan sepertinya sudah sangat akrab dengan orang-orang yang lain. Beliau baru kembali dari gunung, membawa golok di pinggangnya dan sepertinya berurusan dengan kambing karena saya mendengar kata kambing dalam pembicaraannya. Tak lama, saya memperhatikan ada satu orang yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah barang kecil yang dibungkus plastik, dan diberikan kepada orang yang baru datang tadi. Setelah dibuka, bungkus plastik itu merupakan pipa cerutu. Saya memperhatikan ekspresi ketika orang tersebut membuka dan mencoba pipa cerutu tersebut. Saya langsung terpikir Sherlock Holmes, karena pipa cerutu identik dengan detektif fiktif karangan Sir Arthur Conan Doyle. Terlihat ekspresi yang sangat senang dari senyum dan raut wajahnya. Di sini saya belajar bahwa hadiah yang diberikan kepada seseorang mungkin tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi hal tersebut mungkin sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Hingga saat ini saya masih terbayang ekspresi ketika Ia memanggil temannya untuk menunjukkan apa yang baru saja diterimanya. Hal kecil, tetapi indah.

Ketika langit mulai gelap, saya menunggu sinar matahari sore menjelang terbenam, tetapi terhalang awan dan sepertinya tidak akan tampak. Kami pun berkemas untuk kembali ke rumah. Sempat turun hujan ringan sebelum kami berangkat pulang tetapi hanya sebentar. Sekitar pukul 6.30 sore, mobil berangkat. Di perjalanan pulang, kami bercerita banyak, seperti pengalaman selama di Kasepuhan, taman nasional, Hutan Adat, trip ke luar negeri yang hanya mengandalkan rute Google Maps dan berakhir mengitari gunung, harga tiket pesawat domestik yang lebih mahal dibandingkan dengan mancanegara, sebuah kelompok jalan dadakan, wisata kuliner di Jogja, pesepeda yang pingsan di Halimun, pesepeda asal Indonesia yang bersepeda ke Rusia dan berujung menjadi korban perampokan ketika sampai di Rusia, kepunahan hewan endemik Indonesia, dan banyak hal lainnya. Jalanan yang dilalui pun sangat gelap dengan pohon-pohon rimbun yang tinggi, jalanan yang berliku-liku, dan kabut. Ada sebuah fenomena yang menurut saya unik, yaitu uap yang berasal dari aspal. Cukup aneh, karena dugaan saya, uap yang berasal dari aspal hanya terjadi di siang hari dan kecil kemungkinannya untuk terjadi di wilayah hutan karena intensitas cahaya matahari yang mengenai aspal akan terhalang oleh pohon-pohon hijau yang rimbun. Namun nyatanya peristiwa tersebut benar-benar terjadi di depan mata saya.

Setelah sampai di wilayah yang agak ramai, kami pun berhenti untuk makan malam dan setelah selesai kami semua terlelap di dalam mobil hingga mendekati tujuan. Perjalanan tersebut berakhir pada pukul 11 malam. Menurut saya pribadi, perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Selain pengalaman tentang interaksi langsung dengan Abah Aden, suasana hutan tropis yang lembab serta pemandangan yang disughkan sepanjang jalan memberikan saya pengalaman-pengalaman yang sangat berharga.

Penulis: Alfina Khairunnisa

Editor: Siti Marfu’ah

Belajar Mengelola Lingkungan Dari Masyarakat Adat

WhatsApp Image 2020-08-27 at 15.59.32Masyarakat adat memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alamnya. BRWA (2009) menyatakan bahwa hutan yang berada di wilayah masyarakat adat memiliki kualitas yang baik. Melihat hal tersebut, kearifan lokal ini patut dicontoh oleh masyarakat luas, khususnya anak muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pada 25 Juli 2020, Relawan for Life, gerakan anak muda dampingan RMI, melakukan diskusi daring (Disaring) melalui aplikasi zoom, yang berjudul “Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat”. Disaring kali ini bertujuan untuk mengajak anak muda lain agar lebih mengenal kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Febrianti Valeria, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia, yang juga merupakan tim penggerak Relawan for Life. Disaring kali ini menghadirkan  dua orang narasumber yang merupakan masyarakat adat, yaitu Abah Maman Syahroni dari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, Banten dan Pengendum Tampung dari masyarakat adat Orang Rimba, Jambi.  Kegiatan yang diikuti oleh 24 orang, terdiri dari 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan ini membahas tentang bagaimana masyarakat adat hidup harmonis dengan alam?

 

Kasepuhan Pasir Eurih

Abah Maman mengatakan bahwa ada berbagai macam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, dan yang utama adalah rukun tujuh (7 rukun tani), karena kehidupan sehari-hari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih adalah bertani . Rukun tujuh adalah proses ritual adat penanaman padi varietas lokal (pare gede) yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, seperti asup leuweung (proses ritual adat membuka lahan pertanian secara bersama-sama); nibakeun (proses ritual adat meminta izin dan berdo’a untuk memulai menebar benih); ngubaran (proses ritual adat mengobati tanaman padi dari hama), mapag pare beukah (proses ritual adat memohon agar hasil pertanian bagus); beberes/,mipit (proses ritual adat meminta izin untuk memanen padi); ngadiukeun (proses ritual adat memasukan padi ke dalam lumbung padi/leuit); dan Serentaun (upacara adat meminta agar kesuburan dan kemakmuran untuk panen berikutnya).

Ketika menanam padi, masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih melakukannya secara bersama-sama, dan rukun tujuh yang akan mengawal dari setiap proses pertanian yang dilakukan masyarakat. Hal tersebut dilakukan bertujuan agar masyarakat tidak saling mendahului ketika menanam padi,yang mengakibatkan tidak terputusnya siklus hama (hama berkembang biak sepanjang tahun karena ketersediaan makan secara terus menerus).

Kearifan lokal lainnya adalah ronda leuweung (jaga hutan). Menurut Abah Maman, salah satu tugas ronda leuweung adalah memastikan kondisi hutan agar tetap utuh, dan tidak ada penebangan liar. Abah Maman mengatakan orang yang bertugas untuk ronda leuweung biasanya dipilih oleh kepala adat.

Abah Maman menekankan, bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih tidak terlepas dari ketahanan pangan dan penguatan kelompok masyarakat, agar masyarakat tetap menjaga nilai-nilai dari karuhun (leluhur).

Secara hukum masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih sudah diakui oleh pemerintah daerah dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 08 tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Adat kasepuhan.

Abah Maman menceritakan bahwa masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih bukan kelompok masyarakat adat yang tertutup sama sekali terhadap dunia luar. Contohnya adalah bahwa di Pasir Eurih, pendidikan formal diterima dengan baik oleh masyarakat. 

 Orang Rimba

Pengendum menceritakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba adalah kelompok masyarakat adat yang tinggal di hutan Bukit Dua Belas Jambi. Kehidupan masyarakat adat Orang Rimba sehari-hari adalah berburu dan meramu hasil hutan. Meskipun begitu, masyarakat adat Orang Rimba mengambil hasil hutan secukupnya, jika untuk makan hari ini, maka orang rimba hanya mengambil hasil hutan untuk hari ini saja, karena masyarakat adat Orang Rimba khawatir jika sumber daya alam mereka diambil berlebihan makan akan habis.

Pengendum mengatakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba memiliki sistem konservasi tradisional yang saat ini masih dipegang teguh. Seperti adanya lokasi-lokasi yang dianggap sakral, misalnya tanaperana’on (lokasi untuk melahirkan) yang dilindungi secara khusus, agar pohon-pohon yang di sekitar lokasi tidak ditebang, dan lokasi untuk melahirkan setiap anak akan berubah-ubah.

Selain lokasi untuk melahirkan, ada juga lokasi untuk pemakaman. Ketika ada yang meninggal, masyarakat adat Orang Rimba akan membangun satu rumah untuk menyimpan mayatnya, dan rumah tersebut dikelilingi pohon, di mana pohon-pohon tersebut tidak boleh ditebang. Hal ini bertujuan untuk, agar mayat orang yang meninggal terlindungi.

Pengendum juga menjelaskan bahwa masyarakat adat Orang Rimba juga diwajibkan untuk menjaga dua pohon, setiap melahirkan satu orang anak. Hal ini membuat banyak pohon yang tidak ditebang, dan dilindungi. Karena semakin banyak anak yang dilahirkan, maka semakin banyak pohon yang terjaga.

Selain hutan, masyarakat adat Orang Rimba juga menjaga sungai, seperti tidak boleh buang air dekat sungai, atau mandi dengan sabun. Narasumber mengatakan,  selain hal tersebut bisa merusak sungai, masyarakat adat Orang Rimba percaya bahwa sungai merupakan jalan yang dilalui oleh dewa. Jika sungai rusak, maka dewa akan marah.

Narasumber juga menjelaskan, bahwa jauh sebelum adanya pandemi, masyarakat adat Orang Rimba sudah mengenal physical distancing. Masyarakat adat Orang Rimba menyebutnya besesandingon, yaitu ketika ada yang orang sakit, maka orang tersebut harus mengisolasi diri dari keluarga dan masyarakat lainnya. Hal ini untuk mencegah tertularnya penyakit yang diderita.

Begitu banyak kearifan lokal masyarakat adat yang berkontribusi pada lingkungan. Mengutip komentar dari salah satu peserta Disaring, “masyarakat adat adalah jawaban dari berbagai permasalahan kita, kita harusnya juga belajar dari mereka”.

Silakan klik link berikut, untuk melihat Disaring 6.0 – Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat.