Konsep Gender Dan Model Pergaulan Dalam Islam

Sejak pandemik Covid-19, Relawan4Life tetap berkontribusi dalam menciptakan kegiatan positif dan inspiratif , seperti melakukan diskusi secara daring, dengan nama kegiatan Disaring (Diskusi daring). Kegiatan ini dilakukan untuk saling bertukar pikiran terkait isu-isu yangterjadi di lingkungan sosial. Disaring ini sudah dimulai sejak awal April hingga saat ini. Mulai dari topik tentang penyakit manusia dan hewan liar, menjaga kesehatan diri dengan herbal, pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai pangan liar, ada apa dengan Mei 1998?, dan yang masih hangat diperbincangkan baru-baru ini adalah tentang gender dalam prinsip agama Islam.

Pada 21 dan 28 Juni 2020 diadakan Disaring 5. Disaring 5 ini dilakukan dua sesi, sesi pertama dengan topik “Konsep Gender Dalam Agama Islam”, dan sesi kedua dengan topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”.

Saat berbicara tentang konsep kesetaraan gender dalam agama Islam, seringkali pemikiran yang muncul dibenturkan dengan tafsir agama yang sifatnya dianggap patriarkis oleh sebagian orang. Ada anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki (ter-subordinasi), dan hal tersebut diamini oleh sebagian masyarakat (juga oleh perempuan sendiri). Contoh yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, misalnya adalah ada anggapan bahwa laki-laki lebih mampu memimpin dibanding perempuan. Seorang perempuan yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik seringkali dihambat oleh rekan-rekannya sendiri karena anggapan tersebut, disertai dengan dalil-dalil agama yang mendukungnya. Oleh karena itu, Disaring 5 sesi satu diadakan, dengan narasumber yang merupakan Dosen Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia dan Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriah, serta dimoderatori oleh Nadira Siti Nurfajrina, alumni Short Course Batch 4.

Sejatinya, Islam menentang adanya diskriminasi gender. Dipaparkan secara jelas oleh narasumber, Iklilah,  bahwa laki-laki dan perempuan secara kedudukan atau posisinya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Narasumber-pun mendasari pernyataannya terkait kesetaraan gender dengan sejumlah ayat Al-Quran yang diyakini sebagai pewahyuan dari Allah kepada umatNya.

Narasumber juga menjelaskan bahwa islam menentang kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Karena islam mengajarkan bahwa tidak boleh melakukan kekerasan terhadap kaum yang lemah, khususnya perempuan. Seperti dalam rumah tangga, kekerasan dilakukan dengan cara bertahap,  yakni dengan memberi nasihat yang tegas ketika perempuan membangkang atau melakukan kesalahan, kemudian jika perempuan tidak mengindahkan nasihat dari laki-laki maka akan berlanjut ketahap berikut yakni tidak se-ranjang­. Jika hingga ketahap ini si-perempuan masih saja melakukan kesalahan maka akan ditegur dengan cara dipukul. Menurutnya, memukul pada zaman itu adalah hal yang paling terakhir dilakukan. Pemahaman ini tertuang disalah satu ayat yang dipaparkan, sehingga dia menegaskan bahwa bagaimanapun Islam tidak layak untuk menjadi alat legalitas adanya diskriminasi gender.

Hal yang menarik lainnya yang dibahas oleh narasumber adalah poligami. Menurutnya poligami sebenarnya lahir sebagai bentuk perlindungan bagi anak-anak dan Ibu mereka yang ditinggal pergi oleh ayah dan suaminya dimasa perang.  Walau dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi kaum yang lemah tersebut, namun praktek poligami tidaklah dibenarkan dari sudut pandangan manapun. Karena pasti seorang laki-laki tidak mampu untuk berbuat adil kepada kedua perempuannya.

Diskusi dilanjutkan di minggu berikutnya, dengan mengangkat topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”. Dipandu oleh Mufti Labib, alumni Short Course Batch 4, dan narasumber Yulianti Muthmainnah, Ketua Pusat Studi Islam Perempuan dan Pembangunan dan Anggota Majelis Hukum dan HAM PP Aisyiyah. Topik ini berbicara mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, benarkah pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sudah final sebagaimana yang  ditampilkan oleh gerakan Nikah Muda atau Pelatihan Poligami? Atau benarkah tudingan sebagian kalangan umat Islam lainnya bahwa gerakan-gerakan tersebut, yang merujuk pada tafsir abad pertengahan, sarat dengan nuansa patriarkis sehingga bias gender?

Sesi ini lebih ringan pembahasannya dibanding dengan sebelumnya. Karena sudah membahas isu-isu gender yang santer terjadi dikalangan anak muda, khususnya perempuan. Dikatakan oleh narasumber, kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan adalah karena sering terjadi sentuhan. Di mana menurutnya Lebih baik jangan pegang-pegangan ketika belum halal. Kekerasan juga kerap terjadi ketika perempuan Islam yang tidak berjilbab dianggap sebagai sasaran empuk untuk menjadi korbannya. Adapula isu yang membahas tentang cara berpakaian juga menjadi sasaran untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal cara berpakaian seseorang adalah hak-nya.

Hal menarik yang dibahas dalam Disaring 5 sesi kedua ini adalah tentang Indonesia Tanpa Pacaran. Menurut narasumber gerakan tersebut lahir akibat banyaknya terjadi kasus kekerasan pada perempuan, dan menolak adanya pacaran mendukung untuk langsung ketahap pernikahan. Penjelasan narasumber menanggapi gerakan tersebut adalah ketika seseorang menikah dengan niat yang jelas maka bisa dikatakan bahwa nikah itu kewajiban. Tetapi jika hanya ingin menghalalkan agar tidak zinah, maka gerakan ini dinilai tidak sesuai. Karena menikah bukan hanya untuk melakukan hubungan intim, tetapi lebih dari itu.

Diakhir masing-masing diskusi, kedua narasumber memberi pesan untuk tetap menjaga relasi antar perempuan dan laki-laki dengan saling menghargai, menghormati, mendukung dan bukan saling mendominasi.

Kegiatan Disaring 5.1 dan 5.2 ini dipelopori oleh alumni Short Course Batch IV. Walaupun koordinasi dilakukan hanya melalui online, namun para alumni mampu menentukan topik yang menarik untuk didiskusikan, ditambah lagi narasumber yang mumpuni sesuai bidangnya.

Disaring 5 sesi satu bisa dilihat di

Disaring 5 sesi dua bisa dilihat di

Atau baca notulensinya di https://bit.ly/31VNid6

Penulis: Marissa Matulessy

Editor: Siti Marfu’ah

Disaring 4.0 – Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei 98?

WhatsApp Image 2020-06-24 at 10.04.54

Setiap bulan Mei kita selalu diingatkan dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Kini pada tahun 2020, sudah 22 tahun silam tragedi tersebut masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Sekitar 1190 orang meninggal dunia karena dibakar atau terbakar, 27 orang meninggal dunia akibat senjata atau lainnya, dan 168 orang menjadi korban perkosaan dan pelecehan seksual.

Tidak banyak dari generasi muda saat ini yang mengetahui secara persis bagaimana kejadian tersebut terjadi, apa penyebabnya, juga apa dampaknya bagi para korban. Oleh karena itu, relawan 4 life sebagai gerakan anak muda yang fokus di isu sosial dan lingkungan mengadakan diskusi online yang bertajuk disaring yang sudah memasuki rangkaian ke 4. Harapannya bahwa generasi muda dapat tercerahkan mengenai tragedi ini dan juga dapat mengambil pelajaran agar tragedi ini tidak terulang lagi kedepannya.

Diskusi ini diselenggarakan pada tanggal 7 Juni 2020 menggunakan media zoom meeting, menghadirkan Andy Yetriyani sebagai pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan, dimoderatori oleh Alfina Khairunnisa yang merupakan mahasiswi universitas Trisakti dan bagian dari lawan for life. Dihadiri oleh kurang lebih 49 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, juga mengundang Yakini sebagai media literasi online anak muda.

Andy memulai diskusi dengan menceritakan latar belakang terjadinya kerusuhan Mei 1998. Saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi Asia yang menyebabkan berbagai negara mengalami kebangkrutan. Krisis tersebut diperparah dengan berbagai persoalan sosial politik yang memperkeruh suasana sehingga menyebabkan kerusuhan. Diantaranya yaitu penurunan Soeharto yang sudah 32 tahun menjabat sebagai presiden, kejadian penembakan mahasiswa Trisakti, juga isu rasial yang sudah lama ada.

Untuk menggambarkan bagaimana kerusuhan Mei 1998 terjadi, pembicara memutarkan video dokumenter berupa wawancara terhadap para korban juga cuplikan-cuplikan kerusuhan yang terjadi pada saat itu.

Perlu dipahami bahwa tragedi kerusuhan Mei 1998 bukan merupakan kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari berbagai masalah yang menimpa negara ini, dimulai dari adanya krisis ekonomi yang sudah terjadi sejak tahun 1997. Indonesia yang saat itu menerapkan prinsip ekonomi developmentalis yang mengeruk sumber daya alam sebagai sumber utama pendapatan negara tidak menciptakan landasan perekonomian yang kokoh sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dimana harga barang tambang dan bahan mentah turun, perekonomian ambruk secara total. Seketika itu juga inflasi meningkat, pengangguran meningkat, dan angka kemiskinan meningkat, menciptakan penderitaan bagi masyarakat.

Masalah yang kedua yaitu ada pada bidang politik. Pada saat itu Indonesia dipimpin oleh pemerintahan yang otoriter dengan presiden yang sudah berkuasa lebih dari 32 tahun. Mahasiswa menuntut penurunan presiden Soeharto, kemudian terjadi kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Hal tersebut mengakibatkan kerusuhan di mana-mana.

Masalah yang ketiga yaitu adanya sentimen terhadap etnis Tionghoa yang dalam sejarahnya merupakan warga kelas dua di Indonesia. Perlu diketahui bahwa pada masa kolonial penduduk Indonesia dibagi menjadi 3 kategori yaitu penduduk pribumi yang berada di lapisan paling bawah, selanjutnya penduduk timur asing yang kebanyakan merupakan orang Tionghoa dan Arab merupakan kelas kedua, dan penduduk Eropa yang merupakan kelas atas.

Penduduk timur asing pada masa kolonial kebanyakan merupakan pengusaha yang kehidupannya lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk pribumi yang miskin. Anggapan bahwa warga Tionghoa memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik mengakibatkan kecemburuan sosial yang turun temurun. Dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada saat Mei 1998 dijadikan kesempatan bagi para provokator untuk melakukan penjarahan pada etnis Tionghoa. Banyak toko-toko serta rumah yang dibakar dan dirusak oleh para perusuh, pembantaian secara keji, dan perkosaan membuat trauma psikologis yang mendalam.

Pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan menyoroti kekerasan seksual yang terjadi. Hingga saat ini korban kekerasan seksual masih mengalami trauma, mereka enggan untuk diwawancarai karena banyak stigma yang menyertainya sehingga mereka lebih memilih diam walaupun ada pendampingan dari pihak Komnas perempuan. Jika melihat dalam konteks sejarah, aksi pemerkosaan dalam suatu kerusuhan bukanlah hal yang baru di dunia, misalnya saja dalam setiap peperangan dan penjajahan yang terjadi di dunia selalu terjadi yang namanya perkosaan massal, perlakuan keji ini dilakukan sebagai tanda superioritas bagi penjajah.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian, trauma, dan kesedihan mendalam bagi para korban namun kasus kerusuhan Mei 1998 sampai saat ini belum juga diselesaikan oleh pemerintah.

Negara masih mengabaikan hak-hak korban atas kebenaran dan keadilan karena ketidakjelasan proses hukum seusai penyelidikan Komnas HAM. Proses hukum atas Tragedi Trisakti dan  Tragedi Mei, yang mengambang dan berlarut-larut telah merugikan banyak pihak, terutama hak para korban atas keadilan dan asas persamaan di depan hukum yang menjadi inti negara hukum.

Hak korban atas keadilan dan kepastian hukum telah diabaikan oleh negara selama bertahun-tahun. Mereka tidak pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei yang telah merampas hak-hak asasinya, termasuk yang paling mendasar, yaitu hak untuk hidup.

Di akhir diskusi Andy Yetriyani berpesan kepada anak muda agar selalu kritis dan bersama menegakkan keadilan. Hanya sedikit anak muda yang yang mempunyai pemahaman dan juga kepedulian atas kasus ini, mungkin hanya dari kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik. Dengan adanya diskusi diskusi seperti ini akan sangat baik untuk memperkaya pemahaman kita agar kejadian seperti tragedi kerusuhan Mei 1998 ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Disaring “Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei ’98?”, bisa baca notulensi dan lihat video diskusi di google drive Disaring 4.0.

Penulis: Ali Aljihad

Disaring 3.0: Memanfaatkan Strategi Buzzer Dalam Kampanye Isu Lingkungan Dan Sosial

#sawitbaik, merupakan kampanye yang diluncurkan  oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di tengah kian meluasnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatra dan Kalimantan yang terjadi pada saat itu[1]. Masih jelas di ingatan, kampanye tersebut menjadi trending  di media sosial, seperti twitter pada tahun 2019.

Melihat kejadian tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa Kemenkominfo melibatkan para buzzer/influencer melalui laman sawitbaik.id dan akun Twitter @SawitBaikID untuk menciptakan dukungan publik atas produksi sawit di Indonesia. Selain itu, tidak hanya “sawit baik”, ada juga kampanye #dukungomnibuslaw yang sampai saat ini masih ramai di media sosial (Twitter).

Untuk mencari tahu mengenai buzzer/influencer yang sering terlibat dalam pembentukan opini publik di era kampanye digital saat ini, Relawan 4 Life yang difasilitasi oleh RMI mengadakan Diskusi Daring (Disaring) 3.0 dengan tema “Strategi Kampanye Digital Melalui Penggunaan Buzzer/Influencer”.

Sebagai kegiatan yang mendukung gerakan #dirumahaja, diskusi ini dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, pada Jumat, 08 Mei 2020. Disaring diikuti oleh 18 orang, yang terdiri dari 9 orang perempuan, dan 9 orang laki-laki. Acara ini dimoderasi oleh Indra N. Hatasura dari RMI dan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang aktivis  mahasiswa, pekerja profesional dan aktivis sosial-lingkungan.

Diskusi ini menghadiri seorang narasumber (yang namanya tidak ingin disebutkan),sebut saja Ani. Ani memiliki pengalaman bekerja di sebuah agensi buzzer selama lebih dari dua tahun. 

Diskusi dibuka dengan pengertian buzzer dan influencer. Ani menyampaikan bahwa kedua kata ini memiliki beberapa kesamaan diantaranya memberikan informasi. Buzzer sendiri berasal dari kata “buzz” yang artinya mendengung. Jadi buzzer artinya adalah mendengungkan berita supaya ramai diperbincangkan banyak orang secara sistematis. Sedangkan influencer adalah orang yang mempengaruhi pandangan orang lain terhadap suatu permasalahan, biasanya dilakukan orang yang mempunyai banyak follower pada akun media sosialnya.

Menurut narasumber, buzzer sudah ada sejak sekitar tahun 2008. Istilah buzzer semakin populer di tahun 2012 ketika adanya pemilihan gubernur di Jakarta. Buzzer ini dibuat untuk kepentingan partai politik, organisasi masyarakat dan orang perorangan. Dalam perkembangannya buzzer umumnya berkaitan dengan politik, yang kemudian dikaitkan dengan isu-isu sosial dan lingkungan, kemudian dikampanyekan , seperti #SawitBaik.

Setelah dilakukan pembukaan, diskusi mengalir dengan lebih interaktif yaitu peserta dapat bertanya langsung kepada narasumber dan kemudian dijawab. Para peserta terlihat sangat antusias karena kolom chat ramai dengan pertanyaan peserta dan peserta yang ingin bertanya melalui microphone. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah seperti:

Apakah buzzer merupakan individual atau kelompok? Narasumber menjawab bahwa buzzer ini ada yang merupakan individual maupun kelompok. Mereka yang berkelompok biasanya tergabung dalam sebuah agensi. Agensi ini hanya bekerja jika ada proyek atau pekerjaan yang diberikan dari pihak-pihak tertentu. Pegawai dari agensi ini pun tidak tetap. Ada juga buzzer independen, tetapi buzzer independen sangatlah beresiko karena biasanya tidak memiliki pendukung canggih akan hal-hal yang dilakukannya (misalnya keamanan, karena para buzzer ini juga menggunakan VPN premium agar tidak terdeteksi alamat IP address nya saat bekerja).

Apakah buzzer memiliki tujuan jangka panjang seperti sebagai media alternatif atau hanya dalam jangka pendek? buzzer tidak memiliki target jangka panjang melainkan hanya bertujuan untuk mengangkat isu pada waktu tertentu sehingga banyak orang yang aware terhadap suatu isu dan diharapkan isu tersebut bisa sampai kepada pihak yang ditujukan yang menyebabkan terjadinya suatu tindakan.

Apakah buzzer memiliki cara lain untuk menaikan suatu isu? Selain membuat status, buzzer juga biasanya melakukan “giveaway”. Giveaway adalah pembagian hadiah secara cuma-cuma dengan syarat harus memposting dengan menyertakan hashtag tentang isu tersebut. Tak sedikit orang yang mengikuti giveaway ini sehingga hashtag akan semakin populer. Cara lain adalah dengan membuat meme.

Narasumber juga menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti berapa banyak umumnya tim buzzer, pertentangan moral saat mengerjakan pekerjaan, software/mesin/robot yang juga berperan untuk mempertinggi traffic, akun-akun palsu yang digunakan untuk memposting, perang psikologi yang dilakukan buzzer dengan korban, jenis-jenis proyek yang dikerjakan, perang antar tim buzzer, sampai perlawanan penyedia media sosial  (Twiter dalam menghambat para buzzer) dan cara mengakalinya.

Perlu diketahui juga bahwa buzzer tidak hanya bertujuan untuk menaikkan isu yang menguntungkan bagi pihak tertentu, tetapi ada juga buzzer yang independen dalam menaikkan isu (sering juga disamakan dengan influencer). Diskusi ditutup dengan ide-ide dari peserta tentang rencana kampanye digital dengan memanfaatkan cara kerja buzzer. Di akhir diskusi para peserta yang terdiri dari organisasi-organisasi gerakan sosial juga banyak yang merasa perlu juga untuk menggunakan cara kerja buzzer dalam mengkampanyekan isu-isu yang ada, tetapi dengan cara yang berbeda.


[1] Chadijah, R. (2019, 09, 17). Pemerintah Didesak Hentikan Kampanye “Sawit Baik”

https://www.benarnews.org/indonesian/berita/kampanye-sawit-baik-09172019154315.html

Penulis: Siti Marfu’ah

Editor: Indra N. Hatasura

Tulisan ini juga bisa dibaca di link berikut: https://rmibogor.id/2020/05/15/memanfaatkan-buzzer-dalam-strategi-kampanye-isu-lingkungan-dan-sosial/

Disaring 2.0: Keeping Yourself Healthy With Herbal, Here’s A Cheaper Way To Stay Healthy!!

The amount of people who died because of COVID19 that started since December 2019 have made the people’s awareness towards their health increase. A lot of people are often scared when knowing that they have symptoms of cough, runny nose and fever. The only thing that they can do to prevent the spread of COVID19 is by doing physical distancing, avoid any events and that gatherings a lot of people, wear mask and gloves if needed when going outside the house.

People also apply several new lifestyle as a way to protect themselves such as sunbathing, exercising and consuming vitamins. Many people are not aware and realize that buying medicine and vitamins can actually be really expensive.

Through this event called DISARING (Online Discussion) 2.0 Relawan4Life intend to give another perspective on how to keep yourself healthy during this quarantine season with herbs as an alternative than buying a lot of generic medicine. Herbs are considered as something that is easy to find, yet they only have a minimum side effects comparing with the generic medicine or vitamins, and it’s also cheap. Having the knowledge that herbs can be used  for medication can actually help someone achieve a better quality of life.

DISARING 2.0 was held on Wednesday, 29th of April 2020. Moderated by Ali Aljihad, a member of Relawan 4 Life and as the speaker we have a Traditional Chinese Medicine (TCM) practitioner who uses herbs in his medication, that is  Mr. Albertus Prasasti Baroto or also known for his nickname Mr. Tito. As a summary The speaker explain about what’s the definition of health and fitness, the importance of knowing The Body Clock, and how can we improve our healthy by consuming herbs.      

Based on the explanation given by Mr. Tito, he said that based on TCM everyone has the chance to stay healthy and strong without consuming any medicine or vitamins because the human body themselves has already got antibodies. In order to achieve that, people need to starts giving more attention towards their body according to The Body Clock. Here’s an Illustration that sums up The Body Clock based on TCM given by Mr. Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

Other than being the practitioner of TCM, Mr. Tito also studied about Javanese Herb Concoctions. There are a four main herb based on what he learns that can be used to rejuvenate the function of the organ and keeping you healthy. Here are the list of the herbs!

  1. Noni

Noni can be used to improve the digestive system in human body, therefore it’ll effects directly to the metabolism of the body and then regenerate the cells.

  1. Curcuma

You can use curcuma to improve and maintain your liver condition. Other than that Curcuma can grow very quickly and can be found in a lot of places. This medicine also works as an antibiotic.

  1. Gotu Kola

Gotu kola herbs is the herb recommended for your kidney. It is really important to take a good care of your kidney because it’s responsible for your nervous system to control the numbers of blood cells created.

  1. Meniran Leaves (Phyllanthus Urinaria)

Meniran Leaves can increase human’s immunity, it can also be used to resist HIV disease up to 75%. It has a diuretic element that can increases the secretion system on human’s body, for example : urine. Meniran can force your body to sweat out the impurities on human’s body.

After the material has been given, moderator allows several of the audience to ask a question to the speaker. Here are the following questions and answers  that occur during the discussion :

  • Which one is better for frequent consumption, is it herbs or fruits ?

Vitamins and minerals that are inside the fruit is really good to support the nutrition fulfillment. But, if you want to support the condition of the organs it is better to consume herbs. And In order to create a great balance you need to consume both.

  • Which herbs is better suited with hydroponics ?

Plants that are suited with hydroponics are monocots like curcuma, gotu kola, and meniran. You can’t plant Noni with hydroponics because Noni have a branched seed and single rooted

Audience seems very enthusiastic asking questions which can be seen from the number of questions given during question and answers session. Just In case if any of the audience have further questions about it, the speakers are willing to answer it through other social media, such as WhatsApp.

This discussion was held on the Zoom (conference application) therefore all of the audience stays at their own houses. Involved 22 participant consisting of 12 women and 10 men with a various background, such as college student, high schooler, and other practitioner. The event was initiated by Volunteer 4 Life, a youth movement, established and facilitated by the Indonesian Forestry and Environment Agency RMI since 2015.

To see the presentation materials and recording of this event you can see or download it throught this link : https://drive.google.com/drive/folders/11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf?usp=sharing

Author : Nadira Siti Nurfajrina

Editor : Siti Marfu’ah

Disaring 2.0 : Menjaga Kesehatan Diri Dengan Herbal, Sehat Ga Perlu Mahal !!

Banyaknya korban di dunia akibat serangan penyakit menular Covid-19 yang dimulai sejak Desember tahun lalu membuat tingkat kekhawatiran dan kesadaran masyarakat akan kesehatan pribadi meningkat saat ini. Masyarakat cenderung panik jika mereka memiliki gejala batuk, pilek dan demam. Mereka melakukan pencegahan dengan physical distancing, berhenti berkumpul dan mengenakan masker, sarung tangan saat bepergian.

Di sisi lain untuk melindungi dirinya sendiri, masyarakat juga mencoba penerapan pola hidup yang lebih sehat. Berjemur di pagi hari, serta mengkonsumsi obat-obatan dan vitamin, serta dengan berolahraga terbatas. Terkait konsumsi obat-obatan dan vitamin, tidak sedikit pengeluaran baru yang muncul dari kebiasaan ini.

Melalui kegiatan Diskusi Daring (Disaring) 2.0 ini Relawan 4 Life bermaksud untuk memberikan pandangan lain, mengenai cara-cara menjaga kesehatan daya tahan tubuh dengan menggunakan tanaman herbal sebagai alternatif obat-obatan dan vitamin buatan. Tanaman herbal dianggap mudah didapat, memiliki efek samping yang kecil (bila dibanding obat dan vitamin buatan) dan murah harganya. Memiliki pengetahuan akan kesehatan dan pengobatan herbal dapat membantu seseorang untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Disaring 2.0 kali ini dilaksanakan pada Rabu, 29 April 2020, dipandu oleh Ali Aljihad, yang merupakan bagian dari Relawan 4 Life, dan seorang narasumber yang merupakan praktisi Traditional Chinese Medicine (TCM) yang menggunakan tanaman herbal sebagai obat, yaitu Albertus Prasasti Baroto, yang dikenal dengan panggilan Tito. Secara garis besar, narasumber menerangkan mengenai definisi kesehatan, pentingnya mengetahui jam piket organ, serta pengobatan melalui tanaman-tanaman herbal tertentu yang banyak di sekitar kita.

Pada pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa menurut pengobatan tradisional cina pada dasarnya semua orang bisa sehat tanpa menggunakan obat-obatan ataupun vitamin, karena tubuh manusia sudah memiliki antibodi. Selain itu, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan dari dalam tubuh manusia itu sendiri, yang secara biologis kerap dikenal dengan sebutan “jam piket organ”. Berikut adalah jam piket organ menurut Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

 

Selain praktisi pengobatan tradisional cina,Tito juga mendalami ilmu meramu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat. Terdapat empat inti tanaman herbal yang dapat mengembalikan fungsi tubuh dan menjaga tubuh tetap sehat, yaitu :

  1.       Mengkudu

Mengkudu dapat memperbaiki sistem pencernaan tubuh manusia, sehingga dapat berdampak secara langsung kepada metabolisme tubuh dan juga regenerasi sel dalam tubuh.

  1.       Temulawak

Temulawak dapat digunakan untuk menjaga kesehatan liver. Terlebih tanaman Temulawak merupakan salah satu tanaman yang tumbuhnya cepat dan mudah untuk ditemukan. Tanaman ini juga berguna sebagai antibiotik loh!

  1.       Pegagan

Pegagan merupakan tanaman yang memiliki manfaat untuk ginjal. Hal ini sangat penting karena ginjal bertanggung jawab pada sistem saraf  guna mengatur pembentukan sel-sel darah.

  1.       Meniran

Meniran mampu meningkatkan imunitas seseorang, bahkan mampu menahan penyakit HIV pada angka 70 – 75%. Memiliki unsur diuretic yang dapat menambah kecepatan sistem sekresi, salah satunya adalah pembentukan urin. Meniran dapat memaksa tubuh untuk mengeluarkan keringat sebagai media untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dalam tubuh.

Setelah materi selesai dipaparkan, moderator memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk bertanya. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan, beserta jawabannya adalah sebagai berikut:

  • Antara herbal dan buah-buahan lebih bagus mana untuk dikonsumsi? Karena ada yang memiliki manfaat yang sama

Narasumber menjawab bahwa  bahwa unsur-unsur vitamin dan mineral dalam buah-buahan sangat bagus dan menunjang unsur sehat. Sedangkan untuk menunjang organ tubuh lebih baik mengkonsumsi herbal. Untuk menjaga kesehatan tentu perlu dikombinasikan keduanya.

  • Tanaman obat apa yang bagus di tanam dengan media hidroponik?

Narasumber menjawab bahwa tanaman yang bisa tumbuh di media hidroponik adalah monokotil atau berbiji tunggal seperti temulawak, pegagan, meniran. Mengkudu tidak bisa, karena mengkudu memiliki biji yang bercabang dan berakar tunggal.

Pertanyaan-pertanyaan lain juga dijawab oleh narasumber sesuai dengan keahliannya. Terlihat bahwa peserta cukup antusias dalam membahas materi dilihat dari jumlah pertanyaan yang muncul pada sesi tanya jawab.. Untuk menebus keingintahuan peserta,narasumber memberikan penjelasan bahwa yang bersangkutan bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab pada diskusi ini lewat media lain, seperti WhatsApp.

Diskusi ini dilakukan di rumah masing, menggunakan aplikasi Zoom. Kegiatan yang diinisiasi oleh Relawan 4 Life ini, diikuti oleh 22 orang, yang terdiri dari 12 orang perempuan dan 10 orang laki-laki, dengan latar belakang yang berbeda, seperti mahasiswa dan pelajar sekolah menengah. Relawan 4 Life merupakan sebuah gerakan anak muda yang didirikan dan difasilitasi oleh RMI sejak tahun 2015.

Untuk mengetahui materi dan rekaman dari kegiatan Disaring 2.0, pembaca dapat mendownload dari llink berikut ini:

https://drive.google.com/open?id=11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

Editor: Siti Marfu’ah

Disaring 1.0: Penyakit Manusia Dan Hewan Liar, Berhubungankah?

Istilah Covid 19 (Corona Virus Disease 19)  begitu populer sejak akhir 2019 dan awal tahun 2020. Istilah ini adalah sebutan bagi penyakit yang disebabkan oleh virus dan sudah melumpuhkan segi-segi kehidupan manusia. Virus ini melumpuhkan sektor ekonomi, sosial dan berdampak terhadap lingkungan. Awalnya Covid 19 terdeteksi di kota Wuhan, Cina dan diduga berasal dari konsumsi hewan liar (kelelawar) oleh manusia. Walaupun belum ada bukti-bukti yang kuat, namun penyebaran penyakit dari hewan liar ke manusia memang sering terjadi. Untuk melihat hubungan itu Relawan 4 Life melakukan Diskusi Daring (Disaring) dengan tema “Penyakit Manusia dan Hewan Liar, Berhubungankah?”

Kegiatan ini dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, pada Sabtu, 11 April 2020 dalam rangka mendukung gerakan #dirumahaja. Disaring diikuti oleh 34 orang, yang terdiri dari 19 orang perempuan, dan 15 orang laki-laki. Peserta berasal dari latar belakang aktivis  mahasiswa, pemerhati pendidikan, pekerja profesional dan aktivis sosial-lingkungan.

Acara ini dimoderasi oleh Siti Marfu’ah (Sifu) dari Relawan 4 Life dan didukung oleh teman-teman Relawan 4 Life pada sistem pendukungnya (Meilinda Amin, Sari Ramadhanti, Ali Alijihad, Alfina Khairunnisa).

Narasumber utama pada acara ini  adalah drh. Pebi Purwo Suseno dan didukung oleh beberapa orang narasumber tambahan. Narasumber utama saat ini aktif sebagai Focal Point Nasional Unit Komunikasi Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), Contact Point Grup Komunikasi ASEAN untuk Perternakan, dan anggota ad hoc kelompok OIE terkait rabies. Sebagai narasumber tambahan adalah drh. Andri Jatikusumah, drh. Elly Sawitri Siregar,  drh. Ahmad Gozali dari FAO – Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) yang mengikuti diskusi dan menambahkan informasi-informasi penting lainnya.

Materi Apa Saja yang Disampaikan?

Pada awal sesi, narasumber memperlihatkan sebuah infografis perbandingan terkait pandemi-pandemi yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Infografis tersebut menunjukkan bahwa telah banyak terjadi penularan virus-virus yang mematikan sejak dahulu hingga saat ini, seperti SARS, MERS, hingga Black Death yang sangat mematikan dengan korban lebih dari 200 juta orang (menurut catatan wikipedia, Black Death membunuh 2 dari 3 orang di Eropa pada abad 14).

Narasumber juga menjeaskan tentang Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB). Terdapat beberapa kategori dalam pengelompokkan PIB, yakni:

  1.   Penyakit infeksi yang sudah dikenal tapi menyebar ke area baru atau populasi baru.
  2.   Infeksi baru yang sebelumnya tidak ada kemudian menginfeksi populasi.
  3.   Penyakit infeksi lama yang memiliki insidensi yang sangat rendah/tidak ada namun muncul kembali.
  4.   Penyakit infeksi yang biasa ditemukan di suatu spesies tertentu namun ditemukan pada spesies baru.

Narasumber menerangkan pada awalnya PIB hanya menular di dalam satu lingkaran, seperti hanya menular antar manusia, atau antar hewan domestik, maupun antar hewan liar. Namun beberapa faktor seperti teknologi dan industri, gangguan manusia, kontak antara hewan-hewan liar, manipulasi ekologi menyebabkan PIB menyebar menjadi antara manusia dengan hewan domestik, maupun sebaliknya, hewan domestik dengan hewan liar dan sebaliknya, serta manusia dengan hewan liar maupun sebaliknya. Penyebaran-penyebaran tersebut menjadi semakin masif karena didukung dengan adanya kemudahan dalam melakukan perjalanan dan pertumbuhan populasi dunia yang sangat pesat.

Paparan selanjutnya adalah mengenai zoonosis. Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang dapat menular secara alami dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hingga saat ini diketahui bahwa 60% dari penyakit atau infeksi yang diderita manusia bersifat zoonosis.

Hal-hal yang perlu diketahui tentang zoonosis sendiri adalah variabel-variabel atau faktor-faktor pemicu munculnya zoonosis dari satwa liar, seperti faktor densitas populasi manusia dan densitas spesies hewan. Menurut narasumber, proporsi virus pada satwa liar yang dapat ditularkan ke manusia, tertinggi ditemukan pada hewan mamalia bersayap (chiroptera), primata, dan hewan pengerat (rodentia).

Diskusi berlanjut cukup seru karena sangat banyak pertanyaan dari peserta, yang sebagian besar merupakan anak muda, yang ingin tahu lebih dalam mengenai hubungan antara penyakit manusia dengan hewan liar, serta kerusakan lingkungan yang terjadi. Karena waktu yang terbatas, tidak semua peserta dapat menyampaikan pertanyaannya. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah seperti:

  • Implementasi one health di Indonesia: siapa yang mengimplementasikan, bagaimana, dan sejak kapan diimplementasikan? Narasumber menjawan dengan menjelaskan implementasi one health di Indonesia yang berjalan dengan cukup baik sejak dahulu, dan koordinasi antar sektor yang sudah terjadi. 
  • Kenapa hewan chiroptera, primata dan rodentia itu harus diwaspadai dibandingkan hewan lainnya dalam penyebaran penyakit zoonosis? Narasumber menjawab dengan menginformasikan kesamaan/kedekatan jenis virus yang ada pada hewan-hewan tersebut dengan virus yang menyerang manusia, sehingga kemungkinan penyebaran penyakit zoonosis terjadi cukup tinggi. 
  • Bagaimana cara melakukan pencegahan di masyarakat yang tinggal di hutan, yang kebiasaan hidupnya berburu hewan liar? Narasumber menjawab bahwa apabila terpaksa atau sudah menjadi bagian dari budaya, maka pencegahan zoonosis seperti memasak makanan sampai masak dapat mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit zoonosis.

Diskusi ini diakhiri dengan pemaparan narasumber mengenai cara pencegahan zoonosis, seperti mempererat pengawasan terhadap hewan-hewan yang memiliki resiko tinggi dalam menularkan virus kepada manusia ataupun sebaliknya, melakukan pengawasan dan meminimalisasi resiko terhadap orang-orang yang memiliki kontak langsung dengan hewan-hewan liar, serta meningkatkan keamanan dan pengawasan terhadap hewan-hewan liar.

Untuk info lebih lengkap mengenai Disaring “Penyakit Manusia dan Hewan Liar, Berhubungankah?”, bisa baca materi dan notulensi  di link: https://drive.google.com/open?id=1kdL8ZQDZpf7wvZ2jI0h1W_LiQ8nuO-EB

Tulisan ini juga bisa dibaca di link: https://rmibogor.id/2020/04/16/diskusi-online-generasi-muda-penyakit-manusia-dan-hewan-liar-berhubungankah/

Penulis: Siti Marfu’ah 

Editr: Indra N. Hatasura

 

Short Course Batch IV: Fun Memories

Hai aku Dhanti, salah satu anggota Relawan 4Life yang mengikuti Short Course Batch IV. Aku sangat senang sekali karena diterima dan bisa bergabung mengikuti acara Short Course batch 4 ini, padahal pada saat bikin esai ga yakin bisa lulus seleksi dan dapet beasiswa short couse. Tema esai yang dibuat untuk proses seleksi ini adalah “Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku tahu kalau RMI bikin acara kegiatan “Short Course”, ini adalah kedua kalinya aku tau, cuma pada saat pertama kali aku tau kegiatan ini dan ingin ikut, sayangnya sangat berbenturan dengan kegiatan ku yang lain, seperti kuliah dan pekerjaan, jadinya aku ga bisa ikut dan sangat berharap di tahun depan ada lagi dan aku bisa ikut, dan yessss… akhirnya terkabulkan. Alhamdulillah di tahun 2020 ini aku bisa ikut Short Course IV seneng banget pas tau lulus seleksi.

Alasan ingin ikut “Short Course” karena ingin menambah wawasan, teman, kepekaan terhadap lingkungan, dan ingin belajar mengenai bagaimana caranya untuk bisa membantu lingkungan sekitar, serta  menjadi salah satu cara ku berterimakasih kepada lingkungan/ alam ini. Apalagi permasalahan sosial dan di lingkungan semakin banyak, jadi aku rasa aku harus banget belajar tentang ini, agar tahu gimana cara yang benar buat menyikapinya. Materi yang akan di bahas di “Short Course batch 4” ini adalah :

  • Mindfulness & Kepemimpinan
  • Jender & inklusi Sosial
  • Etika Lingkungan
  • Ekologi Politik
  • Kebijakan dalam pengelolan SDA
  • Ekonomi & Kearifan Lokal
  • Observasi Sosial

Dari semua materi yang dibahas aku sangat suka dan tertarik untuk dengerin, apalagi pada saat penyampaian materi tersebut pembicara/narasumber menjelaskan nya sangatlah jelas, asik dan suka banget sama pembawaannya, jadi ga ngebosenin dan ga bikin ngantuk, dan memberikan kita para peserta kesempatan untuk berpendapat atau bertanya. Tapi kalau materi yang paling favorit buat aku pribadi adalah Ekologi Politik yang di bawakan oleh Bapak Soeryo Adiwibowo, seru dengerinnya dan semakin terbuka lebar dengan apa yang ada di kehidupan kita.

Selain materi- materi yang disampaikan di “Short Course” ini banyak hal yang ga kalah menarik juga seperti kakak” fasilitator yang asik dan bersahabat dengan para peserta, jadi gak canggung untuk ngobrol ataupun bertanya, dan juga temen-temen peserta yang datang dan bergabung adalah dari berbagai macam wilayah dengan latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda juga jadi sangat seru buat berbagi cerita.

Dhanti sedang mempresentasikan kotak “gue banget” hasil kreasinya

Dan keseruan dari acara ini tuh banyak banget, hal-hal yang dibuat oleh fasilittator dan dikemas sangat menarik agar suasana semakin hangat dan seru seperti kita semua peserta diberikan “AHHAA BOOK!” yaitu buku yang nantinya akan kita bawa disetiap kegiatan kita,  untuk menuliskan apapun yang menarik menurut kita, jadi kita selalu ingat, lalu ada banyak games seru yang dibuat, bahkan saat pertama kali perkenalan dengan sesama peserta pun itu seru banget,  karena memakai 2 metode, yang pertama pakai game “patung pancoran”, yang kedua kita dikasih kotak nasi gitu namanya “kotak gue banget” yang isinya kita ceritain,  kita tuh siapa, sukanya apa, apapun deh terserah mau kasih tau apaan ke temen kita, nanti kita ceritain.

Adalagi games yang seru tapi nyebelin buat aku namanya “angka setan”,  aku kalah dalam sekejap. Lalu games yang mengedukasi juga sebenernya seperti games “kacang minta dong”, dari kacangnya ga ada harga nya, terus ada harganya, dan akhirnya orang yang punya point  kacang terendah cuma boleh makan nasi pakai garem tapi karena teman teman peserta sangat solid jadi semuanya ikut makan nasi pakai garem, luv. Ada juga mancing ikan yang mengedukasi, dan diakhir sangat menyadarkan, karena terrnyata kita ga boleh serakah dll.

Terus banyak juga games yang berkelompok, tapi yang sangat berkesan dan selalu teringat adalah games yang malam itu jadi kayak jerit malam, games outdoor yang pakai clue buat jalanin misinya dan menjawab pertanyaannya. Sangat seru dan membuat ketawa banget karena kelompok ku adalah kelompok terreceh, apapun keadaanya kita saling mengisi tawa biar ga kerasa capek, dan kerasa kekeluargaan gitu, saat itu aku sekelompok sama Mas Adi, Dzikra, Mba Marisa, dan Feby yang juga teman sekamar ku.

Masih banyak banget games seru lainnya. Terus ada lagi yang bikin aku semangat juga untuk ikut setiap kegiatan, yaitu ada aja hal yang baru dan  menarik, seperti nonton film. Nah di sana juga diputar beberapa film, film yang memberikan kita edukasi juga sebenernya tapi ku suka.

Satu lagi, yaitu observasi sosial, observasi atau wawancarai masyarakat lingkungan sekitar tentang beberapa tema, dan aku dapet  “Ekonomi Masyarakat”, aku mewawancarai tentang bagaimana keadaan ekonomi masyarakat dekat penginapan kita.

Peserta Short Course sedang melakukan permainan “Mancing Mania”. Permainan ini digunakan untuk menyampaikan materi “Keberlanjutan Sumber Daya Alam”.

Dari kegiatan tersebut sebenernya hampir semua materi dan tema yang dibuat dan disampaikan termasuk games edukasi itu menurut ku terkait, ngajarin bagaimana kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja dan ngajarin bagaimana menyikapi nya.

Sebenernya masih banyak banget cerita yang belum ku tuangkan tapi gapapa, biar buat yang baca ini penasaran dan mau ikut Short Course selanjutnya.

Pelajaran dan kesanku adalah jadi lebih terbuka lagi, peka sama apa yang ada disekeliling ku, jadi tau gimana caranya berterimakasih kepada lingkungan juga, dan jadi sadar pentingnya lingkungan yang harus dijaga dari segi apapun.  Aku jadi semakin yakin dengan kata-kata nya Roem Topatimasang bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru dan setiap buku adalah ilmu, namun aku menambahkan bahwa setiap hal adalah ilmu. Semoga sehabis kegiatan ini, aku  jadi bisa membantu menyadarkan orang yang ada disekitar ku untuk ikut peduli dengan lingkungan nya dan aku semakin bisa bertanggung jawab akan apa yang aku lakukan terhadap lingkingan.

Terimakasih RMI dan Relawan 4 Life, semoga aku bisa menjadi manusia yang bermanfaat berkat ilmu yang kalian bagi dan curahkan kepada ku. Dan semoga sesederhana apapun yang aku lakukan akan bermanfaat bagi sekitar seperti by Relawan 4Life.

Penulis: Sari Ramadhanti

Same Heart, Same Spirit

Nama saya Nadira Siti Nurfajrina, saya merupakan seorang mahasiswi Arsitektur Semester 6 di Universitas Pembangunan Jaya, tepatnya di Bintaro, Tangerang Selatan. Sejak saya kecil orang tua saya suka sekali membawa saya berpetualang ke tempat wisata alam, seperti ke hutan, pantai, ataupun pegunungan. Hal ini memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan saya, yaitu saya jadi memiliki kecintaan tersendiri akan alam dan selalu berusaha untuk memasukkan nilai-nilai yang saya temukan di alam dalam kehidupan, atau bahkan pada konsep rancangan arsitektural saya.

Menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Unversitas Pembangunan Jaya, mendorong saya untuk lebih memperdalam kembali akan isu-isu yang terjadi di Indonesia, dengan harapan saya dapat membagikannya kepada teman-teman mahasiswa ataupun mahasiswi UPJ yang lain agar mereka juga dapat lebih terbuka dan terdorong untuk melakukan sesuatu guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai akademisi, saya juga ingin mempelajari lebih lanjut kembali mengenai paham-paham apa saja yang nantinya dapat berguna bagi saya untuk menentukan sikap dikemudian hari.

Melalui Short Course Batch IV ini, saya banyak sekali belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui, terutama mengenai permasalahan yang terjadi di Indonesia secara lebih mendalam. Mulai dari Isu pengelolaan sumber daya alam, ketidaksetaraan gender, ekonomi, dan juga mulai hilangnya kearifan lokal di masing-masing daerah. Kegiatan ini sangat menyenangkan, sejumlah materi pun dikemas dengan cara yang sangat unik sehinggga dapat sangat mudah diterima oleh para peserta Short Course.

(kanan-kiri) Labib, Nadira, dan Febri, sedang memainkan peran menjadi perangkat desa yang sedang melakukan musyawarah ke masyarakat

Saya merasa sangat bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu peserta di  Short Course IV yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI). Acara yang mengangkat tema ‘Relawan Lingkungan Untuk Perubahan Sosial’ ini telah mengajari saya berbagai hal yang sangat berharga dan bermanfaat. Short Course (SC) Batch IV ini dilaksanakan dalam waktu lima hari di GG House Gadog Happy Valley, Bogor. Rangkaian acaranya pun beragam dan dikemas dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Dalam kurun waktu lima hari ini, saya dapat bertemu sebanyak kurang lebih sebanyak 18 – 20 orang baru dengan keahlian dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Peserta Short Couse IV ini tidak hanya berasal dari mahasiswa, melainkan ada juga yang berasal dari komunitas di desa yang menjadi korban dari tindakan para perusahaan-perusahaan yang melukai alam.

Seiring berjalannya kegiatan, seluruh peserta lama kelamaan menjadi akrab dan dekat satu sama lainnya. Di kegiatan ini saya merasa sangat dekat dengan teman-teman yang lain karena sesi ice breaking yang menyenangkan dan juga sesi materi dan diskusi yang sangat intim.

Nadira sedang mempresentasikan kotak hasil kreasinya

Hari Pertama

Saat hari pertama, kegiatan yang kami lakukan antara lain adalah saling mengenal satu sama lain dengan games dan menerima materi-materi pengantar mengenai isu-isu yang akan dibicarakan selama Short Couse ini. Salah satu kegiatan yang paling berkesan menurut saya adalah saat kami diminta untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan kotak makan kertas yang kemudian dapat diisi, dihias, dan digambar sesuai kepribadian kita. Melalui ‘kotak gue banget’ ini, kami, antar sesama peserta jadi melihat dan belajar untuk mengapresiasi sesama dan belajar dari kisah kehidupan orang lain. Selain itu, kami juga diajarkan suatu metode untuk kembali memfokuskan pikiran kami yang bernama mindfulness. Melalui metode ini, kami diajarkan bagaimana caranya memusatkan pikiran untuk berada pada suatu momen, tanpa memikirkan mengenai masa lalu ataupun masa depan, dengan begini kami bisa lebih fokus mengikuti materi-materi yang diberikan.

 

Hari Ke- Dua

Pada hari ke-2 ini, kami mulai membahas lebih dalam lagi mengenai isu-isu dari topik yang akan dibahas pada Short Course ini. Mulai dari pemahaman apa itu bias, stereotyping dan interseksionalistas. Ternyata pada kegiatan sehari-hari tanpa disadari kita kerap melakukan stereotyping. Hal ini terkadang diperparah pula dengan bias yang selalu kita bawa. Materi kemudian dilanjutkan dengan materi dari Kak Tilla mengenai Etika Lingkungan, dan bagaimana dalam lingkungan sehari-hari manusia kerap berperilaku buruk kepada lingkungan, serta mahluk hidup lainnya kecuali hal tersebut memiliki nilai ekonomi ataupun keuntungan tersendiri. Pemaparan dari Kak Tilla ini menjadi eyeopener tersendiri bagi saya karena materi darinya seakan-akan mengingatkan pada kami that humans should never take nature for granted.

 

Hari Ke- Tiga

Pada hari ke-3, kami diberikan pemahaman mengenai kebijakan-kebijakan yang membahas mengenai pengelolaan sumber daya alam. Hal ini kemudian disusul dengan sebuah kegiatan yang membuat suasana pagi menjadi panas. Kami diminta untuk berdiskusi sekaligus melakukan lomba debat dengan sejumlah peran yang telah ditentukan yaitu, kepala desa, pengusaha pabrik air, warga biasa dan juga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Melalui games ini, kami sudah diberikan sejumlah skenario sebagai landasan awal. Kemudian, seiring berjalannya waktu melalui perdebatan diskusi ini kami sangat melihat bahwa kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia sangatlah kurang dan cenderung memberatkan MBR dan memberikan seluruh kebebasan kepada orang-orang kaum elit.

 

Hari ke – Empat

Petualangan pada hari ke-4 dimulai, pagi hari yang sejuk di bogor dimulai dengan kegiatan yatra atau walking with silence, setelah melakukan kegiatan ini saya merasa seperti diingatkan bahwa manusia tidak boleh melihat segala sesuatu secara global saja. Ada pula saatnya manusia mulai melihat sesatu secara lebih seksama dan lebih bijaksana. Kami jadi lebih aware akan keberadaannya mahluk hidup lain seperti hewan, dan juga tumbuhan. Setelah terinspirasi oleh indahnya alam sekitar, kami kembali terinspirasi dengan materi yang dibawakan oleh Mbak Kiki yang merupakan founder dari Sekar Kawung. Melalui ceritanya, saya jadi lebih terdorong untuk menggerakkan masyarakat, agar mereka dapat lebih bangga dan memanfaatkan kembali kearifan lokal yang mereka miliki.

Kelompok Nadira mempresentasikan hasil observasi sosial yang sudah dilakukan

 

Hari Ke – Lima

Hari terakhir telah tiba, sebelum kegiatan hari itu diakhiri kami masih mendapatkan materi mengenai pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan lagi-lagi materi dikemas dengan permainan. Setelah permainan berakhir, kami jadi paham bahwa permasalahan sumber daya alam yang selama ini terjadi adalah dikarenakan jumlah sumber daya alam yang tidak ditangkap atau diambil pasti lebih sedikit jika dibandingkan dengan sumber daya alam yang diambil. Jadi, apabila pengambilan SDA tidak diberikan batasan maka lama-kelamaan SDA tersebut akan habis.

 

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan kesaksian dari masing-masing orang untuk berkomitmen dan berkontribusi untuk lingkungan. Berat rasanya harus berpisah dengan teman-teman yang sudah menemani proses pembelajaran mengenai isu-isu di Indonesia ini. Terlebih karena saya tahu bahwa kami memiliki tujuan yang sama bagi kehidupan sosial di lingkungan sekitar dan juga alamnya. Tidak banyak orang yang memiliki kekuatan hati dan semangat yang tulus seperti mereka, semoga kami dapat bertemu lagi di rangkaian acara yang lain.

This event really do opens up my eyes towards the problems that are occurring in Indonesia. Hopefully there will be more youths that can fight for what’s right not for what makes profits high.

 

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

 

 

 

 

Short Course Batch III: Took a Train But Felt Like Rollercoaster

DSCF0063

Buckle up y’all, you’re going to hear a story about one of my greatest experiences I have ever had in my entire life.

It was Friday morning, I felt like the universe was on my side because last night my lecturer just informed me that there will be no classes tomorrow. I took the train at 5.30 in the early morning. The location was 1.5 hours train ride and 30 minutes ride using motorcycle from the station. This was the first time I went to Bogor by myself, a bit afraid but tried to brush it off.  I believe if you thought about negative things then you will attract those negative things. So, always think positively. *winks*

When I arrived at the location, I knew no one. At the exact moment I also realized, whether I want it or not, I needed to make some friends. While waiting until the first session started, I approached some people and found out they were also the participants of this short course. I was glad because I finally made new friends. After that we started talking, some of the topics were why are you interested in these kind of things, what semester are you on, what’s your major, etc. to be completely honest, when somebody asked me the last question, I always felt a bit anxious. I am majoring in Accounting, and I joined this Short Course, which was about environment. From what I have heard, Economics Studies and Environment Studies are always against each other. So, I was afraid I would get confronted *laughs*.

Time passed by, and the first session finally starts. It was an introduction about RMI and what we were going to do for the rest of the day and the next two days. At this session I met few other participants who have arrived on the previous day. We got to know each other and moved onto the next session. We played a game with some coloured chocolates. We received various coloured chocolates randomly. Each colour represented a story of our life which we are going to tell everyone. For example, blue is for campus life and organisations, orange is for friends, yellow is for family etc. I got around five chocolates with three different colours. I had to tell everyone about my family, my campus life, and my organisations. I was anxious while waiting for my turn, I was hoping to get the early turns, but I guess I was not lucky enough and I got the second from the last turns?? After I did my turn, I felt relieved. I rarely tell people about my personal lives, and now I had to? In front of new people? I was stressed out *laughs*.

After everyone got their turns, we went to the main auditorium to begin the next session. We had to design a box, with used newspapers, markers, and crayons, that described ourselves. I was like, again??? For real??? I mean, it was hard for me to tell a little story of my life, let alone describe myself with a box. I was struggling the whole time, confused with choosing what can I use from the newspaper, what should I draw, gosh, it was a lot of work to be done. One of my favourite parts was everyone was supportive, and encouraging, and helping. I was thankful for that. After two hours or so, we all finished our works and it was time to tell everyone about our stories, (againnn????). This time, I got the early turns, I was like, why. *sighs*. But yeah, you had to do it. So, I told everyone a little bit more about my life, what I want to do in the next few years, what I wanted to do, and my activities. Let’s be honest here, I had lots of unshed tears on my eyes. This is one of the reasons why I got uncomfortable about telling my life story, I got tears for no reason. I remember the facilitator said that, “Tell everyone what you want to tell, don’t be afraid, this is not a contest for show offs, this is a place to tell people who you are, because you will be here for three days only and if you don’t know each other well, then you won’t feel this experience to the fullest”, and I live by that quote. As this session went along, I started to feel like this is the right decision, this is what I want, these are the people that I want to be surrounded with.

After the session finished, we had a coffee break, this was one of my favourites, because there was food of course, but then we talked with each other, sharing some stories, even with the facilitators.

It was around 4 pm, we started the next session. In this session we had to form a group consisted of 4 people. There were pictures about current disasters, some of them were still happening now, some of them were already happened. Then, each group had to choose 2 pictures and discuss them. It was fun discussing things from different perspectives, truly. Oh, and we weren’t told before that we had to find connection between those two pictures. So, we tried to find the connection between two pictures. We chose pictures about drought and wildfires. And we discussed how wildfires can cause drought by producing carbons into the atmosphere which then caused climate change and it disturbs the earth’s cycle.

When it was time to present it to the other groups, my group got the second turn. My discussion with my group was really an eye-opening for me. Then hearing the other group presenting their works were really overwhelming for me. Because there were a lot of things to take in and each of them was a new thing for me, so I really had to pay attention. To be honest, my mind worked hard on this session, because I tried to store all the information into my brain. All the inputs from the panellists were also valuable because they are experienced on this field.

The session about popular issue on environment was the last session I attended because I had to go home, unfortunately. I wanted to stay and spend the rest of the day with everyone, but I really couldn’t. I went home by train at around 6 pm, with my mind overloaded with new information and how fun it was to get out of your comfort zone. Along the way home, my mind kept replaying today’s activity and I found new spirit for the next day. I mean, today was super fun, and I was convinced that tomorrow will be more super fun.

The first session for the next day was bonding time. We played a game where we had to find three, four, five people interchangeably. This game was intended to get acquainted with each other better. And it worked. Some people couldn’t come the previous day, so we had to introduce ourselves again to each other, and by playing this game, it really worked.

The next session was about gender equality. This was the continuation of the previous night’s session which was about gender equality. I couldn’t attend last night’s session and I did not know what the discussion was last night. But I saw some papers on the wall about what is each participant’s definition of men and women. There was a long list of criteria for men and women. While I was reading the list, I regretted that I did not join the session but also glad that it will be continued today.

The session started by talking about stereotyping. Stereotyping is how you perceive someone based on their looks, religion, race, nationality, gender, sexuality, age, etc. I was really interested in stereotyping, especially when they mentioned about sexuality, which was still a taboo in Indonesia. The facilitator wrote a word on each paper, like men, women, children, gay, lesbian, NGO, government, Chinese, Papuans. And we had to write the first thing that came to our mind when we heard each words on a post-it and put it on the paper. It was interesting to know how some people almost had the same opinion on a certain community. And reading all of them made me think about other communities that were not mentioned above. After everyone finished, we received an insight about stereotyping. “Where do all of the stereotyping came from?”. In my entire life, I have never really thought about this question and when we had to find the answer everything suddenly came into places. Some of these stereotypes were not really our experiences, some of us even had not meet the person who came from the community. It came as a surprise for me when I think about the question again. And then, the facilitator asked us to write down our answers and put them onto the papers on the wall. While waiting for others, I had a debate with my mind. “Why do I unconsciously believe these stereotypes?” I mean, these were not what I think of them, but more like what other people think of them and they tried to convince others to believe what they believe, including me. Writing down the answer seemed like a hard task back then. But eventually we finished it and we discussed about our answers. Other participants also had difficulties while writing down the answers for the same reason as me. This session really made me reflect on how I perceive someone. But at some point, stereotyping is useful when you want to meet someone for the very first time. But do not just rely on stereotyping, because stereotypes are not always correct.

Next session was about leadership. In this session we formed a group and then wrote down the definition of a leader and what characteristics a leader should have. There were three groups and each group wrote various characteristics and some of them also wrote common characteristics of a leader. After that, as usual, we had to discuss it. It was fun, and eye-opening. After we discussed, we received a lecture on leadership. How leadership style has been shifting from traditional into modern era. In traditional style, a leader must be authoritative, has masculine personality, and strict. Meanwhile, in modern style, a leader is much more flexible, interact more with the members, engaging more with members, not-so-authoritative, etc. If I look at some of the leaders who have the modern leadership style, they get judged a lot because how they lead a team is considered ineffective by some people. But I prefer the modern leadership style because the leader will earn respect from the team members pure from their heart, not because they must. And members will do their job willingly which, in results, increase the efficiency of their works.

Next session was about political ecology. This was one of the most interesting topics and I was really hyped for this session. This session talked about the political situation on ecology in Indonesia which I’m not going to talk much about it here. The facilitator brought an easy concept on what was and what is still going on. And how past events really affect current condition. It was a heavy topic. While my mind was trying to absorb new information, more information was added, so I kept trying to catch up, but it was hard for me. Politic is one of my least favourite topics after all so I didn’t really want to get into it.

After having some break, we started next session, which was about structural poverty. From the title, the topic seemed heavy and too economic for some people. I was ready to fall asleep even before the session began, because not all people can bring economic topic in a fun way. But the facilitator proved otherwise. The facilitator tried a new way to bring this topic in a form of game and it really worked. We all were given some grains, like coffee, corn, green beans, and soybeans at the same amount. There were five rounds of game. On the first and second round we were asked to swap our grains with everyone. But on the third round each grain had a value. For example, coffee has 20 points value, corn 5 points, soybean 10 points, and green beans 2 points. At this round we started to keep the highest value of grain and only swap the smallest value. Then, on the fourth and fifth round, we must have at least 80 points. Everyone started panicking, a lot of them had less than 80 points and tried to ask for help to the people who had more than 80 points. My points were quite stable from the first round and I was glad for it. When the game finished, the facilitator explained how the game represented structural poverty. He then divided us into three groups, one for those who got less than 80 points, one for those over 100 and one for those between 80-100. The group with less than 80 points had to discuss the solution for their problem. And the other groups also had to help. At the beginning of the session, the facilitator said that those who lose would receive a consequence. All of us thought that it was a joke, but it wasn’t. The group with less than 80 points received a consequence by not joining dinner in the dining room with everyone and instead they will eat in the main hall with only rice and salt. When we heard that, we just wanted to give our grains to them, but the game already finished and there was nothing we could do to help them. When the session was done, I kept thinking about it. I mean, I never thought about how a game could represent a real problem and it fascinated me.

Last session for the second day that I could attend was about volunteering movement for social change. It was more like sharing session with the facilitator. He has been working in Non-Governmental Organisations for years and know a lot about NGOs. Then some participants also shared their experience working at NGO. This was the moment where I learned a lot about NGO. Like, a lot.

Then, before I went home, I had a discussion with one of the people who work at RMI. I asked a lot of questions. Sorry for that. My curiosity and fascination were at the highest level that night. I wanted to know more about NGOs. And what’s their impact in the society. When I heard that they work a lot with communities and discuss their problem and try to find the solution, at that exact moment, I just wanted to work at NGOs, that’s it.

My journey home then filled with my last discussion about NGOs. How I have never heard about what they do on the media just blew my mind. They didn’t just do what they had to do, but actually solved the problems and they get so little recognition for that. Also, how the real conditions of certain communities are portrayed differently on the media. A lot of things was going on in my mind, while looking through the window of the train. I felt like I’m on a movie clip.

On the last day, first session was about environment ethic. As usual, we were given a case first then we discussed our solution. In this session, we had to put ourselves in a situation where we needed to make a priority list for every living thing on earth. From this, we could learn how much we care about other beings beside human. It was surprising how almost everyone still think that other creatures were not important if they had no purpose, including me. After the discussion, the facilitator explained about environment ethic based on our discussion. We also discussed about how religions viewed the environment, how religions commanded us to treat the nature. I’ve never had interfaith discussion before, so it was a mind-opening experience for me.

Environment ethic was the last heavy session on this entire event. On the next few sessions we had lots of fun. We saw a presentation of what RMI had done in the past, what RMI are currently doing, and what will RMI do in the future. They also wrote down what they are going to do in the next one month and asked us to write our names on certain events if we wanted to be a part of it. I was interested and wanted to join every single event but unfortunately, I couldn’t choose all of them. I chose around three events. One of them was about Regional Consultation of Children’s Rights on Environment.

Have you ever had that feeling when you really enjoyed something and afraid for it to end, because I felt it since the second day. I really enjoyed this short course and everyone who participated on it. I met new friends, I gained new knowledges, and everyone was so welcoming towards each other. Remember when I said I was anxious to get confronted because I am from accounting major? It didn’t happen at all. Instead, I received lots of courageous words from some people. Which I still remember until now.

This short course would be one of my best experiences I have ever had in my entire life. I am proud of myself because I was able to get out of my comfort zone and dare to go for extra miles. I remembered someone from RMI said to me, “I know it’s tiring, Jakarta-Bogor on weekend when you could just lay in bed, waking up at noon, and just chilling at home. But I believe you are already few steps ahead and nothing that you do will go in vain.” These words became my motivation while attending this short course.  I also got new perspectives which I wouldn’t get if I just stayed in campus. Because your teachers, lecturers, professors, will not tell this kind of information in classes, especially if you come from economic background.

I would like to thank RMI for this opportunity, and all of my friends throughout the short course, each and everyone of you made me see things I didn’t know existed before. Thank you so much for the stories you all shared and for being so welcoming toward each other. Here’s a bucket full of love.

Lastly, if I were asked to join this kind of event again in the future, my answer would be an instant yes.

 

Alfina Khairunnisa

Jakarta, October 31st, 2019

 

 

 

Short Course Batch III: Belajar Dengan Metode Yang Mudah dan Menyenangkan

Jumat 27-29 September 2019 di Cico Resort Cimahpar Bogor, Jawa Barat telah berlangsung short course. Penyelenggara yang mengadakan acara tersebut yaitu Rimbawan Muda Indonesia (RMI) yang mana mengangkat isu-isu lingkungan yang sedang hangat terjadi khususnya di Indonesia. Ada 9 materi yang dibawa dalam short Course tersebut yaitu:

  1. Kepemimpinan yang sensitive gender
  2. Etika lingkungan
  3. Politik ekologi
  4. Konsep keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam
  5. Gerakan kerelawanan untuk perubahan social
  6. Kebijakan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam
  7. Kemiskinan struktural
  8. Stereotype dan bias implisit

Dari semua materi yang diangkat dalam short course ini merupakan hal penting yang seharusnya kita sebagai agen perubahan ketahui. Kenapa? Karena isu-isu tersebut sebetulnya jelas nyata ada dalam keseharian yang tidak kita sadari. Pada saat terpilih menjadi salah satu kandidat dalam mengikuti short course ini sempat terbesit dipikiran bahwa materi yang dibawa cukup serius dan berat untuk kapasitas saya pribadi.

Namun ternyata RMI mampu menggunakan metode-motede dalam penyampaian disetiap materi dengan cara yang sederhana, mudah, dan tentu menyenangkan. Ini mengapa menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Karena meskipun dengan berbeda latar belakang bagi peserta yang mengikuti short course ini, namun tetap mampu menyerap dan memahami materi yang disampaikan dengan baik.

Dalam setiap pertengahan penyampaian materi selalu dihadirkan ice breaking yang bertujuan untuk mengurangi rasa bosan terhadap peserta. Bahkan dibagian perkenalanpun RMI mempunyai cara out of the box yang justru bisa memaksimalkan peserta dalam memperkenalkan diri dengan caranya masing-masing. Ini juga yang bisa diamplikasikan kembali tentang bagaimana dalam penyampaian materi yang cukup sulit disampaikan namun dengan metode yang mudah dan sederhana ini yang bisa menjadi acuan bahwa tidak semua itu sulit untuk dipelajari.

Untuk itu sebagai saran semoga RMI tetap terus mengadakan acara yang mengedukasi dengan metode yang unik khususnya terkait peran anak muda didalamnya.