Perjalananku di Tanah Kasepuhan

Ketika mendengar istilah Masyarakat Adat, saya, sebagai orang kota, langsung terbayang jauh dan kurang familiar. Ya, Saya lahir dan tumbuh di perkotaan. Saat ini, saya adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Indonesia dan tergabung di dalam sebuah gerakan pemuda bernama Relawan 4 Life. Relawan 4 Life sendiri adalah organisasi pemuda yang berada di bawah naungan dari sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada isu-isu masyarakat adat yaitu RMI. Salah satu kegemaran saya adalah mengunjungi tempat baru.

Ingatan terawal saya mengenai masyarakat adat adalah ketika di bangku SMA pada saat pelajaran geografi. Saat itu saya membaca suatu kotak ‘Did you know’ di buku teks geografi yang menampilkan foto Suku Anak Dalam di Jambi. Cukup mengejutkan bagi Saya pada saat itu karena saya berpikir bahwa di zaman ini sudah hampir tidak mungkin menemukan komunitas adat yang masih ada dan menjunjung nilai-nilai adatnya secara penuh. Pandangan saya mengenai keberadaan masyarakat adat pun kemudian berubah drastis setelah mengetahui bahwa ternyata masih banyak masyarakat adat yang masih bertahan dan eksis hingga saat ini dan keberadaan mereka pun letaknya tidak se-pelosok yang saya bayangkan. Dengan lokasi yang masih bisa dijangkau dengan kendaraan membuat saya berkeinginan untuk mengunjungi salah satunya jika diberikan kesempatan. Setelah mempelajari beberapa budaya salah satu masyarakat adat tersebut, baik dari buku, cerita lisan, maupun webinar, dan setelah menunggu waktu yang tak kunjung datang, akhirnya saya pun berkesempatan untuk mengunjungi salah satu Masyarakat Adat yang terletak di Lebak, Banten bersama dengan RMI. Masyarakat Adat tersebut dikenal dengan nama Kasepuhan Pasir Eurih.

Leuit adalah lumbung padi yang biasa digunakan oleh Masyarakat Adat Kasepuhan.

Perjalanan dari Kota Bogor memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam dan rute perjalanan yang menurut saya menyenangkan dan indah. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang disuguhkan sangat menyegarkan mata, seperti deretan pohon-pohon tinggi yang rimbun, hamparan sawah yang berundak-undak, jalan yang berliku-liku, deretan pegunungan yang terlihat berlapis-lapis, daun-daun paku yang menjuntai hingga ke sisi jalan. Ketika mendekati tujuan, saya merasakan suasana hutan tropis yang sangat kentara, daun-daun dan pohon paku yang mulai lebih lebat, pohon-pohon hijau yang sangat rapat, batu-batuan besar yang ditumbuhi lumut, yang menurut saya merupakan sisa-sisa dari letusan gunung api di masa lampau. Jalan yang berbatu juga menambah sensasi dari wilayah hutan tropis. Selama perjalanan, saya memperhatikan bahwa di beberapa tempat terdapat daun kering yang mirip dengan untaian daun kelapa yang dikaitkan dengan tiang, ada yang memiliki baling-baling kayu, ada yang tidak. Saya mendapat informasi bahwa itu merupakan Kolecer, sebuah hiasan baling-baling kayu yang menjadi kepuasan sendiri bagi orang yang membuatnya, dan harganya juga mahal. Selain itu kami juga melihat dua ekor kera di sisi jalan. Sambil bernostalgia, saya pun diceritakan bahwa dahulu, ketika menuju ke sekolah, harus melalui jalan ini dan selalu membawa ranting supaya tidak dikejar kera. Kami pun sempat berhenti di sebuah tempat dimana adanya pohon-pohon berbatang ramping dan terlihat tersusun rapi serta tinggi dan tidak memiliki daun yang lebat. Saya pun diberitahu bahwa area tersebut merupakan hutan adat. Hal tersebut kemudian terkonfirmasi ketika saya membaca papan kayu bertuliskan “Pesona Maranti, Cepak Situ, Hutan adat kasepuhan karang Desa Jagaraksa Kec. Muncang Kab. Lebak BANTEN” dan “Leuweung Adat!”. Tempat tersebut sangat indah karena pohon-pohonnya terlihat sangat rapi dan sejajar, di sisi kirinya juga terdapat hamparan sawah berundak.

Cepak Situ Kasepuhan Karang, Lebak, Banten.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami sampai pada sebuah gapura yang bertuliskan “Kasepuhan Pasir Eurih, Abah Aden S”. Kami pun masuk ke sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang terletak persis di depan kediaman Kasepuhan. Seperti masyarakat pada umumnya, ketika bertamu biasanya disuguhkan makanan ringan dan minuman kopi, kali ini ada beberapa gelas kaca bening yang diletakkan di terbalik di atas sebuah nampan plastik, dua piring yang berisi donat dan satu makanan lagi yang tidak saya ketahui namanya, teko yang berisi air, gula pasir, dan sebuah toples yang berisi bungkusan persegi kecil yang saya kira adalah snack. Satu hal yang kurang, kopinya belum disajikan. Ternyata bungkusan kecil itu adalah kopi! Sangat unik! Ini pertama kalinya saya menemukan kopi yang dibungkus dengan kemasan berbeda dari biasanya. Bungkus kopi tersebut bertuliskan Kupu-Kupu, berwarna kuning pucat, dan kira-kira sebesar kotak korek api kayu.

Setelah duduk sebentar dan istirahat, saya melihat keluar dan di sebuah saung besar di sebelah kiri Imah Gede, yaitu kediaman dari Kasepuhan itu sendiri, sedang ada kegiatan yang diikuti orang-orang yang cukup banyak. Kemudian saya mendekati saung tersebut dan duduk di sebuah saung baca yang ada di sebelahnya untuk menonton kegiatan tersebut. Saat itu, sedang diputar video beberapa orang yang sedang bermain musik, seperti kolintang, dan ada beberapa orang yang sedang menari mengikuti alunan musik. Setiap bergantinya adegan, riuh penonton di dalam saung terdengar hingga ke luar. Saya menonton hingga acara selesai. Ketika selesai, salah satu dari fasilitator tiba-tiba memperkenalkan saya kepada orang-orang yang berkumpul di dalam saung. Kaget dan gugup karena saya tidak menduga hal tersebut. Tetapi kemudian saya tersenyum, berdiri, kemudian berjalan ke arah saung. Setelah beberapa saat, Saya duduk kembali di saung baca dan dihampiri oleh salah satu fasilitator dari RMI, yaitu Koh Indra, yang kemudian mengajak untuk berkeliling untuk mengenal lebih lanjut mengenai Kasepuhan Pasir Eurih.

Kegiatan di Kasepuhan Pasir Eurih

Tempat pertama yang kami datangi adalah Imah Gede. Beruntung, saat itu Kami melihat Abah Aden, yaitu ketua adat dari Kasepuhan Pasir Eurih, sedang memegang segelas kopi dan berjalan ke arah salah satu saung besar yang terdapat di dalam wilayah Imah Gede. Kami pun menghampiri Abah Aden dan mengobrol dengan Bahasa Sunda. Saya yang saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Sunda dan hanya memperhatikan ekspresi wajah serta gestur tubuh akhirnya memahami bahwa kami dipersilahkan untuk mengikuti Beliau ke dalam Saung. Di dalam kami mengobrol beberapa hal menggunakan Bahasa Sunda. Sesekali Abah Aden bercerita menggunakan Bahasa Indonesia sehingga saya bisa memahami apa yang sedang dibicarakan. Beberapa hal yang saya tangkap adalah bahwa terdapat beberapa Kasepuhan yang terdapat di sekitar wilayah Pasir Eurih seperti Kasepuhan Karang dan Kasepuhan Cirompang. Beliau juga bercerita mengenai hukum adat. Hukum adat yang ada di Kasepuhan Pasir Eurih sendiri telah lama ada jauh sebelum pemerintah membuat peraturan-peraturan yang kemudian ditetapkan sebagai hukum, seperti tidak boleh mabuk-mabukan dan tidak bermain perempuan. Abah Aden juga bercerita tentang adanya sanksi bagi yang melanggar hukum adat tersebut. Kemudian obrolan sampai ke topik masak-memasak. Di pertengah pembicaraan, Kami diajak untuk masuk ke dalam dapur yang ada di Imah Gede.

Ketika masuk, saya melihat ada Emak, panggilan untuk perempuan tua di Kasepuhan Pasir Eurih, dengan satu tangan mengipas dengan kipas bambu dan satu tangan lagi mengaduk isi dari sebuah wadah kayu yang cukup besar. Saya penasaran dan menghampiri Emak. Saya mencoba untuk menyusun pertanyaan terlebih dahulu dalam Bahasa Indonesia supaya pertanyaan yang saya tanyakan terdengar mudah dan tidak terlalu banyak suku katanya. Pertanyaan saya pun akhirnya terjawab. Emak sedang menyangu atau ngakeul, mendinginkan nasi di dalam wadah kayu tersebut. Nasi yang disangu juga memiliki istilah tersendiri yaitu beras huma, padi ladang milik Kasepuhan. Hal tersebut unik dan saya memperhatikan cukup lama hingga akhirnya Abah Aden memanggil Emak, saya tidak paham apa yang dibicarakan tetapi tak lama kemudian Emak mengambil piring dan menyendokkan sesendok nasi dan menaburkan sejumput garam di atasnya. Kemudian piring tersebut diberikan kepada saya untuk dicicip. Saya menunggu untuk diberi sendok tetapi setelah beberapa saat sendok pun tak kunjung datang dan akhirnya saya menggunakan tangan. Suapan pertama, Nasi terasa beda dari sisi tekstur. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, nasi dari pare gede memiliki tekstur yang cukup lengket dan padat. Ukurannya juga terbilang sedikit lebih besar dari beras putih biasanya. Warnanya dominan putih dan terdapat garis-garis merah di beberapa sisi. Dari rasa, menurut saya sedikit lebih manis dibandingkan dengan beras putih yang biasa saya makan. Sambil menyantap nasi tersebut, Abah Aden bercerita mengenai pare gede. Beliau mengatakan bahwa hingga saat ini, terdapat lima Leuit, yaitu lumbung tempat menyimpan padi, yang masing-masing terdapat sekitar 2.000 ikat pare gede, di mana satu ikatnya memiliki berat sekitar 7,5 kg. Pare gede sendiri bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Menurut informasi dari Abah Aden, pare gede tertua yang terdapat di dalam Leuit yaitu berusia 20 tahun. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, dalam waktu 20 tahun, beras tersebut bisa rusak dan menjadi bubuk, namun tidak dengan pare gede. Setelah mengetahui bahwa usia tertua dari pare gede yang terdapat di Leuit adalah 20 tahun, maka kemudian kami bertanya mengenai usia pare gede yang sedang saya cicipi. Ternyata, berusia delapan tahun! Saya cukup kaget dengan informasi tersebut, karena awalnya saya berpikir bahwa beras memiliki expired date seperti makanan pada umumnya, tetapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada pare gede. Setelah selesai, kami melanjutkan pembicaraan sebentar kemudian berpamitan.

Pare gede yang sudah dimasak.

Kami pun kembali ke rumah yang saya datangi ketika sampai. Tak lama setelah duduk, saya menuangkan segelas air ke dalam gelas yang telah disuguhkan di awal dan diajak untuk berkeliling kembali menggunakan motor. Dengan jalan yang tidak rata, saya takut tergelincir tapi syukurnya tidak. Kami melewati beberapa tempat dengan bangunan yang cukup banyak di sisi jalan, seperti warung, puskesmas, kantor desa, dan pasar malam. Kami pun berjalan terus hingga akhirnya sampai di sebuah hamparan sawah berundak yang sangat luas dengan latar pegunungan. Motor kemudian diparkirkan di depan sebuah bangunan yang merupakan tempat penyimpanan kayu. saya, yang sangat tidak sabar untuk turun, kemudian turun dan mencoba mencari tempat yang tepat untuk mengabadikan momen tersebut. Awalnya saya kecewa karena cukup sulit untuk berjalan ke pematang sawah. Tetapi, saya melihat jalan kecil yang tertutup rumput liar, dan langsung berjalan melalui rute tersebut. Akhirnya, saya sampai di tengah-tengah hamparan sawah tersebut. Beberapa padi terlihat keemasan karena terkena pantulan cahaya matahari sore dari arah barat. Setelah beberapa saat, kami pun melanjutkan perjalanan melewati pasar malam yang kami lewati ketika berangkat. Turunan dan tanjakan yang curam serta berbatu membuat saya merasakan sensasi seperti sedang melakukan offroad motor trail.

Saya pun heran ketika rute yang berbeda berakhir di tempat awal kami berangkat. Kami pun turun dan kemudian berjalan ke saung besar. Disana, terdapat beberapa orang lainnya dan semua mengobrol serta melakukan evaluasi kegiatan. Di tengah perbincangan, datang seseorang, yang tidak saya kenal, ke dalam saung dan sepertinya sudah sangat akrab dengan orang-orang yang lain. Beliau baru kembali dari gunung, membawa golok di pinggangnya dan sepertinya berurusan dengan kambing karena saya mendengar kata kambing dalam pembicaraannya. Tak lama, saya memperhatikan ada satu orang yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah barang kecil yang dibungkus plastik, dan diberikan kepada orang yang baru datang tadi. Setelah dibuka, bungkus plastik itu merupakan pipa cerutu. Saya memperhatikan ekspresi ketika orang tersebut membuka dan mencoba pipa cerutu tersebut. Saya langsung terpikir Sherlock Holmes, karena pipa cerutu identik dengan detektif fiktif karangan Sir Arthur Conan Doyle. Terlihat ekspresi yang sangat senang dari senyum dan raut wajahnya. Di sini saya belajar bahwa hadiah yang diberikan kepada seseorang mungkin tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi hal tersebut mungkin sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Hingga saat ini saya masih terbayang ekspresi ketika Ia memanggil temannya untuk menunjukkan apa yang baru saja diterimanya. Hal kecil, tetapi indah.

Ketika langit mulai gelap, saya menunggu sinar matahari sore menjelang terbenam, tetapi terhalang awan dan sepertinya tidak akan tampak. Kami pun berkemas untuk kembali ke rumah. Sempat turun hujan ringan sebelum kami berangkat pulang tetapi hanya sebentar. Sekitar pukul 6.30 sore, mobil berangkat. Di perjalanan pulang, kami bercerita banyak, seperti pengalaman selama di Kasepuhan, taman nasional, Hutan Adat, trip ke luar negeri yang hanya mengandalkan rute Google Maps dan berakhir mengitari gunung, harga tiket pesawat domestik yang lebih mahal dibandingkan dengan mancanegara, sebuah kelompok jalan dadakan, wisata kuliner di Jogja, pesepeda yang pingsan di Halimun, pesepeda asal Indonesia yang bersepeda ke Rusia dan berujung menjadi korban perampokan ketika sampai di Rusia, kepunahan hewan endemik Indonesia, dan banyak hal lainnya. Jalanan yang dilalui pun sangat gelap dengan pohon-pohon rimbun yang tinggi, jalanan yang berliku-liku, dan kabut. Ada sebuah fenomena yang menurut saya unik, yaitu uap yang berasal dari aspal. Cukup aneh, karena dugaan saya, uap yang berasal dari aspal hanya terjadi di siang hari dan kecil kemungkinannya untuk terjadi di wilayah hutan karena intensitas cahaya matahari yang mengenai aspal akan terhalang oleh pohon-pohon hijau yang rimbun. Namun nyatanya peristiwa tersebut benar-benar terjadi di depan mata saya.

Setelah sampai di wilayah yang agak ramai, kami pun berhenti untuk makan malam dan setelah selesai kami semua terlelap di dalam mobil hingga mendekati tujuan. Perjalanan tersebut berakhir pada pukul 11 malam. Menurut saya pribadi, perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Selain pengalaman tentang interaksi langsung dengan Abah Aden, suasana hutan tropis yang lembab serta pemandangan yang disughkan sepanjang jalan memberikan saya pengalaman-pengalaman yang sangat berharga.

Penulis: Alfina Khairunnisa

Editor: Siti Marfu’ah

Belajar Mengelola Lingkungan Dari Masyarakat Adat

WhatsApp Image 2020-08-27 at 15.59.32Masyarakat adat memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alamnya. BRWA (2009) menyatakan bahwa hutan yang berada di wilayah masyarakat adat memiliki kualitas yang baik. Melihat hal tersebut, kearifan lokal ini patut dicontoh oleh masyarakat luas, khususnya anak muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pada 25 Juli 2020, Relawan for Life, gerakan anak muda dampingan RMI, melakukan diskusi daring (Disaring) melalui aplikasi zoom, yang berjudul “Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat”. Disaring kali ini bertujuan untuk mengajak anak muda lain agar lebih mengenal kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Febrianti Valeria, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia, yang juga merupakan tim penggerak Relawan for Life. Disaring kali ini menghadirkan  dua orang narasumber yang merupakan masyarakat adat, yaitu Abah Maman Syahroni dari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, Banten dan Pengendum Tampung dari masyarakat adat Orang Rimba, Jambi.  Kegiatan yang diikuti oleh 24 orang, terdiri dari 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan ini membahas tentang bagaimana masyarakat adat hidup harmonis dengan alam?

 

Kasepuhan Pasir Eurih

Abah Maman mengatakan bahwa ada berbagai macam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, dan yang utama adalah rukun tujuh (7 rukun tani), karena kehidupan sehari-hari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih adalah bertani . Rukun tujuh adalah proses ritual adat penanaman padi varietas lokal (pare gede) yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, seperti asup leuweung (proses ritual adat membuka lahan pertanian secara bersama-sama); nibakeun (proses ritual adat meminta izin dan berdo’a untuk memulai menebar benih); ngubaran (proses ritual adat mengobati tanaman padi dari hama), mapag pare beukah (proses ritual adat memohon agar hasil pertanian bagus); beberes/,mipit (proses ritual adat meminta izin untuk memanen padi); ngadiukeun (proses ritual adat memasukan padi ke dalam lumbung padi/leuit); dan Serentaun (upacara adat meminta agar kesuburan dan kemakmuran untuk panen berikutnya).

Ketika menanam padi, masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih melakukannya secara bersama-sama, dan rukun tujuh yang akan mengawal dari setiap proses pertanian yang dilakukan masyarakat. Hal tersebut dilakukan bertujuan agar masyarakat tidak saling mendahului ketika menanam padi,yang mengakibatkan tidak terputusnya siklus hama (hama berkembang biak sepanjang tahun karena ketersediaan makan secara terus menerus).

Kearifan lokal lainnya adalah ronda leuweung (jaga hutan). Menurut Abah Maman, salah satu tugas ronda leuweung adalah memastikan kondisi hutan agar tetap utuh, dan tidak ada penebangan liar. Abah Maman mengatakan orang yang bertugas untuk ronda leuweung biasanya dipilih oleh kepala adat.

Abah Maman menekankan, bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih tidak terlepas dari ketahanan pangan dan penguatan kelompok masyarakat, agar masyarakat tetap menjaga nilai-nilai dari karuhun (leluhur).

Secara hukum masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih sudah diakui oleh pemerintah daerah dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 08 tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Adat kasepuhan.

Abah Maman menceritakan bahwa masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih bukan kelompok masyarakat adat yang tertutup sama sekali terhadap dunia luar. Contohnya adalah bahwa di Pasir Eurih, pendidikan formal diterima dengan baik oleh masyarakat. 

 Orang Rimba

Pengendum menceritakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba adalah kelompok masyarakat adat yang tinggal di hutan Bukit Dua Belas Jambi. Kehidupan masyarakat adat Orang Rimba sehari-hari adalah berburu dan meramu hasil hutan. Meskipun begitu, masyarakat adat Orang Rimba mengambil hasil hutan secukupnya, jika untuk makan hari ini, maka orang rimba hanya mengambil hasil hutan untuk hari ini saja, karena masyarakat adat Orang Rimba khawatir jika sumber daya alam mereka diambil berlebihan makan akan habis.

Pengendum mengatakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba memiliki sistem konservasi tradisional yang saat ini masih dipegang teguh. Seperti adanya lokasi-lokasi yang dianggap sakral, misalnya tanaperana’on (lokasi untuk melahirkan) yang dilindungi secara khusus, agar pohon-pohon yang di sekitar lokasi tidak ditebang, dan lokasi untuk melahirkan setiap anak akan berubah-ubah.

Selain lokasi untuk melahirkan, ada juga lokasi untuk pemakaman. Ketika ada yang meninggal, masyarakat adat Orang Rimba akan membangun satu rumah untuk menyimpan mayatnya, dan rumah tersebut dikelilingi pohon, di mana pohon-pohon tersebut tidak boleh ditebang. Hal ini bertujuan untuk, agar mayat orang yang meninggal terlindungi.

Pengendum juga menjelaskan bahwa masyarakat adat Orang Rimba juga diwajibkan untuk menjaga dua pohon, setiap melahirkan satu orang anak. Hal ini membuat banyak pohon yang tidak ditebang, dan dilindungi. Karena semakin banyak anak yang dilahirkan, maka semakin banyak pohon yang terjaga.

Selain hutan, masyarakat adat Orang Rimba juga menjaga sungai, seperti tidak boleh buang air dekat sungai, atau mandi dengan sabun. Narasumber mengatakan,  selain hal tersebut bisa merusak sungai, masyarakat adat Orang Rimba percaya bahwa sungai merupakan jalan yang dilalui oleh dewa. Jika sungai rusak, maka dewa akan marah.

Narasumber juga menjelaskan, bahwa jauh sebelum adanya pandemi, masyarakat adat Orang Rimba sudah mengenal physical distancing. Masyarakat adat Orang Rimba menyebutnya besesandingon, yaitu ketika ada yang orang sakit, maka orang tersebut harus mengisolasi diri dari keluarga dan masyarakat lainnya. Hal ini untuk mencegah tertularnya penyakit yang diderita.

Begitu banyak kearifan lokal masyarakat adat yang berkontribusi pada lingkungan. Mengutip komentar dari salah satu peserta Disaring, “masyarakat adat adalah jawaban dari berbagai permasalahan kita, kita harusnya juga belajar dari mereka”.

Silakan klik link berikut, untuk melihat Disaring 6.0 – Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat.

Konsep Gender Dan Model Pergaulan Dalam Islam

Sejak pandemik Covid-19, Relawan4Life tetap berkontribusi dalam menciptakan kegiatan positif dan inspiratif , seperti melakukan diskusi secara daring, dengan nama kegiatan Disaring (Diskusi daring). Kegiatan ini dilakukan untuk saling bertukar pikiran terkait isu-isu yangterjadi di lingkungan sosial. Disaring ini sudah dimulai sejak awal April hingga saat ini. Mulai dari topik tentang penyakit manusia dan hewan liar, menjaga kesehatan diri dengan herbal, pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai pangan liar, ada apa dengan Mei 1998?, dan yang masih hangat diperbincangkan baru-baru ini adalah tentang gender dalam prinsip agama Islam.

Pada 21 dan 28 Juni 2020 diadakan Disaring 5. Disaring 5 ini dilakukan dua sesi, sesi pertama dengan topik “Konsep Gender Dalam Agama Islam”, dan sesi kedua dengan topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”.

Saat berbicara tentang konsep kesetaraan gender dalam agama Islam, seringkali pemikiran yang muncul dibenturkan dengan tafsir agama yang sifatnya dianggap patriarkis oleh sebagian orang. Ada anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki (ter-subordinasi), dan hal tersebut diamini oleh sebagian masyarakat (juga oleh perempuan sendiri). Contoh yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, misalnya adalah ada anggapan bahwa laki-laki lebih mampu memimpin dibanding perempuan. Seorang perempuan yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik seringkali dihambat oleh rekan-rekannya sendiri karena anggapan tersebut, disertai dengan dalil-dalil agama yang mendukungnya. Oleh karena itu, Disaring 5 sesi satu diadakan, dengan narasumber yang merupakan Dosen Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia dan Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriah, serta dimoderatori oleh Nadira Siti Nurfajrina, alumni Short Course Batch 4.

Sejatinya, Islam menentang adanya diskriminasi gender. Dipaparkan secara jelas oleh narasumber, Iklilah,  bahwa laki-laki dan perempuan secara kedudukan atau posisinya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Narasumber-pun mendasari pernyataannya terkait kesetaraan gender dengan sejumlah ayat Al-Quran yang diyakini sebagai pewahyuan dari Allah kepada umatNya.

Narasumber juga menjelaskan bahwa islam menentang kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Karena islam mengajarkan bahwa tidak boleh melakukan kekerasan terhadap kaum yang lemah, khususnya perempuan. Seperti dalam rumah tangga, kekerasan dilakukan dengan cara bertahap,  yakni dengan memberi nasihat yang tegas ketika perempuan membangkang atau melakukan kesalahan, kemudian jika perempuan tidak mengindahkan nasihat dari laki-laki maka akan berlanjut ketahap berikut yakni tidak se-ranjang­. Jika hingga ketahap ini si-perempuan masih saja melakukan kesalahan maka akan ditegur dengan cara dipukul. Menurutnya, memukul pada zaman itu adalah hal yang paling terakhir dilakukan. Pemahaman ini tertuang disalah satu ayat yang dipaparkan, sehingga dia menegaskan bahwa bagaimanapun Islam tidak layak untuk menjadi alat legalitas adanya diskriminasi gender.

Hal yang menarik lainnya yang dibahas oleh narasumber adalah poligami. Menurutnya poligami sebenarnya lahir sebagai bentuk perlindungan bagi anak-anak dan Ibu mereka yang ditinggal pergi oleh ayah dan suaminya dimasa perang.  Walau dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi kaum yang lemah tersebut, namun praktek poligami tidaklah dibenarkan dari sudut pandangan manapun. Karena pasti seorang laki-laki tidak mampu untuk berbuat adil kepada kedua perempuannya.

Diskusi dilanjutkan di minggu berikutnya, dengan mengangkat topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”. Dipandu oleh Mufti Labib, alumni Short Course Batch 4, dan narasumber Yulianti Muthmainnah, Ketua Pusat Studi Islam Perempuan dan Pembangunan dan Anggota Majelis Hukum dan HAM PP Aisyiyah. Topik ini berbicara mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, benarkah pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sudah final sebagaimana yang  ditampilkan oleh gerakan Nikah Muda atau Pelatihan Poligami? Atau benarkah tudingan sebagian kalangan umat Islam lainnya bahwa gerakan-gerakan tersebut, yang merujuk pada tafsir abad pertengahan, sarat dengan nuansa patriarkis sehingga bias gender?

Sesi ini lebih ringan pembahasannya dibanding dengan sebelumnya. Karena sudah membahas isu-isu gender yang santer terjadi dikalangan anak muda, khususnya perempuan. Dikatakan oleh narasumber, kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan adalah karena sering terjadi sentuhan. Di mana menurutnya Lebih baik jangan pegang-pegangan ketika belum halal. Kekerasan juga kerap terjadi ketika perempuan Islam yang tidak berjilbab dianggap sebagai sasaran empuk untuk menjadi korbannya. Adapula isu yang membahas tentang cara berpakaian juga menjadi sasaran untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal cara berpakaian seseorang adalah hak-nya.

Hal menarik yang dibahas dalam Disaring 5 sesi kedua ini adalah tentang Indonesia Tanpa Pacaran. Menurut narasumber gerakan tersebut lahir akibat banyaknya terjadi kasus kekerasan pada perempuan, dan menolak adanya pacaran mendukung untuk langsung ketahap pernikahan. Penjelasan narasumber menanggapi gerakan tersebut adalah ketika seseorang menikah dengan niat yang jelas maka bisa dikatakan bahwa nikah itu kewajiban. Tetapi jika hanya ingin menghalalkan agar tidak zinah, maka gerakan ini dinilai tidak sesuai. Karena menikah bukan hanya untuk melakukan hubungan intim, tetapi lebih dari itu.

Diakhir masing-masing diskusi, kedua narasumber memberi pesan untuk tetap menjaga relasi antar perempuan dan laki-laki dengan saling menghargai, menghormati, mendukung dan bukan saling mendominasi.

Kegiatan Disaring 5.1 dan 5.2 ini dipelopori oleh alumni Short Course Batch IV. Walaupun koordinasi dilakukan hanya melalui online, namun para alumni mampu menentukan topik yang menarik untuk didiskusikan, ditambah lagi narasumber yang mumpuni sesuai bidangnya.

Disaring 5 sesi satu bisa dilihat di

Disaring 5 sesi dua bisa dilihat di

Atau baca notulensinya di https://bit.ly/31VNid6

Penulis: Marissa Matulessy

Editor: Siti Marfu’ah

Disaring 4.0 – Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei 98?

WhatsApp Image 2020-06-24 at 10.04.54

Setiap bulan Mei kita selalu diingatkan dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Kini pada tahun 2020, sudah 22 tahun silam tragedi tersebut masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Sekitar 1190 orang meninggal dunia karena dibakar atau terbakar, 27 orang meninggal dunia akibat senjata atau lainnya, dan 168 orang menjadi korban perkosaan dan pelecehan seksual.

Tidak banyak dari generasi muda saat ini yang mengetahui secara persis bagaimana kejadian tersebut terjadi, apa penyebabnya, juga apa dampaknya bagi para korban. Oleh karena itu, relawan 4 life sebagai gerakan anak muda yang fokus di isu sosial dan lingkungan mengadakan diskusi online yang bertajuk disaring yang sudah memasuki rangkaian ke 4. Harapannya bahwa generasi muda dapat tercerahkan mengenai tragedi ini dan juga dapat mengambil pelajaran agar tragedi ini tidak terulang lagi kedepannya.

Diskusi ini diselenggarakan pada tanggal 7 Juni 2020 menggunakan media zoom meeting, menghadirkan Andy Yetriyani sebagai pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan, dimoderatori oleh Alfina Khairunnisa yang merupakan mahasiswi universitas Trisakti dan bagian dari lawan for life. Dihadiri oleh kurang lebih 49 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, juga mengundang Yakini sebagai media literasi online anak muda.

Andy memulai diskusi dengan menceritakan latar belakang terjadinya kerusuhan Mei 1998. Saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi Asia yang menyebabkan berbagai negara mengalami kebangkrutan. Krisis tersebut diperparah dengan berbagai persoalan sosial politik yang memperkeruh suasana sehingga menyebabkan kerusuhan. Diantaranya yaitu penurunan Soeharto yang sudah 32 tahun menjabat sebagai presiden, kejadian penembakan mahasiswa Trisakti, juga isu rasial yang sudah lama ada.

Untuk menggambarkan bagaimana kerusuhan Mei 1998 terjadi, pembicara memutarkan video dokumenter berupa wawancara terhadap para korban juga cuplikan-cuplikan kerusuhan yang terjadi pada saat itu.

Perlu dipahami bahwa tragedi kerusuhan Mei 1998 bukan merupakan kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari berbagai masalah yang menimpa negara ini, dimulai dari adanya krisis ekonomi yang sudah terjadi sejak tahun 1997. Indonesia yang saat itu menerapkan prinsip ekonomi developmentalis yang mengeruk sumber daya alam sebagai sumber utama pendapatan negara tidak menciptakan landasan perekonomian yang kokoh sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dimana harga barang tambang dan bahan mentah turun, perekonomian ambruk secara total. Seketika itu juga inflasi meningkat, pengangguran meningkat, dan angka kemiskinan meningkat, menciptakan penderitaan bagi masyarakat.

Masalah yang kedua yaitu ada pada bidang politik. Pada saat itu Indonesia dipimpin oleh pemerintahan yang otoriter dengan presiden yang sudah berkuasa lebih dari 32 tahun. Mahasiswa menuntut penurunan presiden Soeharto, kemudian terjadi kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Hal tersebut mengakibatkan kerusuhan di mana-mana.

Masalah yang ketiga yaitu adanya sentimen terhadap etnis Tionghoa yang dalam sejarahnya merupakan warga kelas dua di Indonesia. Perlu diketahui bahwa pada masa kolonial penduduk Indonesia dibagi menjadi 3 kategori yaitu penduduk pribumi yang berada di lapisan paling bawah, selanjutnya penduduk timur asing yang kebanyakan merupakan orang Tionghoa dan Arab merupakan kelas kedua, dan penduduk Eropa yang merupakan kelas atas.

Penduduk timur asing pada masa kolonial kebanyakan merupakan pengusaha yang kehidupannya lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk pribumi yang miskin. Anggapan bahwa warga Tionghoa memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik mengakibatkan kecemburuan sosial yang turun temurun. Dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada saat Mei 1998 dijadikan kesempatan bagi para provokator untuk melakukan penjarahan pada etnis Tionghoa. Banyak toko-toko serta rumah yang dibakar dan dirusak oleh para perusuh, pembantaian secara keji, dan perkosaan membuat trauma psikologis yang mendalam.

Pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan menyoroti kekerasan seksual yang terjadi. Hingga saat ini korban kekerasan seksual masih mengalami trauma, mereka enggan untuk diwawancarai karena banyak stigma yang menyertainya sehingga mereka lebih memilih diam walaupun ada pendampingan dari pihak Komnas perempuan. Jika melihat dalam konteks sejarah, aksi pemerkosaan dalam suatu kerusuhan bukanlah hal yang baru di dunia, misalnya saja dalam setiap peperangan dan penjajahan yang terjadi di dunia selalu terjadi yang namanya perkosaan massal, perlakuan keji ini dilakukan sebagai tanda superioritas bagi penjajah.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian, trauma, dan kesedihan mendalam bagi para korban namun kasus kerusuhan Mei 1998 sampai saat ini belum juga diselesaikan oleh pemerintah.

Negara masih mengabaikan hak-hak korban atas kebenaran dan keadilan karena ketidakjelasan proses hukum seusai penyelidikan Komnas HAM. Proses hukum atas Tragedi Trisakti dan  Tragedi Mei, yang mengambang dan berlarut-larut telah merugikan banyak pihak, terutama hak para korban atas keadilan dan asas persamaan di depan hukum yang menjadi inti negara hukum.

Hak korban atas keadilan dan kepastian hukum telah diabaikan oleh negara selama bertahun-tahun. Mereka tidak pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei yang telah merampas hak-hak asasinya, termasuk yang paling mendasar, yaitu hak untuk hidup.

Di akhir diskusi Andy Yetriyani berpesan kepada anak muda agar selalu kritis dan bersama menegakkan keadilan. Hanya sedikit anak muda yang yang mempunyai pemahaman dan juga kepedulian atas kasus ini, mungkin hanya dari kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik. Dengan adanya diskusi diskusi seperti ini akan sangat baik untuk memperkaya pemahaman kita agar kejadian seperti tragedi kerusuhan Mei 1998 ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Disaring “Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei ’98?”, bisa baca notulensi dan lihat video diskusi di google drive Disaring 4.0.

Penulis: Ali Aljihad

Disaring 3.0: Memanfaatkan Strategi Buzzer Dalam Kampanye Isu Lingkungan Dan Sosial

#sawitbaik, merupakan kampanye yang diluncurkan  oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di tengah kian meluasnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatra dan Kalimantan yang terjadi pada saat itu[1]. Masih jelas di ingatan, kampanye tersebut menjadi trending  di media sosial, seperti twitter pada tahun 2019.

Melihat kejadian tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa Kemenkominfo melibatkan para buzzer/influencer melalui laman sawitbaik.id dan akun Twitter @SawitBaikID untuk menciptakan dukungan publik atas produksi sawit di Indonesia. Selain itu, tidak hanya “sawit baik”, ada juga kampanye #dukungomnibuslaw yang sampai saat ini masih ramai di media sosial (Twitter).

Untuk mencari tahu mengenai buzzer/influencer yang sering terlibat dalam pembentukan opini publik di era kampanye digital saat ini, Relawan 4 Life yang difasilitasi oleh RMI mengadakan Diskusi Daring (Disaring) 3.0 dengan tema “Strategi Kampanye Digital Melalui Penggunaan Buzzer/Influencer”.

Sebagai kegiatan yang mendukung gerakan #dirumahaja, diskusi ini dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, pada Jumat, 08 Mei 2020. Disaring diikuti oleh 18 orang, yang terdiri dari 9 orang perempuan, dan 9 orang laki-laki. Acara ini dimoderasi oleh Indra N. Hatasura dari RMI dan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang aktivis  mahasiswa, pekerja profesional dan aktivis sosial-lingkungan.

Diskusi ini menghadiri seorang narasumber (yang namanya tidak ingin disebutkan),sebut saja Ani. Ani memiliki pengalaman bekerja di sebuah agensi buzzer selama lebih dari dua tahun. 

Diskusi dibuka dengan pengertian buzzer dan influencer. Ani menyampaikan bahwa kedua kata ini memiliki beberapa kesamaan diantaranya memberikan informasi. Buzzer sendiri berasal dari kata “buzz” yang artinya mendengung. Jadi buzzer artinya adalah mendengungkan berita supaya ramai diperbincangkan banyak orang secara sistematis. Sedangkan influencer adalah orang yang mempengaruhi pandangan orang lain terhadap suatu permasalahan, biasanya dilakukan orang yang mempunyai banyak follower pada akun media sosialnya.

Menurut narasumber, buzzer sudah ada sejak sekitar tahun 2008. Istilah buzzer semakin populer di tahun 2012 ketika adanya pemilihan gubernur di Jakarta. Buzzer ini dibuat untuk kepentingan partai politik, organisasi masyarakat dan orang perorangan. Dalam perkembangannya buzzer umumnya berkaitan dengan politik, yang kemudian dikaitkan dengan isu-isu sosial dan lingkungan, kemudian dikampanyekan , seperti #SawitBaik.

Setelah dilakukan pembukaan, diskusi mengalir dengan lebih interaktif yaitu peserta dapat bertanya langsung kepada narasumber dan kemudian dijawab. Para peserta terlihat sangat antusias karena kolom chat ramai dengan pertanyaan peserta dan peserta yang ingin bertanya melalui microphone. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah seperti:

Apakah buzzer merupakan individual atau kelompok? Narasumber menjawab bahwa buzzer ini ada yang merupakan individual maupun kelompok. Mereka yang berkelompok biasanya tergabung dalam sebuah agensi. Agensi ini hanya bekerja jika ada proyek atau pekerjaan yang diberikan dari pihak-pihak tertentu. Pegawai dari agensi ini pun tidak tetap. Ada juga buzzer independen, tetapi buzzer independen sangatlah beresiko karena biasanya tidak memiliki pendukung canggih akan hal-hal yang dilakukannya (misalnya keamanan, karena para buzzer ini juga menggunakan VPN premium agar tidak terdeteksi alamat IP address nya saat bekerja).

Apakah buzzer memiliki tujuan jangka panjang seperti sebagai media alternatif atau hanya dalam jangka pendek? buzzer tidak memiliki target jangka panjang melainkan hanya bertujuan untuk mengangkat isu pada waktu tertentu sehingga banyak orang yang aware terhadap suatu isu dan diharapkan isu tersebut bisa sampai kepada pihak yang ditujukan yang menyebabkan terjadinya suatu tindakan.

Apakah buzzer memiliki cara lain untuk menaikan suatu isu? Selain membuat status, buzzer juga biasanya melakukan “giveaway”. Giveaway adalah pembagian hadiah secara cuma-cuma dengan syarat harus memposting dengan menyertakan hashtag tentang isu tersebut. Tak sedikit orang yang mengikuti giveaway ini sehingga hashtag akan semakin populer. Cara lain adalah dengan membuat meme.

Narasumber juga menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti berapa banyak umumnya tim buzzer, pertentangan moral saat mengerjakan pekerjaan, software/mesin/robot yang juga berperan untuk mempertinggi traffic, akun-akun palsu yang digunakan untuk memposting, perang psikologi yang dilakukan buzzer dengan korban, jenis-jenis proyek yang dikerjakan, perang antar tim buzzer, sampai perlawanan penyedia media sosial  (Twiter dalam menghambat para buzzer) dan cara mengakalinya.

Perlu diketahui juga bahwa buzzer tidak hanya bertujuan untuk menaikkan isu yang menguntungkan bagi pihak tertentu, tetapi ada juga buzzer yang independen dalam menaikkan isu (sering juga disamakan dengan influencer). Diskusi ditutup dengan ide-ide dari peserta tentang rencana kampanye digital dengan memanfaatkan cara kerja buzzer. Di akhir diskusi para peserta yang terdiri dari organisasi-organisasi gerakan sosial juga banyak yang merasa perlu juga untuk menggunakan cara kerja buzzer dalam mengkampanyekan isu-isu yang ada, tetapi dengan cara yang berbeda.


[1] Chadijah, R. (2019, 09, 17). Pemerintah Didesak Hentikan Kampanye “Sawit Baik”

https://www.benarnews.org/indonesian/berita/kampanye-sawit-baik-09172019154315.html

Penulis: Siti Marfu’ah

Editor: Indra N. Hatasura

Tulisan ini juga bisa dibaca di link berikut: https://rmibogor.id/2020/05/15/memanfaatkan-buzzer-dalam-strategi-kampanye-isu-lingkungan-dan-sosial/

Disaring 2.0: Keeping Yourself Healthy With Herbal, Here’s A Cheaper Way To Stay Healthy!!

The amount of people who died because of COVID19 that started since December 2019 have made the people’s awareness towards their health increase. A lot of people are often scared when knowing that they have symptoms of cough, runny nose and fever. The only thing that they can do to prevent the spread of COVID19 is by doing physical distancing, avoid any events and that gatherings a lot of people, wear mask and gloves if needed when going outside the house.

People also apply several new lifestyle as a way to protect themselves such as sunbathing, exercising and consuming vitamins. Many people are not aware and realize that buying medicine and vitamins can actually be really expensive.

Through this event called DISARING (Online Discussion) 2.0 Relawan4Life intend to give another perspective on how to keep yourself healthy during this quarantine season with herbs as an alternative than buying a lot of generic medicine. Herbs are considered as something that is easy to find, yet they only have a minimum side effects comparing with the generic medicine or vitamins, and it’s also cheap. Having the knowledge that herbs can be used  for medication can actually help someone achieve a better quality of life.

DISARING 2.0 was held on Wednesday, 29th of April 2020. Moderated by Ali Aljihad, a member of Relawan 4 Life and as the speaker we have a Traditional Chinese Medicine (TCM) practitioner who uses herbs in his medication, that is  Mr. Albertus Prasasti Baroto or also known for his nickname Mr. Tito. As a summary The speaker explain about what’s the definition of health and fitness, the importance of knowing The Body Clock, and how can we improve our healthy by consuming herbs.      

Based on the explanation given by Mr. Tito, he said that based on TCM everyone has the chance to stay healthy and strong without consuming any medicine or vitamins because the human body themselves has already got antibodies. In order to achieve that, people need to starts giving more attention towards their body according to The Body Clock. Here’s an Illustration that sums up The Body Clock based on TCM given by Mr. Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

Other than being the practitioner of TCM, Mr. Tito also studied about Javanese Herb Concoctions. There are a four main herb based on what he learns that can be used to rejuvenate the function of the organ and keeping you healthy. Here are the list of the herbs!

  1. Noni

Noni can be used to improve the digestive system in human body, therefore it’ll effects directly to the metabolism of the body and then regenerate the cells.

  1. Curcuma

You can use curcuma to improve and maintain your liver condition. Other than that Curcuma can grow very quickly and can be found in a lot of places. This medicine also works as an antibiotic.

  1. Gotu Kola

Gotu kola herbs is the herb recommended for your kidney. It is really important to take a good care of your kidney because it’s responsible for your nervous system to control the numbers of blood cells created.

  1. Meniran Leaves (Phyllanthus Urinaria)

Meniran Leaves can increase human’s immunity, it can also be used to resist HIV disease up to 75%. It has a diuretic element that can increases the secretion system on human’s body, for example : urine. Meniran can force your body to sweat out the impurities on human’s body.

After the material has been given, moderator allows several of the audience to ask a question to the speaker. Here are the following questions and answers  that occur during the discussion :

  • Which one is better for frequent consumption, is it herbs or fruits ?

Vitamins and minerals that are inside the fruit is really good to support the nutrition fulfillment. But, if you want to support the condition of the organs it is better to consume herbs. And In order to create a great balance you need to consume both.

  • Which herbs is better suited with hydroponics ?

Plants that are suited with hydroponics are monocots like curcuma, gotu kola, and meniran. You can’t plant Noni with hydroponics because Noni have a branched seed and single rooted

Audience seems very enthusiastic asking questions which can be seen from the number of questions given during question and answers session. Just In case if any of the audience have further questions about it, the speakers are willing to answer it through other social media, such as WhatsApp.

This discussion was held on the Zoom (conference application) therefore all of the audience stays at their own houses. Involved 22 participant consisting of 12 women and 10 men with a various background, such as college student, high schooler, and other practitioner. The event was initiated by Volunteer 4 Life, a youth movement, established and facilitated by the Indonesian Forestry and Environment Agency RMI since 2015.

To see the presentation materials and recording of this event you can see or download it throught this link : https://drive.google.com/drive/folders/11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf?usp=sharing

Author : Nadira Siti Nurfajrina

Editor : Siti Marfu’ah

Disaring 2.0 : Menjaga Kesehatan Diri Dengan Herbal, Sehat Ga Perlu Mahal !!

Banyaknya korban di dunia akibat serangan penyakit menular Covid-19 yang dimulai sejak Desember tahun lalu membuat tingkat kekhawatiran dan kesadaran masyarakat akan kesehatan pribadi meningkat saat ini. Masyarakat cenderung panik jika mereka memiliki gejala batuk, pilek dan demam. Mereka melakukan pencegahan dengan physical distancing, berhenti berkumpul dan mengenakan masker, sarung tangan saat bepergian.

Di sisi lain untuk melindungi dirinya sendiri, masyarakat juga mencoba penerapan pola hidup yang lebih sehat. Berjemur di pagi hari, serta mengkonsumsi obat-obatan dan vitamin, serta dengan berolahraga terbatas. Terkait konsumsi obat-obatan dan vitamin, tidak sedikit pengeluaran baru yang muncul dari kebiasaan ini.

Melalui kegiatan Diskusi Daring (Disaring) 2.0 ini Relawan 4 Life bermaksud untuk memberikan pandangan lain, mengenai cara-cara menjaga kesehatan daya tahan tubuh dengan menggunakan tanaman herbal sebagai alternatif obat-obatan dan vitamin buatan. Tanaman herbal dianggap mudah didapat, memiliki efek samping yang kecil (bila dibanding obat dan vitamin buatan) dan murah harganya. Memiliki pengetahuan akan kesehatan dan pengobatan herbal dapat membantu seseorang untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Disaring 2.0 kali ini dilaksanakan pada Rabu, 29 April 2020, dipandu oleh Ali Aljihad, yang merupakan bagian dari Relawan 4 Life, dan seorang narasumber yang merupakan praktisi Traditional Chinese Medicine (TCM) yang menggunakan tanaman herbal sebagai obat, yaitu Albertus Prasasti Baroto, yang dikenal dengan panggilan Tito. Secara garis besar, narasumber menerangkan mengenai definisi kesehatan, pentingnya mengetahui jam piket organ, serta pengobatan melalui tanaman-tanaman herbal tertentu yang banyak di sekitar kita.

Pada pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa menurut pengobatan tradisional cina pada dasarnya semua orang bisa sehat tanpa menggunakan obat-obatan ataupun vitamin, karena tubuh manusia sudah memiliki antibodi. Selain itu, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan dari dalam tubuh manusia itu sendiri, yang secara biologis kerap dikenal dengan sebutan “jam piket organ”. Berikut adalah jam piket organ menurut Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

 

Selain praktisi pengobatan tradisional cina,Tito juga mendalami ilmu meramu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat. Terdapat empat inti tanaman herbal yang dapat mengembalikan fungsi tubuh dan menjaga tubuh tetap sehat, yaitu :

  1.       Mengkudu

Mengkudu dapat memperbaiki sistem pencernaan tubuh manusia, sehingga dapat berdampak secara langsung kepada metabolisme tubuh dan juga regenerasi sel dalam tubuh.

  1.       Temulawak

Temulawak dapat digunakan untuk menjaga kesehatan liver. Terlebih tanaman Temulawak merupakan salah satu tanaman yang tumbuhnya cepat dan mudah untuk ditemukan. Tanaman ini juga berguna sebagai antibiotik loh!

  1.       Pegagan

Pegagan merupakan tanaman yang memiliki manfaat untuk ginjal. Hal ini sangat penting karena ginjal bertanggung jawab pada sistem saraf  guna mengatur pembentukan sel-sel darah.

  1.       Meniran

Meniran mampu meningkatkan imunitas seseorang, bahkan mampu menahan penyakit HIV pada angka 70 – 75%. Memiliki unsur diuretic yang dapat menambah kecepatan sistem sekresi, salah satunya adalah pembentukan urin. Meniran dapat memaksa tubuh untuk mengeluarkan keringat sebagai media untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dalam tubuh.

Setelah materi selesai dipaparkan, moderator memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk bertanya. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan, beserta jawabannya adalah sebagai berikut:

  • Antara herbal dan buah-buahan lebih bagus mana untuk dikonsumsi? Karena ada yang memiliki manfaat yang sama

Narasumber menjawab bahwa  bahwa unsur-unsur vitamin dan mineral dalam buah-buahan sangat bagus dan menunjang unsur sehat. Sedangkan untuk menunjang organ tubuh lebih baik mengkonsumsi herbal. Untuk menjaga kesehatan tentu perlu dikombinasikan keduanya.

  • Tanaman obat apa yang bagus di tanam dengan media hidroponik?

Narasumber menjawab bahwa tanaman yang bisa tumbuh di media hidroponik adalah monokotil atau berbiji tunggal seperti temulawak, pegagan, meniran. Mengkudu tidak bisa, karena mengkudu memiliki biji yang bercabang dan berakar tunggal.

Pertanyaan-pertanyaan lain juga dijawab oleh narasumber sesuai dengan keahliannya. Terlihat bahwa peserta cukup antusias dalam membahas materi dilihat dari jumlah pertanyaan yang muncul pada sesi tanya jawab.. Untuk menebus keingintahuan peserta,narasumber memberikan penjelasan bahwa yang bersangkutan bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab pada diskusi ini lewat media lain, seperti WhatsApp.

Diskusi ini dilakukan di rumah masing, menggunakan aplikasi Zoom. Kegiatan yang diinisiasi oleh Relawan 4 Life ini, diikuti oleh 22 orang, yang terdiri dari 12 orang perempuan dan 10 orang laki-laki, dengan latar belakang yang berbeda, seperti mahasiswa dan pelajar sekolah menengah. Relawan 4 Life merupakan sebuah gerakan anak muda yang didirikan dan difasilitasi oleh RMI sejak tahun 2015.

Untuk mengetahui materi dan rekaman dari kegiatan Disaring 2.0, pembaca dapat mendownload dari llink berikut ini:

https://drive.google.com/open?id=11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

Editor: Siti Marfu’ah

Disaring 1.0: Penyakit Manusia Dan Hewan Liar, Berhubungankah?

Istilah Covid 19 (Corona Virus Disease 19)  begitu populer sejak akhir 2019 dan awal tahun 2020. Istilah ini adalah sebutan bagi penyakit yang disebabkan oleh virus dan sudah melumpuhkan segi-segi kehidupan manusia. Virus ini melumpuhkan sektor ekonomi, sosial dan berdampak terhadap lingkungan. Awalnya Covid 19 terdeteksi di kota Wuhan, Cina dan diduga berasal dari konsumsi hewan liar (kelelawar) oleh manusia. Walaupun belum ada bukti-bukti yang kuat, namun penyebaran penyakit dari hewan liar ke manusia memang sering terjadi. Untuk melihat hubungan itu Relawan 4 Life melakukan Diskusi Daring (Disaring) dengan tema “Penyakit Manusia dan Hewan Liar, Berhubungankah?”

Kegiatan ini dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, pada Sabtu, 11 April 2020 dalam rangka mendukung gerakan #dirumahaja. Disaring diikuti oleh 34 orang, yang terdiri dari 19 orang perempuan, dan 15 orang laki-laki. Peserta berasal dari latar belakang aktivis  mahasiswa, pemerhati pendidikan, pekerja profesional dan aktivis sosial-lingkungan.

Acara ini dimoderasi oleh Siti Marfu’ah (Sifu) dari Relawan 4 Life dan didukung oleh teman-teman Relawan 4 Life pada sistem pendukungnya (Meilinda Amin, Sari Ramadhanti, Ali Alijihad, Alfina Khairunnisa).

Narasumber utama pada acara ini  adalah drh. Pebi Purwo Suseno dan didukung oleh beberapa orang narasumber tambahan. Narasumber utama saat ini aktif sebagai Focal Point Nasional Unit Komunikasi Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), Contact Point Grup Komunikasi ASEAN untuk Perternakan, dan anggota ad hoc kelompok OIE terkait rabies. Sebagai narasumber tambahan adalah drh. Andri Jatikusumah, drh. Elly Sawitri Siregar,  drh. Ahmad Gozali dari FAO – Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) yang mengikuti diskusi dan menambahkan informasi-informasi penting lainnya.

Materi Apa Saja yang Disampaikan?

Pada awal sesi, narasumber memperlihatkan sebuah infografis perbandingan terkait pandemi-pandemi yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Infografis tersebut menunjukkan bahwa telah banyak terjadi penularan virus-virus yang mematikan sejak dahulu hingga saat ini, seperti SARS, MERS, hingga Black Death yang sangat mematikan dengan korban lebih dari 200 juta orang (menurut catatan wikipedia, Black Death membunuh 2 dari 3 orang di Eropa pada abad 14).

Narasumber juga menjeaskan tentang Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB). Terdapat beberapa kategori dalam pengelompokkan PIB, yakni:

  1.   Penyakit infeksi yang sudah dikenal tapi menyebar ke area baru atau populasi baru.
  2.   Infeksi baru yang sebelumnya tidak ada kemudian menginfeksi populasi.
  3.   Penyakit infeksi lama yang memiliki insidensi yang sangat rendah/tidak ada namun muncul kembali.
  4.   Penyakit infeksi yang biasa ditemukan di suatu spesies tertentu namun ditemukan pada spesies baru.

Narasumber menerangkan pada awalnya PIB hanya menular di dalam satu lingkaran, seperti hanya menular antar manusia, atau antar hewan domestik, maupun antar hewan liar. Namun beberapa faktor seperti teknologi dan industri, gangguan manusia, kontak antara hewan-hewan liar, manipulasi ekologi menyebabkan PIB menyebar menjadi antara manusia dengan hewan domestik, maupun sebaliknya, hewan domestik dengan hewan liar dan sebaliknya, serta manusia dengan hewan liar maupun sebaliknya. Penyebaran-penyebaran tersebut menjadi semakin masif karena didukung dengan adanya kemudahan dalam melakukan perjalanan dan pertumbuhan populasi dunia yang sangat pesat.

Paparan selanjutnya adalah mengenai zoonosis. Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang dapat menular secara alami dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Hingga saat ini diketahui bahwa 60% dari penyakit atau infeksi yang diderita manusia bersifat zoonosis.

Hal-hal yang perlu diketahui tentang zoonosis sendiri adalah variabel-variabel atau faktor-faktor pemicu munculnya zoonosis dari satwa liar, seperti faktor densitas populasi manusia dan densitas spesies hewan. Menurut narasumber, proporsi virus pada satwa liar yang dapat ditularkan ke manusia, tertinggi ditemukan pada hewan mamalia bersayap (chiroptera), primata, dan hewan pengerat (rodentia).

Diskusi berlanjut cukup seru karena sangat banyak pertanyaan dari peserta, yang sebagian besar merupakan anak muda, yang ingin tahu lebih dalam mengenai hubungan antara penyakit manusia dengan hewan liar, serta kerusakan lingkungan yang terjadi. Karena waktu yang terbatas, tidak semua peserta dapat menyampaikan pertanyaannya. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah seperti:

  • Implementasi one health di Indonesia: siapa yang mengimplementasikan, bagaimana, dan sejak kapan diimplementasikan? Narasumber menjawan dengan menjelaskan implementasi one health di Indonesia yang berjalan dengan cukup baik sejak dahulu, dan koordinasi antar sektor yang sudah terjadi. 
  • Kenapa hewan chiroptera, primata dan rodentia itu harus diwaspadai dibandingkan hewan lainnya dalam penyebaran penyakit zoonosis? Narasumber menjawab dengan menginformasikan kesamaan/kedekatan jenis virus yang ada pada hewan-hewan tersebut dengan virus yang menyerang manusia, sehingga kemungkinan penyebaran penyakit zoonosis terjadi cukup tinggi. 
  • Bagaimana cara melakukan pencegahan di masyarakat yang tinggal di hutan, yang kebiasaan hidupnya berburu hewan liar? Narasumber menjawab bahwa apabila terpaksa atau sudah menjadi bagian dari budaya, maka pencegahan zoonosis seperti memasak makanan sampai masak dapat mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit zoonosis.

Diskusi ini diakhiri dengan pemaparan narasumber mengenai cara pencegahan zoonosis, seperti mempererat pengawasan terhadap hewan-hewan yang memiliki resiko tinggi dalam menularkan virus kepada manusia ataupun sebaliknya, melakukan pengawasan dan meminimalisasi resiko terhadap orang-orang yang memiliki kontak langsung dengan hewan-hewan liar, serta meningkatkan keamanan dan pengawasan terhadap hewan-hewan liar.

Untuk info lebih lengkap mengenai Disaring “Penyakit Manusia dan Hewan Liar, Berhubungankah?”, bisa baca materi dan notulensi  di link: https://drive.google.com/open?id=1kdL8ZQDZpf7wvZ2jI0h1W_LiQ8nuO-EB

Tulisan ini juga bisa dibaca di link: https://rmibogor.id/2020/04/16/diskusi-online-generasi-muda-penyakit-manusia-dan-hewan-liar-berhubungankah/

Penulis: Siti Marfu’ah 

Editr: Indra N. Hatasura

 

Short Course Batch IV: Fun Memories

Hai aku Dhanti, salah satu anggota Relawan 4Life yang mengikuti Short Course Batch IV. Aku sangat senang sekali karena diterima dan bisa bergabung mengikuti acara Short Course batch 4 ini, padahal pada saat bikin esai ga yakin bisa lulus seleksi dan dapet beasiswa short couse. Tema esai yang dibuat untuk proses seleksi ini adalah “Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam”

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku tahu kalau RMI bikin acara kegiatan “Short Course”, ini adalah kedua kalinya aku tau, cuma pada saat pertama kali aku tau kegiatan ini dan ingin ikut, sayangnya sangat berbenturan dengan kegiatan ku yang lain, seperti kuliah dan pekerjaan, jadinya aku ga bisa ikut dan sangat berharap di tahun depan ada lagi dan aku bisa ikut, dan yessss… akhirnya terkabulkan. Alhamdulillah di tahun 2020 ini aku bisa ikut Short Course IV seneng banget pas tau lulus seleksi.

Alasan ingin ikut “Short Course” karena ingin menambah wawasan, teman, kepekaan terhadap lingkungan, dan ingin belajar mengenai bagaimana caranya untuk bisa membantu lingkungan sekitar, serta  menjadi salah satu cara ku berterimakasih kepada lingkungan/ alam ini. Apalagi permasalahan sosial dan di lingkungan semakin banyak, jadi aku rasa aku harus banget belajar tentang ini, agar tahu gimana cara yang benar buat menyikapinya. Materi yang akan di bahas di “Short Course batch 4” ini adalah :

  • Mindfulness & Kepemimpinan
  • Jender & inklusi Sosial
  • Etika Lingkungan
  • Ekologi Politik
  • Kebijakan dalam pengelolan SDA
  • Ekonomi & Kearifan Lokal
  • Observasi Sosial

Dari semua materi yang dibahas aku sangat suka dan tertarik untuk dengerin, apalagi pada saat penyampaian materi tersebut pembicara/narasumber menjelaskan nya sangatlah jelas, asik dan suka banget sama pembawaannya, jadi ga ngebosenin dan ga bikin ngantuk, dan memberikan kita para peserta kesempatan untuk berpendapat atau bertanya. Tapi kalau materi yang paling favorit buat aku pribadi adalah Ekologi Politik yang di bawakan oleh Bapak Soeryo Adiwibowo, seru dengerinnya dan semakin terbuka lebar dengan apa yang ada di kehidupan kita.

Selain materi- materi yang disampaikan di “Short Course” ini banyak hal yang ga kalah menarik juga seperti kakak” fasilitator yang asik dan bersahabat dengan para peserta, jadi gak canggung untuk ngobrol ataupun bertanya, dan juga temen-temen peserta yang datang dan bergabung adalah dari berbagai macam wilayah dengan latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda juga jadi sangat seru buat berbagi cerita.

Dhanti sedang mempresentasikan kotak “gue banget” hasil kreasinya

Dan keseruan dari acara ini tuh banyak banget, hal-hal yang dibuat oleh fasilittator dan dikemas sangat menarik agar suasana semakin hangat dan seru seperti kita semua peserta diberikan “AHHAA BOOK!” yaitu buku yang nantinya akan kita bawa disetiap kegiatan kita,  untuk menuliskan apapun yang menarik menurut kita, jadi kita selalu ingat, lalu ada banyak games seru yang dibuat, bahkan saat pertama kali perkenalan dengan sesama peserta pun itu seru banget,  karena memakai 2 metode, yang pertama pakai game “patung pancoran”, yang kedua kita dikasih kotak nasi gitu namanya “kotak gue banget” yang isinya kita ceritain,  kita tuh siapa, sukanya apa, apapun deh terserah mau kasih tau apaan ke temen kita, nanti kita ceritain.

Adalagi games yang seru tapi nyebelin buat aku namanya “angka setan”,  aku kalah dalam sekejap. Lalu games yang mengedukasi juga sebenernya seperti games “kacang minta dong”, dari kacangnya ga ada harga nya, terus ada harganya, dan akhirnya orang yang punya point  kacang terendah cuma boleh makan nasi pakai garem tapi karena teman teman peserta sangat solid jadi semuanya ikut makan nasi pakai garem, luv. Ada juga mancing ikan yang mengedukasi, dan diakhir sangat menyadarkan, karena terrnyata kita ga boleh serakah dll.

Terus banyak juga games yang berkelompok, tapi yang sangat berkesan dan selalu teringat adalah games yang malam itu jadi kayak jerit malam, games outdoor yang pakai clue buat jalanin misinya dan menjawab pertanyaannya. Sangat seru dan membuat ketawa banget karena kelompok ku adalah kelompok terreceh, apapun keadaanya kita saling mengisi tawa biar ga kerasa capek, dan kerasa kekeluargaan gitu, saat itu aku sekelompok sama Mas Adi, Dzikra, Mba Marisa, dan Feby yang juga teman sekamar ku.

Masih banyak banget games seru lainnya. Terus ada lagi yang bikin aku semangat juga untuk ikut setiap kegiatan, yaitu ada aja hal yang baru dan  menarik, seperti nonton film. Nah di sana juga diputar beberapa film, film yang memberikan kita edukasi juga sebenernya tapi ku suka.

Satu lagi, yaitu observasi sosial, observasi atau wawancarai masyarakat lingkungan sekitar tentang beberapa tema, dan aku dapet  “Ekonomi Masyarakat”, aku mewawancarai tentang bagaimana keadaan ekonomi masyarakat dekat penginapan kita.

Peserta Short Course sedang melakukan permainan “Mancing Mania”. Permainan ini digunakan untuk menyampaikan materi “Keberlanjutan Sumber Daya Alam”.

Dari kegiatan tersebut sebenernya hampir semua materi dan tema yang dibuat dan disampaikan termasuk games edukasi itu menurut ku terkait, ngajarin bagaimana kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja dan ngajarin bagaimana menyikapi nya.

Sebenernya masih banyak banget cerita yang belum ku tuangkan tapi gapapa, biar buat yang baca ini penasaran dan mau ikut Short Course selanjutnya.

Pelajaran dan kesanku adalah jadi lebih terbuka lagi, peka sama apa yang ada disekeliling ku, jadi tau gimana caranya berterimakasih kepada lingkungan juga, dan jadi sadar pentingnya lingkungan yang harus dijaga dari segi apapun.  Aku jadi semakin yakin dengan kata-kata nya Roem Topatimasang bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru dan setiap buku adalah ilmu, namun aku menambahkan bahwa setiap hal adalah ilmu. Semoga sehabis kegiatan ini, aku  jadi bisa membantu menyadarkan orang yang ada disekitar ku untuk ikut peduli dengan lingkungan nya dan aku semakin bisa bertanggung jawab akan apa yang aku lakukan terhadap lingkingan.

Terimakasih RMI dan Relawan 4 Life, semoga aku bisa menjadi manusia yang bermanfaat berkat ilmu yang kalian bagi dan curahkan kepada ku. Dan semoga sesederhana apapun yang aku lakukan akan bermanfaat bagi sekitar seperti by Relawan 4Life.

Penulis: Sari Ramadhanti

Same Heart, Same Spirit

Nama saya Nadira Siti Nurfajrina, saya merupakan seorang mahasiswi Arsitektur Semester 6 di Universitas Pembangunan Jaya, tepatnya di Bintaro, Tangerang Selatan. Sejak saya kecil orang tua saya suka sekali membawa saya berpetualang ke tempat wisata alam, seperti ke hutan, pantai, ataupun pegunungan. Hal ini memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan saya, yaitu saya jadi memiliki kecintaan tersendiri akan alam dan selalu berusaha untuk memasukkan nilai-nilai yang saya temukan di alam dalam kehidupan, atau bahkan pada konsep rancangan arsitektural saya.

Menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Unversitas Pembangunan Jaya, mendorong saya untuk lebih memperdalam kembali akan isu-isu yang terjadi di Indonesia, dengan harapan saya dapat membagikannya kepada teman-teman mahasiswa ataupun mahasiswi UPJ yang lain agar mereka juga dapat lebih terbuka dan terdorong untuk melakukan sesuatu guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Indonesia. Sebagai akademisi, saya juga ingin mempelajari lebih lanjut kembali mengenai paham-paham apa saja yang nantinya dapat berguna bagi saya untuk menentukan sikap dikemudian hari.

Melalui Short Course Batch IV ini, saya banyak sekali belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui, terutama mengenai permasalahan yang terjadi di Indonesia secara lebih mendalam. Mulai dari Isu pengelolaan sumber daya alam, ketidaksetaraan gender, ekonomi, dan juga mulai hilangnya kearifan lokal di masing-masing daerah. Kegiatan ini sangat menyenangkan, sejumlah materi pun dikemas dengan cara yang sangat unik sehinggga dapat sangat mudah diterima oleh para peserta Short Course.

(kanan-kiri) Labib, Nadira, dan Febri, sedang memainkan peran menjadi perangkat desa yang sedang melakukan musyawarah ke masyarakat

Saya merasa sangat bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu peserta di  Short Course IV yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI). Acara yang mengangkat tema ‘Relawan Lingkungan Untuk Perubahan Sosial’ ini telah mengajari saya berbagai hal yang sangat berharga dan bermanfaat. Short Course (SC) Batch IV ini dilaksanakan dalam waktu lima hari di GG House Gadog Happy Valley, Bogor. Rangkaian acaranya pun beragam dan dikemas dengan cara yang unik dan menyenangkan.

Dalam kurun waktu lima hari ini, saya dapat bertemu sebanyak kurang lebih sebanyak 18 – 20 orang baru dengan keahlian dan latar belakang yang berbeda-beda pula. Peserta Short Couse IV ini tidak hanya berasal dari mahasiswa, melainkan ada juga yang berasal dari komunitas di desa yang menjadi korban dari tindakan para perusahaan-perusahaan yang melukai alam.

Seiring berjalannya kegiatan, seluruh peserta lama kelamaan menjadi akrab dan dekat satu sama lainnya. Di kegiatan ini saya merasa sangat dekat dengan teman-teman yang lain karena sesi ice breaking yang menyenangkan dan juga sesi materi dan diskusi yang sangat intim.

Nadira sedang mempresentasikan kotak hasil kreasinya

Hari Pertama

Saat hari pertama, kegiatan yang kami lakukan antara lain adalah saling mengenal satu sama lain dengan games dan menerima materi-materi pengantar mengenai isu-isu yang akan dibicarakan selama Short Couse ini. Salah satu kegiatan yang paling berkesan menurut saya adalah saat kami diminta untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan kotak makan kertas yang kemudian dapat diisi, dihias, dan digambar sesuai kepribadian kita. Melalui ‘kotak gue banget’ ini, kami, antar sesama peserta jadi melihat dan belajar untuk mengapresiasi sesama dan belajar dari kisah kehidupan orang lain. Selain itu, kami juga diajarkan suatu metode untuk kembali memfokuskan pikiran kami yang bernama mindfulness. Melalui metode ini, kami diajarkan bagaimana caranya memusatkan pikiran untuk berada pada suatu momen, tanpa memikirkan mengenai masa lalu ataupun masa depan, dengan begini kami bisa lebih fokus mengikuti materi-materi yang diberikan.

 

Hari Ke- Dua

Pada hari ke-2 ini, kami mulai membahas lebih dalam lagi mengenai isu-isu dari topik yang akan dibahas pada Short Course ini. Mulai dari pemahaman apa itu bias, stereotyping dan interseksionalistas. Ternyata pada kegiatan sehari-hari tanpa disadari kita kerap melakukan stereotyping. Hal ini terkadang diperparah pula dengan bias yang selalu kita bawa. Materi kemudian dilanjutkan dengan materi dari Kak Tilla mengenai Etika Lingkungan, dan bagaimana dalam lingkungan sehari-hari manusia kerap berperilaku buruk kepada lingkungan, serta mahluk hidup lainnya kecuali hal tersebut memiliki nilai ekonomi ataupun keuntungan tersendiri. Pemaparan dari Kak Tilla ini menjadi eyeopener tersendiri bagi saya karena materi darinya seakan-akan mengingatkan pada kami that humans should never take nature for granted.

 

Hari Ke- Tiga

Pada hari ke-3, kami diberikan pemahaman mengenai kebijakan-kebijakan yang membahas mengenai pengelolaan sumber daya alam. Hal ini kemudian disusul dengan sebuah kegiatan yang membuat suasana pagi menjadi panas. Kami diminta untuk berdiskusi sekaligus melakukan lomba debat dengan sejumlah peran yang telah ditentukan yaitu, kepala desa, pengusaha pabrik air, warga biasa dan juga LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Melalui games ini, kami sudah diberikan sejumlah skenario sebagai landasan awal. Kemudian, seiring berjalannya waktu melalui perdebatan diskusi ini kami sangat melihat bahwa kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia sangatlah kurang dan cenderung memberatkan MBR dan memberikan seluruh kebebasan kepada orang-orang kaum elit.

 

Hari ke – Empat

Petualangan pada hari ke-4 dimulai, pagi hari yang sejuk di bogor dimulai dengan kegiatan yatra atau walking with silence, setelah melakukan kegiatan ini saya merasa seperti diingatkan bahwa manusia tidak boleh melihat segala sesuatu secara global saja. Ada pula saatnya manusia mulai melihat sesatu secara lebih seksama dan lebih bijaksana. Kami jadi lebih aware akan keberadaannya mahluk hidup lain seperti hewan, dan juga tumbuhan. Setelah terinspirasi oleh indahnya alam sekitar, kami kembali terinspirasi dengan materi yang dibawakan oleh Mbak Kiki yang merupakan founder dari Sekar Kawung. Melalui ceritanya, saya jadi lebih terdorong untuk menggerakkan masyarakat, agar mereka dapat lebih bangga dan memanfaatkan kembali kearifan lokal yang mereka miliki.

Kelompok Nadira mempresentasikan hasil observasi sosial yang sudah dilakukan

 

Hari Ke – Lima

Hari terakhir telah tiba, sebelum kegiatan hari itu diakhiri kami masih mendapatkan materi mengenai pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan lagi-lagi materi dikemas dengan permainan. Setelah permainan berakhir, kami jadi paham bahwa permasalahan sumber daya alam yang selama ini terjadi adalah dikarenakan jumlah sumber daya alam yang tidak ditangkap atau diambil pasti lebih sedikit jika dibandingkan dengan sumber daya alam yang diambil. Jadi, apabila pengambilan SDA tidak diberikan batasan maka lama-kelamaan SDA tersebut akan habis.

 

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan kesaksian dari masing-masing orang untuk berkomitmen dan berkontribusi untuk lingkungan. Berat rasanya harus berpisah dengan teman-teman yang sudah menemani proses pembelajaran mengenai isu-isu di Indonesia ini. Terlebih karena saya tahu bahwa kami memiliki tujuan yang sama bagi kehidupan sosial di lingkungan sekitar dan juga alamnya. Tidak banyak orang yang memiliki kekuatan hati dan semangat yang tulus seperti mereka, semoga kami dapat bertemu lagi di rangkaian acara yang lain.

This event really do opens up my eyes towards the problems that are occurring in Indonesia. Hopefully there will be more youths that can fight for what’s right not for what makes profits high.

 

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina