Pelatihan Kepemimpinan Tingkat Personal-Refleksi Alfina

Pada 17-18 Februari 2021, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Pelatihan Kepemimpinan II di Kasepuhan Pasir Eurih, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Bersama enam anak muda perempuan dan lima anak muda laki-laki yang merupakan anggota dalam Kelompok Pemuda Adat Kasepuhan (Kompak) Pasir Eurih, serta satu orang teman saya dari Relawan 4 Life.

Di tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengikuti kegiatan tersebut.

Mengisi MBTI

Selepas Isya’, kami berkumpul di saung sebagai agenda hari pertama. Kami duduk melingkar dan saling berkenalan satu sama lain. Sesi ini adalah sesi ringan yang diisi dengan sambutan, pembukaan dan perkenalan singkat. Setelah selesai, kami diberikan sedikit penjelasan mengenai sebuah tes kepribadian yang bernama MBTI. MBTI sendiri adalah tes kepribadian yang sudah cukup populer. Hasil dari tes ini merupakan kombinasi antara beberapa kepribadian yang berjumlah 16 tipe. Tidak ada tipe yang lebih unggul dari yang lain karena setiap tipe memiliki keunikan masing-masing. Setelah penjelasan selesai, masing-masing dari kami diberikan dokumen yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab yang bertujuan untuk mengetahui tipe MBTI masing-masing peserta. Setelah selesai mengisi dokumen tersebut, kami diberikan booklet yang berisi penjelasan dari masing-masing tipe MBTI. Setelah selesai pembahasan ringan kami pun dipersilahkan untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat.

Ice Breaking Estafet Kacang Hijau

Pada sesi ini kami semua dibagi ke dalam dua kelompok dengan masing-masing berjumlah tujuh orang. Masing-masing kelompok kemudian berbaris memanjang ke belakang, tiga orang berada di dalam pendopo, satu orang di tangga, dan tiga orang lainnya berada di luar pendopo. Di sisi depan pendopo sudah disediakan sebuah gelas yang terbuat dari kaca dan di dalamnya berisi kacang hijau setinggi kurang lebih satu cm. Peserta paling depan diharuskan mengambil satu butir kacang hijau menggunakan ujung kuku dan dioper ke peserta kedua menggunakan ujung kuku. Hal ini dilakukan sampai peserta paling akhir yang kemudian akan meletakkan kacang hijau tersebut ke dalam gelas kaca yang masih kosong dan menginformasikan peserta lainnya jika sudah berhasil memasukkan kacang hijau ke dalam gelas kaca. Setelah itu, peserta paling depan mengulangi hal yang sama dan setiap kelompok berlomba untuk memasukkan kacang hijau paling banyak. Untuk babak pertama, kedua kelompok diberikan waktu selama tiga menit. Pada babak kedua, waktu yang diberikan tetap tiga menit tetapi dengan sedikit perubahan aturan main.

Di babak kedua, peserta paling depan boleh mengambil kacang hijau secepat mungkin tanpa menunggu aba-aba dari peserta paling belakang. Permainan di babak ini semakin seru karena setiap kelompok diperbolehkan untuk mengganggu kelompok lain. Saya pribadi mengalami kesulitan untuk meraih kacang hijau yang berada di dalam gelas kaca karena jumlah kacang hijau yang terlalu sedikit dan sulit untuk memasukkan jari-jari ke dalam gelas. Tetapi itu menjadi sebuah tantangan yang membuat permainan ini semakin seru. Di akhir permainan, selisih jumlah kacang hijau antara kelompok satu dan kelompok dua hanya dua butir yang diungguli oleh kelompok dua dengan jumlah 26 butir. Permainan ini mengajarkan pentingnya bekerja sama dalam satu tim dan mempertahankan konsentrasi walaupun situasi membuat sulit berkonsentrasi.

Alfina sedang mendiskusikan pemimpin ideal.

Kepribadian menurut Johari Window

Setelah selesai ice breaking, sesi dilanjut dengan membahas mengenai kepribadian berdasarkan Johari Window. Seluruh peserta diajak untuk membuat kelompok yang berisi dua orang dengan orang yang menurut peserta kenal dekat satu sama lain. Setelah itu, kami dibagikan selembar kertas panjang yang berisi daftar kata-kata sifat yang menggambarkan sifat-sifat seseorang. Kami pun diinstruksikan untuk memberikan tanda silang kecil di samping kata sifat yang menggambarkan sifat dari teman satu kelompok kami dan memberikan tanda “P” di samping kata sifat yang menggambarkan sifat dari diri sendiri. Masing-masing berjumlah enam. Kemudian, ketika semua telah selesai, kami diberikan sebuah kertas lagi yang telah dibagi ke dalam empat bagian. Di sebelah kiri atas bertuliskan sifat yang diketahui diri sendiri dan diketahui oleh orang lain, di sisi kiri bawah bertuliskan sifat yang diketahui diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain, di sisi kanan atas bertuliskan sifat yang tidak diketahui diri sendiri tetapi diketahui oleh orang lain dan di sisi kanan bawah bertuliskan sifat yang tidak diketahui diri sendiri dan tidak diketahui oleh orang lain. Cara mengisi kolom-kolom ini adalah berdasarkan kertas panjang yang telah diberikan di awal tadi, dengan cara memasukkan kata-kata sifat bertanda P dan X ke dalam kolom kiri atas, kata-kata sifat bertanda P ke dalam kolom kiri bawah, dan kata-kata sifat bertanda X ke dalam kolom kanan atas.

Tujuan dari Johari Window ini adalah mengetahui lebih jauh kolom kiri bawah dan kanan atas untuk lebih memahami diri sendiri. Menurut saya pribadi, permainan ini sangat menarik dan baru, dan sangat bisa digunakan ketika ingin mengeksplor diri lebih dalam. Hal ini dibantu dengan adanya kolom-kolom yang telah dibagi menjadi beberapa tempat dan adanya daftar-daftar kata sifat yang sangat membantu dalam mengidentifikasi sifat-sifat mana yang paling menggambarkan diri sendiri untuk kemudian ditempatkan pada kolom-kolom yang telah disediakan.

Pembahasan MBTI

Pembahasan MBTI kali ini merupakan penjelasan yang lebih lengkap dibandingkan dengan sesi MBTI di hari sebelumnya. Kalau hari sebelumnya kami hanya membaca booklet mengenai MBTI, kali ini fasilitator menjelaskan makna dari setiap kepribadian yang merupakan kombinasi tipe-tipe MBTI. Ada beberapa peserta yang belum sempat mengisi dokumen MBTI dan dipersilahkan untuk mengisi terlebih dahulu. Setelah selesai, fasilitator kemudian menjelaskan secara detail dan ringan. Dari setiap kepribadian yang ada, terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan hal tersebut saling melengkapi dengan tipe kepribadian yang lain. Fasilitator juga menjelaskan mengenai pekerjaan yang cocok untuk setiap tipe MBTI serta sifat-sifat yang mungkin pernah dialami oleh peserta lain.

Ice Breaking Mancing Lauk dina Balong Batur

Sesi ini merupakan sesi ice breaking yang bernama “Mancing Lauk dina Balong Batur” yang berarti Memancing di Kolam Orang Lain. Saya belum pernah mendengar permainan ini sebelumnya.

Seluruh peserta dibuat menjadi tiga kelompok yang masing-masing berjumlah lima peserta. Masing-masing kelompok diberikan beberapa waktu untuk mendiskusikan nama kelompoknya. Kemudian setiap kelompok berbaris memanjang ke belakang dan saling berhadapan antara satu kelompok dan kelompok lainnya. Setiap peserta sesuai nomor urutannya diberikan kata kunci yang harus disebutkan ketika nama kelompoknya disebut. Ketika fasilitator menyebutkan nama kelompok, peserta paling belakang menjadi yang pertama menyebutkan kata kuncinya dan dilanjutkan hingga peserta urutan kedua. Ketika sampai di peserta urutan pertama, maka peserta tersebut bebas memilih untuk menyebutkan kelompok manapun. Hal tersebut kemudian diulangi hingga waktu habis. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan maksimal tiga kali kesalahan, dimana kesalahan pertama, seluruh anggota kelompok diharuskan memainkan permainan dengan posisi setengah berdiri, pada kesalahan kedua, anggota kelompok diharuskan bermain dengan posisi jongkok dan apabila salah satu peserta membuat kesalahan terakhir maka kelompok tersebut akan kalah.

Permainan ini dipenuhi dengan rasa tegang dan was-was karena permainan ini memerlukan konsentrasi tinggi. Namun, ketika ada kelompok yang salah menyebut kata kunci maka pendopo akan dipenuhi dengan riuh tawa dari seluruh peserta. Permainan ini mengajarkan pentingnya kerjasama dan konsentrasi serta fokus yang cukup tinggi.

Vision Board

Vision Board atau papan visi adalah sebuah materi mengenai pencapaian diri sendiri selama lima tahun ke belakang dan harapan dalam lima tahun yang akan datang. Panitia menyediakan seluruh bahan-bahan yang diperlukan seperti papan infra board, koran, krayon, gunting, lem, sticky notes dan spidol.

Seluruh peserta kemudian dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok satu diarahkan menuju saung dan kelompok dua mengerjakan vision board di pendopo. Setiap peserta diberikan waktu selama 30 menit untuk menyelesaikan papan visi tersebut sekreatif mungkin dengan bahan-bahan yang ada. Setelah selesai, setiap peserta harus mempresentasikan vision board tersebut kepada peserta lainnya dan di pojok kiri dari papan diberikan sebuah kertas kosong yang nantinya akan dituliskan ucapan atau doa oleh peserta lainnya.

Berpikir Positif

Sesi kali ini merupakan sesi berpikir positif. Maksudnya adalah bahwa kami diharuskan mengingat hal-hal positif yang telah dilakukan.

Setiap peserta diberikan sebuah kertas metaplan dan spidol. Fasilitator kemudian menjelaskan bahwa setiap peserta harus menulis hal-hal positif yang pernah dilakukan ke dalam kertas metaplan yang sudah diberikan sebanyak 20 poin. Seluruh peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Setiap peserta diberikan waktu beberapa menit untuk mengingat hal-hal positif tersebut. Setelah selesai maka peserta harus mendiskusikan hal-hal positif tersebut di dalam kelompok masing-masing.

Saya memperhatikan bahwa tidak sedikit peserta mengalami kesulitan dalam menyebutkan hal-hal positif yang pernah dilakukan. Beberapa beranggapan bahwa menuliskan hal-hal baik merupakan perilaku sombong. Ini juga yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika saya diharuskan bercerita di hadapan teman-teman mengenai hal-hal yang pernah dicapai, menurut saya waktu itu, hal tersebut merupakan hal yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang lain. Namun, seiring waktu saya belajar dan paham bahwa menceritakan hal-hal positif bukanlah hal buruk atau menyombongkan diri, melainkan ini bertujuan untuk lebih menghargai diri sendiri. Saya merasakan apa yang dirasakan teman-teman ketika mengalami kesulitan. Tetapi kemudian fasilitator membantu peserta yang mengalami kesulitan untuk terus mencoba mengingat hal-hal positif, sesimpel apapun itu. Sesi ini merupakan salah satu sesi yang cukup berkesan bagi diri saya pribadi.

Alfina bersama anak muda Kasepuhan Pasir Eurih, Endin, sedang memoderatori talkshow.

Talkshow Membangun Ekowisata dengan Pak Agus Wiyono

Talkshow ini membahas mengenai ekowisata. Pak Agus sendiri sudah memiliki pengalaman yang sangat mumpuni dalam bidang ekowisata. Selama talkshow berlangsung, Pak Agus bercerita tentang pengalamannya yang awalnya menjadi pemandu wisata hingga saat ini menjadi interpreter. Banyak hal yang dipelajari dari talkshow ini seperti diantaranya harus memperhatikan apa yang diinginkan oleh wisatawan dan juga memberi batas kepada wisatawan apa yang boleh dilakukan apa yang tidak.

Pak Agus juga berpesan bahwa dengan adanya ekowisata, budaya setempat tidak boleh sampai tergerus dengan datangnya wisatawan. Cerita yang paling saya ingat adalah ketika Beliau berbagi cerita mengenai pengalaman ekowisatanya di NTT, saat itu ketika wisatawan datang pertama kalinya, wisatawan tersebut memberikan permen kepada anak-anak yang tinggal di sekitar tempat wisata. Setelah itu, ketika wisatawan lain datang beberapa waktu setelahnya, anak-anak lain langsung menghampiri wisatawan dan meminta permen. Selain itu, Pak Agus juga menyinggung mengenai pembagian-pembagian kerja warga, misalnya warga ini akan mengurus makanan, warga lain ada yang mengurus transportasi lokal, warga lain ada yang menyewakan barang-barang. Hal-hal seperti itu yang nantinya perlu diperhatikan lagi ketika akan mengembangkan ekowisata.

Robek Kertas

Robek kertas merupakan salah satu materi yang menjelaskan tentang komunikasi dan komando dalam suatu kelompok. Materi ini disajikan dengan aktivitas yang menarik namun memiliki makna yang sangat dalam. Ini kali pertama saya mengetahui dan melakukan kegiatan ini. Jadi, ini merupakan hal baru.

Seluruh peserta duduk melingkar di dalam pendopo menghadap depan. Setiap peserta dibagikan satu lembar kertas hvs. Setelah semuanya dapat, peserta diharuskan untuk menutup mata. Fasilitator kemudian memberikan beberapa perintah untuk melipat kertas hvs tersebut secara general. Seluruh peserta kemudian harus mengikuti komando tersebut tanpa memperoleh informasi lebih lanjut. Pada perintah pertama, seluruh peserta kebingungan mengenai sisi mana yang harus dilipat. Beberapa peserta bertanya kepada fasilitator namun hanya dijawab terserah. Perintah kedua, hanya beberapa peserta yang mengalami kebingungan. Lambat laun, peserta paham bagaimana cara kerja dari aktivitas ini. Hingga perintah akhir pun peserta kemudian mengikuti arahan dari fasilitator tanpa bertanya lebih lanjut. Ketika selesai, fasilitator memperbolehkan seluruh peserta untuk membuka mata. Setiap orang kemudian melihat kertas peserta lain, dan hasilnya semua berbeda! Sungguh menarik. Saya pun cukup kaget ketika melihat seluruh kertas terlihat berbeda, tidak ada yang sama persis. Fasilitator kemudian memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menjelaskan makna dari kegiatan robek kertas ini. Beberapa peserta mencoba untuk menjelaskan melalui perspektif mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya seluruh pendapat peserta disimpulkan menjadi satu, yaitu tanpa sebuah komando yang jelas, suatu organisasi akan sulit dalam menjalankan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuannya.

Stereotip, Bias Implisit, Interseksionalitas

Sesi ini juga salah satu sesi yang paling menarik. Setiap peserta mengambil satu kartu yang telah berisi tulisan. Beberapa diantaranya seperti orang papua, orang cina, gay, kristen, orang desa, orang kota, PSK, anak-anak, janda, dll. Peserta lain kemudian menuliskan hal yang pertama kali muncul dalam benak mereka ketika mendengar kata tersebut. Setiap peserta boleh menuliskan banyak hal dalam sticky notes yang berbeda. Nantinya setiap kertas tersebut ditempel pada peserta sesuai dengan tulisan yang terdapat di kartu. Setelah selesai, peserta harus membacakan kesan apa yang mereka dapakan yang tertera pada kertas-kertas tersebut.

Alfina pada sesi Stereotip.

Jelajah Kasepuhan

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu. Saat itu sedang hujan, tetapi mendekati waktu acara, hujan mereda. Kami semua mempersiapkan baju yang akan digunakan, payung, jas hujan, caping, sendal, dan lain-lain. Sebelum menjelajah, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan semua diberi pertanyaan yang sama sejumlah 10 yang harus dijawab di selembar kertas. Pertanyaan yang diberikan adalah seputar Kasepuhan, baik itu sejarah, budaya, makanan lokal, tanaman-tanaman obat, dsb. Kelompok dengan jawaban benar terbanyak akan mendapat kesempatan untuk menjelajah terlebih dahulu. Satu per satu kelompok pun mulai berangkat. Kelompok saya mendapat giliran terakhir. Setelah mendapat giliran, kami diberikan sebuah pertanyaan dan memberikan jawaban. Untuk mengetahui apakah jawaban tersebut salah atau benar, kami harus mencari kata kunci yang digunakan untuk mengetahui jawaban tersebut. Selanjutnya, fasilitator memberikan petunjuk untuk menemukan kata kunci tersebut. Setelah menerima petunjuk pun kami berangkat.

Petunjuk pertama untuk kelompok kami adalah “Cari dua belas huruf pertama di sebuah tiang di Pertigaan Sigoyot.”. Kami semua berjalan menuju pertigaan tersebut dibawah rintik hujan. Dengan jalan yang dipenuhi genangan dan lumpur di beberapa tempat cukup menghambat untuk sampai ke lokasi. Pertigaan Sigoyot letaknya cukup jauh dari tempat kami memulai penjelajahan tadi. Setelah beberapa waktu, kami pun mendekati lokasi yang menjadi petunjuk. Untuk yakin bahwa kode yang kami temukan adalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan memakan waktu cukup lama karena beberapa pertimbangan.

Setelah yakin kami pun kembali untuk memberikan petunjuk yang telah ditemukan, dan ternyata jawaban yang kami berikan di awal adalah salah. Kami pun diberikan petunjuk baru, yaitu, “Pergi ke Tanjakan Purut, temukan tulisan putih yang berada di bagian bawah baliho.”. Kami pun berangkat ke lokasi tersebut dan lagi-lagi, lokasinya cukup jauh. Tetapi pemandangan kali ini dipenuhi oleh hutan di sisi kiri dan lembah yang terhalang pohon-pohon di sisi kanan. Setelah sampai, kami pun berusaha mencari tulisan berwarna putih. Awalnya kami cukup ragu dengan tulisan putih yang telah kami temukan, tetapi kami tidak melihat tulisan putih berwarna lain yang ada di baliho sehingga kami memutuskan untuk kembali ke pos awal. Setelah membawa kata kunci kedua, jawaban kami kali ini adalah benar. Kami pun diberikan pertanyaan kedua.

Untuk mengetahui apakah jawaban kami benar atau salah kami harus pergi menuju saung pembuatan gula aren. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh dan licin karena trek yang ditempuh adalah tanah dan rumput. Melewati hutan di kiri kanan, akhirnya kami pun sampai di saung pembuatan gula aren. Kami diinstruksikan untuk bertanya mengenai proses pembuatan gula aren dari awal hingga sampai ke tangan konsumen. Saya sempat memvideokan kegiatan selama di saung pembuatan gula aren. Sesampainya di dalam, dijelaskan oleh ibu-ibu yang menjaga saung tersebut proses pengolahan dari penyadapan di pohon aren, kemudian diletakkan di sebuah wadah yang cukup besar, kemudian dipanaskan dan dicetak. Saya sempat mencicipi air rebusan gula aren yang masih bening, orang-orang disana menyebutnya lahang jika airnya sudah dingin, dan wedang jika air niranya masih hangat. Tak hanya itu, pohon aren juga ternyata memiliki banyak manfaat. Buahnya bisa diolah menjadi manisan kolang-kaling atau menjadi kolak. Daunnya bisa digunakan menjadi sapu lidi. Ijuknya bisa dibuat menjadi atap rumah dan sapu ijuk.

 

 

Sharing Pengalaman Relawan4Life di Kasepuhan Pasir Eurih : Seberapa Penting Mengenal Masyarakat

Meilinda, Indah, dan Nuri sedang mengikuti pelatihan kepemimpinan di Kasepuhan Pasir Eurih

Tanggal 27-29 November 2020 lalu, kami dari Relawan4Life berkesempatan belajar di Kasepuhan Pasir Eurih, Lebak, Banten melalui kegiatan Pelatihan Kepemimpinan, yang diselenggarakan oleh RMI. Bersama Indah, Meilinda, dan tim RMI kami menempuh sekitar 5 jam perjalanan dari Bogor melewati Leuwiliang, Muncang sampai akhirnya tiba di Desa Sindanglaya – Sobang di Kabupaten Lebak. Rasa lelah di perjalanan tergantikan dengan pemandangan pegunungan serta sambutan ramah dari warga saat kami sampai di sana. Untuk ukuran anak-anak muda jaman sekarang, yang hobi rebahan sekaligus di dukung tagline #dirumahaja, pemandangan dan udara disini cocok untuk mengurangi stres. Malam tersebut kami melakukan diskusi di Saung Seni yang terbuat dari kayu dan bambu, dan kemudian menginap di rumah warga.

Di Kasepuhan Pasir Eurih kami menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kami ketahui, lewat mendengar cerita serta melalui pengamatan saat berjalan-jalan di sekitar lokasi. Melalui cerita warga, kami jadi tahu tentang leuit, lumbung masyarakat yang digunakan untuk penyimpanan padi. Beberapa leuit di Kasepuhan ini ada yang sudah menyimpan padi lebih dari 20 tahun. Leuit ini berbentuk seperti rumah panggung kecil dengan 4 penyangga. Cara menata padinya pun khas yaitu dengan melingkar ke atas, hal ini ditujukan agar mudah diambil.

Dalam setahun, Kasepuhan ini biasanya hanya menanam padi lokal sekali dimulai dengan mengadakan tandur secara serentak. Ternyata di balik adat ini terdapat manfaat memutus rantai hama loh, sehingga hasil yang didapatkan pun maksimal. Dengan menanam dan panen serentak maka siklus hama akan terputus. Kebetulan kami berkunjung saat warga melakukan tandur (tanam mundur). Sebagian besar yang menanam adalah perempuan. Hal ini sering dikaitkan dengan kepercayaan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan agar hasil panen melimpah.

Selain itu, Kasepuhan ini masih memiliki banyak cerita menarik. Dari budidaya  kopi  sebagai produk lokal, pembuatan gula aren, hutan adat Gunung Bongkok, dan lain sebagainya. Selain itu pemuda adat yang tergabung pada KOMPAK (Komunitas Pemuda Adat Kasepuhan) Pasir. Eurih juga berencana membuka program edu-wisata agar khalayak luas dapat belajar serta berwisata di kasepuhan ini.

Tujuan dari pelatihan kepemimpinan yang kami ikuti ini pun juga untuk menguatkan kembali tujuan pemuda adat dalam proses mengembangkan Kasepuhannya sesuai dengan potensi yang ada. Dari langkah-langkah kecil inilah, ada masa depan untuk Indonesia. Tentunya peran pemuda di sini sangat dibutuhkan untuk tetap bergerak. KOMPAK telah memilih untuk berkontribusi di Kasepuhannya, sekarang giliran kita yang harus memutuskan di mana kita akan berkontribusi untuk Indonesia. Belajar langsung bersama pemuda di Kasepuhan, berbincang dengan warga, merasakan semangatnya, tentu penting. Mempelajari budaya tidak dapat hanya dengan membaca dan mengikuti alur video vlogger.

Kita harus turun langsung merasakan ketidaktahuan, mengosongkan persepsi, dan mencoba lebih banyak mendengarkan. Dengan begitu, perspektif kita akan terbentuk melalui pengalaman kita berkomunikasi, melihat, dan mendengar, merespon dari masyarakat langsung bukan dari perspektif orang lain. Kita hanya perlu memulai dari lingkungan sekitar, jangan-jangan sampai saat ini kita belum benar-benar mengenal lingkungan kita sendiri.

Penulis: Nuri Ikhwana

Cerita Relawan Sepulang Dari Ciwaluh

Ciwaluh merupakan sebuah kampung yang terletak di Desa Watesjaya, Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Kampung Ciwaluh berada di wilayah lembah di kaki Gunung Gede Pangrango. Di sebelah selatan dan utara Kampung Ciwaluh adalah punggungan bukit yang menghampar dari timur ke barat. Di sebelah timur adalah pemandangan barisan bukit-bukit yang berujung di Gunung Gede Pangrango. Di sebelah barat berdiri Gunung Halimun Salak yang gagah. Di kaki bukit sebelah utara terdapat aliran sungai yang cukup lebar dan deras serta terdapat batu-batu sungai yang cukup besar.

Sejarah nama Ciwaluh sendiri adalah, konon katanya dulu terdapat labu atau waluh yang ketika dibuka airnya mengalir sangat deras hingga membentuk aliran sungai yang saat ini merupakan hulu dari Sungai Cisadane.

Lembah di Kampung Ciwaluh mayoritas ditanami padi dan sebagian kecil ditanami tanaman lain seperti buncis, kumis kucing, kapulaga dan lain-lain. Di puncak bukit terdapat barisan pepohonan pinus yang berjajar mengikuti kontur punggung bukit. Di beberapa tempat juga terdapat pohon-pohon kopi yang tingginya bisa mencapai sekitar 15 meter. Karena wilayahnya berada di pegunungan yang cocok untuk bertanam, kebanyakan masyarakat Kampung Ciwaluh memiliki pekerjaan sebagai petani. Masyarakat lain ada yang berprofesi sebagai buruh swasta, dan ada yang bekerja sebagai guru. 

Selain vegetasi, di wilayah Kampung Ciwaluh sendiri bisa ditemukan beberapa hewan-hewan seperti anjing, yang berlalu-lalang di jalan-jalan dan sering dibawa ketika ke hutan, kambing yang sesekali terdengar embikannya, ayam dengan kokokannya yang mengiringi matahari terbit, dan juga bebek-bebek yang berjalan berkelompok untuk mencari makanan.

Kampung Ciwaluh saat ini terkenal dengan potensi wisata alamnya. Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di sana. Mulai dari air terjun, hutan pinus, sungai, hingga pemandangan terasering sawah yang apik. Potensi wisata alam ini dikelola secara bersama oleh sekelompok pemuda yang bermukim di Kampung Ciwaluh. Kelompok ini bernama POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata).

Dibalik indahnya pemandangan dan potensi alamnya, Kampung Ciwaluh memiliki banyak permasalahan yang dihadapi. Seperti adanya perbedaan kepentingan antara petani-petani di wilayah Kampung Ciwaluh dengan polisi hutan dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menurut petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, semua wilayah yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango tidak boleh digarap dengan tujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun, di sisi lain, masyarakat Kampung Ciwaluh yang telah lama menetap jauh sebelum dibentuknya Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, sudah menggarap dan menggantungkan hidupnya pada kekayaan alam yang terdapat di wilayah Kampung Ciwaluh. Tetapi, saat ini permasalahan tersebut sudah dimusyawarahkan bersama dan dengan keputusan bahwa wilayah Kampung Ciwaluh akan mengalami perubahan zonasi menjadi zona tradisional yang berarti masyarakat di sana bisa tetap memanfaatkan lahannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Selain masalah dengan Taman Nasional, masyarakat Kampung Ciwaluh, terutama pengurus ekowisata memiliki masalah lain. Melihat kemajuan yang sangat pesat dan perubahan yang cukup signifikan yang dirasakan oleh Kampung Ciwaluh, banyak kampung sekitar yang kemudian mencoba untuk mengembangkan potensi wisatanya sendiri, tak terkecuali desa tempat Ciwaluh berada. Permasalahannya adalah, kampung wisata Ciwaluh sendiri terletak di ujung jalan sehingga apabila desa-desa lain mulai mengembangkan potensi wisatanya, maka jumlah wisatawan yang akan berkunjung akan beralih ke wisata yang lebih dekat. Dengan adanya hal ini, maka pengurus ekowisata Kampung Ciwaluh memiliki tantangan untuk mencari hal yang bisa membedakan supaya mampu bersaing dengan desa-desa di sekitarnya. 

Permasalahan lain yang timbul dari adanya tantangan ini adalah terbatasnya modal. Dalam pengembangan Ekowisata Ciwaluh, dana yang dikumpulkan merupakan dana kolektif dari warga Kampung Ciwaluh sehingga dalam mengumpulkan modal yang besar membutuhkan waktu yang cukup lama. Mencari investor juga bukan merupakan hal yang mudah. 

Satu masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat di Kampung Ciwaluh adalah masalah lahan. Beberapa waktu lalu, sempat beredar isu bahwa akan dibangun tempat wisata Disneyland terbesar se-Asia Tenggara di wilayah Cigombong yang akan berdampak juga pada Kampung Ciwaluh. 

Dalam diskusi yang diadakan Relawan 4 Life bersama POKDARWIS, ada beberapa kesamaan yang dimiliki dua kelompok pemuda ini, diantaranya yaitu keterlibatan pemuda dan adanya keinginan untuk berkolaborasi. Selain mendiskusikan kesamaan, permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh dua kelompok ini juga dibicarakan dan pemecahan masalah menggunakan pandangan masing-masing. Diskusi kemudian ditutup dengan liwetan dan diskusi santai. 

Penulis: Alfina Khairunnisa

Perjalananku di Tanah Kasepuhan

Ketika mendengar istilah Masyarakat Adat, saya, sebagai orang kota, langsung terbayang jauh dan kurang familiar. Ya, Saya lahir dan tumbuh di perkotaan. Saat ini, saya adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Indonesia dan tergabung di dalam sebuah gerakan pemuda bernama Relawan 4 Life. Relawan 4 Life sendiri adalah organisasi pemuda yang berada di bawah naungan dari sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada isu-isu masyarakat adat yaitu RMI. Salah satu kegemaran saya adalah mengunjungi tempat baru.

Ingatan terawal saya mengenai masyarakat adat adalah ketika di bangku SMA pada saat pelajaran geografi. Saat itu saya membaca suatu kotak ‘Did you know’ di buku teks geografi yang menampilkan foto Suku Anak Dalam di Jambi. Cukup mengejutkan bagi Saya pada saat itu karena saya berpikir bahwa di zaman ini sudah hampir tidak mungkin menemukan komunitas adat yang masih ada dan menjunjung nilai-nilai adatnya secara penuh. Pandangan saya mengenai keberadaan masyarakat adat pun kemudian berubah drastis setelah mengetahui bahwa ternyata masih banyak masyarakat adat yang masih bertahan dan eksis hingga saat ini dan keberadaan mereka pun letaknya tidak se-pelosok yang saya bayangkan. Dengan lokasi yang masih bisa dijangkau dengan kendaraan membuat saya berkeinginan untuk mengunjungi salah satunya jika diberikan kesempatan. Setelah mempelajari beberapa budaya salah satu masyarakat adat tersebut, baik dari buku, cerita lisan, maupun webinar, dan setelah menunggu waktu yang tak kunjung datang, akhirnya saya pun berkesempatan untuk mengunjungi salah satu Masyarakat Adat yang terletak di Lebak, Banten bersama dengan RMI. Masyarakat Adat tersebut dikenal dengan nama Kasepuhan Pasir Eurih.

Leuit adalah lumbung padi yang biasa digunakan oleh Masyarakat Adat Kasepuhan.

Perjalanan dari Kota Bogor memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam dan rute perjalanan yang menurut saya menyenangkan dan indah. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang disuguhkan sangat menyegarkan mata, seperti deretan pohon-pohon tinggi yang rimbun, hamparan sawah yang berundak-undak, jalan yang berliku-liku, deretan pegunungan yang terlihat berlapis-lapis, daun-daun paku yang menjuntai hingga ke sisi jalan. Ketika mendekati tujuan, saya merasakan suasana hutan tropis yang sangat kentara, daun-daun dan pohon paku yang mulai lebih lebat, pohon-pohon hijau yang sangat rapat, batu-batuan besar yang ditumbuhi lumut, yang menurut saya merupakan sisa-sisa dari letusan gunung api di masa lampau. Jalan yang berbatu juga menambah sensasi dari wilayah hutan tropis. Selama perjalanan, saya memperhatikan bahwa di beberapa tempat terdapat daun kering yang mirip dengan untaian daun kelapa yang dikaitkan dengan tiang, ada yang memiliki baling-baling kayu, ada yang tidak. Saya mendapat informasi bahwa itu merupakan Kolecer, sebuah hiasan baling-baling kayu yang menjadi kepuasan sendiri bagi orang yang membuatnya, dan harganya juga mahal. Selain itu kami juga melihat dua ekor kera di sisi jalan. Sambil bernostalgia, saya pun diceritakan bahwa dahulu, ketika menuju ke sekolah, harus melalui jalan ini dan selalu membawa ranting supaya tidak dikejar kera. Kami pun sempat berhenti di sebuah tempat dimana adanya pohon-pohon berbatang ramping dan terlihat tersusun rapi serta tinggi dan tidak memiliki daun yang lebat. Saya pun diberitahu bahwa area tersebut merupakan hutan adat. Hal tersebut kemudian terkonfirmasi ketika saya membaca papan kayu bertuliskan “Pesona Maranti, Cepak Situ, Hutan adat kasepuhan karang Desa Jagaraksa Kec. Muncang Kab. Lebak BANTEN” dan “Leuweung Adat!”. Tempat tersebut sangat indah karena pohon-pohonnya terlihat sangat rapi dan sejajar, di sisi kirinya juga terdapat hamparan sawah berundak.

Cepak Situ Kasepuhan Karang, Lebak, Banten.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami sampai pada sebuah gapura yang bertuliskan “Kasepuhan Pasir Eurih, Abah Aden S”. Kami pun masuk ke sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang terletak persis di depan kediaman Kasepuhan. Seperti masyarakat pada umumnya, ketika bertamu biasanya disuguhkan makanan ringan dan minuman kopi, kali ini ada beberapa gelas kaca bening yang diletakkan di terbalik di atas sebuah nampan plastik, dua piring yang berisi donat dan satu makanan lagi yang tidak saya ketahui namanya, teko yang berisi air, gula pasir, dan sebuah toples yang berisi bungkusan persegi kecil yang saya kira adalah snack. Satu hal yang kurang, kopinya belum disajikan. Ternyata bungkusan kecil itu adalah kopi! Sangat unik! Ini pertama kalinya saya menemukan kopi yang dibungkus dengan kemasan berbeda dari biasanya. Bungkus kopi tersebut bertuliskan Kupu-Kupu, berwarna kuning pucat, dan kira-kira sebesar kotak korek api kayu.

Setelah duduk sebentar dan istirahat, saya melihat keluar dan di sebuah saung besar di sebelah kiri Imah Gede, yaitu kediaman dari Kasepuhan itu sendiri, sedang ada kegiatan yang diikuti orang-orang yang cukup banyak. Kemudian saya mendekati saung tersebut dan duduk di sebuah saung baca yang ada di sebelahnya untuk menonton kegiatan tersebut. Saat itu, sedang diputar video beberapa orang yang sedang bermain musik, seperti kolintang, dan ada beberapa orang yang sedang menari mengikuti alunan musik. Setiap bergantinya adegan, riuh penonton di dalam saung terdengar hingga ke luar. Saya menonton hingga acara selesai. Ketika selesai, salah satu dari fasilitator tiba-tiba memperkenalkan saya kepada orang-orang yang berkumpul di dalam saung. Kaget dan gugup karena saya tidak menduga hal tersebut. Tetapi kemudian saya tersenyum, berdiri, kemudian berjalan ke arah saung. Setelah beberapa saat, Saya duduk kembali di saung baca dan dihampiri oleh salah satu fasilitator dari RMI, yaitu Koh Indra, yang kemudian mengajak untuk berkeliling untuk mengenal lebih lanjut mengenai Kasepuhan Pasir Eurih.

Kegiatan di Kasepuhan Pasir Eurih

Tempat pertama yang kami datangi adalah Imah Gede. Beruntung, saat itu Kami melihat Abah Aden, yaitu ketua adat dari Kasepuhan Pasir Eurih, sedang memegang segelas kopi dan berjalan ke arah salah satu saung besar yang terdapat di dalam wilayah Imah Gede. Kami pun menghampiri Abah Aden dan mengobrol dengan Bahasa Sunda. Saya yang saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Sunda dan hanya memperhatikan ekspresi wajah serta gestur tubuh akhirnya memahami bahwa kami dipersilahkan untuk mengikuti Beliau ke dalam Saung. Di dalam kami mengobrol beberapa hal menggunakan Bahasa Sunda. Sesekali Abah Aden bercerita menggunakan Bahasa Indonesia sehingga saya bisa memahami apa yang sedang dibicarakan. Beberapa hal yang saya tangkap adalah bahwa terdapat beberapa Kasepuhan yang terdapat di sekitar wilayah Pasir Eurih seperti Kasepuhan Karang dan Kasepuhan Cirompang. Beliau juga bercerita mengenai hukum adat. Hukum adat yang ada di Kasepuhan Pasir Eurih sendiri telah lama ada jauh sebelum pemerintah membuat peraturan-peraturan yang kemudian ditetapkan sebagai hukum, seperti tidak boleh mabuk-mabukan dan tidak bermain perempuan. Abah Aden juga bercerita tentang adanya sanksi bagi yang melanggar hukum adat tersebut. Kemudian obrolan sampai ke topik masak-memasak. Di pertengah pembicaraan, Kami diajak untuk masuk ke dalam dapur yang ada di Imah Gede.

Ketika masuk, saya melihat ada Emak, panggilan untuk perempuan tua di Kasepuhan Pasir Eurih, dengan satu tangan mengipas dengan kipas bambu dan satu tangan lagi mengaduk isi dari sebuah wadah kayu yang cukup besar. Saya penasaran dan menghampiri Emak. Saya mencoba untuk menyusun pertanyaan terlebih dahulu dalam Bahasa Indonesia supaya pertanyaan yang saya tanyakan terdengar mudah dan tidak terlalu banyak suku katanya. Pertanyaan saya pun akhirnya terjawab. Emak sedang menyangu atau ngakeul, mendinginkan nasi di dalam wadah kayu tersebut. Nasi yang disangu juga memiliki istilah tersendiri yaitu beras huma, padi ladang milik Kasepuhan. Hal tersebut unik dan saya memperhatikan cukup lama hingga akhirnya Abah Aden memanggil Emak, saya tidak paham apa yang dibicarakan tetapi tak lama kemudian Emak mengambil piring dan menyendokkan sesendok nasi dan menaburkan sejumput garam di atasnya. Kemudian piring tersebut diberikan kepada saya untuk dicicip. Saya menunggu untuk diberi sendok tetapi setelah beberapa saat sendok pun tak kunjung datang dan akhirnya saya menggunakan tangan. Suapan pertama, Nasi terasa beda dari sisi tekstur. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, nasi dari pare gede memiliki tekstur yang cukup lengket dan padat. Ukurannya juga terbilang sedikit lebih besar dari beras putih biasanya. Warnanya dominan putih dan terdapat garis-garis merah di beberapa sisi. Dari rasa, menurut saya sedikit lebih manis dibandingkan dengan beras putih yang biasa saya makan. Sambil menyantap nasi tersebut, Abah Aden bercerita mengenai pare gede. Beliau mengatakan bahwa hingga saat ini, terdapat lima Leuit, yaitu lumbung tempat menyimpan padi, yang masing-masing terdapat sekitar 2.000 ikat pare gede, di mana satu ikatnya memiliki berat sekitar 7,5 kg. Pare gede sendiri bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Menurut informasi dari Abah Aden, pare gede tertua yang terdapat di dalam Leuit yaitu berusia 20 tahun. Jika dibandingkan dengan nasi putih yang biasa dimakan, dalam waktu 20 tahun, beras tersebut bisa rusak dan menjadi bubuk, namun tidak dengan pare gede. Setelah mengetahui bahwa usia tertua dari pare gede yang terdapat di Leuit adalah 20 tahun, maka kemudian kami bertanya mengenai usia pare gede yang sedang saya cicipi. Ternyata, berusia delapan tahun! Saya cukup kaget dengan informasi tersebut, karena awalnya saya berpikir bahwa beras memiliki expired date seperti makanan pada umumnya, tetapi sepertinya hal tersebut tidak berlaku pada pare gede. Setelah selesai, kami melanjutkan pembicaraan sebentar kemudian berpamitan.

Pare gede yang sudah dimasak.

Kami pun kembali ke rumah yang saya datangi ketika sampai. Tak lama setelah duduk, saya menuangkan segelas air ke dalam gelas yang telah disuguhkan di awal dan diajak untuk berkeliling kembali menggunakan motor. Dengan jalan yang tidak rata, saya takut tergelincir tapi syukurnya tidak. Kami melewati beberapa tempat dengan bangunan yang cukup banyak di sisi jalan, seperti warung, puskesmas, kantor desa, dan pasar malam. Kami pun berjalan terus hingga akhirnya sampai di sebuah hamparan sawah berundak yang sangat luas dengan latar pegunungan. Motor kemudian diparkirkan di depan sebuah bangunan yang merupakan tempat penyimpanan kayu. saya, yang sangat tidak sabar untuk turun, kemudian turun dan mencoba mencari tempat yang tepat untuk mengabadikan momen tersebut. Awalnya saya kecewa karena cukup sulit untuk berjalan ke pematang sawah. Tetapi, saya melihat jalan kecil yang tertutup rumput liar, dan langsung berjalan melalui rute tersebut. Akhirnya, saya sampai di tengah-tengah hamparan sawah tersebut. Beberapa padi terlihat keemasan karena terkena pantulan cahaya matahari sore dari arah barat. Setelah beberapa saat, kami pun melanjutkan perjalanan melewati pasar malam yang kami lewati ketika berangkat. Turunan dan tanjakan yang curam serta berbatu membuat saya merasakan sensasi seperti sedang melakukan offroad motor trail.

Saya pun heran ketika rute yang berbeda berakhir di tempat awal kami berangkat. Kami pun turun dan kemudian berjalan ke saung besar. Disana, terdapat beberapa orang lainnya dan semua mengobrol serta melakukan evaluasi kegiatan. Di tengah perbincangan, datang seseorang, yang tidak saya kenal, ke dalam saung dan sepertinya sudah sangat akrab dengan orang-orang yang lain. Beliau baru kembali dari gunung, membawa golok di pinggangnya dan sepertinya berurusan dengan kambing karena saya mendengar kata kambing dalam pembicaraannya. Tak lama, saya memperhatikan ada satu orang yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah barang kecil yang dibungkus plastik, dan diberikan kepada orang yang baru datang tadi. Setelah dibuka, bungkus plastik itu merupakan pipa cerutu. Saya memperhatikan ekspresi ketika orang tersebut membuka dan mencoba pipa cerutu tersebut. Saya langsung terpikir Sherlock Holmes, karena pipa cerutu identik dengan detektif fiktif karangan Sir Arthur Conan Doyle. Terlihat ekspresi yang sangat senang dari senyum dan raut wajahnya. Di sini saya belajar bahwa hadiah yang diberikan kepada seseorang mungkin tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi hal tersebut mungkin sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Hingga saat ini saya masih terbayang ekspresi ketika Ia memanggil temannya untuk menunjukkan apa yang baru saja diterimanya. Hal kecil, tetapi indah.

Ketika langit mulai gelap, saya menunggu sinar matahari sore menjelang terbenam, tetapi terhalang awan dan sepertinya tidak akan tampak. Kami pun berkemas untuk kembali ke rumah. Sempat turun hujan ringan sebelum kami berangkat pulang tetapi hanya sebentar. Sekitar pukul 6.30 sore, mobil berangkat. Di perjalanan pulang, kami bercerita banyak, seperti pengalaman selama di Kasepuhan, taman nasional, Hutan Adat, trip ke luar negeri yang hanya mengandalkan rute Google Maps dan berakhir mengitari gunung, harga tiket pesawat domestik yang lebih mahal dibandingkan dengan mancanegara, sebuah kelompok jalan dadakan, wisata kuliner di Jogja, pesepeda yang pingsan di Halimun, pesepeda asal Indonesia yang bersepeda ke Rusia dan berujung menjadi korban perampokan ketika sampai di Rusia, kepunahan hewan endemik Indonesia, dan banyak hal lainnya. Jalanan yang dilalui pun sangat gelap dengan pohon-pohon rimbun yang tinggi, jalanan yang berliku-liku, dan kabut. Ada sebuah fenomena yang menurut saya unik, yaitu uap yang berasal dari aspal. Cukup aneh, karena dugaan saya, uap yang berasal dari aspal hanya terjadi di siang hari dan kecil kemungkinannya untuk terjadi di wilayah hutan karena intensitas cahaya matahari yang mengenai aspal akan terhalang oleh pohon-pohon hijau yang rimbun. Namun nyatanya peristiwa tersebut benar-benar terjadi di depan mata saya.

Setelah sampai di wilayah yang agak ramai, kami pun berhenti untuk makan malam dan setelah selesai kami semua terlelap di dalam mobil hingga mendekati tujuan. Perjalanan tersebut berakhir pada pukul 11 malam. Menurut saya pribadi, perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Selain pengalaman tentang interaksi langsung dengan Abah Aden, suasana hutan tropis yang lembab serta pemandangan yang disughkan sepanjang jalan memberikan saya pengalaman-pengalaman yang sangat berharga.

Penulis: Alfina Khairunnisa

Editor: Siti Marfu’ah

Belajar Mengelola Lingkungan Dari Masyarakat Adat

WhatsApp Image 2020-08-27 at 15.59.32Masyarakat adat memiliki kearifan lokal tersendiri dalam menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alamnya. BRWA (2009) menyatakan bahwa hutan yang berada di wilayah masyarakat adat memiliki kualitas yang baik. Melihat hal tersebut, kearifan lokal ini patut dicontoh oleh masyarakat luas, khususnya anak muda dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pada 25 Juli 2020, Relawan for Life, gerakan anak muda dampingan RMI, melakukan diskusi daring (Disaring) melalui aplikasi zoom, yang berjudul “Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat”. Disaring kali ini bertujuan untuk mengajak anak muda lain agar lebih mengenal kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Febrianti Valeria, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia, yang juga merupakan tim penggerak Relawan for Life. Disaring kali ini menghadirkan  dua orang narasumber yang merupakan masyarakat adat, yaitu Abah Maman Syahroni dari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, Banten dan Pengendum Tampung dari masyarakat adat Orang Rimba, Jambi.  Kegiatan yang diikuti oleh 24 orang, terdiri dari 12 orang laki-laki dan 12 orang perempuan ini membahas tentang bagaimana masyarakat adat hidup harmonis dengan alam?

 

Kasepuhan Pasir Eurih

Abah Maman mengatakan bahwa ada berbagai macam kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, dan yang utama adalah rukun tujuh (7 rukun tani), karena kehidupan sehari-hari masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih adalah bertani . Rukun tujuh adalah proses ritual adat penanaman padi varietas lokal (pare gede) yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih, seperti asup leuweung (proses ritual adat membuka lahan pertanian secara bersama-sama); nibakeun (proses ritual adat meminta izin dan berdo’a untuk memulai menebar benih); ngubaran (proses ritual adat mengobati tanaman padi dari hama), mapag pare beukah (proses ritual adat memohon agar hasil pertanian bagus); beberes/,mipit (proses ritual adat meminta izin untuk memanen padi); ngadiukeun (proses ritual adat memasukan padi ke dalam lumbung padi/leuit); dan Serentaun (upacara adat meminta agar kesuburan dan kemakmuran untuk panen berikutnya).

Ketika menanam padi, masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih melakukannya secara bersama-sama, dan rukun tujuh yang akan mengawal dari setiap proses pertanian yang dilakukan masyarakat. Hal tersebut dilakukan bertujuan agar masyarakat tidak saling mendahului ketika menanam padi,yang mengakibatkan tidak terputusnya siklus hama (hama berkembang biak sepanjang tahun karena ketersediaan makan secara terus menerus).

Kearifan lokal lainnya adalah ronda leuweung (jaga hutan). Menurut Abah Maman, salah satu tugas ronda leuweung adalah memastikan kondisi hutan agar tetap utuh, dan tidak ada penebangan liar. Abah Maman mengatakan orang yang bertugas untuk ronda leuweung biasanya dipilih oleh kepala adat.

Abah Maman menekankan, bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih tidak terlepas dari ketahanan pangan dan penguatan kelompok masyarakat, agar masyarakat tetap menjaga nilai-nilai dari karuhun (leluhur).

Secara hukum masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih sudah diakui oleh pemerintah daerah dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No. 08 tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Masyarakat Adat kasepuhan.

Abah Maman menceritakan bahwa masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih bukan kelompok masyarakat adat yang tertutup sama sekali terhadap dunia luar. Contohnya adalah bahwa di Pasir Eurih, pendidikan formal diterima dengan baik oleh masyarakat. 

 Orang Rimba

Pengendum menceritakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba adalah kelompok masyarakat adat yang tinggal di hutan Bukit Dua Belas Jambi. Kehidupan masyarakat adat Orang Rimba sehari-hari adalah berburu dan meramu hasil hutan. Meskipun begitu, masyarakat adat Orang Rimba mengambil hasil hutan secukupnya, jika untuk makan hari ini, maka orang rimba hanya mengambil hasil hutan untuk hari ini saja, karena masyarakat adat Orang Rimba khawatir jika sumber daya alam mereka diambil berlebihan makan akan habis.

Pengendum mengatakan bahwa masyarakat adat Orang Rimba memiliki sistem konservasi tradisional yang saat ini masih dipegang teguh. Seperti adanya lokasi-lokasi yang dianggap sakral, misalnya tanaperana’on (lokasi untuk melahirkan) yang dilindungi secara khusus, agar pohon-pohon yang di sekitar lokasi tidak ditebang, dan lokasi untuk melahirkan setiap anak akan berubah-ubah.

Selain lokasi untuk melahirkan, ada juga lokasi untuk pemakaman. Ketika ada yang meninggal, masyarakat adat Orang Rimba akan membangun satu rumah untuk menyimpan mayatnya, dan rumah tersebut dikelilingi pohon, di mana pohon-pohon tersebut tidak boleh ditebang. Hal ini bertujuan untuk, agar mayat orang yang meninggal terlindungi.

Pengendum juga menjelaskan bahwa masyarakat adat Orang Rimba juga diwajibkan untuk menjaga dua pohon, setiap melahirkan satu orang anak. Hal ini membuat banyak pohon yang tidak ditebang, dan dilindungi. Karena semakin banyak anak yang dilahirkan, maka semakin banyak pohon yang terjaga.

Selain hutan, masyarakat adat Orang Rimba juga menjaga sungai, seperti tidak boleh buang air dekat sungai, atau mandi dengan sabun. Narasumber mengatakan,  selain hal tersebut bisa merusak sungai, masyarakat adat Orang Rimba percaya bahwa sungai merupakan jalan yang dilalui oleh dewa. Jika sungai rusak, maka dewa akan marah.

Narasumber juga menjelaskan, bahwa jauh sebelum adanya pandemi, masyarakat adat Orang Rimba sudah mengenal physical distancing. Masyarakat adat Orang Rimba menyebutnya besesandingon, yaitu ketika ada yang orang sakit, maka orang tersebut harus mengisolasi diri dari keluarga dan masyarakat lainnya. Hal ini untuk mencegah tertularnya penyakit yang diderita.

Begitu banyak kearifan lokal masyarakat adat yang berkontribusi pada lingkungan. Mengutip komentar dari salah satu peserta Disaring, “masyarakat adat adalah jawaban dari berbagai permasalahan kita, kita harusnya juga belajar dari mereka”.

Silakan klik link berikut, untuk melihat Disaring 6.0 – Belajar Mengelola Lingkungan dari Masyarakat Adat.

Konsep Gender Dan Model Pergaulan Dalam Islam

Sejak pandemik Covid-19, Relawan4Life tetap berkontribusi dalam menciptakan kegiatan positif dan inspiratif , seperti melakukan diskusi secara daring, dengan nama kegiatan Disaring (Diskusi daring). Kegiatan ini dilakukan untuk saling bertukar pikiran terkait isu-isu yangterjadi di lingkungan sosial. Disaring ini sudah dimulai sejak awal April hingga saat ini. Mulai dari topik tentang penyakit manusia dan hewan liar, menjaga kesehatan diri dengan herbal, pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai pangan liar, ada apa dengan Mei 1998?, dan yang masih hangat diperbincangkan baru-baru ini adalah tentang gender dalam prinsip agama Islam.

Pada 21 dan 28 Juni 2020 diadakan Disaring 5. Disaring 5 ini dilakukan dua sesi, sesi pertama dengan topik “Konsep Gender Dalam Agama Islam”, dan sesi kedua dengan topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”.

Saat berbicara tentang konsep kesetaraan gender dalam agama Islam, seringkali pemikiran yang muncul dibenturkan dengan tafsir agama yang sifatnya dianggap patriarkis oleh sebagian orang. Ada anggapan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah daripada laki-laki (ter-subordinasi), dan hal tersebut diamini oleh sebagian masyarakat (juga oleh perempuan sendiri). Contoh yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, misalnya adalah ada anggapan bahwa laki-laki lebih mampu memimpin dibanding perempuan. Seorang perempuan yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik seringkali dihambat oleh rekan-rekannya sendiri karena anggapan tersebut, disertai dengan dalil-dalil agama yang mendukungnya. Oleh karena itu, Disaring 5 sesi satu diadakan, dengan narasumber yang merupakan Dosen Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia dan Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriah, serta dimoderatori oleh Nadira Siti Nurfajrina, alumni Short Course Batch 4.

Sejatinya, Islam menentang adanya diskriminasi gender. Dipaparkan secara jelas oleh narasumber, Iklilah,  bahwa laki-laki dan perempuan secara kedudukan atau posisinya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya. Narasumber-pun mendasari pernyataannya terkait kesetaraan gender dengan sejumlah ayat Al-Quran yang diyakini sebagai pewahyuan dari Allah kepada umatNya.

Narasumber juga menjelaskan bahwa islam menentang kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Karena islam mengajarkan bahwa tidak boleh melakukan kekerasan terhadap kaum yang lemah, khususnya perempuan. Seperti dalam rumah tangga, kekerasan dilakukan dengan cara bertahap,  yakni dengan memberi nasihat yang tegas ketika perempuan membangkang atau melakukan kesalahan, kemudian jika perempuan tidak mengindahkan nasihat dari laki-laki maka akan berlanjut ketahap berikut yakni tidak se-ranjang­. Jika hingga ketahap ini si-perempuan masih saja melakukan kesalahan maka akan ditegur dengan cara dipukul. Menurutnya, memukul pada zaman itu adalah hal yang paling terakhir dilakukan. Pemahaman ini tertuang disalah satu ayat yang dipaparkan, sehingga dia menegaskan bahwa bagaimanapun Islam tidak layak untuk menjadi alat legalitas adanya diskriminasi gender.

Hal yang menarik lainnya yang dibahas oleh narasumber adalah poligami. Menurutnya poligami sebenarnya lahir sebagai bentuk perlindungan bagi anak-anak dan Ibu mereka yang ditinggal pergi oleh ayah dan suaminya dimasa perang.  Walau dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi kaum yang lemah tersebut, namun praktek poligami tidaklah dibenarkan dari sudut pandangan manapun. Karena pasti seorang laki-laki tidak mampu untuk berbuat adil kepada kedua perempuannya.

Diskusi dilanjutkan di minggu berikutnya, dengan mengangkat topik “Model Pergaulan Dalam Islam Apakah Sudah Final?”. Dipandu oleh Mufti Labib, alumni Short Course Batch 4, dan narasumber Yulianti Muthmainnah, Ketua Pusat Studi Islam Perempuan dan Pembangunan dan Anggota Majelis Hukum dan HAM PP Aisyiyah. Topik ini berbicara mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, benarkah pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam sudah final sebagaimana yang  ditampilkan oleh gerakan Nikah Muda atau Pelatihan Poligami? Atau benarkah tudingan sebagian kalangan umat Islam lainnya bahwa gerakan-gerakan tersebut, yang merujuk pada tafsir abad pertengahan, sarat dengan nuansa patriarkis sehingga bias gender?

Sesi ini lebih ringan pembahasannya dibanding dengan sebelumnya. Karena sudah membahas isu-isu gender yang santer terjadi dikalangan anak muda, khususnya perempuan. Dikatakan oleh narasumber, kekerasan yang umumnya dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan adalah karena sering terjadi sentuhan. Di mana menurutnya Lebih baik jangan pegang-pegangan ketika belum halal. Kekerasan juga kerap terjadi ketika perempuan Islam yang tidak berjilbab dianggap sebagai sasaran empuk untuk menjadi korbannya. Adapula isu yang membahas tentang cara berpakaian juga menjadi sasaran untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal cara berpakaian seseorang adalah hak-nya.

Hal menarik yang dibahas dalam Disaring 5 sesi kedua ini adalah tentang Indonesia Tanpa Pacaran. Menurut narasumber gerakan tersebut lahir akibat banyaknya terjadi kasus kekerasan pada perempuan, dan menolak adanya pacaran mendukung untuk langsung ketahap pernikahan. Penjelasan narasumber menanggapi gerakan tersebut adalah ketika seseorang menikah dengan niat yang jelas maka bisa dikatakan bahwa nikah itu kewajiban. Tetapi jika hanya ingin menghalalkan agar tidak zinah, maka gerakan ini dinilai tidak sesuai. Karena menikah bukan hanya untuk melakukan hubungan intim, tetapi lebih dari itu.

Diakhir masing-masing diskusi, kedua narasumber memberi pesan untuk tetap menjaga relasi antar perempuan dan laki-laki dengan saling menghargai, menghormati, mendukung dan bukan saling mendominasi.

Kegiatan Disaring 5.1 dan 5.2 ini dipelopori oleh alumni Short Course Batch IV. Walaupun koordinasi dilakukan hanya melalui online, namun para alumni mampu menentukan topik yang menarik untuk didiskusikan, ditambah lagi narasumber yang mumpuni sesuai bidangnya.

Disaring 5 sesi satu bisa dilihat di

Disaring 5 sesi dua bisa dilihat di

Atau baca notulensinya di https://bit.ly/31VNid6

Penulis: Marissa Matulessy

Editor: Siti Marfu’ah

Disaring 4.0 – Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei 98?

WhatsApp Image 2020-06-24 at 10.04.54

Setiap bulan Mei kita selalu diingatkan dengan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Kini pada tahun 2020, sudah 22 tahun silam tragedi tersebut masih menyisakan luka mendalam bagi para korban. Sekitar 1190 orang meninggal dunia karena dibakar atau terbakar, 27 orang meninggal dunia akibat senjata atau lainnya, dan 168 orang menjadi korban perkosaan dan pelecehan seksual.

Tidak banyak dari generasi muda saat ini yang mengetahui secara persis bagaimana kejadian tersebut terjadi, apa penyebabnya, juga apa dampaknya bagi para korban. Oleh karena itu, relawan 4 life sebagai gerakan anak muda yang fokus di isu sosial dan lingkungan mengadakan diskusi online yang bertajuk disaring yang sudah memasuki rangkaian ke 4. Harapannya bahwa generasi muda dapat tercerahkan mengenai tragedi ini dan juga dapat mengambil pelajaran agar tragedi ini tidak terulang lagi kedepannya.

Diskusi ini diselenggarakan pada tanggal 7 Juni 2020 menggunakan media zoom meeting, menghadirkan Andy Yetriyani sebagai pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan, dimoderatori oleh Alfina Khairunnisa yang merupakan mahasiswi universitas Trisakti dan bagian dari lawan for life. Dihadiri oleh kurang lebih 49 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, juga mengundang Yakini sebagai media literasi online anak muda.

Andy memulai diskusi dengan menceritakan latar belakang terjadinya kerusuhan Mei 1998. Saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi Asia yang menyebabkan berbagai negara mengalami kebangkrutan. Krisis tersebut diperparah dengan berbagai persoalan sosial politik yang memperkeruh suasana sehingga menyebabkan kerusuhan. Diantaranya yaitu penurunan Soeharto yang sudah 32 tahun menjabat sebagai presiden, kejadian penembakan mahasiswa Trisakti, juga isu rasial yang sudah lama ada.

Untuk menggambarkan bagaimana kerusuhan Mei 1998 terjadi, pembicara memutarkan video dokumenter berupa wawancara terhadap para korban juga cuplikan-cuplikan kerusuhan yang terjadi pada saat itu.

Perlu dipahami bahwa tragedi kerusuhan Mei 1998 bukan merupakan kejadian yang tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari berbagai masalah yang menimpa negara ini, dimulai dari adanya krisis ekonomi yang sudah terjadi sejak tahun 1997. Indonesia yang saat itu menerapkan prinsip ekonomi developmentalis yang mengeruk sumber daya alam sebagai sumber utama pendapatan negara tidak menciptakan landasan perekonomian yang kokoh sehingga ketika terjadi krisis ekonomi dimana harga barang tambang dan bahan mentah turun, perekonomian ambruk secara total. Seketika itu juga inflasi meningkat, pengangguran meningkat, dan angka kemiskinan meningkat, menciptakan penderitaan bagi masyarakat.

Masalah yang kedua yaitu ada pada bidang politik. Pada saat itu Indonesia dipimpin oleh pemerintahan yang otoriter dengan presiden yang sudah berkuasa lebih dari 32 tahun. Mahasiswa menuntut penurunan presiden Soeharto, kemudian terjadi kasus penembakan mahasiswa Trisakti. Hal tersebut mengakibatkan kerusuhan di mana-mana.

Masalah yang ketiga yaitu adanya sentimen terhadap etnis Tionghoa yang dalam sejarahnya merupakan warga kelas dua di Indonesia. Perlu diketahui bahwa pada masa kolonial penduduk Indonesia dibagi menjadi 3 kategori yaitu penduduk pribumi yang berada di lapisan paling bawah, selanjutnya penduduk timur asing yang kebanyakan merupakan orang Tionghoa dan Arab merupakan kelas kedua, dan penduduk Eropa yang merupakan kelas atas.

Penduduk timur asing pada masa kolonial kebanyakan merupakan pengusaha yang kehidupannya lebih baik jika dibandingkan dengan penduduk pribumi yang miskin. Anggapan bahwa warga Tionghoa memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik mengakibatkan kecemburuan sosial yang turun temurun. Dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada saat Mei 1998 dijadikan kesempatan bagi para provokator untuk melakukan penjarahan pada etnis Tionghoa. Banyak toko-toko serta rumah yang dibakar dan dirusak oleh para perusuh, pembantaian secara keji, dan perkosaan membuat trauma psikologis yang mendalam.

Pembicara yang merupakan komisioner Komnas perempuan menyoroti kekerasan seksual yang terjadi. Hingga saat ini korban kekerasan seksual masih mengalami trauma, mereka enggan untuk diwawancarai karena banyak stigma yang menyertainya sehingga mereka lebih memilih diam walaupun ada pendampingan dari pihak Komnas perempuan. Jika melihat dalam konteks sejarah, aksi pemerkosaan dalam suatu kerusuhan bukanlah hal yang baru di dunia, misalnya saja dalam setiap peperangan dan penjajahan yang terjadi di dunia selalu terjadi yang namanya perkosaan massal, perlakuan keji ini dilakukan sebagai tanda superioritas bagi penjajah.

Meski telah menimbulkan banyak kerugian, trauma, dan kesedihan mendalam bagi para korban namun kasus kerusuhan Mei 1998 sampai saat ini belum juga diselesaikan oleh pemerintah.

Negara masih mengabaikan hak-hak korban atas kebenaran dan keadilan karena ketidakjelasan proses hukum seusai penyelidikan Komnas HAM. Proses hukum atas Tragedi Trisakti dan  Tragedi Mei, yang mengambang dan berlarut-larut telah merugikan banyak pihak, terutama hak para korban atas keadilan dan asas persamaan di depan hukum yang menjadi inti negara hukum.

Hak korban atas keadilan dan kepastian hukum telah diabaikan oleh negara selama bertahun-tahun. Mereka tidak pernah tahu siapa yang bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti dan Tragedi Mei yang telah merampas hak-hak asasinya, termasuk yang paling mendasar, yaitu hak untuk hidup.

Di akhir diskusi Andy Yetriyani berpesan kepada anak muda agar selalu kritis dan bersama menegakkan keadilan. Hanya sedikit anak muda yang yang mempunyai pemahaman dan juga kepedulian atas kasus ini, mungkin hanya dari kalangan mahasiswa atau kalangan terdidik. Dengan adanya diskusi diskusi seperti ini akan sangat baik untuk memperkaya pemahaman kita agar kejadian seperti tragedi kerusuhan Mei 1998 ini tidak terjadi lagi kedepannya.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Disaring “Generasi Muda Bertanya: Ada Apa Saat Mei ’98?”, bisa baca notulensi dan lihat video diskusi di google drive Disaring 4.0.

Penulis: Ali Aljihad

Disaring 3.0: Memanfaatkan Strategi Buzzer Dalam Kampanye Isu Lingkungan Dan Sosial

#sawitbaik, merupakan kampanye yang diluncurkan  oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di tengah kian meluasnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatra dan Kalimantan yang terjadi pada saat itu[1]. Masih jelas di ingatan, kampanye tersebut menjadi trending  di media sosial, seperti twitter pada tahun 2019.

Melihat kejadian tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa Kemenkominfo melibatkan para buzzer/influencer melalui laman sawitbaik.id dan akun Twitter @SawitBaikID untuk menciptakan dukungan publik atas produksi sawit di Indonesia. Selain itu, tidak hanya “sawit baik”, ada juga kampanye #dukungomnibuslaw yang sampai saat ini masih ramai di media sosial (Twitter).

Untuk mencari tahu mengenai buzzer/influencer yang sering terlibat dalam pembentukan opini publik di era kampanye digital saat ini, Relawan 4 Life yang difasilitasi oleh RMI mengadakan Diskusi Daring (Disaring) 3.0 dengan tema “Strategi Kampanye Digital Melalui Penggunaan Buzzer/Influencer”.

Sebagai kegiatan yang mendukung gerakan #dirumahaja, diskusi ini dilakukan secara online melalui aplikasi Zoom, pada Jumat, 08 Mei 2020. Disaring diikuti oleh 18 orang, yang terdiri dari 9 orang perempuan, dan 9 orang laki-laki. Acara ini dimoderasi oleh Indra N. Hatasura dari RMI dan diikuti oleh peserta yang berasal dari latar belakang aktivis  mahasiswa, pekerja profesional dan aktivis sosial-lingkungan.

Diskusi ini menghadiri seorang narasumber (yang namanya tidak ingin disebutkan),sebut saja Ani. Ani memiliki pengalaman bekerja di sebuah agensi buzzer selama lebih dari dua tahun. 

Diskusi dibuka dengan pengertian buzzer dan influencer. Ani menyampaikan bahwa kedua kata ini memiliki beberapa kesamaan diantaranya memberikan informasi. Buzzer sendiri berasal dari kata “buzz” yang artinya mendengung. Jadi buzzer artinya adalah mendengungkan berita supaya ramai diperbincangkan banyak orang secara sistematis. Sedangkan influencer adalah orang yang mempengaruhi pandangan orang lain terhadap suatu permasalahan, biasanya dilakukan orang yang mempunyai banyak follower pada akun media sosialnya.

Menurut narasumber, buzzer sudah ada sejak sekitar tahun 2008. Istilah buzzer semakin populer di tahun 2012 ketika adanya pemilihan gubernur di Jakarta. Buzzer ini dibuat untuk kepentingan partai politik, organisasi masyarakat dan orang perorangan. Dalam perkembangannya buzzer umumnya berkaitan dengan politik, yang kemudian dikaitkan dengan isu-isu sosial dan lingkungan, kemudian dikampanyekan , seperti #SawitBaik.

Setelah dilakukan pembukaan, diskusi mengalir dengan lebih interaktif yaitu peserta dapat bertanya langsung kepada narasumber dan kemudian dijawab. Para peserta terlihat sangat antusias karena kolom chat ramai dengan pertanyaan peserta dan peserta yang ingin bertanya melalui microphone. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah seperti:

Apakah buzzer merupakan individual atau kelompok? Narasumber menjawab bahwa buzzer ini ada yang merupakan individual maupun kelompok. Mereka yang berkelompok biasanya tergabung dalam sebuah agensi. Agensi ini hanya bekerja jika ada proyek atau pekerjaan yang diberikan dari pihak-pihak tertentu. Pegawai dari agensi ini pun tidak tetap. Ada juga buzzer independen, tetapi buzzer independen sangatlah beresiko karena biasanya tidak memiliki pendukung canggih akan hal-hal yang dilakukannya (misalnya keamanan, karena para buzzer ini juga menggunakan VPN premium agar tidak terdeteksi alamat IP address nya saat bekerja).

Apakah buzzer memiliki tujuan jangka panjang seperti sebagai media alternatif atau hanya dalam jangka pendek? buzzer tidak memiliki target jangka panjang melainkan hanya bertujuan untuk mengangkat isu pada waktu tertentu sehingga banyak orang yang aware terhadap suatu isu dan diharapkan isu tersebut bisa sampai kepada pihak yang ditujukan yang menyebabkan terjadinya suatu tindakan.

Apakah buzzer memiliki cara lain untuk menaikan suatu isu? Selain membuat status, buzzer juga biasanya melakukan “giveaway”. Giveaway adalah pembagian hadiah secara cuma-cuma dengan syarat harus memposting dengan menyertakan hashtag tentang isu tersebut. Tak sedikit orang yang mengikuti giveaway ini sehingga hashtag akan semakin populer. Cara lain adalah dengan membuat meme.

Narasumber juga menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti berapa banyak umumnya tim buzzer, pertentangan moral saat mengerjakan pekerjaan, software/mesin/robot yang juga berperan untuk mempertinggi traffic, akun-akun palsu yang digunakan untuk memposting, perang psikologi yang dilakukan buzzer dengan korban, jenis-jenis proyek yang dikerjakan, perang antar tim buzzer, sampai perlawanan penyedia media sosial  (Twiter dalam menghambat para buzzer) dan cara mengakalinya.

Perlu diketahui juga bahwa buzzer tidak hanya bertujuan untuk menaikkan isu yang menguntungkan bagi pihak tertentu, tetapi ada juga buzzer yang independen dalam menaikkan isu (sering juga disamakan dengan influencer). Diskusi ditutup dengan ide-ide dari peserta tentang rencana kampanye digital dengan memanfaatkan cara kerja buzzer. Di akhir diskusi para peserta yang terdiri dari organisasi-organisasi gerakan sosial juga banyak yang merasa perlu juga untuk menggunakan cara kerja buzzer dalam mengkampanyekan isu-isu yang ada, tetapi dengan cara yang berbeda.


[1] Chadijah, R. (2019, 09, 17). Pemerintah Didesak Hentikan Kampanye “Sawit Baik”

https://www.benarnews.org/indonesian/berita/kampanye-sawit-baik-09172019154315.html

Penulis: Siti Marfu’ah

Editor: Indra N. Hatasura

Tulisan ini juga bisa dibaca di link berikut: https://rmibogor.id/2020/05/15/memanfaatkan-buzzer-dalam-strategi-kampanye-isu-lingkungan-dan-sosial/

Disaring 2.0: Keeping Yourself Healthy With Herbal, Here’s A Cheaper Way To Stay Healthy!!

The amount of people who died because of COVID19 that started since December 2019 have made the people’s awareness towards their health increase. A lot of people are often scared when knowing that they have symptoms of cough, runny nose and fever. The only thing that they can do to prevent the spread of COVID19 is by doing physical distancing, avoid any events and that gatherings a lot of people, wear mask and gloves if needed when going outside the house.

People also apply several new lifestyle as a way to protect themselves such as sunbathing, exercising and consuming vitamins. Many people are not aware and realize that buying medicine and vitamins can actually be really expensive.

Through this event called DISARING (Online Discussion) 2.0 Relawan4Life intend to give another perspective on how to keep yourself healthy during this quarantine season with herbs as an alternative than buying a lot of generic medicine. Herbs are considered as something that is easy to find, yet they only have a minimum side effects comparing with the generic medicine or vitamins, and it’s also cheap. Having the knowledge that herbs can be used  for medication can actually help someone achieve a better quality of life.

DISARING 2.0 was held on Wednesday, 29th of April 2020. Moderated by Ali Aljihad, a member of Relawan 4 Life and as the speaker we have a Traditional Chinese Medicine (TCM) practitioner who uses herbs in his medication, that is  Mr. Albertus Prasasti Baroto or also known for his nickname Mr. Tito. As a summary The speaker explain about what’s the definition of health and fitness, the importance of knowing The Body Clock, and how can we improve our healthy by consuming herbs.      

Based on the explanation given by Mr. Tito, he said that based on TCM everyone has the chance to stay healthy and strong without consuming any medicine or vitamins because the human body themselves has already got antibodies. In order to achieve that, people need to starts giving more attention towards their body according to The Body Clock. Here’s an Illustration that sums up The Body Clock based on TCM given by Mr. Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

Other than being the practitioner of TCM, Mr. Tito also studied about Javanese Herb Concoctions. There are a four main herb based on what he learns that can be used to rejuvenate the function of the organ and keeping you healthy. Here are the list of the herbs!

  1. Noni

Noni can be used to improve the digestive system in human body, therefore it’ll effects directly to the metabolism of the body and then regenerate the cells.

  1. Curcuma

You can use curcuma to improve and maintain your liver condition. Other than that Curcuma can grow very quickly and can be found in a lot of places. This medicine also works as an antibiotic.

  1. Gotu Kola

Gotu kola herbs is the herb recommended for your kidney. It is really important to take a good care of your kidney because it’s responsible for your nervous system to control the numbers of blood cells created.

  1. Meniran Leaves (Phyllanthus Urinaria)

Meniran Leaves can increase human’s immunity, it can also be used to resist HIV disease up to 75%. It has a diuretic element that can increases the secretion system on human’s body, for example : urine. Meniran can force your body to sweat out the impurities on human’s body.

After the material has been given, moderator allows several of the audience to ask a question to the speaker. Here are the following questions and answers  that occur during the discussion :

  • Which one is better for frequent consumption, is it herbs or fruits ?

Vitamins and minerals that are inside the fruit is really good to support the nutrition fulfillment. But, if you want to support the condition of the organs it is better to consume herbs. And In order to create a great balance you need to consume both.

  • Which herbs is better suited with hydroponics ?

Plants that are suited with hydroponics are monocots like curcuma, gotu kola, and meniran. You can’t plant Noni with hydroponics because Noni have a branched seed and single rooted

Audience seems very enthusiastic asking questions which can be seen from the number of questions given during question and answers session. Just In case if any of the audience have further questions about it, the speakers are willing to answer it through other social media, such as WhatsApp.

This discussion was held on the Zoom (conference application) therefore all of the audience stays at their own houses. Involved 22 participant consisting of 12 women and 10 men with a various background, such as college student, high schooler, and other practitioner. The event was initiated by Volunteer 4 Life, a youth movement, established and facilitated by the Indonesian Forestry and Environment Agency RMI since 2015.

To see the presentation materials and recording of this event you can see or download it throught this link : https://drive.google.com/drive/folders/11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf?usp=sharing

Author : Nadira Siti Nurfajrina

Editor : Siti Marfu’ah

Disaring 2.0 : Menjaga Kesehatan Diri Dengan Herbal, Sehat Ga Perlu Mahal !!

Banyaknya korban di dunia akibat serangan penyakit menular Covid-19 yang dimulai sejak Desember tahun lalu membuat tingkat kekhawatiran dan kesadaran masyarakat akan kesehatan pribadi meningkat saat ini. Masyarakat cenderung panik jika mereka memiliki gejala batuk, pilek dan demam. Mereka melakukan pencegahan dengan physical distancing, berhenti berkumpul dan mengenakan masker, sarung tangan saat bepergian.

Di sisi lain untuk melindungi dirinya sendiri, masyarakat juga mencoba penerapan pola hidup yang lebih sehat. Berjemur di pagi hari, serta mengkonsumsi obat-obatan dan vitamin, serta dengan berolahraga terbatas. Terkait konsumsi obat-obatan dan vitamin, tidak sedikit pengeluaran baru yang muncul dari kebiasaan ini.

Melalui kegiatan Diskusi Daring (Disaring) 2.0 ini Relawan 4 Life bermaksud untuk memberikan pandangan lain, mengenai cara-cara menjaga kesehatan daya tahan tubuh dengan menggunakan tanaman herbal sebagai alternatif obat-obatan dan vitamin buatan. Tanaman herbal dianggap mudah didapat, memiliki efek samping yang kecil (bila dibanding obat dan vitamin buatan) dan murah harganya. Memiliki pengetahuan akan kesehatan dan pengobatan herbal dapat membantu seseorang untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Disaring 2.0 kali ini dilaksanakan pada Rabu, 29 April 2020, dipandu oleh Ali Aljihad, yang merupakan bagian dari Relawan 4 Life, dan seorang narasumber yang merupakan praktisi Traditional Chinese Medicine (TCM) yang menggunakan tanaman herbal sebagai obat, yaitu Albertus Prasasti Baroto, yang dikenal dengan panggilan Tito. Secara garis besar, narasumber menerangkan mengenai definisi kesehatan, pentingnya mengetahui jam piket organ, serta pengobatan melalui tanaman-tanaman herbal tertentu yang banyak di sekitar kita.

Pada pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa menurut pengobatan tradisional cina pada dasarnya semua orang bisa sehat tanpa menggunakan obat-obatan ataupun vitamin, karena tubuh manusia sudah memiliki antibodi. Selain itu, terdapat sejumlah hal yang harus diperhatikan dari dalam tubuh manusia itu sendiri, yang secara biologis kerap dikenal dengan sebutan “jam piket organ”. Berikut adalah jam piket organ menurut Tito.

WhatsApp Image 2020-05-01 at 11.38.45

 

Selain praktisi pengobatan tradisional cina,Tito juga mendalami ilmu meramu tanaman yang dapat dijadikan sebagai obat. Terdapat empat inti tanaman herbal yang dapat mengembalikan fungsi tubuh dan menjaga tubuh tetap sehat, yaitu :

  1.       Mengkudu

Mengkudu dapat memperbaiki sistem pencernaan tubuh manusia, sehingga dapat berdampak secara langsung kepada metabolisme tubuh dan juga regenerasi sel dalam tubuh.

  1.       Temulawak

Temulawak dapat digunakan untuk menjaga kesehatan liver. Terlebih tanaman Temulawak merupakan salah satu tanaman yang tumbuhnya cepat dan mudah untuk ditemukan. Tanaman ini juga berguna sebagai antibiotik loh!

  1.       Pegagan

Pegagan merupakan tanaman yang memiliki manfaat untuk ginjal. Hal ini sangat penting karena ginjal bertanggung jawab pada sistem saraf  guna mengatur pembentukan sel-sel darah.

  1.       Meniran

Meniran mampu meningkatkan imunitas seseorang, bahkan mampu menahan penyakit HIV pada angka 70 – 75%. Memiliki unsur diuretic yang dapat menambah kecepatan sistem sekresi, salah satunya adalah pembentukan urin. Meniran dapat memaksa tubuh untuk mengeluarkan keringat sebagai media untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dalam tubuh.

Setelah materi selesai dipaparkan, moderator memberikan kesempatan kepada beberapa peserta untuk bertanya. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan, beserta jawabannya adalah sebagai berikut:

  • Antara herbal dan buah-buahan lebih bagus mana untuk dikonsumsi? Karena ada yang memiliki manfaat yang sama

Narasumber menjawab bahwa  bahwa unsur-unsur vitamin dan mineral dalam buah-buahan sangat bagus dan menunjang unsur sehat. Sedangkan untuk menunjang organ tubuh lebih baik mengkonsumsi herbal. Untuk menjaga kesehatan tentu perlu dikombinasikan keduanya.

  • Tanaman obat apa yang bagus di tanam dengan media hidroponik?

Narasumber menjawab bahwa tanaman yang bisa tumbuh di media hidroponik adalah monokotil atau berbiji tunggal seperti temulawak, pegagan, meniran. Mengkudu tidak bisa, karena mengkudu memiliki biji yang bercabang dan berakar tunggal.

Pertanyaan-pertanyaan lain juga dijawab oleh narasumber sesuai dengan keahliannya. Terlihat bahwa peserta cukup antusias dalam membahas materi dilihat dari jumlah pertanyaan yang muncul pada sesi tanya jawab.. Untuk menebus keingintahuan peserta,narasumber memberikan penjelasan bahwa yang bersangkutan bersedia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab pada diskusi ini lewat media lain, seperti WhatsApp.

Diskusi ini dilakukan di rumah masing, menggunakan aplikasi Zoom. Kegiatan yang diinisiasi oleh Relawan 4 Life ini, diikuti oleh 22 orang, yang terdiri dari 12 orang perempuan dan 10 orang laki-laki, dengan latar belakang yang berbeda, seperti mahasiswa dan pelajar sekolah menengah. Relawan 4 Life merupakan sebuah gerakan anak muda yang didirikan dan difasilitasi oleh RMI sejak tahun 2015.

Untuk mengetahui materi dan rekaman dari kegiatan Disaring 2.0, pembaca dapat mendownload dari llink berikut ini:

https://drive.google.com/open?id=11PuaBYdy8A_gqiEjazgS72guR4IM4syf

Penulis: Nadira Siti Nurfajrina

Editor: Siti Marfu’ah